
"Kak Lucia, jika Kakak nggak suka nggak usah diambil. Aku lelah tahu buatnya malah dibuang-buang," kesal Aisyah yang tahu jika Lucia sengaja menjatuhkan kue yang diberikan untuknya, sejak tadi ia bisa melihat tatapan Lucia yang tak suka saat Abidzar dan juga Azriel menguji kuenya.
"Kamu kok nyolot sih, aku kan sudah bilang nggak sengaja. Aku minta maaf, nanti aku bersihkan. Kamu gitu aja kok kamu jadi marah sama aku sih," ucap Lucia balik tak terima dengan nada bicara Aisyah padanya.
Aisyah tak berkata-kata lagi, ia mengambil tisu dan membersihkan kue itu dan dengan berat ia harus membuang kuenya. Ia pun pergi ke dapur dan membuangnya, ia menangisi kuenya itu. Ia dengan susah payah membuat kue itu bahkan tangannya sampai melepuh saat memanggangnya. Aisyah sangat senang saat semua keluarganya suka. Namun, semua kesenangannya dirusak oleh Lucia.
"Dasar! Sudah numpang ngerepotin lagi, jika aku sudah dewasa aku pasti akan mengusirmu dari rumah ini, lihat saja nanti," gumam Aisyah sambil mencuci tangannya di wastafel, ia terus mengomel tak jales.
"Kamu nggak apa-apa, Dek?" tanya Azriel yang tadi menyusul Aisyah.
"Nggak apa-apa, Kak. Aku lelah, aku mau ke kamar," ucapnya kemudian ia pun berlari menuju ke kamarnya, membuat Azriel hanya bisa menghela napas dan melihat kue yang sudah dibuang oleh adiknya, ia menghampiri Lucia yang juga ingin menuju ke kamarnya.
"Lucia, aku tahu kau tak suka dengan resep kue Mentari. Namun, tak haruskan kamu sengaja membuang kue itu, itu bukan kue Mentari. Namun, kue yang dibuat oleh Aisyah, walau dengan resep kue Mentari. Mentari sendiri yang mengatakan jika Aisyah yang membuatnya sendiri. Walaupun rasanya tak enak sekalipun kamu tetap harus menghargai usahanya," kesal Azriel yang bisa melihat kekecewaan di mata adiknya dengan apa yang dilakukan oleh Lucia.
"Kalian ini kenapa sih, hal sepele saja dibesar-besarkan, itu kan hanya kue harganya juga pasti tak seberapa. Ya sudah besok aku pesankan kue yang lebih banyak dan lebih enak," ucapnya kesal.
"Ini bukan masalah berapa harga kue itu dan berapa banyaknya, tapi hargai usaha Aisyah yang membuatnya sendiri. Kamu belum pernah menghasilkan uang dengan jerih payahmu sendiri. Jadi, kamu tak tahu bagaimana rasanya mencari uang. Bagaimana rasanya membuat sesuatu dari hasil kerjamu sendiri."
"Apa maksudmu? Jadi, kamu pikir aku tak bisa melakukan semua itu, apa kau pikir Mentari sudah hebat karena sudah bisa menghasilkan usahanya sendiri, menghasilkan uang dari usahanya itu?"
"Iya, tentu saja. Bukankah semua itu adalah hal yang bisa dibanggakan, ia bisa bekerja sendiri membantu orang tuanya hingga usahanya sampai besar seperti saat ini dan bagaimana dengan dirimu yang selalu menghina orang-orang yang dari kelas menengah ke bawah, jika dipikir mereka lebih memiliki uang daripada kamu, mereka menghasilkan sendiri uangnya. Namun, kamu hanya mengandalkan uang orang tuamu," kesal Azriel yang sudah kehabisan kesabarannya menghadapi Lucia, ia juga ikut terpancing dengan kelakuan Lucia.
__ADS_1
"Baiklah, aku akan membuktikan jika aku bisa lebih baik dari Mentari, selama ini aku hanya malas bekerja karena memang tak ada motivasi, untuk apa juga aku bekerja. Aku yakin jika aku bekerja aku bisa menghasilkan uang yang lebih banyak dari Mentari," kesal Lucia kemudian ia pun mengabaikan Azriel dan kembali masuk ke kamarnya, dengan kesal ia membanting pintunya ia benar-benar merasa diabaikan di rumah itu bukan Aisyah, Azriel juga Khanza dan Abidzar. Semua seolah tak menganggapnya ada.
Berbeda saat ia berada di luar negeri, ayah dan ibunya serta adiknya sangat menyayanginya.
"Lucia, kamu tak boleh menyerah. Kamu harus membuktikan kepada Azriel jika kamu mampu lebih baik dari Mentari dan kamu harus bisa mengambil hati Azriel selama 1 tahun ini, waktumu hanya satu tahun Lucia. Apapun harus kamu lakukan agar Azriel bisa menjadi milikmu dan ikut pulang bersamamu," ucap Lucia, ia melihat pantulan dirinya di cermin dengan seringnya di wajahnya, ia meyakinkan dirinya bisa lebih dari Mentari di mata Azriel, Aisyah dan juga kedua orang tua mereka. Ia akan membuktikan jika ia layak menjadi menantu di rumah itu bukan Mentari.
Sementara itu di kamar Aisyah, Aisyah yang tadinya kesel tiba-tiba mendapat notifikasi dari Dewa. Membuat senyum di wajahnya langsung terbit. Ia pun membaca pesan tersebut, Dewa mengirim pesan pujian juga dari foto kue yang dikirim oleh Aisyah sore tadi, di mana Aisyah sengaja mengirim kue buatannya itu pada Dewa dan mengatakan jika Mentari mengajarinya membuat kue dan ia berhasil membuat kue.
"Pasti rasanya sangat enak, aku jadi ingin mencicipinya," tulis Dewa dalam pesannya.
"Aku bisa membuatnya besok, aku buatkan ya?" tulis Aisyah.
"Enggak kok, nanti aku akan mengantarnya ke kantormu," ucap Aisyah lagi kemudian mereka pun terus berbalas pesan hingga Aisyah tanpa sadar tertidur tanpa membalas pesan Dewa.
Dewa sedang berbalas pesan dengan Aisyah dan juga Mentari, selama ini ia selalu hidup sendiri dengan penyesalan di masa lalunya karena masalah orang yang dicintainya itu, membuat ia yang selama ini menutup dirinya dari para wanita, takut sampai ia mengalami rasa sakit yang sama. Kini, semenjak bertemu dengan Mentari dan Aisyah ia merasa keduanya sangat menyenangkan untuk diajak komunikasi, keduanya sangat blak-blakan saat menjalin komunikasi dengannya. Mentari sering curhat dengannya dan Aisyah, walau mereka baru kenal hari ini. Namun, anak itu sangatlah polos membuat Dewa senang untuk berkomunikasi dengannya.
Saat tengah malam Aisyah terbangun, ia mencoba mengingat-ingat resep kue yang dipelajarinya siang tadi, ia dengan cepat langsung bangun dan mencatat resep-resep bahannya dan bagaimana cara untuk membuat kuenya, setelah berusaha mengingat semua itu akhirnya catatannya pun selesai.
"Aku akan membuat kue untuk ucapan terima kasihku pada kak Dewa," gumam Aisyah, ia masih merasa sangat berterima kasih dengan adanya Dewa yang membantunya malam itu, baginya Dewa adalah pahlawannya.
****
__ADS_1
Pagi hari Khanza yang baru terbangun langsung menghampiri dapur saat melihat anaknya sedang sibuk di sana.
"Aisyah, kamu sedang apa, Nak?" tanya Khanza.
"Sedang membuat kue Bu, tapi beberapa bahannya nggak lengkap, ini aku hanya memakai bahan yang ada saja," jelas Aisyah.
Khanza melihat kue buatan putrinya itu sudah jadi, ia pun mendekat dan mencicipinya. Rasanya cukup enak walau tak seenak kue yang di bawahnya semalam.
"Ini juga rasanya sudah enak kok tinggal ditambah topping saja, pasti lebih enak lagi," ucap Khanza mengambil lelehan coklat dan beberapa toping yang memang selalu ada di rak persediaan sisa membuat kue, mereka berdua pun mulai menambahkan lelehan coklat itu dan juga topping di atasnya. Aisyah sangat puas melihatnya sangat cantik, persis dengan kue yang selama ini sering mereka beli.
"Bu, ternyata membuat kue itu nggak terlalu sulit ya jika kita sudah paham bagaimana cara membuatnya," ucap Aisyah membuat Khanza pun hanya mengangguk, anaknya sudah dewasa sepertinya ia harus mulai mengajari anaknya itu memasak, mengenal peralatan dapur dan juga beberapa jenis masakan. Cepat atau lambat anaknya itu akan menikah dan hal dasar yang harus diajarkannya sebelum putrinya itu menikah adalah memasak.
Azriel sudah bersiap ke kantor, saat ia akan masuk ke dalam mobilnya Lucia pun ikut masuk ke dalam mobil tersebut dengan pakaian stylish wanita kantoran.
"Kamu mau ke mana?" tanya Azriel menatap Lucia yang sudah duduk di sampingnya.
"Mulai hari ini aku akan bekerja di kantor, aku akan buktikan jika aku bisa bekerja, aku sudah bicara pada paman dan aku diizinkan untuk bekerja di kantor bersamamu, hari ini aku mulai bekerja. Ayo kita ke kantor," ucap Lucia membuat Azriel hanya menghela napas kemudian ia pun melajukan mobilnya menuju ke perusahaan di mana ia bekerja dan hari ini ia pergi ke kantor bersama dengan Lucia.
Azriel yang tak mau Mentari salah paham mengirim pesan kepada Mentari jika dia hari ini tak bisa menjemput Mentari karena harus ke kantor, Azriel juga mengatakan jika mulai hari ini Lucia sudah mulai bekerja di kantor bersamanya dan mungkin di beberapa kesempatan ia akan pergi ke kantor bersama dengan Lucia seperti hari ini. Namun, ia akan mencoba membujuk Lucia untuk membawa mobilnya sendiri ke kantor.
"Iya, nggak papa kok. Aku percaya padamu," balas Mentari membuat Azriel pun menjadi lebih tenang, Mentari tak akan cemburu dengan kedekatan mereka.
__ADS_1