Berbagi Cinta : Mencintai Diriku Dan Dirinya

Berbagi Cinta : Mencintai Diriku Dan Dirinya
Bunga Pengantin


__ADS_3

Abizar mengambil bunga yang diberikan oleh Aziel kemudian memberikannya kepada Aisyah.


"Papa ayo berikan ke mama," ucap Aziel menghentak-hentakkan kakinya dengan mata yang berkaca-kaca, saat papanya menolak apa yang dimintanya, ia sangat menginginkan mama dan Papanya kembali bersama.


Abizar mencari Khanza dengan pandangannya, ia juga merasa kasihan menolak keinginan putranya.


"Oke, kita cari mama," ucapnya agar putranya itu tak terus merengek.


Mereka bertiga mencari Khanza, Abizar menghentikan langkahnya dan mengajak Aziel ke tempat lain saat melihat Khanza sedang bersama Damar dan keluarganya.


"Papa itu Mama," ucap Aziel saat melihat mamanya, Abizar akhirnya hanya mengikuti Aziel ikut bergabung dengan mereka.


Melihat anak-anaknya datang Khanza menyambut mereka.


Abizar menarik tangan putrinya agar mereka berdua yang terlihat memberikan bunga itu pada Khanza. Semua tau bunga apa yang ada di tangan Abizar dan apa makna saat memberikan bunga itu pada


Khanza.


Semua melihat mereka, begitu juga dengan Damar.


"Bunga? Untuk?" tanya Khanza sedikit ragu ingin mengambil bunga itu.


"Ayo ambil Mama! Itu tadi Aziel yang di ambil dari Tante Aqila," ucap Aziel menunjuk kerumunan tempat ia mengambil bunga.


Aziel mempunyai teman akrab bernama Carolina, karena memiliki nasib yang sama mereka anak dari korban perceraian, mereka sering bersama di saat teman-teman mereka meledek keduanya. Karena mereka pernah mengatakan jika mama dan papa mereka tinggal di rumah yang berbeda.


Caroline hanya diantar oleh mamanya dan sangat jarang diantar oleh Papanya membuat mereka saling membela jika ada teman yang meledeknya.


Caroline sudah memiliki Papanya kembali membuat Azriel juga berharap papa dan mamanya sama seperti papa dan mama Caroline.


Berbeda dengan Aziel Caroline diberi penjelasan oleh mamanya mengapa mama papanya tak boleh bersama lagi membuat Carolin menjelaskan apa yang ia ketahui kepada Aziel dan bagaimana mama dan papanya bisa bersama.


Mendengar jika Aziel yang memberikannya, Khanza langsung mengambilnya.


"Makasih sayang," ucap Khanza pada Aziel.


"Sama-sama, Mah. Jadi mama dan papa akan menikah lagi?" tanya Ziel berbinar senang.


Semua terkejut mendengar ucapan Aziel.


"Kok, Aziel ngomong gitu sih Sayang?" tanyanya Dokter Dewi.


"Mama Carolina menikah lagi dengan papanya saat papanya ngasih bunga ke mamanya," jawab Aziel masih dengan senyum harapan di bibirnya.

__ADS_1


"Kalau om Damar aja yang nikah sama mama Ziel mau nggak?" tanya Dokter Dewi masih berjongkok mensejajarkan wajahnya dengan Aziel.


Aziel tak menjawab hanya melihat papa dan Mamanya kemudian kembali melihat pada dokter Dewi.


Aziel mulai berkaca-kaca dan terlihat akan menangis "Ziel nggak mau siapa-siapa yang nikah Sama mama, Ziel maunya papa," ucap Ziel menepis tangan dokter Dewi yang memegangnya kemudian berlari menjauhi mereka.


"Aziel," teriak Abizar saat melihat putranya semakin menjauh.


Dia pun memberikan Aisyah kepada Khanza kemudian mengejar Aziel.


Aziel berlari hingga ke luar gedung, ia terus berlari tanpa arah sambil terus menangis, ia berlari menuju ke jalan raya.


"Aziel," teriak Abizar saat Aziel terus mempercepat larinya saat mendengar teriakan papanya.


"Oh Tuhan," ucap Abizar saat melihat ada mobil yang melaju kencang menuju di jalan yang akan di tujuan Aziel yang masih terus berlari.


Abizar berlari sekencang mungkin dan terus melihat kearah mobil yang semakin mendekati putra dan Aziel yang semakin dekat ke jalan.


Dengan cepat Abizar menarik Aziel saat akan melangkah ke jalan raya dan 1 detik berikutnya mobil itu melintas di depan mereka.


Abizar memeluk erat putranya. Terlambat sedetik saja ia bisa kehilangan anaknya.


"Aziel nggak mau Om Damar, Azril maunya Papa yang menikah sama mama," ucapnya dengan lelehan air mata yang tumpah ruah, dia menangis hingga sesegukan dan mengatakan jika dokter Dewi adalah orang yang jahat.


Abizar kembali membawa putranya itu ke pelukannya berharap bisa sedikit mengurangi Isak tangisnya.


Begitu Aziel sudah mulai tenang besar melepas pelukannya dan menghapus lelehan air mata putranya kemudian membawanya masuk ke mobil dan pergi dari sana.


"Aziel mau beli es krim?" tanya Abizar yang tahu jika anaknya itu sangat suka dengan es krim.


Aziel mengangguk sambil masih terus mengusap air matanya.


Abizar hanya mengelus rambut putranya dan terus melajukan mobilnya mencari toko es krim.


Mereka memarkirkan mobilnya saat melihat sebuah kafe. Berharap di kafe itu mereka menyajikan es krim.


"Kita coba lihat di sini ya, semoga saja ada es krim," ucap Abizar menggenggam tangan Aziel kemudian berjalan memasuki kafe tersebut.


Mereka memesan dua es krim yang beraneka ragam rasa dalam satu cap.


Abizar membawa putranya itu ke salah satu meja di sudut ruangan yang ada di cafe tersebut.


"Enak es krimnya?" tanya Abizar saat melihat Aziel sudah mulai memakan es krimnya dan melihat putranya itu jauh lebih tenang.

__ADS_1


"Azriel sayang sama Mama?" tanyanya pada Azriel yang masih menikmati es krimnya.


Aziel menghabiskan es krim yang ada di mulutnya, "Iya, Pah. Aziel sangat sayang sama Papa sama Mama," jawabnya menatap Papanya.


"Papa juga sangat sayang sama Aziel dan Papa yakin orang yang paling sayang Aziel adalah mama."


"Aziel mau 'kan melihat mama bahagia?" tanya Abizar dengan penuh kasih sayang dan hati-hati mencoba membuat putranya itu mengerti apa yang akan dikatakannya.


"Iya, Pah. Aziel sayang sama mama, Ziel ingin Mama bahagia," ucapnya masih dengan melihat Papanya.


"Menurut Aziel Om Damar itu seperti apa?"


"Om Damar baik."


"Sayang nggak sama Aziel?" Aziel mengangguk pasti menjawab pertanyaan Papanya.


"Aziel senang nggak Kalau lagi main sama om Damar?" tanyanya lagi dan Aziel kembali mengangguk.


Ia memang sangat senang bermain dengan Damar, Damar mampu mengambil hati ke dua anak-anak khanza dengan begitu cepat.


"Begitu juga yang Mama rasakan saat bersama dengan om Damar, Mama merasa bahagia. Papa tak bisa membuat Mama Bahagia sama seperti yang dilakukan oleh om Damar."


"Sampai kapanpun Papa adalah Papanya Aziel dan adik Aisyah, tak akan ada yang akan memisahkan kita, tapi mama juga ingin bahagia dan bahagianya mama ada pada om Damar. Ziel mau kan lihat mama bahagia?" tanya sekali lagi dan kembali dijawab anggukan oleh Aziel.


"Boleh ya jika mama menikah dengan om Damar?" tanyanya lagi.


Aziel tak merespon dia hanya terus memandang lurus pada Papanya.


"Jika Om Damar menikah dengan Mama, Mama pasti akan sangat bahagia, Papa sangat ingin melihat mama bahagia dan Papa mengijinkan Mama menikah dengan Om Damar. Jika Ziel sayang mama Ziel juga harus mengizinkan Mama menikah dengan Om Damar sama seperti Papa."


"Aziel ngerti apa yang Papa maksud?" tambah Abizar.


Aziel mengangguk pelan ia mengerti apa yang Papanya katakan, Dia juga ingin melihat mamanya bahagia.


"Papa akan selalu ada untuk Aziel dan Aisyah walau sudah ada Om Damar bersama dengan kalian," jelasnya membuat Aziel kembali mengangguk dan memeluk papanya.


"Aziel memang anak Papa yang pintar."


Kemudian mereka pun terus berbincang-bincang ringan sampai es krim mereka habis, sesekali Abizar menyelipkan dalam pembahasan mereka menjelaskan jika ia harus menerima Damar sebagai bagian dari mereka.


💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖


Terima kasih sudah membaca 🙏

__ADS_1


Salam dariku Author M Anha 🥰🥰


💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖


__ADS_2