Berbagi Cinta : Mencintai Diriku Dan Dirinya

Berbagi Cinta : Mencintai Diriku Dan Dirinya
Rencana Abizar.


__ADS_3

Abizar memacu mobilnya menuju ke rumah lama, ia masih mengingat Suara anaknya yang menjerit menangis memanggil dirinya.


Abizar mengelus dadanya,


"Aku bisa menahan selama ini, semua akan tetap seperti ini," gumamnya.


Ponselnya kembali berdering,


"Iya, Mah!"


"Papa, Ziel mau bobo sama Papa," pinta Ziel di sela tangisnya.


"Iya sayang ini papa lagi dijalan mau ke rumah Bubu, Ziel jangan nangis, tunggu papa, ya," ucap Abizar mencoba menenangkan Putranya.


"Iya, Papa," jawab anak itu masih dangan sesegukannya.


"Sepertinya, apa yang dikatakan mama Santi benar, jika Aziel juga sudah bisa merasakan ingin bersamaku," Selama ini putranya itu sering menangis mencarinya.


Ada rasa kecewa di hatinya kepada dirinya sendiri, ia seharusnya menjadi seorang papa yang selalu membuatnya bahagia. Namun, ada dia hati yang harus dijaganya.


"Solusi ini tidak berhasil, Farah dan Khanza baik-baik saja, tapi tidak dengan aku dan Aziel. kedua istrinya bisa bahagia. Namun, tidak untuk dirinya dan juga Aziel, putranya.


Abizar terus memikirkan cara. Namun, ia tak menemukan ada satupun cara agar mereka bisa bahagia tanpa ada yang tersakiti. Jalan satu-satunya hanya minta Khanza untuk hamil lagi dan memberi salah satu anaknya kelak pada pada Farah, hanya dengan begitu mereka tak akan ada yang merasa kesepian, ada anak yang menemani mereka dan ia pun bisa bertemu dengan anak-anak saat berkunjung ke kedua rumahnya … Khanza bisa melahirkan lagi dan memberikan kebahagiaan pada mereka.


"Apa aku harus meminta pada


khanza lagi. Aku harus coba meyakinkannya jika semua akan baik-baik saja."


Sesampainya di rumah lama, Abizar masuk ke dalam rumah, ia sudah bisa mendengar suara tangis dari putranya, dengan cepat Abizar naik ke lantai 2 menuju ke kamar Aziel.


"Kenapa jagoan Papa menangis," ucap Abizar saat membuka pintu dan melihat anaknya itu menangis di gendongan Farah.


"Papa," ucap Aziel di sela tangisnya, ia merentangkan tangannya ingin digendong oleh Papanya.


Abizar langsung mengambil putranya itu.


"Apa Sudah dari tadi Ziel menangis?" tanya Abizar yang melihat mata anaknya sudah membengkak dan hidungnya mampet. wajahnya terlihat sudah sangat merah.


"Iya Mas, aku sudah berusaha membujuknya, tapi Aziel tidak mau dan terus menangis, mencarimu. Biasanya jika seperti ini dibujuk sebentar saja ia akan berhenti mencarimu," jawab Farah.


"Sejak kapan Aziel sering Mencari ku," tanya Abizar mengecup kedua mata putranya, menghapus air matanya.

__ADS_1


"Aziel itu sudah besar, dia sudah mengerti protes, lihatlah nanti dia akan semakin tak bisa diatur. Dia pasti akan selalu ingin mendapatkan perhatian kalian. Semakin besar dia semakin mengerti ingin dan menuruti keinginannya," ucap Santi sebelum keluar dari kamar itu.


"Ya sudah, kau tidur kan saja dia. Mama juga sudah mengantuk," ucap Warda yang sudah tenang melihat cucunya sudah berhenti menangis di gendongan Papanya. Warda juga keluar dari kamar.


Aziel sudah berhenti menangis tapi jejak-jejak air matanya masih ada di sana dan sesekali masih terdengar sesenggukannya.


Abizar menepuk-nepuk punggung putranya hingga beberapa saat kemudian ia bisa mendengar suara teratur nafas dari putranya itu yang berarti dia sudah tertidur kembali.


Perlahan Abizar menidurkan Aziel. Namun, saat Abizar akan beranjak dari tempat tidurnya Aziel menggenggam tangan Papanya.


"Papa disini saja sama Ziel sama Bubu," ucapnya dengan suara paraunya Kembali berkaca-kaca dengan bibir mulai bergetar.


"Ya, kita bobok ya," ucap Abizar memeluk Putranya. Abizar ikut berbaring memeluk Aziel, begitu juga dengan Farah. Mereka menempatkan Aziel di tengah-tengah mereka.


Saat kemudian Aziel sudah kembali tertidur.


"Bagaimana menurutku jika aku meminta Khanza untuk hamil lagi," ucapnya tiba-tiba membuat Farah yang tadinya sudah akan memejamkan mata kembali mendongak melihat Abizar.


"Mas, Mas sadar apa yang Mas katakan?" tanya Farah yang tau betul jika Khanza masih belum ingin hamil lagi. Ia tau jika madunya itu masih trauma.


Abizar melihat langit-langit kamarnya.


"Sebenarnya aku juga menginginkan hal yang sama. Namun, menurutku jika Khanza sendiri belum siap, Mas jangan memaksanya."


"Kalau kita menunggunya, entah sampai kapan dia siap. Ini sudah 2 tahun, selama ini Mas selalu membahasnya, tapi Khanza selalu menolak."


"Maksudnya, Mas ingin … jangan lakukan itu," tolak Farah. "Jangan sampai Mas menyesal nantinya."


Abizar hanya diam, ia tak ingin memaksakan Khanza untuk hamil lagi, tapi ia juga sangat menginginkan kehadiran bayi lagi di keluarga mereka.


Lama mereka terdiam dengan pikiran masing-masing.


"Bagaimana dengan mengganti obatnya dengan obat lain?" tanya Abizar menoleh pada Farah.


"Kita bisa melakukannya secara diam-diam, tanpa Khanza ketahui, dengan begitu ia tak akan marah 'kan. Ia tak akan tau jika kita yang melakukannya, dia akan menyalahkan obatnya." Ide Abizar.


"Kamu benar-benar sudah gila, Mas," ucap Farah melempar Abizar dengan bantal guling.


Farah jengah dengan tingkah suaminya, Farah kemudian memilih keluar dari kamar Aziel.


"Itukan cuma usul saja!" teriak tertahan memanggil Farah yang berjalan tanpa menoleh padanya lagi. Abizar ingin mengikuti Farah, tapi ia tertahan pelukan Aziel.

__ADS_1


Abizar hanya melihat Farah keluar, tak bisa menyusulnya, Abizar sendiri belum yakin dengan idenya dan ingin meminta saran Farah.


Pagi hari Farah, Abizar, Santi dan juga Warda Duduk di meja makan. Abizar kembali mengutarakan maksudnya agar Khanza bisa hamil lagi.


"Aku setuju. Dokter 'kan sudah mengatakan jika dia akan baik-baik saja." ucap Santi.


"Mama juga setuju, dengan begitu Aziel akan punya adik dan Mama akan punya cucu baru lagi," ucap Warda senang membayangkan akan kembali menimang cucunya.


"Tapi bagaimana jika Khanza tahu," sahut Farah.


"Dia takkan tahu jika kita tak memberitahunya," ucap Santi.


Mereka terus mendiskusikan masalah kehamilan kedua Khanza, Farah yang awalnya tak setuju akhirnya berhasil dibujukan oleh kedua mamanya Akhirnya dia pun setuju.


Dengan persetujuan mereka bertiga Abizar yang tadinya juga masih ragu akhirnya memantapkan untuk menjalankan niatnya.


Abizar mengeluarkan sekotak obat.


"Itu obat apa, Mas?" tanya Farah.


"Ini obat penyubur, aku sudah memintanya dari dokter kandungannya aku akan mengganti obat penyubur ini dengan obat yang selama ini Khanza minum."


"Mas pikirkan baik-baik, pikirkan konsekuensinya. Semua keputusan ada di tangan Mas," ucap Farah kembali mengingatkan.


"Aku yakin semua akan baik-baik saja dan


Dokter juga mengatakan jika Khanza akan baik-baik saja, jika Ia hamil lagi aku akan berusaha selalu ada disampingnya, jika ia sampai hamil lagi kejadian yang lalu takkan terulang lagi," ucapnya meyakinkan Farah yang masih sedikit ragu.


💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖


Terima kasih sudah membaca 🙏


jangan lupa like vote dan komennya 🙏


Salam dariku Author M Anha ❤️


💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖


Hay kak, mampir yuk ke karya temanku


__ADS_1


__ADS_2