
"Sial!" ucap Lucia menghentakkan kakinya saat ia merasa lelah melakukan ini dan itu di kantor tersebut, ini hari pertamanya bekerja dan pertama kalinya ia melakukan pekerjaan untuk mencari upah semenjak ia lahir ke dunia ini, membuat ia merasa sangat lelah hanya karena mengerjakan beberapa pekerjaan yang diberikan oleh seniornya.
Tadinya ia berpikir karena ia masuk melalui jalur rekomendasi pemimpin perusahaan tersebut, ia akan diistimewakan. Namun, ternyata tidak.
Saat Abidzar yang memperkenalkannya langsung pada kepala divisi di perusahaan tersebut, ia meminta kepada divisi itu untuk membimbingnya dan tak memandang ia sebagai keluarganya, ia ingin Lucia disamakan dengan pegawai lainnya.
Di sinilah Lucia, ia terus menggerutu kesal karena ia benar-benar disamakan dengan pegawai baru lainnya.
"Lucia, tolong kamu copykan semua berkas ini menjadi tiga rangkap," ucap salah satu pegawai senior memberikan tumpukan berkas pada Lucia.
"Kamu kan bisa mengcopynya sendiri, ini adalah tugasmu mengapa sejak tadi kamu terus menyuruhku," ucap Lucia menolak dengan tak sopan, ia bahkan bertolak pinggang menatap tajam pada pegawai tersebut.
"Hai, anak baru! Lancang sekali kamu," ucap pegawai tersebut saat mendengar ucapan Lucia yang menolak permintaannya.
"Mau aku pegawai baru atau pegawai lama di perusahaan ini, kamu tak harus ikut campur urusanku. Kita punya urusan masing-masing, pekerjaan masing-masing. Mengapa kamu menyuruhku. Aku sudah sangat lelah sejak tadi disuruh ini dan itu oleh pegawai yang berbeda," ucap Lucia.
Bayangannya ia akan bekerja dan duduk santai di ruangannya yang nyaman, ia bisa memerintah siapapun untuk membantu pekerjaannya bukannya sebaliknya.
Mendengar ucapan Lucia, orang tersebut langsung meletakkan dengan kasar berkas-berkas itu di atas meja yang ada di samping Lucia.
"Dengar ya, kamu itu pegawai baru di sini. Aku tak tahu siapa yang merekomendasikan kamu masuk ke sini sehingga kamu begitu sombong, tapi di sini sudah peraturan pegawai baru harus menjalani masa training selama 3 bulan, jika ada salah satu karyawan senior yang melaporkanmu jika kamu tak melakukan pekerjaan dengan baik. Bisa aku pastikan kamu tak akan diterima bekerja di perusahaan ini," ucap karyawan tersebut menatap Lucia, bukan hanya menatap saja ia bahkan berbicara sambil menunjuk wajahmu Lucia dengan sangat kesal.
Namun, Lucia bukanlah karakter yang lemah dan akan takut. Ia menepis tangan karyawan senior itu yang menunjuk ke arah wajahnya.
"Aku tak peduli jika kalian melaporkanku, laporkan saja. Aku tak takut dan aku tak akan dipecat dari perusahaan ini. Aku akan tetap bekerja di sini sebagai pegawai tetap, bahkan suatu saat nanti aku akan pastikan kamu kehilangan pekerjaanmu," ucap Lucia mengambil berkas tersebut dan melemparkannya ke lantai kemudian ia pun langsung keluar dari ruangan tersebut. Membuat pegawai senior tersebut sangat geram atas tingkah tak sopan dari pegawai baru tersebut.
Tanpa Lucia sadari apa yang dilakukannya tadi terekam dalam CCTV, membuat beberapa karyawan di sana langsung tahu apa yang Lucia lakukan.
Karyawan tadi merupakan karyawan senior yang merupakan salah satu karyawan yang dihormati di perusahaan tersebut, di mana karyawan tadi langsung meminta pada tim yang bertugas untuk mengawasi CCTV kantor itu agar rekaman di mana Lucia bertindak kasar dikirimkan kepada seluruh karyawan.
Rekaman itu sampai pada Azriel dan juga Abidzar, hari itu juga Lucia dan karyawan tadi langsung dipanggil ke ruangan Abidzar.
"Lucia, apa-apaan ini?" tanya Abidzar menyalakan laptop dan memutar rekaman CCTV yang sudah beredar di kantor itu.
__ADS_1
Lucia sangat terkejut, ia tak mengira dan berpikir di ruangan tadi ada CCTV yang merekam tingkah lakunya.
"Aku melakukan semua itu karena aku tak suka mereka selalu memintaku untuk mengerjakan hal-hal yang bukan pekerjaanku, Paman."
"Mereka tahu apa yang harus mereka lakukan, memang seperti itulah cara mereka menyambut karyawan baru sepertimu. Mereka tak memintamu untuk melakukan hal yang berlebihan dan aku rasa itu tak ada salahnya. Dengan begitu, kamu bisa mengenal beberapa pegawai lainnya juga mulai beradaptasi dengan kondisi kantor. Kamu masih baru di sini, Lucia. Kami tak bisa mengangkatmu dan langsung pada posisi yang tinggi sebelum paman tahu kemampuanmu."
"Tapi Paman, aku lelah."
"Kamu ingin bekerja atau hanya bermain di kantor ini?"
"Bekerja paman."
"Nantinya akan lebih berat dan melelahkan lagi dari ini semua. Apa kamu sanggup? Jika kamu tak sanggup, kamu bisa mengundurkan diri dari sekarang."
Lucia terdiam. "Maaf, Paman. Aku akan kembali bekerja."
"Selama 3 bulan ini bersikap baiklah jika memang kamu ingin bekerja di sini. Setelah 3 bulan, paman akan menentukan akan menempatkannya di bagian apa setelah melihat kinerjamu," ucap Abidzar, membuat Lucia pun mengangguk dan masih menunduk.
Abizar harus menerapkan pada semua karyawan termasuk Lucia. Jika ia ingin bekerja di sana, ia harus mematuhi peraturan yang ada. Dengan begitu ia juga bisa mendidik Lucia agar lebih mandiri.
***
Mentari yang dari tadi tahu semua kabar tentang Lucia dari beberapa karyawan yang ia kenalnya hanya bisa menahan tawanya saat melihat Lucia keluar dari ruangan Abidzar. Di mana Mentari tadi datang ke kantor itu untuk membawa pesanan kuenya dan dia mendapat informasi jika Lucia membuat kekacauan di hari pertamanya.
Lucia yang kesal semakin kesal dan saat menatap ke arah Mentari yang terlihat senyum mengejek ke arahnya. Mentari berjalan melewatinya dan masuk ke ruangan Azriel .
"Lihat saja, akan ku tunjukkan di mana tempatmu. Kamu akan menyesal telah berurusan denganku," kesal Lucia kembali menghentakkan kakinya dan menuju ke ruangan di mana dia seharusnya berada.
Mentari masuk ke dalam ruangan Azriel dengan tertawa, Azriel yang sedang bekerja mengerutkan kening menatap Mentari.
"Kamu kenapa tertawa seperti itu?" tanya Azriel menatap ke arah Mentari yang berjalan menghampirinya, ia duduk di kursi di depan meja kerjanya.
"Aku pikir sikap tempramental Lucia hanya ditunjukkan padaku, mengingat kata ibunya hari itu dia melakukan semua itu hanya karena cemburu padaku, dia sebenarnya anak yang sangat baik, ternyata ibunya tak tahu seperti apa watak anaknya sebenarnya.
__ADS_1
"Sebenarnya aku sudah melihat rekaman CCTV yang beredar di perusahaan ini, tingkah Lucia benar-benar bar-bar."
Mendengar itu Azriel hanya menghela napas, ia memang sangat tahu sifat asli dari Lucia. Namun, ia selama ini masih menyayanginya seperti adiknya sendiri dan berusaha mendidiknya agar lebih baik. Namun, sepertinya kedekatan dan perhatiannya selama ini disalah artikan oleh Lucia, membuat Lucia bukannya menghormatinya sebagai seorang kakak malah terobsesi untuk bersamanya.
"Mentari, apa kamu tak mau bekerja di perusahaan ini juga?" tawar Azriel.
"Kamu bercanda? Aku sudah sangat sibuk dengan pekerjaanku saat ini, walau sudah punya Erwin yang mengantarkan semua pesanan kami. Aku masih harus mengantarkan beberapa pesana langgananku, aku juga masih harus mengurus sendiri semuanya, membeli bahan-bahan yang dibutuhkan untuk membuat kuenya dan masih banyak lagi yang harus aku urus sendiri."
"Kamu itu sibuk sekali."
"Apa kamu pikir aku punya waktu untuk bekerja di sini, belum lagi jika kita sudah mulai kuliah nanti aku harus benar-benar membagi waktu, aku sendiri tak tahu apakah aku bisa apa tidak."
"Aku yakin kamu pasti bisa, jika kamu tak mampu panggil saja namaku. Aku akan datang dan langsung membantumu," ucap Azriel dengan nada bercanda membuat Mentari pun hanya menggangguk dengan senyum manis di wajahnya sembari mengeluarkan sebuah kotak kue dan diletakkan di depan Azriel.
"Apa ini? Aku tak memesan kue," ucap Azriel saat melihat kotak tersebut berisi kue yang berbeda dari sebelumnya.
"Itu resep baru yang aku tambahkan ke dalam menu dan aku ingin kamu orang pertama yang mencobanya. Berikan komentar kritik dan saran."
"Tampilannya unik sekali," ucap Azriel kemudian mulai mencicipi potongan kue tersebut, kuenya sangat lumer di mulutnya, membuat ia harus menggunakan sendok untuk memakannya lagi.
Kue itu berbeda dari resep kue yang lainnya, kue kali ini harus menggunakan wadah dalam penyajiannya.
"Sangat lembut, rasanya sangat enak," puji Azriel.
"Iya, ini konsepnya berbeda dari sebelumnya. Ini bisa dipesan oleh pasangan untuk pasangannya. Jadi, jika kamu ingin memberikan kue pada pasanganmu, aku rekomendasikan pesan ini saja," ucap Mentari dengan gaya mempromosikan kuenya.
"Baiklah, aku pesan satu. Kirim langsung pada kekasihku, apa perlu aku tuliskan alamatnya?" ucap Azriel membuat keduanya pun tertawa dan berbincang sebentar lalu Mentari pun pamit pulang. Azriel masih ada pekerjaan dan dia juga tak ingin mengangguk pekerjaan kekasihnya itu.
Begitu Mentari keluar dari ruangan Azriel, ia bertemu dengan Lucia dengan berkas yang ada di tangannya.
Lucia hanya menatapnya tajam kemudian langsung masuk ke ruangan Azriel dengan menyenggol bahunya.
"Dasar! Bagaimana Azriel bisa tertarik padamu jika tingkahmu seperti itu," gumam Mentari meninggalkan kantor tersebut memilih untuk mengantar pesanan ke tempat lain.
__ADS_1