
Abizar naik ke kamarnya, ke kamar di mana selama ini Khanza dan Farah tidur, disana sudah ada Aziel yang tertidur lelap.
Abizar langsung menghampiri putranya itu memberi kecupan di kedua pipinya.
"Mas, mandi dulu," tegur Farah.
Farah mulai membongkar koper Abizar mencarikan baju ganti untuk suaminya sementara Khanza sudah menyiapkan air untuk mandinya.
Abizar masuk ke dalam kamar mandi.
"Kamu jangan dekat-dekat dengan Daniel," ucap Abizar saat masuk ke kamar mandi mengagetkan Khanza.
"Iya, aku paham Kak. Kakak bikin kaget aja sih," ucap Khanza memegang dadanya.
"Ya udah Mas mandi sana," ucap Khanza ingin keluar.
"Temenin aku mandi, ya!" Abizar menarik Khanza kepelukannya.
"Jaga perasaanku Mbak Farah," ucap Khanza mengecup singkat dan melepas pelukan Abizar kemudian keluar dari kamar mandi.
Abizar hanya menggaruk kepalanya yang tak gatal, kini Khanza sudah mulai dewasa dan bisa mengerti dan saling menjaga perasaan mereka.
"Malam ini Mbak tidur di sini saja dan aku akan tidur dengan Aqila," ucap Khanza mengambil beberapa keperluan Aziel, karena di rumah itu hanya terdapat 5 kamar, satu untuk kakek dan nenek, satu lagi untuk Bibi sedangkan dua yang lainnya gitu sedang di pakai Daniel dan Aqila.
Tak mungkin mereka tidur bertiga, pikir Khanza, lebih tak mungkin jika Abizar tidur bersama dengan Daniel.
"Kamu mau ngapain?" tanya Farah saat melihat Khanza menggendong Aziel yang sedang tertidur.
"Aku bawa Ziel ke kamar Aqila, Mbak tidur sama kak Abi aja." ucap Khanza berjalan keluar.
Abizar keluar dari kamar mandi sesaat setelah Khanza keluar.
"Aziel mana?" tanya Abizar yang tak melihat putranya di tempatnya tadi.
"Dia sudah bangun?"
"Belum Mas, dibawa Khanza ke kamar Aqila, mereka akan tidur di sana, Mas istirahat disini saja," ucap Farah.
Abizar sebenarnya sangat merindukan Aziel. Namun, ia tak mungkin menolak apa yang Farah katakan, akhirnya malam itu ia tidak dengan Farah sementara Khanza tidur bersama dengan Aqila dan Aziel di kamar yang lainnya.
Abizar harus selalu pintar menjaga hati kedua istrinya ia harus berusaha untuk berbuat adil kepada mereka berdua lahir maupun batin.
Aziel yang tidur saat sore hari terbangun di malam hari,
"Mama β¦ mama," ucapnya membangunkan mamanya.
Khanza mengerjapkan matanya dan melihat putranya itu sudah duduk dan terlihat segar,
"Aziel bobok lagi ya, Mama masih ngantuk," ucap Khanza mencoba menidurkan Aziel. Namun, anak itu seperti tak mau, Aziel menggeleng.
__ADS_1
"Papa," ucapnya menunjuk ke arah luar.
"Papa lagi sama bubu, Aziel sama mama, ya?"
"Aziel yang sudah sedikit mengerti apa yang dikatakan Khanza menggeleng dan terus menunjuk ke pintu ingin keluar, matanya bahkan berkaca-kaca dan bibir yang mulai bergetar.
"Ya udah, kita keluar bermain, yuk," ucap Khanza kemudian menggendong putranya keluar dan mengajaknya bermain di ruang tengah, Khanza terus saja menguap ia sangat mengantuk.
Aziel yang baru bangun terlihat sangat segar dan aktif bermain.
"Ziel Kita bobo, yuk. Mama ngantuk," ucap Khanza
Aziel menggelang dan tetap bermain, bahkan mengajak Khanza ikut bermain bersamanya.
Aziel akan marah jika Khanza menutup matanya, membuat Khanza akhirnya ikut bermain bersama Aziel agar menghilangkan kantuk nya.
Mereka terus bermain sekali Aziel akan menangis saat Khanza berbaring dan menutup matanya, ia tak ingin bermain sendiri sedangkan Khanza sangat mengantuk.
"Apa aku boleh gabung," ucap Daniel berjalan menghampiri mereka.
Aziel yang sudah akrab dengan Daniel langsung menghampiri dan merentanhkan tangannya ingin digendong.
"Ini jagoan, Kenapa bangun malam-malam begini, haaa," Daniel kembali membawa Aziel ikut bergabung dengan Khanza.
"Ya, begitulah jika Ziel tidur saat sore dia akan terbangun di malam hari seperti ini dan biasanya dia akan main bersama kak Abi," ucap Khanza.
"Emangnya Abizar kemana?" tanya Daniel.
"Kenapa kamu tak membangunkan untuk menemani putranya bermain."
"Lagi tidur sama Mbak Farah, aku nggak enak."
Daniel tertawa sinis mendengar jawaban Khanza.
"Kalian itu aneh ya, mau aja bergiliran seperti itu," ucap Daniel. "Maaf kalau aku menyinggung perasaanmu, tapi apa kamu tak pernah berpikir untuk berpisah dengan Abizar."
"Maaf Kak, aku nggak mau bahas itu," ucap Khanza memilih merapikan mainan Aziel yang berceceran kemana-mana, rasa kantuknya tiba-tiba hilang mendengar ocehan Daniel.
"Aku hanya memberi saran. Sampai kapan kalian akan seperti ini, rumah tangga macam apa yang kalian pertahankan ini, aku juga heran pada keluargamu yang mendukungmu menjalani kehidupan rumah tangga poligami seperti ini, lihatlah sekarang suamimu bersama dengan wanita lain apa kau tak cemburu, tak sakit hati, kamu pasti tahu kan apa yang kemungkinan mereka lakukan saat ini."
"Kak Daniel cukup, aku bukan orang bodoh, aku tahu tanpa harus diberitahu," ucap Khanza kesal mendengar ucapan Daniel. Ada sayatan yang terasa di hatinya.
Daniel yang melihat Khanza sudah berkaca-kaca memutuskan untuk bermain dengan Aziel.
"Kamu tidur saja, Aziel biar aku yang jaga."
"Tidak perlu, aku bisa menjaga anakku sendiri. Kakak saja yang pergi tidur, tak baik jika kita terlihat berdua seperti ini."
"Tak baik. Bagaimana mungkin tak baik, kita hanya bermain bersama dengan Aziel, lagipula kita tak di kamar 'kan."
__ADS_1
"Tapi, sebaiknya Kakak kembali ke kamar."
"Kenapa, kamu takut dengan Abizar. kamu takut dia marah. Dia saja sedang bersama dengan Farah, seharusnya dia bisa mengerti perasaanmu. Jika dia juga bisa merasakan bagaimana rasanya jika kau bersama dengan pria lain."
"Kak Daniel, Khanza mohon berhenti membahas masalah itu, aku sudah tak pernah mempermasalahkannya lagi."
"Ya β¦ ya β¦ Aku tak akan membahasnya," Daniel kembali bermain bersama Aziel.
Aziel tertawa hingga cekikikan saat Daniel melakukan hal-hal yang lucu, Khanza pun tanpa sadar ikut tertawa.
Tanpa mereka sadari Abizar sudah berjalan di belakang mereka.
Abizar tanpa kata langsung mengambil Aziel yang sedang bermain dengan Daniel dan langsung menggendong.
"Papa," teriak Ziel memeluk erat Papanya.
Khanza terkejut, " Aziel terbangun dan ingin keluar bermain," jelas Khanza tanpa ditanya.
Daniel ikut berdiri dengan santainya dia berjalan kembali ke kamarnya.
"Kenapa tak membangunkanku?" ucap Abizar menatap Khanza.
"Aku hanya tak mau mengganggu Kakak dan Mbak Farah," jawab Khanza sedikit bergumam dan menunduk.
"Ayo ke kamar," Abizar berjalan lebih dulu ke kamar mereka diikuti oleh Khanza di belakang.
"Tidurlah biar aku yang bermain dengan Aziel,"
Khanza hanya mengangguk dan ikut berbaring di samping Farah.
"Aziel main sama Papa, ya," ucap Abizar pada putranya.
Ziel yang sudah sangat merindukannya mengangguk dengan sangat senang.
Mereka pun bermain bersama sementara Khanza dan Farah sudah tertidur pulas.
Pagi hari Farah terbangun lebih dulu, ia sedikit terkejut saat yang tidur disampingnya adalah Khanza.
"Mas Abi kemana," ucap Farah kemudian mencoba bangun meregangkan otot-ototnya.
Farah tertawa saat melihat Abizar tidur di lantai dengan Aziel yang tertidur di atas dadanya dan mainan yang berserakan di lantai di sekitar mereka.
"Pasti aku tidur sangat nyenyak hingga tak merasa mereka bermain," gumam Farah turun dari tempat tidur, baru saja ia akan melangkah menuju ke kamar mandi ponselnya berdering.
Farah menutup mulutnya terkejut saat melihat siapa yang menelpon nya."Mamah" tertulis jelas di layar ponselnya.
"Astaga Mama masih di luar negeri," ucap Farah melihat Abizar yang sedang tertidur kemudian melihat layar ponselnya yang terus berdering dengan tertera nama Mama di sana.
πππππππππππ
__ADS_1
Makasih kak sudah tetap setia menanti up πMencintai Diriku Dan Dirinya π
πππππππππππ