
Malam hari seperti biasa, Mentari dan ibunya sudah sibuk di dapur membuat sekitar 40 kue dan semuanya harus siap sebelum jam 09.00 pagi, di mana selain 20 kue spesial mereka juga harus membuat beberapa kue lainnya dan juga mereka meminta harus diantarkan di jam 08.00 sampai jam 09.00 pagi.
"Mentari, kamu tidur saja, Nak. Biar ini ibu semua yang menyelesaikannya," ucap Rusmi yang sejak tadi melihat putrinya itu terus menguap, padahal masih ada 20 kue lainnya yang belum mereka buat.
"Enggak, Bu. Kita buat beberapa saja lagi takutnya jika kita membuat saat subuh kita tak sempat. Mentari ha mau mengecewakan mereka " ucap Mentari di mana biasanya jika memang saat subuh masih ada kue yang belum sempat mereka bikin, ibunya akan kembali melanjutkan membuat kue saat ia pergi ke kampus karena beberapa kue akan diantarkannya sepulang dari kampus. Repatnya di sore hari baru Mentari mengantarkannya, tapi tidak dengan pesanan besok, semua meminta pesanannya diantar di pagi hari.
Rusmi membenarkan apa yang dikatakan oleh putrinya, jika mereka tak boleh mengecewakan pelangan di saat mereka baru memulai, membuat ia pun hanya setuju dan mereka pun kembali melanjutkan membuatnya beberapa kue lainnya, walau mata mereka sudah sangat mengantuk mereka yang tadinya hanya ingin membuat 10 kue lagi akhirnya menyelesaikan semuanya malam itu dan baru tidur pukul 3 pagi.
"Mentari, bagaimana jika kita mempekerjakan satu orang untuk membantu? Ibu tak mau jika sampai kuliahmu terganggu hanya karena bisnis baru kita ini, ibu lihat sepertinya peminatnya lumayan banyak, ibu takutnya jika pesanan semakin banyak kita malah mengecewakan pelanggan karena membuatnya dengan tak hati-hati," ucap Rusmi dan itu dibenarkan oleh Mentari.
Mereka pun setuju untuk mempekerjakan satu orang untuk membantu mereka membuat kue, Mentari juga berpikir dengan begitu ibunya juga tak akan terlalu kelelahan mengingat usia ibunya tak muda lagi.
"Ya sudah, Bu. Mentari tidur dulu, besok pagi kita rapikan kembali," ucap Mentari membuat Rusmi pun juga mengangguk. Ia juga sudah sangat mengantuk, keduanya pun beranjak untuk pergi tidur, baik Rusmi maupun Mentari.
Hari ini mereka sangat lelah, mereka sangat bersyukur memiliki banyak pesanan. Namun, ada kelelahan yang harus mereka bayar atas pesanan yang lumayan banyak.
Saat Mentari bersiap untuk tidur ia memeriksa ponselnya, ia melihat banyak pesan dari Azriel. Mentari membacanya satu persatu pesan itu, semua hanya sekedar basa-basi menanyakan kabarnya, ia kembali mengingat apa yang diucapkan oleh Farah pagi tadi, jika Azriel juga mencintainya.
__ADS_1
"Mengapa sih ada perbedaan, memangnya salah ya jika aku mencintainya dan dia juga mencintaiku?" gumam Mentari ia hanya menghela napas panjang dan bersiap untuk tidur, walau ada sedikit rasa sakit di hatinya. Namun, ia berusaha untuk melupakannya, ia akan fokus pada tujuannya ingin sukses, ia tak ingin lagi membuat orang-orang menghinanya, ia ingin membahagiakan ibunya di masa tuanya.
****
Pagi hari begitu Mentari terbangun, ia langsung melihat jam digital yang ada di pinselnya, ia sangat terkejut saat bangun dan melihat jam sudah jam 07.00 padahal kue semalam masih harus dirapikan kembali, ia dengan cepat Mentari berlari keluar. Namun, dia bernapas legah saat melihat semua kue-kue itu ternyata sudah di packing dan sudah siap untuk diantarkan kepada pemiliknya.
"Ibu?" ucap Mentari menatap ibunya dengan tatapan haru, ternyata ibunya sudah menyiapkan semuanya.
"Sudah, ibu sudah menyelesaikan semuanya, sekarang kamu mandi dan siap-siap. kamu antar kue pesanan yang dari perusahaan ini sana, yang lainnya biar Erwin yang mengantarnya."
"Erwin? Siapa Erwin?" tanya Mentari.
"Aamiin, Bu," ucap Mentari kemudian ia pun bergegas mandi dan menuju ke perusahaan tersebut, saat akan berangkat Mentari kembali mendapat pesan dari Azriel, pesan hanya mengucapkan selamat pagi.
"Iya, selamat pagi. Aku kerja dulu ya," ucap Mentari kemudian kembali menyimpan ponselnya dan melajukan motornya menuju ke perusahaan untuk mengantar 20 kue pesanan dari temannya itu. Mentari bisa merasakan jika ponselnua bergetar, sepertinya itu pesan dari Azriel. Ia mengabaikannya dan terus melajukan motornya.
Sepertinya temannya itu sudah mengabarkan orang yang memintanya untuk memesan kue tersebut, membuat seseorang langsung menyambutnya begitu ia datang.
__ADS_1
"Mentari ya?" ucap orang tersebut membuat Mentari pun langsung mengangguk.
"Ya sudah, mana kuenya? Kita langsung bawa masuk saja ya," ucap orang tersebut membuat Mentari langsung kembali ke motornya dan mengambil 20 kotak kue tersebut dengan dibantu oleh orang yang menyambutnya tadi.
"Kamu sedang sibuk nggak?" tanya orang itu setelah membayar semua kue yang dipesannya pada Mentari.
"Enggak kok, saya sedang tidak kuliah. Ada apa?" tanya Mentari.
"Kami kekurangan orang, orang yang bertugas mengantar beberapa kue ini ke ruang rapat tiba-tiba tak bisa datang, kamu mau nggak menggantikannya? Tenang saja, akan ada bayarannya."
"Oh ya sudah, boleh," gumam Mentari kemudian orang tersebut pun memberikan pakaian seragam yang sama dengan yang beberapa orang pakai di sana, sepertinya mereka semua adalah bagian yang bertugas untuk menyediakan makanan, sepertinya ada acara khusus di kantor tersebut.
Mereka pun diarahkan, apa saja yang mereka lakukan saat di ruangan nanti. Ternyata akan ada peresmian produk yang akan mereka adakan di kantor tersebut.
Mentari mendengarkan semua arahan yang diberikan oleh orang yang sepertinya adalah orang yang bertanggung jawab dalam acara tersebut, setelah diberi pengarahan mereka pun semua dipersilahkan untuk mengantar kue yang sedari tadi mereka pegang, yang tak lain adalah kue yang dibawa Mentari serta beberapa kue tambahan lainnya. Mereka tak memesan dari satu tempat saja.
Begitu Mentari masuk ke dalam ruangan tersebut tatapannya langsung tertuju pada seseorang yang sedang berbicara di atas podium. Pandangan mereka bertemu.
__ADS_1
Ya, orang itu adalah orang yang menabraknya kemarin. Dewa yang tadinya sedang berbicara langsung terdiam saat melihat Mentari, sepertinya ia masih mengingat orang yang ditabraknya kemarin
"Itukan si tiga juta?" batin Mentari. Bukannya memgingiat nama orang itu, Mentari justru mengingat uang yqng ada di amplop pemberian orang yang menatapnya itu.