Berbagi Cinta : Mencintai Diriku Dan Dirinya

Berbagi Cinta : Mencintai Diriku Dan Dirinya
Season 2: Bab 34


__ADS_3

Hari yang dinantikan mereka semua pun tiba, sudah saatnya mereka mendapatkan gelar dari apa yang telah mereka usahakan selama ini. Mentari sangat bahagia begitupun dengan ibunya, Rusmi menatap haru pada anaknya yang sedang memakai toga, ia masih tak menyangka bisa menyekolahkan anaknya hingga lulus, walau ia hanya seorang single parents. Belum lagi ia hanya mendapat penghasilan dari menjual kue yang dititipkan di warung-warung.


Setelah pengukuhan Mentari langsung menghampiri ibunya, ia memeluk ibunya dengan tangisannya.


"Terima kasih ya, Bu. Terima kasih sudah memberikan kehormatan ini untuk Mentari, Mentari janji akan memberikan yang terbaik untuk Ibu," ucap Mentari ditengah isakannya, ia tak ingin menyia-nyiakan apa yang diusahakan oleh ibunya, walau di tengah kesibukannya ia tetap mengerjakan semua tugas kuliah dan belajar dengan baik hingga ia mendapat predikat sebagai salah satu mahasiswa terbaik. Bukan hanya itu saja, ia juga mendapat beasiswa untuk lanjut ke jenjang berikutnya.


"Sama-sama, Nak. Ibu akan melakukan yang terbaik untukmu, kamu adalah anak ibu satu-satunya," ucap Rusmi yang juga tak bisa membendung air matanya saat melihat air mata yang menetes dari sudut mata anaknya, air mata kebanggaan dari mereka karena bisa mendapat yang terbaik dalam pendidikan.


Azriel menghampiri mereka, dia juga memberi selamat pada Mentari dengan memberikan sebuah buket bunga untuk kekasihnya itu.


"Selamat ya Mentari, kamu emang sangat hebat," ucap Azriel membuat Mentari pun mengangguk.


Mentari sudah menceritakan kepada ibunya jika mereka sudah menjadi sepasang kekasih dan ibunya sangat setuju dengan Azriel.


Azriel juga menyapa Rusmi begitupun Khanza menghampiri mereka. Khanza juga yang sudah tahu jika anaknya menjalin hubungan dengan Mentari menyapa ibu dari kekasih anaknya itu.


"Ayo, Bu. Kita istirahat di sana, acaranya sudah selesai. Biarkan anak-anak mengikuti acara mereka," ucap Khanza mengajak ibu Mentari untuk bergabung dengan mereka di salah satu cafe yang ada di depan kampus tersebut, sementara Mentari dan Azriel sudah bergabung kembali dengan teman-temannya, mereka melakukan sesi foto dan juga melakukan beberapa kegiatan untuk meluapkan rasa senang mereka.


Lucia yang melihat semua itu sangatlah kesal, walau ia sejak tadi ikut dalam perayaan tersebut Azriel terus saja mengacuhkannya. Untung saja ada Aisyah yang selalu menemaninya.


"Kak, daripada Kakak bete di sini, kita jalan-jalan aja yuk, kita nonton," ajak Aisyah yang tak mau Lucia sampai mengacaukan acara kakaknya, ia bisa melihat kakaknya itu begitu bahagia bersama dengan Mentari dan juga teman-temannya.

__ADS_1


"Ya sudah deh kita nonton saja, aku juga bete di sini kakakmu ngeselin. Nggak seru banget sih," ucap Lucia kemudian ia pun meninggalkan kampus tersebut bersama Aisyah. Sesuai dengan usulan Aisyah, mereka pergi ke sebuah gedung bioskop dan menonton di sana.


"Sepertinya Lucia sudah pergi," ucap Mentari yang sejak tadi memperhatikan Lucia yang terus kesal menatap ke arah mereka.


Azriel sudah mengatakan semuanya pada Mentari, jika ia sudah menolak Lucia, tetapi Lucia akan terus mendekatinya dan akan kuliah di sini bersama dengan mereka.


"Kamu takkan goyahkan? Takkan berpalingkan dengan Lucia?" ucap Mentari sedikit memainkan bibirnya.


"Tentu saja, kamu yakin nggak mau mengambil beasiswa itu?" tanya Azriel di mana Mentari tak ingin melanjutkan kuliahnya dan ingin fokus pada bisnisnya.


Mentari bingung, mendapatkan beasiswa adalah suatu yang sangat tak terduga tentu saja itu adalah kesempatan untuknya. Namun, di sisi lain ia juga ingin meneruskan usahanya.


"Saranku kamu ambil saja beasiswanya dan lanjutkan kuliahmu, aku yakin bertambahnya pendidikan dan gelarmu orang-orang akan semakin percaya kepadamu khususnya dari kalangan atas, terkadang mereka terlebih dahulu melihat siapa pembuat kuenya tanpa memperhatikan rasanya, jika kamu bisa memasarkan kue buatanmu pada orang-orang yang tepat kamu akan mendapat peluang bisnis lebih banyak. Belum lagi kamu akan semakin banyak mendapat ilmu untuk mengembangkan bisnismu kedepannya," ucap Azriel membuat Mentari pun berpikir hal yang sama, mendapatkan beasiswa adalah sesuatu yang sangat langkah dan sangat sayang untuk disia-siakannya, lagian sepertinya menambah karyawan jika usaha mereka sudah maju juga tak masalah, ada ibunya yang akan mengawasi mereka, ia bisa fokus pada kuliahnya sambil menjalankan bisnisnya.


Azriel tak ingin Mentari dipandang sebelah mata saat suatu hari nanti, jika ia menjadi istrinya, walau Mentari berasal dari keluarga tergolong ekonomi rendah. Namun, ia bisa membanggakan pendidikannya, ia juga takut jika selain ibu Farah akan ada lagi yang akan menyakiti hati Mentari setelah mereka bersama nanti. Tak dipungkiri ia berasal dari keluarga besar dan mungkin saja hal itu bisa kembali Mentari dapatkan jika memang benar-benar mereka berjodoh dan akan menikah suatu saat nanti.


Setelah acara wisuda selesai Mentari dan ibunya pun kembali ke kediamannya, begitupun dengan Azriel. Mentari hari itu sengaja untuk tak menerima orderan, ia ingin menghabiskan waktu bersama ibunya dan mensyukuri apa yang telah diberikan padanya. Mentari dan ibunya menuju ke makam, Mentari membawa piala yang dibawanya dan dipersembahkan untuk ayahnya.


"Ayah yang tenang yah di sana, Mentari akan menjaga Ibu untuk Ayah," ucap Mentari, di setiap mereka mendapat kesuksesan mereka selalu menjenguk makam ayah Mentari dan di sinilah mereka saat ini, ibu Mentari terlihat terus mengusap batu nisan ayahnya.


Awalnya Rusmi sangat takut tak bisa membesarkan Mentari dengan baik seorang diri. Namun, ternyata ia bisa, ia bisa sampai mendapat gelar.

__ADS_1


"Bagaimana dengan beasiswaku? Apa aku ambil atau memilih untuk terus berbisnis?" ucap Mentari di samping makam ayahnya dan menatap pada ibunya.


"Apa yang kamu katakan, Nak? Sangat jarang mendapat beasiswa itu, jangan menyia-nyiakannya. Saran ibu, kamu terima saja dan lanjutkan pendidikanmu, Nak. Adapun masalah kedepannya kita pikirkan nanti, ibu tak mau orang-orang akan kembali menghinamu hanya karena pendidikan yang rendah, ibu yakin suatu saat nanti kamu akan sukses dan bisa membuat ibu bangga atas pencapaianmu," ucap ibu Mentari membuat Mentari pun mengangguk dan yakin akan meneruskan kuliahnya. Dia sudah mendapat dukungan dari Azriel dan juga ibunya. Ia juga mendapat dukungan dari Dewa.


Dewa juga mendukungnya untuk melanjutkan kuliahnya, selagi masih ada kesempatan untuk kuliah mengapa tidak, adapun bisnisnya ia bisa mengatur waktunya, ia tak harus terjun langsung untuk mengelola semuanya.


Sepulang dari makan, hari sudah sore. Mentari mengantar ibunya pulang, ia izin ibgin jalqn dengan Azriel. Ia ada janji dengan Azriel untuk menonton.


"Pergilah, Nak. Azriel pria yang baik. Ibu sangat setuju dengan hubungan kalian."


"Makasih ya, Bu."


Tak lama kemudian mobil Azriel sudah terparkir di depan gangnya.


Begitu mereka sampai di gedung bioskop ternyata Lucia dan Aisyah masih ada di sana. Lucia yang melihat Mentari datang dan terlihat ingin ke toilet langsung mengikutinya. Ia menarik Mentari masuk ke toilet tersebut, ia memastikan tak ada orang di sana.


"Lucia, apa-apaan kamu?" tanya Mentari yang langsung menepis tangan Lucia yang mencengkram lengannya erat.


"Aku peringatkan ya, sama kamu jangan berani-berani mendekati Azriel, dia itu milikku!" ancam Lucia.


"Milikmu? Apa aku nggak salah dengar? Aku rasa kedua orang tua Azriel juga tahu juga kami menjalin hubungan. Jadi, jangan ngaku-ngaku deh. Aku rasa sangat lucu jika kamu mengklaim jika Azriel adalah milikmu dan dia pacatan denganku," jawab Mentari yang tak mau mengalah pada Lucia, ia sudah bertekad akan menghadapi apapun yang akan menghalangi hubungan mereka, termasuk Lucia.

__ADS_1


Mentari masih kesal dengan penghinaan Lucia dulu padanya dan tak akan membiarkan siapapun kembali menghinanya.


__ADS_2