
"Pagi hari keributan terjadi di kamar mandi, Khanza, Azil dan Aisyah sedang berada di kamar mandi, mereka sedang mandi bersama. Khanza mengisi Bathtub dan memberi pewangi, Ia membawa Aisyah ikut berendam dengannya. Aziel juga ikut berendam dan selalu ingin memberi shampo ke kepala adiknya. Namun, Khanza tak mengizinkan takut jika Aziel mengenai mata Aisyah.
"Nggak Mama, Ziel akan pelan-pelan memberi shampo pada Adek," bujuk Aziel yang sangat ingin memberi shampo pada Aisyah.
"Aziel pakai sampo sendiri aja ya, adek biar Mama yang kasih shampo. nanti kena matanya adek 'kan kasian."
"Nggak Mama, Ziel pelan-pelan kok." Kekehnya dan terus menunjuk shampo.
"Ziel anak yang baik ya, nurut sama mama," ucap Khanza memberikan shampo pada Azriel yang sejak tadi meminta menunjuk shampo bayi mereka.
"Mama, ini tidak perih dimata. Shamponya suka masuk di mata Aziel tidak perih kok," ucapnya menjelaskan dengan ekspresi yang dibuat seimut mungkin, membuatkan Khanza tak tahan untuk mengabulkan permintaan anaknya itu.
Khanza melihat Aisyah yang terlihat begitu senang bermain air.
"Ya sudah, tapi pelan-pelan ya?" ucapnya, membawa Aisyah mendekat pada kakaknya.
Khanza hanya melihat Aziel memberi shampo ke kepala Aisyah dengan terus menjaga agar bayinya tak terlalu banyak bergerak.
Sesekali ia menyeka busa shampo yang mendekat pada mata putri kecilnya.
Aziel dengan senang menggosok shampo hingga berbusa.
"Sudah ya, Ziel. Kita bilas." Baru saja Khanza mengatakan untuk membilasnya Aziel langsung mengambil gayung yang ada di sampingnya dan menyiram kepala adiknya itu.
"Aziel," Pekik Khanza saat melihat apa yang dilakukan oleh putranya itu, dengan cepat ia mengusap wajah Aisyah yang terlihat kesusahan bernafas.
"Nggak apa-apa, Mama. Papa juga suka menyiram Ziel jika pakai shampo," ucap kembali mengambil air dan menyiram ke kepala Aisyah.
Aisyah menangis karena apa yang dilakukan Aziel.
Khanza langsung berdiri dan mencoba menenangkan putrinya.
"Iya, sayang. Aziel sudah besar Adek Aisyah masih kecil masih kaget kalau disiram kayak gitu, jangan diulangi lagi ya! kasihan adiknya," ucap Khanza mengambil handuk dan membersihkan wajah Aisyah.
" Ziel mandi sendiri ya? Mama mandiin Aisyah, kasih adenya," ucap Khanza mencoba menasehati putranya itu.
Aziel akhirnya mengangguk dan merasa bersalah karena melihat adiknya yang kini menangis karena ulahnya.
"Ziel nakal ya Mama?" tanya Aziel setelah selesai mandi dan memakai handuk berdiri di samping Khanza yang juga memakai handuk begitu juga dengan Aisyah yang sudah diam dalam dekapan Khanza.
"Nggak kok Sayang, Aziel 'kan masih kecil jadi belum tahu kalau ada Aisyah belum boleh disiram kayak gitu, jadi Ziel belajar ya dari kesalahan, ada hal-hal yang tak boleh kita lakukan.
Walaupun itu benar jika menyakiti orang lain kita juga tak boleh melakukannya, Aziel pahamkan maksud Mama?"
"Iya ma, Ziel paham."
"Ini baru anak Mama yang pintar." Mereka pun keluar kamar mandi, Khanza meletakkan Aisyah di atas tempat tidur dan meminta Aziel menjaganya, putrinya itu sudah banyak bergerak. Ia sudah bisa sedikit-sedikit merangkak.
"Aziel jaga adek dulu ya, Mama mau pakai baju," ucap Khanza meninggalkan mereka dan memakai bajunya yang, Aziel benar-benar menjadi kakak yang baik menjaga adiknya.
Khanza kemudian memakai pakaian pada Aziel.
"Wah, anak Mama ternyata sudah besar ya? Udah pintar jaga Adek," ucap Khanza mencium punggung tangan putranya.
"Mama, apa Papa nakal? Papa buat Mama menangis ya?" tanya Aziel memandang lekat pada mamanya
"Nggak kok, gak papa nggak nakal."
"Terus kenapa Mama suka nangis?"
__ADS_1
Khanza menghentikan memakaikan baju pada Aziel, ia tak menyangka jika anaknya itu melihatnya. Ia sudah berusaha menyembunyikan air matanya dari putranya itu.
"Itu air mata bahagia sayang, karena Aziel dan Ade Aisyah ada untuk menemani Mama," ucapnya kembali berbohong.
"Apa Mama juga merindukan Papa seperti Aziel?" tanyanya lagi.
"Aziel rindu Papa ya?" tanya Khanza memandang putranya dan mengusap rambutnya.
"Iya," Aziel mengangguk dengan bibir yang bergetar dan mata yang berkaca-kaca, putranya itu sangat merindukan Papanya sudah hampir seminggu mereka tak bertemu baik langsung maupun melalui panggilan video.
"Kita bantu adik Aisyah dulu yuk pakai bajunya, baru kita telpon Papa," ucap Khanza mengalihkan pembicaraan mereka.
Mereka keluar kamar sambil terus tertawa,
Aziel terus saja mencoba menggapai Aisyah yang ada di gendongan Khanza membuat bayi itu tertawa melihat kelakuan kakaknya.
"Maaf, Bu. Di luar ada …," bibi menghentikan ucapannya dan menatap Aziel.
Khanza mengerti jika yang dimaksud Bibi adalah Abizar.
"Aziel main sama Bibi dulu!" Khanza kemudian berjalan menuju ke arah jendela, ia mengerutkan keningnya saat melihat bukan hanya Abizar yang datang tetapi juga Warda mertuanya.
Khanza menelpon satpam yang menjaga agar membuka gerbang, membiarkan mereka masuk.
Walaupun Khanza tak ingin bertemu dengan Abizar. Namun, dia tak mungkin menutup pintu untuk Warda yang masih berstatus sebagai mertuanya, bisa dibilang Warda juga sebagai orang tuanya.
Satpam pembukaan pintu gerbang dan mempersilahkan mereka masuk.
"Terima kasih, Pak." ucap Abizar kemudian mereka masuk kembali ke dalam mobil dan melajukan mobilnya melewati gerbang.
"Benar 'kan Khanza tak mungkin membiarkan Mama di luar," ucap Warda yang tahu seperti apa sifat menantunya itu.
Khanza juga berjalan menghampiri mereka, sambil menggendong Aisyah.
Aisyah yang melihat Abizar begitu sangat senang dan ingin digendong oleh Papanya.
"Mainlah dulu dengan anak-anak, Ada yang ingin aku bicarakan," ucap Khanza memberikan Aisyah pada Abizar.
Abizar langsung memeluk erat putrinya itu dan menciumnya, ia merasa sangat bahagia akhirnya Khanza mempertemukan mereka kembali.
Setelah memberikan Aisyah Khanza kembali ke ruang kerjanya, memberikan waktu untuk Abizar bermain bersama dengan mereka.
Khanza masuk ke ruang kerjanya dan melihat surat gugatan cerai itu, ia sudah meyakinkan hatinya untuk mengakhiri hubungannya.
"Mungkin memang ini yang harus kita tempuh untuk tak saling menyakiti," ucap khanza memeluk surat gugatan cerai tersebut. Ia bersandar di kaca jendela melihat ke arah bawah, ia bisa melihat Abizar bermain dengan kedua anaknya garis senyum terlihat menghiasi wajahnya.
"Ziel main sama nenek dulu ya? Papa ingin ketemu dengan mama," ucap Abizar setelah lama bermain dengan mereka.
Aziel yang sudah merasa puas bermain dengan papanya akhirnya mengangguk dan bermain bersama dengan Warda dan juga Bibi pengasuhnya.
Abizar menarik nafas sebelum ia mengetuk ruang kerja Khanza.
Khanza yang mendengar ketukan langsung menghampiri pintu dan membukakan pintu, ia yakin jika itu adalah Abizar.
Pandangan mereka bertemu mereka masih bisa merasakan getaran yang sama di hati mereka.
"Masuk, Kak," ucap Khanza mengalihkan pandangannya.
Abizar masuk dan menutup pintu, Khanza berbalik dan ingin pergi. Namun, Abizar menahan tangannya.
__ADS_1
"Khanza aku mohon maafkan aku. Aku benar-benar tak bisa kehilanganmu," ucapnya menatap Khanza dengan mata yang berkaca-kaca.
"Maaf, Kak. Sepertinya kita memang harus berpisah," ucap Khanza menepis tangan besar kemudian menuju ke sofa yang di sana sudah, sudah ada surat gugatan cerai mereka, di atas meja.
Abizar berjalan pelan menghampiri Khanza yang duduk di sofa dan matanya tertuju pada map coklat yang ada di depan mereka. Hatinya mengatakan jika itu adalah surat yang sama yang diberikan pengacaranya beberapa hari yang lalu.
Perlahan Abizar duduk di samping Khanza dan memijat keningnya.
"Apa yang ingin kau bicarakan denganku?" tanya Abizar, pertanyaannya keluar dari mulutnya dengan susah, ia mencoba menguasai suaranya yang nyaris sulit untuk dikeluarkan Karena rasa sakit di dadanya tak mengizinkannya untuk berbicara dengan normal.
"Khanza menyodorkan Amplop itu di depan abidzar.
"Khanza aku mohon jangan seperti ini, kita masih bisa memperbaikinya." Abizar duduk menghadap Khanza dan memohon.
"Apa Kakak masih mencintaiku?" tanya Khanza menatap mata Abizar.
"Tentu saja aku sangat mencintaimu!" jawabnya berusaha menahan air matanya.
"Jika Kakak masih mencintaiku tolong lepaskan aku," ucapnya menunduk. "Aku sudah tak bisa menjalani hubungan ini, aku ingin bebas dan bernafas lega, aku lelah, kakak. Semua ini selalu menyakitiku." Khanza memegang kedua tangan Abizar dan menggenggamnya dengan erat kembali menatap mata suaminya itu.
"Apapun yang sudah Mas lakukan padaku, aku sudah memaafkannya. Aku ikhlas menerima semuanya, tapi aku mohon lepaskan aku. Biarkan aku mencari kebahagiaanku. Aku benar-benar sudah tak bisa bahagia lagi di samping kamu, Kak. Aku sudah berusaha. Namun, hatiku tak bisa. Jangankan untuk memulai hubungan lagi dengan kakak, bertemu dengan kakak saja sudah menyakitiku. Aku mohon mengertilah," ucap Khanza dengan airmata yang sudah membasahi pipinya dan terus menatap dalam pada mata Abizar.
Kata-kata Khanza itu membuat Abizar tak bisa berkata apa-apa lagi, setetes air mata juga jatuh di pipinya.
Khanza menghapusnya dengan senyuman, mencoba tersenyum di balik lelehan Air matanya. Dibalik hatinya yang terasa teriris.
"Sampai kapanpun aku akan mencintaimu, Kak, tapi maaf aku sudah tak bisa lagi berada disampingmu. Aku harap anak-anak bisa menggantikan posisiku. Maaf jika selama ini aku tak bisa menjadi istri yang baik buat kakak," Menghapus air matanya dan tetap tersenyum, melihat ke arah atas mencoba menahan air matanya. " Maaf, aku banyak berbuat salah pada kakak, Aku bukan Ibu yang baik untuk anak-anak Kita, tapi ini lah aku, walau sudah berusaha sempurna tetap saja aku tak bisa, aku sangat jauh dari kata itu." Khanza melepas genggaman tangannya dari tangan kekar suaminya.
Abizar menahan tangan Khanza. Ia tak ingin melepaskan istrinya itu.
"Kak, kamu mau 'kan lihat aku bahagia?" tanya Khanza dengan suara yang semakin sulit dikeluarkannya.
"Abizar tak bisa berkata apa-apa Ia hanya menunduk dan mengangguk, isakannya berhasil lolos, punggungnya bergetar menahan suara isakannya, tapi rasa sakit itu terus menerobos pertahanan. Abizar benar-benar melupakan jati dirinya sebagai seorang pria, ia turun ke lantai dan berlutut bersimpuh di pangkuan Khanza.
Khanza menarik Abizar ke pelukannya. Abizar balas memeluk erat istrinya sambil masih terus berlutut.
"Walau aku tak bisa menjadi istrimu aku masih bisa menjadi temanmu 'kan, Kak?" tanya Khanza di sela-sela Isak tangisnya.
Khanza melepas pelukannya dan meminta jawaban dari suaminya itu.
"Apa kau akan bahagia jika kita berpisah?" tanya balik Abizar menggenggam kedua tangan Khanza.
Khanza mengangguk, ia mengangguk berulang ulang, sangat mirip Aziel saat di tanyakan dan mengangguk.
"Baiklah, jika itu yang bisa membuatmu bahagia aku akan melepaskanmu." Abizar kembali duduk di samping Khanza dan membawa Khanza kepelukannya. Mungkin ini adalah pelukan terakhirnya sebelum mereka berpisah.
"Ada kalanya seseorang harus berhenti mencintai jika seseorang yang ia cintai lebih bahagia apabila ia melepaskannya."
💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖
Terima kasih sudah membaca 🙏
Salam dariku Author M Anha 🥰🤗
💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖
Mampir kak ke karya temanku 🙏
__ADS_1