Berbagi Cinta : Mencintai Diriku Dan Dirinya

Berbagi Cinta : Mencintai Diriku Dan Dirinya
Pengganti Papa


__ADS_3

Semua menyambut kedatangan Khanza, mereka sangat bahagia dengan kelahiran anak kedua Khanza terlebih lagi ia melahirkan seorang putri yang sangat cantik.


Keluarga besar Khanza sama sekali tak mengetahui jika ada masalah antara Khanza dan Abizar.


"Ya ampun ... cantiknya cucu Bude," ucap bude Maya langsung mengambil bayi Khanza dari gendongan Mamanya. Sementara Aziel sudah berlari bersama dengan para sepupu yang sebaya dengannya.


"Ayo masuk, Nak," ucap kakek meminta Abizar masuk dan bergabung dengan yang lainnya.


Tadinya Abizar akan langsung pulang setelah memastikan Khanza sudah sampai. Ia tahu kesalahan yang telah diperbuatnya dan ia merasa tak enak dengan kakek. Namun, kakek menahannya dan meminta menginap beberapa hari.


Semua menyambut kedatangan Abizar, mereka tak ada yang tahu mengapa kakek pergi ke kota, mereka semua berpikir kalau kakek dan nenek pergi untuk menemani Khanza dalam persalinannya.


Seperti biasa mereka semua akan kembali ke rumah saat malam hari dan akan berkumpul kembali saat siang hari di rumah kakek.


Suasana rumah kakek yang tadinya rame kini kembali sunyi, hanya tersisa Bude Maya yang menemani Khanza. Bude Maya tahu jika Khanza sehabis melahirkan secara operasi caesar dan ia belum boleh terlalu banyak bergerak termasuk mengurus bayinya.


Malam hari, semua bersikap normal saat di meja makan, nenek, kakek, Khanza dan Abizar semua bersikap seolah tak terjadi apa-apa. Mereka makan dengan lahap dan hening.


Bude Maya terus mengajak Aziel berbicara sambil makan, Bude Maya gemes mendengar Aziel yang sudah sangat lancar berbicara.


"Aziel kok nggak ajak Bubunya ikut datang?" tanya bude Maya.


"Bubu lagi ada kerjaan, jadi Bubu datangnya jika kerjanya sudah selesai, Bude," jawab Aziel.


"Oh Bubunya lagi sibuk ya, Aziel Senang nggak tinggal di kampung?"


"Senang Bude, apa lagi kata Mama kita akan tinggal di sini sama adek," ucap Aziel merasa sangat bahagia. Ia memang lebih senang berada di kampung kakek daripada di kota, ia merasa terkurung dalam rumah. Berbeda saat di kampung kakek, berganti sepupu, om, tante mamanya mengajaknya untuk berjalan-jalan.


Bude yang mendengar ucapan Aziel melihat pada Khanza dan Abizar.


"Khanza, apa maksud Aziel?" tanya Bude.


"Iya Bude, Khanza akan tinggal di sini."


Bude masih tidak mengerti apa maksud dari ponakannya itu, kemudian ia melihat pada Abizar.


"Aku akan kembali kekota," jawab Abizar yang mengerti arti dari tatapan Bude Maya padanya.


"Kamu punya pekerjaan yang penting?" tanyanya lagi.


Aziel yang sudah selesai makan memilih untuk pergi bermain di ruangan lain. Kakek yang juga telah selesai ikut menemani cucunya.


"Bude nggak ngerti maksudnya, kamu ingin tinggal sementara di sini?" tanya bude lagi pada Khanza dengan ekspresi bingungnya.


"Nggak ke Bude, aku dan anak-anakku akan tinggal disini selamanya aku akan membesarkan mereka di sini," jawab Khanza dengan tenangnya.


Abizar semakin frustasi mendengar jawaban khanza.

__ADS_1


"Kamu nggak kasihan sama suamimu yang harus bolak-balik, jaraknya jauh loh, Nak," ucap Bude.


"Kak Abi nggak akan bolak-balik kok Bude, Kak Abi hanya sesekali menengok mereka, jika ia tak sibuk."


"Sesekali? Maksudnya kalian apa sih, Bude nggak paham?"


"Kami akan bercerai," ucap Khanza membuat Bude terbatuk-batuk.


"Apa … bercerai," pekik Bude melihat menatap menelisik pada semuanya.


"Iya mereka akan bercerai," ucap Nenek menegaskan.


"Tapi, kenapa? Apa ada? Apa ada masalah?" tanya Bude yang masih tidak mengerti ia melihat mereka dalam keadaan baik-baik saja hingga Khanza mengatakan jika ia ingin bercerai, barulah Bude menyadari kecanggungan yang terjadi di antara mereka.


Tak ada yang menjawab pertanyaan Bude, Semua diam. Khanza masih terus makan makanannya dengan santai.


"Abizar, apa alasan kamu menceraikan Khanza, kamu tega ya dia itu baru melahirkan bayi mu," ucap Bude yang mengira jika bisalah yang ingin menceraikan Khanza, sehingga Ia mau bawakan ponakannya itu kembali ke kampung.


"Tak ada sedikitpun terbesit dalam hatiku Bude untuk menceraikan Khanza, aku juga menentang perceraian ini, tapi jika Khanza menginginkannya aku tak bisa menolak dan terus memaksanya berada di sampingku."


"Khanza, kamu sadar apa yang kau lakukan, kamu lihat anak-anakmu! Apa kamu tidak kasihan dengan mereka, memangnya ada masalah apa di antara kalian, apa sudah tidak bisa dibicarakan baik-baik, diselesaikan secara baik-baik tanpa harus bercerai," ucap Bude menatap mereka bergantian.


"Maaf Bude, Khanza capek mau istirahat, perutku juga sudah merasa tak enak dari tadi duduk," ucap Khanza berdiri dan pamit ke kamarnya, ia tak ingin menjawab pertanyaan Budenya.


"Khanza dengarkan bude dulu," teriak Bude saat khanza mempercepat langkahnya.


"Abizar Kamu tahu 'kan, Khanza itu masih sangat labil, mungkin baginya perceraian itu hal biasa, tapi tidak denganmu Kau sudah mengerti apa dampak dan resiko dari perceraian kalian pada anak-anakmu, apa sudah tak bisa kau mempertahankan lagi? Dia baru saja melahirkan putrimu apa kamu tak kasihan dengannya?"


"Apa yang bisa aku lakukan Bude jika Khanza bahkan sekarang sudah tak mau melihat ku, tak mau berbicara denganku. Bagaimana aku bisa menjelaskan dan memintanya untuk berada disampingku," jelas Abizar yang merasa Serba salah.


"Memangnya apa masalah kalian? Apa seberat itu sampai harus berujung pada perceraian?" tanya Bude menatap lekat pada Abizar.


Abizar menggigit bibir dalamnya, ia tak sanggup mengatakan apa yang telah dilakukan, ia ingin mengatakannya. Namun, ia merasa malu sendiri. Perbuatannya benar-benar sangat memalukan. Hanya karena keinginannya ia sampai melakukan hal serendah itu.


"Kalau kau memang tak ingin memberitahu Bude tak apa, tapi cobalah untuk memperbaiki hubungan kalian! Bude mengenalkan saya dengan baik, hatinya sangat bersih, cobalah untuk meminta maaf memperbaiki hubungan kalian," ucap Bude yang di jawab anggukan oleh Abizar.


Malam semakin larut, Abizar kemudian menggendong Aziel yang sudah tertidur pulas, ia berniat untuk membawanya ke kamar. Namun, saat ingin membuka pintu ternyata Khanza mengunci pintunya dari dalam.


Abizar ingin mengetuk. Namun, diurungkannya, kemudian ia membawa putranya itu ke kamar lain dan mereka tidur di sana.


Khanza bisa merasakan jika Abizar tadi berada di balik pintu, Ia hanya melihat dan kembali memeluk putrinya. Ia tak ingin hatinya goyah dan sudah menguatkan hatinya untuk berpisah dengan Abizar.


Pagi hari Bude menghampiri Khanza di kamarnya.


"Coba ceritakan pada Bude sebenarnya apa masalahmu? Apa kamu punya masalah dengan Farah? tanya Bude yang masih penasaran alasan dari perceraian mereka.


"Ini sama sekali tak ada sangkut-pautnya dengan Mbak Farah Bude, ini hanya masalah aku dan kak Abi. Aku benar-benar sudah tidak bisa memaafkan Kak Abi, aku mohon Bude hormati keputusanku, aku benar-benar sudah tak bisa menjalin hubungan ini lagi. Mungkin memang kami sebaiknya berpisah."

__ADS_1


"Khanza coba kamu lihat putrimu, kamu tega sama dia."


"Putriku akan tetap menjadi anak kak Abi Bude, walau kak Abi tak selalu bersamanya, aku akan tetap memperkenalkannya pada papanya tak ada batasan di antara mereka jika putri khanza sudah besar kak Abi juga bisa membawanya sesekali." Jelas Khanza.


Khanza berbicara dengan tegas dan lantang jika ia baik-baik saja dengan perceraian itu, Namun, ia meremas ujung bajunya mencoba menyalurkan kekuatannya agar tak berderai air mata di hadapan Budenya.


Abizar mendengar semua percakapan mereka, dia masuk untuk mengambil pakaian Aziel.


Begitu Abizar dan Aziel masuk Khanza langsung keluar dari kamar itu.


Abizar melihat punggung Khanza yang berjalan keluar.


Bude hanya menghela nafas dan menepuk bahu Abizar yang duduk disisi tempat tidur sedang membantu Aziel mengenakan pakaiannya.


"Anak Papa sudah mandi juga ya," ucap Abizar saat melihat putri kecilnya sudah begitu cantik dan wangi, Aziel juga ikut mencium pipi adiknya.


"Aziel sayang 'kan sama adiknya?" tanya Abizar


"Iya, Pah. Ziel sayang sama adek," ucap Aziel mengambil tangan kecil adiknya dan menciumnya.


"Papa harus pulang ke kota, Papa harus kerja buat Aziel dan Adik, jika Papa tak ada tugas Aziel yang jaga Adik sama Mama ya. Jangan lupa jika Aziel butuh sesuatu telepon Papa ya, Nak!" ucap Abizar mengelus rambut Aziel dan beralih mengecup putrinya.


"Kenapa Papa tidak tinggal disini sama Ziel, sama adek, sama Mama?" tanya Aziel dengan bibir yang sudah bergetar menahan isakannya, setetes air mata lolos dari mata bulatnya.


Abizar mengusap air mata putranya, bersamaan dengan itu ia merasa ada goresan yang melukai hatinya, terasa perih.


"Papa 'kan kantornya di sana, Sayang" ucap Abizar mencari Alasan dan membawa anaknya itu ke pelukannya.


"Papa mau tinggal sama Bubu? Kenapa tidak tinggal sama Mama juga?"


"Tentu saja Papa juga ingin tinggal sama Mama, sama adik, Sama jagoan Papa ini, tapikan Papa harus Kerja."


"Papa akan datang 'kan menemui Ziel?"


"Tentu, Papa sama Bubu pasti akan selalu menjenguk Ziel." Abizar mempererat pelukannya, "Jangan buat Mama susah ya, dengarkan apa yang mama katakan. Aziel yang menggantikan Papa menjaga Mama dan putri cantik ini." Mereka melihat pada Bayi cantik yang juga sedang melihat mereka dengan senyum kecilnya.


"Iya, Pah! Aziel akan jagain Mama dan adik jika Papa sedang bekerja," ucap Aziel dengan senyumnya.


💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖


Terima kasih sudah membaca 🙏


Salam kenal dariku Author M Anha ❤️


💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖


Mampir juga ya kak ke karya temanku 🙏

__ADS_1



__ADS_2