
Khanza dan Aqila melompat, ikut turun bergabung dengan yang lainnya.
"Aqila kamu apa-apaan sih. Aku kan jadi basah," protes Khanza.
"Ya nggak apa-apa lah, kita kesini itu kan memang untuk ini!"
"Kamu nyebelin," kesal Khanza.
"Kamu kok ngambek sih," ucap Aqila saat Khanza berenang menjauhinya.
Aqila sengaja melompat di tempat yang cukup dalam, beruntung mereka berdua pandai berenang.
Baru saja Khanza berenang sedikit menjauhi Aqilah tiba-tiba ia merasa kram pada kedua kakinya.
Tiba-tiba Khanza merasa ia tak bisa mengimbangi dirinya.
"Aqila tolong aku," teriak Khanza sebelum tenggelam, Khanza merasa ada yang menariknya.
"Khanza," pekik Aqila saat melihat Khanza yang tak bisa menguasai dirinya.
Aqila dengan cepat berenang menghampiri Khanza.
Abizar yang melihat itu dengan segera ingin menolong Khanza. Namun, Aziel masih ada di gendongannya, sehingga ia harus memberikan dulu kepada yang lain.
Daniel yang berada lebih dekat langsung melompat menolong Khanza.
Dari mereka bertiga Daniel yang lebih dulu sampai pada Khanza. Dengan cepat Daniel menarik Khanza dan membawanya ke tepian.
"Khanza, bangun," ucap Daniel memukul-mukul pipi Khanza yang sudah tak sadarkan diri begitu sampai di tepian.
Semua langsung mengerumuni Khanza yang sudah terbaring tak sadarkan diri dengan Daniel yang terus mencoba untuk membangunkannya.
Daniel mencoba menekan perut Khanza mencoba mengeluarkan air yang mungkin saja sudah tertelan.
Khanza terbatuk dan dengan cepat Daniel membangunkannya.
"Khanza kau tak apa-apa?" tanyanya.
Khanza hanya mengangguk dan mencoba untuk mengatur nafasnya masih terus terbatuk-batuk.
"Khanza kamu nggak apa-apa?" tanya Abizar yang baru sampai dan langsung mendorong Daniel yang menghalanginya, membawa Khanza kepelukannya.
Khanza hanya mengangguk.
"Ayo bawa kesana," ucap Farah datang sambil menggendong Aziel.
Abizar membawa Khanza dimana tempat mereka berkumpul, semua sudah kembali ke aktivitas mereka. Kejadian Khanza yang tenggelam menjadi pusat perhatian mereka semua yang ada di sana.
"Kamu kenapa bisa tenggelam, kamu kan bisa berenang," ucap nenek yang merasa khawatir.
__ADS_1
"Tadi kakiku tiba-tiba kram, Nek," ucapnya.
"Maaf Nek, ini semua salah ku," Aqila merasa bersalah.
"Sudah, nggak apa-apa, kamu kan nggak sengaja," ucap bude melihat Aqila yang sudah berkaca-kaca.
"Nggak papa kok. Ini bukan salah kamu, aku aja yang ceroboh," ucap Khanza.
Ingin rasanya Abizar marah pada Aqila. Namun, sebisa mungkin ditahannya. Tadi Abizar melihat jelas jika Aqila memaksanya.
"Terima kasih ya, Nak Daniel sudah menolong cucu nenek, untung kamu cepat menolongnya," ucap nenek yang melihat semua kejadian tadi, jika Daniel yang lebih dulu menolong Khanza.
"Iya sama-sama. Untung saja aku bisa menyelamatkannya dengan cepat."
"Khanza apa kau sudah merasa nyaman kalau begitu kita pulang saja sekarang," ucap Abizar yang dijawab anggukan oleh Khanza.
"Kami akan pulang lebih dulu," pamit Abizar pada yang lainnya.
Abizar kembali mengangkat Khanza ke mobil, melihat jika tubuh istrinya itu masih bergetar hebat karena kejadian tadi.
Nenek, Warda, Farah ikut pulang lebih dulu begitu juga dengan Daniel dan Aqila, sementara yang lainnya masih menikmati acara mandi mereka. Nenek mengatakan jika Khanza baik-baik saya dan mereka tak usah khawatir.
Kakek juga ikut pulang ikut bersama dengan Daniel dan Aqila.
Sepanjang perjalanan pulang tak ada pembicaraan di mobil, Farah sudah mengganti baju Aziel dan memberikannya susu sedangkan Abizar, khanza dan Wardah masih memakai pakaian yang basah, mereka hanya mengambil handuk dan sedikit menutupi tubuhnya dari udara dingin.
"Kak jangan marahin Aqila, ya! Ini semua bukan salah Aqila," ucap Khanza. Ia yakin suaminya itu apa pasti menyalahkan sahabatnya itu.
Abizar sebenarnya tak marah dengan Aqila, Ia hanya merasa kecewa dengan dirinya sendiri. Ia merasa telah gagal melindungi Khanza dan justru Daniel yang menyelamatkannya. Ia juga merasa kesal saat melihat sendiri bagaimana Daniel mengangkat Khanza walau itu hanya bertujuan untuk menolongnya. Namun, tetap saja ia tak suka melihat semua itu.
Setelah sampai di rumah, Khanza sudah lebih baik, ia sudah bisa berjalan sendiri walau masih sedikit merasa ketakutan.
Bayangan dirinya saat tenggelam masih menakutinya. Bagaimana jika ia tak selamat, bayangan itu terus saja membuatnya masih ada rasa takut.
"Kak Daniel, terima kasih ya, tadi sudah menyelamatkan ku," ucap Khanza saat Daniel berjalan di dekatnya.
"Iya, nggak apa-apa. Aku senang bisa menyelamatkanmu, aku akan selalu ada jika kau membutuhkan bantuan ku, mungkin suatu saat nanti," ucap Daniel berlalu meninggalkan Khanza masuk ke dalam.
"Maksudnya apa, ya!" gumam Khanza lihat Daniel masuk ke dalam rumah dengan pakaian setengah basah.
"Khanza maafin aku, ya," ucap Aqila memeluk sahabatnya itu.
"Iya nggak apa-apa kok, Aku juga udah baik-baik aja sekarang."
Abizar turun dari mobil dan membanting pintu mobil saat menutupnya dan menatap tajam pada Aqila.
Aqila merasa takut saat Abizar berjalan ke arah mereka.
Yang lain sudah ikut masuk menyusul Daniel mereka harus segera mengganti pakaian mereka yang masih basah.
__ADS_1
Aqila menunduk saat Abizar sudah berada di depan mereka.
"Kak, ini semua bukan salah Aqila, aku juga sudah enggak apa-apa kok," ucap Khanza yang tahu jika suaminya itu pasti ingin menegur Aqila.
"Aqila beritahu pada Daniel jangan banyak bertingkah, aku masih maafkan semua tingkahnya di sini, tapi tidak saat kita kembali kekota," ucap Abizar menarik tangan Khanza untuk masuk meninggalkan Aqila yang masih menunduk merasa takut.
"Aku kan sudah minta maaf," lirih Aqila melihat Abizar dan juga Khanza berjala masuk kedalam rumah.
"Sudah, ayo masuk. Ganti pakaianmu nanti kamu masuk angin, yang tadi itu hanya sebuah kecelakaan bukan di sengaja" ucap kakek yang dijawab anggukan oleh Aqila dan juga ikut nggak jalan masuk.
Aqila yang merasa tak enak karena kejadian pagi tadi terus merasa takut dengan Abizar, ia terus saja merengek meminta Daniel untuk pulang. Daniel Sebenarnya masih ingin tinggal. Namun, Aqila tak membiarkannya untuk tinggal setiap detik, ia selalu merengek minta pulang. Akhirnya Daniel pun mengalah, mereka pulang saat sore hari.
Mereka berpamitan kepada keluarga besar Khanza. Semua kembali bergabung di rumah kakek sepulang mereka dari pemandian.
Daniel menghampiri kakek yang sedang duduk bersama dengan Abizar.
"Kakek, kami pulang dulu, terima kasih untuk untuk jamuannya, telah mengizinkan kami tinggal di sini, kami sangat merasa senang bisa mengenal keluarga kakek."
Abizar melipat tangannya di dada menetap Daniel dengan tatapan tak suka.
Daniel ingin berbalik dan melangkah pergi. Namun, ia kembali berbalik,
"Jika suatu saat nanti Kakek butuh bantuan ku, jangan sungkan-sungkan untuk menghubungi ku, aku akan selalu membantu apapun yang kakek inginkan termasuk menyangkut dengan Khanza," ucapnya menetap pada Abizar dengan tatapan meremehkan.
Abizar mengeratkan giginya, sebisa mungkin Ia terus menahan emosinya .
"Daniel kau benar-benar diluar batasanmu," batin Abizar.
Kakek bisa menyadari tatapan permusuhan dari keduanya.
"Jika ada waktu mampirlah lagi, pintu rumah kakek selalu terbuka untukmu dan saran kakek cepatlah meminang Aqila, dia gadis yang cocok untukmu," ucap kakek mengalihkan pembicaraan mereka.
"Aqila maafin kak Abi ya, dia nggak bermaksud marahin kamu," ucap Khanza rasa tak enak.
"Nggak, Aku memang sudah ingin pulang," ucap Aqila.
Aqila dan Daniel pun meninggalkan kampung halaman kakek, Khanza melihat mobil mereka terus menjauh. Ia merasa sedikit bersalah, Aqila pulang dengan perasaan yang tak enak.
Tadinya ia ingin menghibur sahabatnya itu sebelum pulang. Namun, ternyata kenyataannya berbeda.
💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖
Terima kasih
Like
vote
komentar
__ADS_1
💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖