
Abizar hanya bisa terduduk lemas sambil menunggu operasi Khanza selesai, ia merasa sangat menyesal dengan apa yang telah ia lakukan. Mengapa ia harus mematikan nada ponselnya hanya karna tak ingin diganggu. Mengapa Ia tak membawa ponselnya ke mana-mana sedangkan ia tahu jika Istrinya sedang hamil dan mungkin saja kejadian ini bisa terjadi. Semua itu terus saja menyesakkan dadanya. Namun, penyesalan tetaplah penyesalan, penyesalan takan merubah sesuatu yang telah terjadi, hanya bisa di jadikan pembelajaran yang berharga agar tak mengulangi kesalahan yang sama.
Baru kali ini Abizar merasa benar-benar tak berguna, ia tak bisa berbuat apa-apa hanya berpangku tangan nantikan pintu ruang operasi terbuka.
Seberapapun banyak uangnya yang ia miliki itu akan berguna dalam situasi saat ini.
"Bagaimana jika terjadi sesuatu pada Khanza, Mas," ucap Farah yang duduk samping Abizar.
"Jangan pernah mengatakan itu, aku yakin Khanza akan baik-baik saja, jika sampai terjadi sesuatu padanya aku tak akan memaafkan diriku seumur hidupku."
"Lagian Kenapa sih, Mas. Mas tak mengangkat panggilan kami, apa Mas tahu betapa cemasnya kami saat itu," ucap Farah mulai kesal.
"Tadinya aku hanya ingin mematikannya sebentar, tapi karena terlalu larut dalam pekerjaanku aku jadi melupakannya."
"Mas, Mas tahu kan kalau Khanza sedang hamil besar seharusnya Mas Itu siaga, selalu memantau kondisi Khanza."
"Iya, aku tahu ini semua salahku," ucap Abizar frustasi, Ia hanya bisa memijat kepalanya menarik-narik rambutnya, rasa penyesalan terus menyeruak di dadanya memaki dirinya sendiri, itulah yang ia lakukan saat ini.
"Farah dimana bayinya?" tanya Abizar yang baru teringat akan bayi mereka.
"Bayi kita sedang ada di ruangan bayi, aku sudah menitipkannya pada suster," jawab Farah.
"Bagaimana keadaannya?" tanya Abizar.
"Dia baik-baik saja, Mas. Tak ada yang perlu dikhawatirkan mengenai bayi itu," jawab Farah.
Abizar bernafas lega, "Syukurlah. Aku bukan suami dan Papa yang baik untuk mereka."
Farah tak menjawab apa-apa, karena baginya memang benar apa yang dikatakannya. Farah masih merasa kesal dengan suaminya itu bisa-bisanya ia tak mengaktifkan nada ponselnya dalam situasi seperti ini.
"Aku akan menghubungi Mama," ucap Farah yang teringat pada mertua nya.
Abizar hanya mengangguk, terus menyembunyikan wajahnya di balik telapak tangannya.
Farah menelpon mertuanya, Ibu Wardah.
"Apa … melahirkan? Bukannya ini belum waktunya," kata Ibu Wardah panik.
"Iya, memang belum waktunya Mah, tapi bayinya memang sudah keluar dan sekarang kondisikan Khanza sangat kritis. Khanza sedang di ruang operasi," jelas Farah.
"Yasudah, Mama kembali sekarang," ucap Warda mematikan teleponnya dan langsung menelpon sopir untuk menyiapkan mobil.
"Ada apa?" tanya Santi melihat Warda sangat panik .
"Khanza sudah melahirkan," ucapnya kemudian dengan terburu-buru pergi dari sana dengan cepat meninggalkan Santi yang masih tak mengerti situasinya.
"Aku bagaimana?" Teriak Santi.
__ADS_1
"Kalau kamu mau ikut ayo silahkan kita pulang sekarang," ucap Warda.
Santi yang melihat Warda terburu-buru juga mengikuti besannya itu.
"Kenapa sih harus terburu-buru, kita kan bisa melihat cucunya kapan saja," batin Santi tidak tahu jika kondisi jika sekarang sedang genting.
*****
Setelah beberapa saat lampu ruang operasi mati yang bertanda operasi telah selesai.
Abizar langsung menghampiri pintu saat dokter keluar.
"Dokter, bagaimana kondisi istri saya?" tanya Abizar menatap penuh harapan pada Dokter.
"Istri bapak mengalami pendarahan yang hebat, kami sudah menghentikan pendarahannya, tapi," ucap dokter menggantung.
"Tapi Kenapa Dokter?" tanya Farah, mendengar kata tapi entah mengapa langsung membuat Farah lemas menatap Dokter penuh harapan.
"Tapi, apa Dokter?" tanya Abizar dengan degup jantung yang berdetak kencang, menatap tajam pada Dokter.
"Istri bapak mengalami koma," jelas sang Dokter.
"KOMA" ucap tegas Abizar.
"Koma Dokter?" tanya Farah menutup mulutnya dengan 2 tangannya, ia tak percaya dengan apa yang baru didengarnya.
"Maaf Pak kami sudah berusaha melakukan yang terbaik."
"Melakukan yang terbaik kata Anda, apakah kondisi istri saya itu bisa dikatakan baik. Anda mengatakan jika istri saya dalam keadaan koma, Dokter. Anda mengatakan telah melakukan yang terbaik, inikah yang Anda katakan terbaik," bentak Abizar menarik kerah kemeja dokter tersebut.
Fahri langsung halangi Abizar, mencoba menjauhkannya dari dokter tersebut.
Fahri tau, saat ini ia bisa melihat jika bosnya itu dalam kondisi yang emosi.
"Maaf dokter," ucap Fahri.
"Tak apa-apa, pak. Kami mengerti," ucap dokter tersebut. Bukan kali ini saja Ia mendapat perlakuan seperti itu, tapi dia mengerti semua itu mereka lakukan karena rasa sayang kepada orang yang baru saja mereka operasi. Mereka melakukan itu hanya dalam keadaan emosi.
"Dokter Kapan Khanza akan kembali pulih?" tanya Farah.
"Semua tergantung dari pasien, terkadang pasien bisa sadar dalam 3 hari, seminggu, sebulan, kami tak bisa menentukan waktunya secara pasti. Kami hanya bisa membantu dari luar dengan obat-obatan dan beberapa terapi."
"Terima kasih Dokter, saya mohon untuk melakukan yang terbaik untuk Khanza."
"Sama-sama, Bu! kau akan terus berusaha dan melakukan yang terbaik untuk pasien" ucap sang dokter dan berlalu pergi.
"Aahhhh…. " teriak Abizar menumpahkan rasa frustasinya, ia bahkan meninju dinding rumah sakit hingga tangannya meneteskan cairan merah.
__ADS_1
Bukan hanya sekali melakukannya, ia meninju dinding rumah sakit untuk meluapkan segala emosinya.
Abizar duduk di lantai, menyandarkan kepalanya di tembok rumah sakit sambil terus membentur-benturkan kepalanya. Sekali lagi ia sudah menyakiti orang yang dicintainya, ia telah menyakiti Khanza tanpa ia sadari.
"Mas, hentikan. Apa dengan bersikap seperti ini akan menyelesaikan masalah, akan membuatkan Khanza kembali pulih," ucap Farah yang melihat Abizar kembali berdiri dan meninju dinding rumah sakit.
"Semua ini adalah salahku. Aku memang suami tak bertanggung jawab, aku brengsek, aku tak bisa melindungi Khanza."
"Iya Mas, kau memang brengsek dan tak bertanggung jawab," batin Farah, ingin rasanya ia memaki suaminya itu. Namun, melihat kondisi suaminya yang sangat frustasi saat ini tidak mungkin ia menambah bebannya, menambah rasa bersalah suaminya. Dia seharusnya mencoba untuk menenangkannya.
Lama mereka duduk terdiam dengan pikiran mereka masing-masing, Abizar dengan pikiran bagaimana kondisi Khanza saat ini, bagaimana menjelaskannya kepada kakek dan neneknya yang akan datang besok, sedangkan Farah terus memikirkan bagaimana dengan bayi yang baru dilahirkan oleh Khanza.
Khanza sudah dipindahkan ke ruang perawatan, Abizar berjalan masuk dengan pelan, melihat kondisi istrinya yang terbaring di ranjang pasien dengan beberapa alat medis yang menempel di tubuhnya.
Abizar menggenggam erat tangan Khanza.
"Sayang, bangunlahm apa kau bisa mendengarku?" ucap Abizar mendekatkan bibirnya di telinga Khanza berbisik agar istrinya itu bisa mendengarnya dan bisa tersadar.
Dokter menyarankan agar sering melakukan komunikasi langsung dengan Khanza memberikan semangat agar dia bisa cepat sadar dari komanya.
Abizar mengecup punggung tangan Khanza mengelusnya dengan penuh kasih sayang,
"Khanza bangunlah, bangunlah sayang. Apa kau tak ingin melihat bayi kita, kau melahirkan bayi yang sangat tampan sangat mirip denganku. Terima kasih sudah memberiku anugerah terindah untukku, bangunlah kita merawatnya bersama-sama," ucap Abizar dengan suara bergetar, sebisa mungkin ia menahan gejolak di dadanya ingin rasanya ia menangis meraung-raung melepaskan rasa sesak di dadanya. Namun, ia harus tetap tegar.
Tak ada respon dari Khanza, tangannya masih terasa lemas di pegangan Abizar. Abizar mengelus lembut rambut Khanza, memberi kecupan di kening nya menempelkan keningnya dengan kening Khanza.
"Sayang aku mohon buka matamu, lihat aku lihat anak kita, dia pasti sangat membutuhkanmu saat ini," ucap Abizar yang masih menempelkan keningnya di kening Khanza.
Tanpa Abizar diketahui ada butiran air mata jatuh dari sudut mata Khanza dengan mata yang masih tertutup.
💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖
Terima kasih sudah membaca 🙏
Apakah Khanza akan sadar ????
komen ya, aku ingin tau tanggapan kalian tentang bab ini😉
jangan lupa like, vote juga ya😘
salam dariku.
saling follow yuk IG anha5569
love you all 🌹
💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖
__ADS_1