Berbagi Cinta : Mencintai Diriku Dan Dirinya

Berbagi Cinta : Mencintai Diriku Dan Dirinya
Berbagi Cinta.


__ADS_3

Pagi hari Abizar langsung menyerahkan semua tanggung jawab masalah renovasi yang tersisa kepada kakek dan Paman Khanza.


Semua berkumpul di rumah kakek termasuk para tante, paman dan juga para warga. Mereka semua sangat berterima kasih atas kebaikan hati Abizar saat berada di sekitar mereka.


Bude memeluk erat ponakannya, "Buda pikir kamu akan melahirkan di sini," ucap bude Maya.


"Nggak Bude, sebaiknya aku melahirkan di kota suamiku saja. Kak Abi juga sudah lama meninggalkan pekerjaannya," jawab Khanza.


"Keputusan kamu sudah tepat, memang seharusnya kamu lah yang mengikuti apa yang diinginkan suami kamu, kemana ia akan membawamu. Bukan sebaliknya, kamu merepotkan dia dengan membawanya kesini. Bude yakin, suamiku pasti sangat mencintaimu hingga ia rela meninggalkan pekerjaannya dan ikut tinggal disini bersamamu," ucap Bude Maya mencubit pipi Khanza.


"Iya, Khanza. Kamu sangat beruntung Nak, memiliki suami seperti Abizar, bukan hanya tampannya yang rupawan, hatinya juga sangat baik," tambah Mirna.


"Kami doakan rumah tangga kalian akan selalu harmonis dan bahagia akan memiliki anak-anak yang lucu yang bisa membawa kebahagiaan di keluarga kalian nantinya."


"Makasih ya Bude, Tante," ucap Khanza pada dua orang saudara ayahnya yang sudah dianggapnya sebagai orang tuanya semenjak ia menjadi yatim pintu.


Acara perpisahan keluarga pun digelar, setelah itu, Abizar dan Khanza bertolak ke bandara saat menjelang siang, semua mengantar kepergian mereka dengan doa agar mereka selalu bahagia, lambaian tangan mereka, semua itu tak lepas hingga mobil yang ditumpangi Abizar dan Khanza menghilang ditelan jarak.


Mereka hanya di antara oleh Hendra, kakek dan nenek Khanza.


Sebelum berangkat nenek kembali memeluk Khanza dan membisikkan sesuatu.


Ya, Nenek membisikan penyemangat untuk cucunya. "Kamu harus tetap sabar, cobalah untuk menerima. Ingat ada bayi yang sangat membutuhkan kasih sayang." Mengusap lembut rambut cucunya, yang dibalas anggukan oleh Khanza.


Setelah mendengar ucapan nenek beberapa hari yang lalu, Khanza memutuskan untuk mengikuti saran nenek, mencoba untuk menerima semua yang telah terjadi dan jika ia memang benar-benar tak sanggup, ia boleh pergi dari pernikahan itu walau tanpa persetujuan suaminya. Itulah yang ada dipikiran Khanza saat ini, nenek ada bersamanya sekarang, ia tak akan takut lagi jika memang harus berpisah pada akhirnya.Β 


Setiap malam Ia terus berdoa meminta petunjuk, apakah yang akan dilakukannya, benar atau tidak. Namun, setelah pemeriksaan kandungan dan Dokter menyatakan jika ada sedikit masalah pada proses persalinannya kelak, entah mengapa tiba-tiba keinginannya untuk pulang dan melahirkan di kota lebih besar dibandingkan harus tinggal di kampungnya.


Khanza melihat kearah suaminya yang terlihat sangat bahagia, menggenggam tangannya berjalan menuju ke pesawat.


Sesekali Khanza berbalik dan yang melambaikan tangan kepada nenek, kakek dan Pamannya dengan senyum yang terus ia tunjukkan.


Saat akan menaiki tangga pesawat Khanza berhenti sejenak, membuat Abizar juga ikut berhenti.


"Ada apa?" tanya Abizar.


"Kakak janjikan akan membahagiakanku?" Tanya Khanza.


Abizar memegang kedua tangan Khanza, mengecupnya secara bergantian, "Aku janji akan selalu membahagiakanmu, akan berusaha menghapus semua air matamu dengan kebahagiaan," ucapan Abizar meyakinkan Khanza.

__ADS_1


Khanza mengangguk dan tersenyum, mencoba untuk percaya jika ia akan bahagia hidup dengan orang yang dicintainya dan mencintainya.


Β Khanza kembali berbalik dan melambaikan tangan kepada nenek dan kakeknya yang masih melihat mereka dari kejauhan


Dengan sangat hati-hati Abizar membantu Khanza menaiki pesawat.


"Semoga kalian bahagia." Doa Nenek saat pesawat sudah mulai menghilang di balik awan. Setetes butiran air mata menetes dari kelopak mata keriput sang nenek, membayangkan rasa sakit yang diderita oleh cucunya. Namun, ia yakin jika Abizar pria yang sangat baik dan bisa membahagiakan Khanza cucunya.


"Khanza nenek yang manja kini menjadi wanita yang tangguh, semoga kebahagiaan selalu bersamanya." Hati nenek.


Di bandara, di ibu kota.


Fahri dan Farah sudah menunggu kedatangan mereka, Farah sangat bahagia saat mendengar kabar dari Abizar jika Khanza memutuskan untuk melahirkan di kota mereka.


Mendengar kabar itu Farah langsung bersiap, ia menyiapkan kamar yang akan mereka tempati. Ia membersihkan kamar atas yang selama ini kosong. Farah juga menyediakan kamar bayi khusus di samping kamar utama tersebut lengkap dengan segala pernak-pernik perlengkapan bayi.


Farah tersenyum senang saat melihat sosok Abizar dan Khanza berjalan menuju mereka.


Khanza melepas genggaman tangan Abizar saat melihat Farah yang menjemput mereka.


Abizar kembali mengambil tangan Khanza bahkan mengecupnya.


"Apa kak AbiΒ  tidak menjaga perasaan Mbak Farah," batin Khanza tak mengerti dengan hubungan Abizar dan istrinya Farah.


"Mbak sangat merindukanmu. Bagaimana kesehatanmu dan bayimu?" tanya Farah.


"Kami baik mbak, terima kasih," jawab Khanza singkat.


"Sebaiknya kita pulang sekarang, Kau pasti capek 'kan."


Setelah berbasa-basi mereka berjalan pulang, Abizar dan Fahri berjalan di belakang, sedangkan Farah merangkul Khanza dengan sangat hati-hati berjalan menuju mobil.


"Bagaimana perusahaan ?" Tanya Abizar pada Fahri.


"Yah, begitulah. Semenjak kepergian mu kita mengalami banyak kerugian," jawab Fahri.


"Terima kasih karena kau sudah menggantikan ku," ucap Abizar.


"Aku minta maaf, hanya itu yang bisa aku lakukan. Aku tak bisa mempertahankan beberapa klien penting," sesal Fahri.

__ADS_1


"Tak apa, sejauh ini semua usahamu sungguh sangat membantu. kehilangan mereka tak masalah yang terpenting aku bisa membahagiakan kedua istriku. Aku bisa kembali membawa Khanza pulang," ucap Abizar melihat kedua wanita istimewanya yang berjalan di depannya.


Fahri menepuk bahu Abizar seperti sedang memberi kekuatan di sana.


Begitu sampai di rumah, Farah dan Khanza sudah disambut oleh Warda, Warda tak mengira jika mereka akan datang. Sungguh sangat menggembirakan. Ia langsung memeluk menantunya itu.


"Kamu kok nggak bilang-bilang sih kalau sudah mau datang, Mama 'kan bisa menyiapkan jamuan buat kalian."


"Farah sudah menyiapkan makan malam istimewa untuk kita malam ini," ucap Farah.


"Benarkah, kamu memang yang baik dalam hal ini, kalian berdua menentu istimewa buat mama," ucap Warda memeluk kedua menantunya.


Saat mereka semua sedang bertemu kangen, Santi berdiri di tangga melipat tangannya di dada. "Kenapa, sih! Di harus kembali lagi, aku pikir ia akan meninggalkan istrinya di kampungnya, ternyata dia kembali membawa nya pulang. Sepertinya dia sudah benar-benar mencintai istrinya itu," kesal Santi.


Farah membawa Khanza ke kamar atas,


"Mbak, aku tidur di kamar yang biasa saja," ucap Khanza.


"Tidak, mulai sekarang kamu akan tidur di kamar atas, aku juga sudah menyiapkan kamar bayi kita di samping kamar utama.


Khanza akhirnya menuruti apa yang di katakan Farah.


Farah pendudukan Khanza di sisi tempat tidur, di kamar itu hanya mereka berdua. Abizar sedang berbincang dengan Fahri di ruang kerja.


"Apa kamu masih marah sama mbak?" Tanya Farah menatap dengan serius mata Khanza.


"Aku sudah memaafkan mbak dan kak Abi, Aku akan mencoba menerima dengan ikhlas pernikahan kita ini," lirih Khanza.


Farah bahagia mendengar ucapan Khanza, selama ini dia tidak pernah melihat Khanza serius itu.


"Sepertinya pengorbananku selama ini tak sia-sia." Batin Farah.Β 


"πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–


Terima kasih sudah membaca πŸ™


Beri dukungan kalian ya dengan memberi like, vote, dan komennya πŸ™πŸ’—


Salam dariku Author m anha ❀️😘

__ADS_1


Love you all πŸ’•πŸ’•πŸ’•


πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–


__ADS_2