
Salah satu keistimewaan seorang wanita yaitu memiliki rahim. Dimana di rahim itulah seorang anak tumbuh dan berkembang dari hanya cairan dan berkembang menjadi janin yang dinanti-nantikan setiap pasangan di muka bumi ini.
Setiap pasangan pasti memiliki harapan bisa memiliki seorang anak sebagai lambang bersatunya cinta mereka. Namun, ada kalanya Allah menguji hamba-nya dengan tak memberikannya keistimewaan itu. Sama halnya dengan Farah, dia tak diberikan keistimewaan itu, tapi ia diberikan banyak keistimewaan lain.
Menjadi wanita yang kuat, mandiri, baik hati, memiliki banyak cinta.
Farah selalu berusaha menjadi anak, menantu, dan istri yang baik. Namun, Allah belum mengizinkannya menjadi ibu, melahirkan seorang anak untuk suaminya.
Dibalik kekurangannya itu Allah menganugerahinya hati yang kuat dan tegar, yang ikhlas sehingga ia mengizinkan bahkan meminta suaminya untuk menikah lagi demi kelangsungan keturunan suaminya.
Farah tak ingin egois, karena kekurangannya yang tak bisa menjadi seorang ibu menjadikan juga suaminya tak bisa menjadi sosok ayah.
Keikhlasan Farah berbuah manis, sebentar lagi suaminya akan menjadi seorang ayah walau janin itu terlahir bukan dari rahimnya. Namun, ia merasa sangat bahagia, anak suaminya adalah anaknya juga itulah yang dipikirkan oleh Farah.
Keberuntungan menjadi seorang ibu didapatkan oleh Khanza, Namun, ia diuji dengan pernikahannya.
Khanza juga ingin menjadi sosok seperti Farah yang berhasil melewati segala ujiannya berusaha ikhlas menerima kenyataan jika dirinya adalah istri kedua dari suaminya.
Saat ini Khanza sedang melewati tahap yang paling sulit bagi seorang ibu yaitu melahirkan anaknya ke dunia ini. Ibarat kata seorang ibu mempertaruhkan nyawanya untuk nyawa anaknya, seorang ibu menahan sakit demi bertemu dengan anaknya.
*****
Saat ini Khanza benar-benar merasakan sakit itu, ia mencengkeram erat pinggiran kasur, mencengkram erat ponselnya. Sudah beberapa kali ia menelpon suaminya, Abizar. Namun, panggilannya tak kunjung dijawab.
"Kak, di mana kamu. Apa yang kamu lakukan saat ini, aku sangat membutuhkanmu," ucap Khanza yang sudah berdarah air mata, ketakutan terus saja merasukinya ditambah lagi rasa sakit yang kian memuncak dirasakan nya.
Setelah melewati sakit yang begitu terasa, rasa sakit itu perlahan mereda dan menghilang.
Khanza mencoba berjalan keluar kamar,
"Mbak Farah, di mana Mbak Farah," batinnya.
Saat ini di rumah hanya ada Mbak Farah dan Bibi.
Karena kepanikan nya Khanza lupa jika ia bisa saja menelpon Farah melalui ponselnya. Namun, ia memilih untuk berjalan keluar kamar meninggalkan ponselnya di atas tempat tidur. Berjalan tertatih-tatih menuju ke kamar Farah.
Saat berada di pertengahan tangga sakitnya kembali datang, Khanza tak bisa berbuat apa-apa selain duduk di tangga dan mencengkram pegangan tangga, mencoba menahan rasa sakitnya, seolah sakit itu menggulung di perutnya kian detiknya kian memuncak.
Khanza kembali mengingat aturan-aturan agar mengurangi rasa sakitnya, dia mencoba mengatur nafasnya menarik nafas dengan perlahan dan menghembuskannya.
Keringat sudah bercucuran di keningnya, dan tangannya sudah bergetar mencengangkan tangga.
Sama halnya dengan yang dirasakannya beberapa saat lalu, setelah sakit itu memuncak perlahan rendah dan menghilang.
"Mbak Farah," teriak khanza sambil menuruni tangga dengan perlahan saat rasa sakitnya mereda.
__ADS_1
Khanza mencoba berjalan cepat menuju ke kamar Farah. Mencuri waktu sebelum sakit kembali menyarangnya.
Ketukan pintu membuyarkan konsentrasi Farah yang sedang mengerjakan pekerjaan yang selama ini tertunda.
"Mbak Farah," teriakan Khanza mengetuk-ngetuk pintu kamar Farah.
"Khanza," ucap Farah bergegas membuka pintu saat mendengar suara khanza.
"Khanza ada apa?" tanya Farah yang panik melihat kondisi madunya itu.
Terlihat jelas sisa air mata di wajahnya dan bercampur keringat.
"Ada apa? Kamu kenapa?" tanya Farah mulai panik.
"Awwww, sakit," Pekik Khanza saat sakit itu kembali datang. Ia mencengkram erat tangan Farah dan terduduk di lantai.
"Perut kamu sakit?" tanya Farah panik.
"Iya, Mbak. sepertinya aku mau melahirkan, perutku sangat sakit, Mbak," rintih Khanza.
"Sebentar aku telepon mas Abi dulu," ucap Farah bergegas masuk ke kamar dan mengambil ponselnya, menghubungi suaminya. Namun, hasilnya sama dengan apa yang telah Khanza alami. Panggilan nya tersambung. Namun, suami mereka tak mengangkatnya.
"Mas Abi, dimana kamu," ucap Farah dengan tangan bergetar kembali menelpon Abizar, ia berjongkok mencoba mengelus perut Khanza dia bisa melihat jika tangan Khanza bergetar saat mencengkram kaki meja yang ada di dekatnya.
*****
"Khanza kamu tak apa-apa," panik Farah.
"Aku juga sudah menelepon kak Abi, tapi dia tidak menjawab. Sebaiknya kita ke rumah sakit sekarang, Mbak. Aku sudah tak tahan," mohon Khanza.
"Ya sudah, kita ke rumah sakit sekarang. Sebentar Mbak ambil tas dulu," ucap Farah kembali berlari masuk ke kamarnya, ia sudah menyiapkan tas untuk dibawa minggu depan saat Khanza operasi. Namun, sepertinya tas itu sudah harus di bawahnya saat ini.
"Kamu bisa jalan?" tanyanya pada Khanza.
Khanza menggeleng, "Sakit Mbak, tunggu sampai sakitnya reda dulu," ucap Khanza dengan nafasnya yang terus berusaha ia atur agar mengurangi rasa sakitnya.
"Mbak keluarkan mobil dulu," ucap Farah berlari keluar rumah menyiapkan mobil yang akan mereka gunakan.
FarahΒ memarkirkan mobil sedekat mungkin dengan teras rumah kemudian kembali masuk ke dalam menemui Khanza.
"Apa kamu sudah bisa jalan?" tanyanya. Khanza mengganggu dan mengulurkan tangannya, Farah mencoba membantu Khanza berdiri, mereka berjalan keluar dengan Farah yang membantu Khanza.
Dengan hati-hati Farah memasukkan Khanza di jok belakang dan menyimpan tasnya di sana.
"Mbak, aku takut," ucap Khanza genggam erat tangan Farah dengan lelehan air mata yang terus mengalir di matanya.
__ADS_1
"Semua akan baik-baik saja, Mbak akan membawamu ke rumah sakit," ucap Farah yang diangguki oleh Khanza.
Sebelum pergi Farah menitipkan rumah pada bibi.
Dengan cepat Farah membawa Khanza ke rumah sakit. Farah melajukan mobil di atas batas kemampuan.
"Mbak, apa rumah sakitnya masih jauh?" tanya Khanza yang terus mencoba menahan agar tak terisak, ia tak ingin menambah panikan Farah.
"Rumah sakitnya sudah dekat, kamu tahan ya," ucap Farah masih terus konsentrasi dengan jalan.
Tiba-tiba mobil Farah melambat, merasa ada masalah dengan mobilnya Farah menepikan mobilnya dan benar saja baru saja sampai ke tepi jalan mobil Farah sudah mati.
Farah mencoba men-starter kembali mobilnya, sudah beberapa kali ia mencoba. Namun, tetap saja gagal, mobil itu tak mau menyala lagi.
"Ada apa Mbak? Kenapa kita berhenti di sini?" tanya Khanza melihat jika mereka belum sampai di rumah sakit.
"Mbak juga nggak tahu, sepertinya ada masalah dengan mobilnya," ucap Farah. Ia tak tau menahu masalah mobil.
Farah kemudian turun dan mencoba mencari tumpangan. Namun, sialnya mereka berada di tempat yang sepi. Farah sengaja mengambil jalan pintas agar lebih cepat sampai ke rumah sakit, tapi ternyata perkiraan nya salah, mereka justru terjebak di sana.
Farah mengambil ponselnya dan kembali mencoba menelpon Abizar lagi dan lagi , Abizar tetap tak mengangkatnya.
"Kemana sih kamu, Mas. Apa salahnya mengangkat panggilan walaupun kamu sedang sibuk bekerja," geram Farah menatap layar ponselnya.
"Aku sudah tidak tahan, Mbak," teriakanΒ Khanza dari dalam mobil.
"Khanza kamu tahan ya, kita cari tumpangan," ucap Farah mencoba membuat Khanza tenang,Β padahal dia sendiri panik melihat Khanza yang terlihat sangat pucat, seluruh tubuhnya berkeringat dan dingin.
Farah melihat ada mobil, ia mencoba menghentikan mobil tersebut, tapi sepertinya mobil itu tak mau menolong mereka ia berlalu begitu saja.
Farah tak tau lagi harus berbuat apa, sesekali ia melihat Khanza yang menangis ketakutan dan kesakitan.
Bukan hanya Khanza yang menangis, Farah juga sudah ikut menangis. Iya tak tahu harus berbuat apa.
"Mas Abi, tolong kami ," ucap Farah di sela tangisnya melihat ke kiri dan ke kanan berdoa agar ada yang lewat dan memberi bantuan pada mereka.
"πππππππππππππ
Terima kasih sudah membaca π
Beri dukungan kalian ya dengan memberi like, vote, dan komennya ππ
Salam dariku Author m anha β€οΈπ
Love you all πππ
__ADS_1
πππππππππππππ