
Abizar yang baru saja sampai di kantornya langsung menuju ke ruangannya, pagi ini ada rapat penting dan ia masih belum siap karena ia masih fokus pada pencarian Khanza.
"Fahri tolong hari ini Kau menggantikanku, Aku akan kembali mencari khanza."
"Apa tidak sebaiknya kita membuat janji pada Mr. Alvin," usul Fahri mereka masih mengira jika Mr. Alvin yang menyembunyikan Khanza.
"Aku sudah mengajukan untuk membuat janji bertemu dengannya saat aku keluar negeri, tapi sekarang belum ada tanggapan darinya. Dari kejadian semalam aku yakin Mr. Alvin takkan mau bertemu denganku dan membahas masalah Khanza, aku yakin semua ini ada campur tangan dari Mr Alvin. Fahri, apa menurutmu selama ini Khanza masih ada di kota ini sedangkan kita tak bisa menemukannya."
"Kau benar, kau sudah menyewa banyak detektif dan beberapa agen untuk mencarinya hampir di setiap sudut kota, kalau bukan campur tangan Mr. Alvin kita pasti sudah lama menemukan khanza."
"Tapi, aku dengar semalam selain orang-orang Daniel orang-orang Mr. Alvin juga ikut mencari khanza. Apa itu berarti dia juga kehilangan khanza?" tanya Fahri.
"Itulah yang sedang aku pikirkan sekarang, jika Mr Alvin yang selama ini menyembunyikan khanza, mengapa ia juga mencarinya. Apa Khanza juga melarikan diri darinya," tebak Abizar, dari semalam ia terus memikirkan hal itu.
Tiba-tiba ponselnya berdering, satu pesan masuk di ponselnya.
Abizar dengan malas merogoh sakunya dan melihat siapa yang mengirimkan pesan.
"Daniel," ucapnya saat melihat pesan itu dari Daniel.
"Apa dia mengirimkan ku informasi lagi," gumam Abizar membuka pesan dari Daniel dan alangkah terkejutnya saat ia melihat itu bukan informasi melainkan foto Aziel yang sedang bermain dengan Aqila.
"Aziel," ucapnya terkejut.
"Aziel, di mana Aziel?" tanya Fahri yang ikut melihat kearah layar ponsel Abizar.
"Daniel? Kenapa Daniel bisa mengambil foto Aziel, apa sekarang Daniel sedang bersama mereka?" tanya Fahri, mereka berdua saling tatap.
'Jika kau ingin bertemu dengan Aziel kamu harus memenuhi persyaratan ku. yang pertama kau harus menuruti semua apa yang aku katakan dan yang kedua Jangan pernah tanya di mana khanza.'
Setelah membaca pesan dari Daniel, Abizar langsung menyetujui persyaratan itu dan membalas pesan Daniel.
Dengan cepat Abizar menelpon Daniel,
"Kenapa dia tidak mengangkat panggilanku," geram Abizar saat Daniel mematikan panggilannya.
Abizar sekali lagi melakukan panggilan. Namun kali ini setelah deringan terakhir Daniel tak juga menjawabnya.
Abizar tak putus asa dan terus menelpon Daniel.
"Kurang ajar kamu Daniel, beraninya kau mengabaikan panggilanku," kesal Abizar.
"Apa semalam Daniel berhasil menemukan khanza," ucap Abi memijat kepalanya dan menyimpan ponselnya di meja dengan kasar.
__ADS_1
Ting … satu pesan lagi masuk.
Dengan cepat Abizar mengambil ponselnya dan kembali dengan cepat membuka notif pesan saat melihat itu adalah notif pesan dari Daniel.
Pesan kali ini tak kalah membuatnya terkejut, saat melihat foto Khanza yang Daniel Kirim. Khanza Sedang melihat ke arah lain dan terlihat memegangi perutnya. Abizar semakin memperjelas penglihatannya saat melihat perut Khanza yang sudah membesar. Abizar tertegun mematung.
"Apa khanza hamil," lirih Abizar ada rasa bahagia di hatinya saat menerima kenyataan jika Khanza sedang hamil. Namun, ada rasa sedih yang menyelimuti hatinya saat kembali menyadari keadaan mereka saat ini.
Khanza meninggalkannya karena kebodohannya sendiri, yang memaksa Khanza untuk kembali melahirkan anak untuknya dan kali ini Khanza sedang mengandung anaknya dan ia tak berada di sisi istrinya itu.
Abizar kembali menelpon ponsel Daniel, hasilnya tetap sama, Daniel tak mengangkat panggilannya.
Satu pesan kembali masuk di ponsel Abizar menyatakan Kalau satu jam lagi Daniel akan mengabarinya. Dimana mereka akan bertemu dan membawa Aziel.
Dengan cepat Abizar menjawab pesan itu.
" Aku mohon izinkan aku bertemu dengan Aziel dan khanza, apapun yang kau minta akan kulakukan," tulis Abizar membalas pesan Daniel. Pesannya terkirim dan dibaca oleh Daniel. Namun, tak ada balasan lagi.
Daniel dan Khanza masih duduk di taman. Daniel terus meyakinkan khanza jika ia akan membawa kembali Aziel padanya.
"Tapi, Kak. Bagaimana jika kak Abi bersikeras untuk mengambil Aziel."
"Percayalah, aku yakin Abizar akan menepati kata-katanya. Dia akan menuruti apa yang aku katakan. Lagipula dia itu ayahnya. Apa kau tidak kasihan melihat putramu yang sangat merindukan ayahnya. Saranku jika kau memang ingin berpisah dari Abizar sebaiknya kau berpisah baik-baik, jangan seperti ini saling menyembunyikan diri. Aku tahu jika kau belum siap bertemu, tapi cobalah untuk menyiapkan dirimu, Aziel juga anak Abizar dia punya hak atasnya, tapi aku yakinkan padamu kau jauh lebih berhak atas Aziel, aku yang akan mengurus semuanya," ucap Daniel mencoba meyakinkan Khanza.
"Baiklah aku percaya, kakak akan mengembalikan Aziel padaku," ucap khanza.
Daniel memanggil Aqila. Aqila mengajak Aziel menghampiri mereka.
"Aziel mau ketemu Papa?" tanya Daniel.
"Iya Om, Ziel sangat ini ketemu dengan papa. Om mau bawa Aziel ketemu Papa?" tanya dengan mata yang berbinar senang.
"Tapi Aziel janji, kita hanya bertemu papa hari ini, sore nanti Aziel ikut om lagi ya pulang ke sini sama mama," ucap Daniel.
"Iya Om, Ziel janji. Ziel juga nggak mau pisah dari adik bayi," ucapnya mengelus perut mamanya dan mengecupnya.
"Ya sudah, pamit sama kakek dan nenek dulu ya," ucap Daniel.
Mereka pun masuk menemui kakek dan nenek khanza. Awalnya nenek tidak mengizinkan Daniel membawa Aziel. Namun, kakek sependapat dengan Daniel, jika Abizar adalah ayahnya mereka tidak mungkin memisahkannya terus-menerus dan berada dalam posisi ini. Masalah ini harus secepatnya diselesaikan. Kakek juga merasa tak enak terus tinggal di rumah Damar.
Khanza dan Aqila membereskan perlengkapan Aziel, seperti pakaian ganti dan beberapa perlengkapan lainnya. Memasukkannya ke dalam ransel kecil.
"Apa semua akan baik-baik saja?" tanya Khanza.
__ADS_1
"Kita percayakan pada kak Daniel, Kak Daniel benar, kita tak bisa terus dalam situasi ini dan merepotkan keluarga Damar."
"Aku pasti bisa melalui semuanya," ucap Khanza meyakinkan dirinya.
"Kakak janji ya, akan bawa Ziel pulang," ucap Khanza kembali meminta janji Daniel, ia masih belum rela berpisah dari Putranya jika sampai Abizar mengambilnya dari mereka.
"Iya, aku janji. Apapun yang terjadi aku akan membawa pulang putramu."
Aziel terus melambaikan tangannya saat mobil Daniel sudah melaju pergi meninggalkan halaman Damar.
Beberapa anak buah Daniel menyusul mereka dengan menggunakan mobil lain dan sementara yang lainnya lagi masih terus berjaga di luar rumah.
"Kita mau ketemu Papa?" tanya Aziel.
Daniel mengangguk dan mengambil ponselnya, menelpon nomor Abizar dan mengaktifkan pengeras suara.
Deringan pertama Abizar langsung mengangkat panggilan Daniel.
"Halo Daniel, di mana anak dan istriku?" tanya Abizar langsung saat panggilannya tersambung.
"Halo Papa, ini Ziel," ucap Aziel saat Daniel memberikan ponsel itu kepadanya dan mendengar suara papanya dari seberang telepon.
Abizar merasakan kebahagiaan yang sangat luar biasa saat mendengar suara anaknya. Air matanya tanpa sadar menetes mendengar suara anak yang sangat dirindukannya.
"Aziel anak Papa, kamu di mana sayang Papa sangat merindukanmu," ucap Abizar penuh rasa cinta.
"Ziel lagi di mobil sama Om, lagi menuju ke Papa. Ziel juga sangat merindukan Papa, kenapa Papa tak pernah datang?" tanya Aziel dengan polosnya.
"Maaf ya, Nak. Papa sedang ada kerjaan, jadi Papa belum bisa menemui Aziel. Aziel anak pintar jaga mama ya sayang."
"Iya Papa, Ziel akan jaga mama dan Ade," jawab Aziel.
Abizar memegang dadanya yang terasa semakin perih mendengar ucapan Aziel. Khanza benar hamil dan ia tak ada di sampingnya.
"💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖
Terima kasih sudah membaca 🙏
Jangan lupa like, vote dan komennya 🙏
Salam dariku Author M Anha ❤️
💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖
__ADS_1