
Pagi hari semua sudah bersiap-siap, hari ini mereka akan pergi melihat rumah baru yang akan ditempati Khanza nantinya.
Semuanya pergi termasuk Santi, hari ini mereka akan melihat 3 rumah dan akan memilih salah satu dari ketiganya, Farah sengaja memilih rumah yang tak jauh dari kediaman mereka.
Rumah pertama. Rumah yang begitu mewah, terletak di kawasan elit. Mereka masuk dan melihat-lihat rumah tersebut, mengitarai semua tempat.
"Mama tidak suka dengan rumah ini, sebagai kita lihat rumah yang lainnya," ucap Warda yang merasa rumah itu tak cocok untuk cucunya. Rumah tersebut banyak terdapat tangga, takut jika cucunya nanti akan terjatuh.
Mereka kembali melanjutkan ke rumah kedua. Rumah berikutnya jauh lebih mewah. Namun, lagi-lagi Warda tak menyukainya. Alasannya rumahnya tak nyaman.
"Mah, rumah ini sudah sangat bagus," ucap Farah yang merasa rumah itu sangat cocok untuk Khanza.
"Rumah ini terlalu luas, apa Khanza bisa mengawasi Ziel sendiri, bagaimana jika terjadi sesuatu Aziel, kamu tidak ingin hal itu terjadi 'kan." Warda kemudian berjalan lebih dulu keluar, yang lain hanya bisa saling pandang dan menghela nafas.
Perjalanan menuju ke rumah yang ketiga, "Apakah kalian tak bisa mencari rumah yang lebih nyaman, dari tadi yang mama lihat hanya kemewahan saja, tak ada kenyamanan sedikitpun di rumah yang tadi," protes Warda.
"Mah diantara semua yang rumah yang Farah lihat hanya ketiga rumah ini yang paling nyaman, yang paling baik untuk mereka dan lokasi juga sangat dekat dengan tempat kita," ucap Farah tak yakin apakah mertuanya itu akan menyukai rumah berikutnya.
Khanza hanya diam sambil terus memangku Aziel yang sedang tertidur. Sesekali menunduk mencium kepala putranya.
Mereka sampai di rumah ketiga dari luarnya saja terlihat sudah sangat nyaman menurut Warda, terdapat banyak pepohonan, teman kecil juga ada di samping rumah.
Rumah kali ini memang tak semewah rumah yang pertama dan kedua. Namun, terlihat sangat nyaman. Setelah mengecek ke seluruh ruangan akhirnya Warda memutuskan untuk memilih rumah itu saja.
Farah menghela nafas lega, tadinya ia berpikir mertuanya itu sengaja tak memilih rumah manapun agar mereka tak pindah dari rumah utama.
Tanpa mereka sadari sedari tadi ada sebuah mobil yang mengikuti mereka dan mengambil foto semua aktivitas yang mereka lakukan, orang tersebut mengirim beberapa foto dan rekaman kepada Daniel dan menginformasikan jika istri kedua dari pak Abizar sedang mencari rumah baru.
Daniel tersenyum tipis saat mendapat pesan dari orang suruhannya, "Jadi Khanza akan tinggal di rumah yang berbeda dari Farah, menarik," ucapnya muter-muter ponsel di tangannya.
"Aku harus mencari tahu lebih banyak lagi tentang pernikahan mereka, sepertinya Aqila bisa memberikan informasi mengenai keluarga mereka," gumam Daniel muter-muter kursi kerjanya menyusun rencana demi rencana untuk mendekati Khanza.
Mereka semua kembali ke rumah utama "Jadi kita sepakat ya membeli rumah yang terakhir," ucap Abizar pada semua.
"Kalian aja yang sepakat, kalau Mama masih tetap ingin Aziel tinggal disini," ujar Warda kesal berjalan lebih dulu masuk kedalam rumah. Mau tak mau, keputusan sudah diambil. Khanza dan Aziel akan pindah ke rumah mereka sendiri.
Santi juga ikut menyusul Warda masuk. Ia bukan kesal karena Khanza pindah, tapi ia begitu iri dengan rumah yang akan Khanza tempati. Selain sudah menjadi miliknya sendiri rumahnya juga masih terbilang sangat besar dan mewah.
Abizar mengambil Aziel dari pangkuan Khanza dan membawanya masuk.
__ADS_1
"Kapan kalian akan berencana pindah?" tanya Farah yang berjalan masuk beriringan dengan Khanza.
"Aku sih maunya secepatnya Mbak, tapi terserah kak Abi saja," ucap Khanza berjalan sambil menggandeng tangan Farah. Lagi-lagi foto mereka diambil oleh seseorang dan langsung terkirim ke ponsel Daniel.
Daniel bisa melihat dengan jelas Farah dan Khanza terlihat begitu akrab layaknya saudara tak seperti madunya, Abizar juga terlihat begitu bahagia menggendong Aziel yang ini baru ketahui jika bayi itu adalah anaknya dan Khanza.
Daniel menelpon Aqila,
"Halo kak Daniel," jawab Aqila yang terdengar begitu bahagia.
"Kamu lagi di mana?" tanya Daniel.
"Di kos-kosan aja kok kak. Lagi rebahan lagi males keluar," jawabnya masih sambil rebahan malas.
"Kita keluar, yuk," ajak Daniel.
"Iya boleh," jawab Aqila cepat dan langsung duduk dari rebahannya.
"Aku jemput kamu sekarang, ya?"
" Iya, aku siap-siap sekarang," ucap Aqila.
"Apakah itu berarti dia sudah mulai menyukaiku," ucap Aqila mengacak-acak rambutnya sendiri merasa sangat senang, dengan cepat Ia berlari masuk ke kamar dan bersiap-siap. Ia tak ingin membuat Daniel pujaan hatinya menunggu.
Tak butuh waktu lama Daniel sudah datang, Aqila yang sudah siap langsung berlari menuju ke mobil Daniel.
"Kita mau ke mana kak?" tanya Aqila yang baru masuk dan duduk memasang sabuk pengamannya.
"Terserah saja kamu mau kemana?" tanya Daniel mulai menjalankan mobilnya.
"Kita ke cafe aja dulu, gimana?"
"Oke, siap." Daniel mengarahkan mobilnya ke Cafe dimana tempat sering dikunjunginya bersama dengan almarhum adiknya.
Daniel memarkirkan mobilnya di salah satu cafe termewah di kota itu membuat Aqila menelannya liurnya dengan susah, tadinya Ia berpikir Daniel akan membawanya ke cafe yang biasa, di mana ia sering nongkrong dengan teman-temannya.
Mereka duduk di salah satu ruangan khusus, cafe itu memiliki ruangan khusus.
Hingga 1 pengunjung dengan pengunjung lainnya saling menjaga privasi masing-masing, sangat nyaman dan mewah itulah kesan Aqila saat pertama kali masuk ke cafe tersebut.
__ADS_1
"Kakak sering ke sini?" tanya Aqila berbasa-basi sambil melihat menu.
"Iya! Biasanya aku bersama almarhum adikku. Kami paling sering ke cafe ini."
"Almarhum adik kakak?" Aqila merasa tak enak. "Maaf kak, aku ga bermaksud."
"Iya, nggak apa-apa, kamu mau pesan apa?" tanya Daniel.
"Aku ikut pesanan kakak saja, aku nggak terlalu tahu menu di sini," jujur Aqila.
Daniel memesan menu yang sering di pesannya. Mereka mengobrol sambil menunggu pesanan.
"Oh ya, kok bisa ya Khanza jadi istri kedua dari Abizar, maksudku apa ada paksaan atau perjodohan atau apalah?" tanya Daniel langsung pada pokok tujuannya mengajak Aqila.
"Aku juga enggak tahu pasti, Kak," jawab Aqila yang tak ingin ikut campur dalam urusan rumah tangga Khanza dan Abizar.
"Bukannya kamu teman Khanza, masa kamu nggak tahu sih?"
Aqila hanya tersenyum kaku menjawab pertanyaan Daniel, bukannya Aqila tak tahu, dia tahu semua tentang pernikahan Khanza. Namun, itu semua bukan untuk dibagi-bagikan.
Daniel mengerti jika Aqila tak akan mudah memberikan informasi tentang Khanza.
Ia tak akan menyerah, mendapatkan informasi tentang Khanza, dan akan berusaha untuk mendapatkan Khanza. Tapi dia tak akan menggangu hubungan mereka jika Wanita yang disukainya itu bahagia dengan pernikannya.
💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖
Terima kasih sudah membaca 🙏
Jangan lupa like, vote komennya🙏
Author M Anha ❤️
💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖
sambil menunggu update terbaru, kalian bisa mampir ke karya temanku🙏
Terima kasih jangan lupa like vote dan Favoritkan 💖
__ADS_1