
"Lucia menyukaimu, dia mencintaimu. Apa tanggapanmu?" tanya Abidzar menetap pada putranya membuat Azriel tertawa.
"Ayah, Ayah ini bilang apa sih? Aku sudah menganggap Lucia seperti adikku sendiri sama halnya dengan aku menganggap Aisyah, mana mungkin aku menaruh perasaan cinta padanya."
"Tapi itulah yang dirasakan Lucia padamu dan ingin kamu membalasnya." Azriel terdiam mendengar ucapan dari ayahnya. Azriel yang tadinya masih berpikir jika ayahnya bercanda kini menghentikan tawanya dan menatap tak percaya pada apa yang dikatakan oleh ayahnya itu.
"Ayah, Ayah kan sudah tahu jika aku menyukai Mentari dan akan segera mengungkapkan perasaanku padanya. Aku hanya tinggal menunggu waktu yang tepat kapan aku mengatakannya. Jadi, aku sama sekali tak menaruh perasaan sedikitpun pada Lucia lebih dari seorang perasaan kakak kepada adiknya."
"Ayah sangat paham apa yang kamu katakan. Jadi, saran ayah sebelum dia pulang bicaralah padanya dari hati ke hati. Jelaskan kepadanya jika kamu sama sekali tak memiliki perasaan padanya, buat dia tak berharap banyak padamu," jelas Abidzar yang tak ingin semuanya sampai terlambat, mungkin jika menghentikannya sebelum Lucia semakin menyimpan perasaan pada putranya, semua hal buruk yang bisa saja terjadi masih bisa mereka cegah.
"Baiklah, Ayah. Aku akan bicara pada Lucia, Ayah benar sebaiknya membicarakannya sekarang daripada ia terus berharap karena itu tak akan mungkin."
Abidzar juga mengangguk, sepertinya memang itulah jalan terbaik untuk mereka, hubungannya dengan Farah serta keluarga barunya sudah sangat baik, ia tak ingin karena masalah itu hubungan mereka kembali renggang.
"Istirahatlah, kamu pulangnya besok sore kan?" tanya Abidzar membuat Azriel membantu putranya itu untuk berbaring dan memperbaiki posisi tidurnya.
"Besok kita bahas lagi, ayah juga sangat lelah dan ingin istirahat." Abidzar pun menuju ke kasur tambahan dan mulai beristirahat, pekerjaannya di kantor cukup banyak, ditambah lagi pikiran tentang perdebatan Khanza dan juga Farah tadi membuat saat ini ia benar-benar menginginkan beristirahat.
Sementara itu dikediaman Mentari, satu kue yang menghabiskan banyak modal kini sudah memiliki pemilik, tinggal ia mencari satu orang lagi untuk membeli kuenya.
Hingga lewat tengah malam Mentari pun baru selesai dengan urusan membuat kue.
"Mentari, tidurlah. Sisanya biar ibu yang bereskan, besok kan kamu harus kuliah pagi-pagi, ibu tak ingin jika sampai kuliahmu terganggu hanya karena membantu ibu di dapur, ini sudah tugas ibu dan tugas kamu belajar agar bisa mendapat pekerjaan lebih baik lagi. Agar ibu bisa istirahat di masa tua ibu," ucap Rusmi sengaja mengatakan hal itu agar putrinya itu tak keras kepala dan memilih untuk beristirahat.
"Ya sudah, Bu. Ibu juga ya, bisa dibereskan besok sebagian. Mentari istirahat dulu," ucap Mentari yang memang sejak tadi sudah terus saja menguap.
Mentari sadar, besok ia akan kuliah dan juga akan mengantarkan kue-kue mereka yang dipesan secara online, ia tak boleh lelah. Sebentar urusan dengan kuliahnya selesai, ia harus menyelesaikan semuanya di tahun ini agar bisa segera lulus kuliah dan mencari pekerjaan sebagai penghasilan utama di keluarga mereka.
Mentari sadar, dengan kue-kue itu dan modal mereka, mereka tak bisa berharap banyak. Mungkin dengan bekerja dan mengumpulkan modal sedikit demi sedikit mereka bisa membangun toko kue yang lebih besar, mempunya toko kue sendiri itulah impian Mentari dan dia akan membangun impiannya itu suatu saat nanti.
Setelah masuk ke kamar, Mentari lebih dulu membereskan apa-apa yang harus dibawanya besok ke kampus, sehingga saat bangun besok tak ada ketinggalan lagi. Walau urusan mencari nafkah memang sangatlah penting, mencari uang untuk kehidupan mereka sehari-hari dan juga kuliahnya. Namun, ia tak boleh melupakan tugasnya sebagai seorang mahasiswa, ia harus lulus dan membuat bangga ibunya.
Mentari mengusap buku-bukunya yang sudah dirapikannya di dalam tas.
"Sebentar lagi aku lulus, sebentar lagi impianku akan terwujudkan," gumam Mentari. Ia pun beranjak untuk tidur, kata itu menjadi penyemangat di tengah kelelahannya.
__ADS_1
Rusmi melihat dua box kue yang berbeda dengan box lainnya, setiap harinya mereka akan membuat 10 box kue untuk dititipkan ke 10 warung berbeda, jika ada pesanan via online mereka akan menambahkannya dan saat ini mereka mendapat orderan 12 box via online. m
Malam ini mereka membuat 10 box kue yang seperti biasa mereka buat dan 2 box lainnya kue resep baru yang harganya berkali lipat lebih mahal dari biasanya dan 10 box sisanya akan mereka buat menjelang subuh, mereka juga harus beristirahat.
Begitulah rutinitas mereka setiap harinya, Rusmi hanya menghela napas, ada rasa bersalah di hatinya karena telah membebani putrinya bekerja. Awalnya ia tak ingin membebani putrinya dengan membuat lebih banyak kue dan hanya menitipkannya ke warung-warung seperti biasanya. Namun, ia sadar semua itu tak akan cukup. Mengingat saat ini putrinya sedang kuliah dan memang semakin bertambah usia kebutuhannya pasti akan lebih banyak.
Walau selama ini Mentari tak meminta. Rusmi yakin Mentari juga membutuhkan perlengkapan pribadinya, sehingga dari penjualan tersebut Rusmi selalu menyisihkan untung dari penjualan online diberikan khusus pada Mentari, dengan uang itu ia bisa membeli apa saja yang Mentari inginkan tanpa izin terlebih dahulu dengannya.
Setelah memastikan semuanya sudah beres, Rusmi juga beranjak menuju ke kamarnya. Usianya tak lagi muda, ia juga harus menjaga tubuhnya sendiri, jika ia sakit itu hanya akan tambah merepotkan putrinya dan ia tak ingin itu terjadi, hanya dialah satu-satunya pegangan putrinya dan ia tak ingin sampai terjadi sesuatu padanya. Sampai putrinya memiliki seseorang yang bisa menggenggam tangannya menggantikan dirinya.
Pagi-pagi sekali setelah membuat 10 box kue lainnya, Mentari pun bersiap untuk ke kampus, ia membawa dua box kue resep baru, satunya akan di bawah ke rumah sakit untuk Azriel dan yang lainnya akan dibawanya ke kampus, ia tak akan menjualnya, ia akan menjadikannya sampel dan memberikannya kepada teman-temannya, anggap saja ia sedang mempromosi resep barunya, tak apa ia rugi satu box. Jika tak mencicipinya, bagaimana mereka tahu jika rasanya enak. Mungkin saja jika setelah mencicipinya ia akan mendapat orderan lainnyq.
10 box pesanan lainnya akan di antarnya sepulang kuliah nanti.
Mentari sedikit berlari menuju ke ruangan Azriel karena ia sudah terlambat ke kampus.
Begitu ia masuk, Azriel ternyata masih tidur. Ia hanya melihat jika Abidzar sedang duduk di sofa dengan membuka-buka berkas yang ada di hadapannya, mungkin itu adalah pekerjaan kantornya.
"Selamat pagi, Om," sapa Mentari membuat Abidzar yang sibuk pada berkas di hadapannya pun menoleh.
"Azriel masih tidur, sebentar Om bangunkan dulu," ucap Abidzar ingin melangkah. Namun, Mentari langsung menghentikannya.
"Nggak usah, Om. Ini semalam Azriel pesan kue, aku sengaja mengantarnya pagi-pagi karena harus segera ke kampus, ada urusan penting di kampus dan harus segera berangkat sekarang. Ini saya berikan kepada Om saja ya, harganya 250.000," ucap Mentari membuat Abidzar pun langsung merogos akunya dan membayar 300.000.
Mentari mengambil uang tersebut dan menyimpannya di dalam tas kemudian ia mengambil 50.000 sebagai kembalian.
"Tak usah, anggap saja itu uang jajan dari om," ucap Abidzar membuat Mentari yang tahu jika Abidzar seorang CEO, seperti ayah Azriel uang 50.000 mungkin tak ada artinya. Namun, uang itu begitu berharga baginya, ia bisa dijadikan modal tambahan.
"Ya sudah, Om. Terima kasih banyak ya, ya sudah saya pergi dulu, titip salam buat Azriel. Saya nggak bisa lama-lama," jawab Mentari membuat Abidzar pun mengangguk dan anak itu langsung berlari keluar.
Sama halnya saat pertama kali datang, ia juga berlari kecil menuju ke parkiran. Mengambil motor bututnya dan langsung menarik gas menuju ke kampus, ia tak ingin terlambat, ia tak ingin membuat kesalahan sedikitpun yang bisa membuatnya gagal untuk mengikuti acara wisuda di tahun ini.
Abidzar bisa melihat kue tersebut dan meletakkannya di atas nakas, ia hanya mencicipi satu. Ia mengangguk dan mengakui rasanya enak kemudian ia kembali duduk dan mempelajari kembali berkas-berkasnya, ia akan pergi ke kantor setelah Azriel bangun dan ada Khanza yang menggantikannya.
Tak lama kemudian Farah, Khanza dan Lucia datang membuat Abidzar yang sejak tadi memang menunggunya langsung berdiri dan merapikan berkas-berkas tersebut, memasukkannya ke dalam tas dan bersiap untuk ke kantor.
__ADS_1
"Aku langsung ke kantor ya, aku sudah terlambat," ucap Abidzar membuat Khanza pun mengangguk, sebuah kecupan mendarat sempurna dikening Khanza. Sebelum Abidzar berlalu keluar dari ruangan itu.
"Jam berapa anak ini tidur, mengapa di jam seperti ini dia belum bangun," ucap Khanza melihat Azriel masih tertidur, ia pun meletakkan makanan itu di meja sofa, dia sengaja membawa sarapan untuk Azriel dan juga suaminya. Namun, sepertinya Abidzar terlalu terburu-buru dan tak sempat untuk memakan sarapan yang ia bawah.
"Sebentar ya, aku lupa memberikan sarapan ini pada mas Abidzar, aku kejar dia dulu," ucap Khanza yang baru menyadari jika lupa memberikan kotak bekal tersebut pada suaminya. Ia pun langsung mengambil kotak tersebut dan mengejar Abidzar yang belum terlalu jauh, meninggalkan kamar ruang perawatan Azriel.
Farah pun mulai menyiapkan sarapan untuk Azriel yang mereka bawah sehingga saat anak itu bangun ia bisa langsung memberikan sarapannya.
"Lucia, bangunkan Azriel. Dia harus sarapan dan minum obat," ucap Farah membuat Lucia langsung berjalan menghampiri Azriel, hanya dengan satu kali sentuhan menggoyangkan lengannya Azriel langsung terbangun, dia cukup terkejut saat melihat Lucia yang membangunkannya, percakapannya semalam dengan ayahnya membuat ia merasa canggung bersama dengan Lucia.
"Bangunlah, ini sudah jam berapa, itu Mommy sudah menyiapkan sarapan untukmu," ucap Lucia membuat Azriel pun mengangguk dan melihat ke arah Farah yang berjalan menuju ke arahnya.
"Kamu mau ke kamar mandi dulu atau langsung sarapan? Kamu harus minum obat."
"Enggak, aku mau langsung sarapan saja, tadi aku sudah bangun dan ke kamar mandi di bantu Ayah dan tidur kembali makanya baru bangun kembali di jam seperti ini," jelas Azriel membuat Farah mengangguk dan mulai menyuapi Azriel.
Mata Lucia tertuju pada kotak kue yang ada di atas nakas di samping tempat tidur Azriel, ia langsung membukanya dan melihat kue yang begitu cantik.
Tanpa meminta pada yang punya Lucia langsung mengambil dan mencicipinya.
"Ini rasanya sangat enak, lebih enak malah dari punya Mommy kemarin. Kamu beli di mana?" tanyanya menatap pada Azriel. Azriel juga cukup terkejut saat melihat kotak kue itu, ia teringat pada Mentari semalam ia sudah memesan kue pada Mentari. Apakah itu kue yang dibawa Mentari?
Azriel melihat box kue tersebut dan di box itu terdapat nomor ponsel Mentari, membuat ia yakin jika itu memang milik Mentari.
"Apa rasanya benar-benar enak? Aku belum mencobanya," tanya Azriel.
"Iya, rasanya sangat enak." Lucia menghabiskan sepotong kue tersebut.
"Itu kue buatan Mentari," ucap Azriel membuat Lucia yang sudah menghabiskan satu potong kue dan kembali ingin mengambilnya terkejut. Ia kembali menyimpan kue itu saat mendengar jika kue itu adalah buatan Mentari.
"Enggak kok, rasanya biasa saja," ucapnya mengambil tisu dan membersihkan tangannya, di mana ia langsung mengambilnya dengan menggunakan tangan karena tak sabar ingin mengambil potongan berikutnya.
Mendengar itu Azriel hanya menyembunyikan senyum.
'Lihatlah, tadi kamu bilang rasanya enak, tapi setelah mengetahui Mentari yang membuatnya kamu langsung mengatakan rasanya tak enak, dasar kamu Lucia. Kamu memang sengaja ingin menghina kue buatan Mentari, sifatmu yang tak menghargai orang lain sepertinya masih sama sejak kecil. Sifat burukmu tak pernah berubah,' batin Azriel.
__ADS_1