Berbagi Cinta : Mencintai Diriku Dan Dirinya

Berbagi Cinta : Mencintai Diriku Dan Dirinya
Menghindari.


__ADS_3

Abizar kembali ke rumah saat malam, hari ini dia tidak ke kantor, seharian Ia bermain bersama dengan anak-anaknya. Abizar sangat bahagia. Namun, kebahagiaannya kembali sirna saat akan kembali lagi-lagi ia merasa cemburu saat melihat Daniel mengantar Khanza dan Aqila belum lagi sikap cuek Khanza kepadanya.


"Mama mau ke mana?" tanya Abizar melihat Santi membawa kopernya.


"Mama ingin menyusul Farah, kasihan dia sendiri disana."


Abizar hanya menghela nafas dan terdiam, ia tak tahu harus berbuat apa sekarang. Sudah beberapa kali ia menelpon Farah memintanya untuk kembali, tapi Farah terus saja beralasan kalau bisnisnya sedang ada masalah dan harus ditanganinya.


"Kamu mau pergi malam ini juga?" tanya Warda menghampiri besannya itu.


"Iya, kebetulan besok ada acara dengan teman-temanku, jadi sekalian saja."


"Ya udah, Mah. Abi yang antara ke Bandara," ucapnya kembali mengambil kunci mobil dan mengantar mertuanya ke Bandara, Warda juga ikut mengantar besannya itu.


"Begitu urusan Farah sudah selesai cepatlah kembali," ucap Warda melihat ke arah Santi.


"Iya, semoga saja urusannya cepat selesai dan kami bisa kembali lagi," ucap Santi. Namun, dalam hatinya berkata, 'Kamu takkan kembali lagi, kami akan tinggal disana. Pekerjaan itu hanya alasannya untuk menghindari kalian, anakku sudah banyak mengalah. Aku rasa memang semuanya sudah tak bisa dipertahankan lagi aku akan menemani putriku dan berusaha membahagiakannya walau tanpa kalian.'


Setelah mengantar Santi Abizar pun Kembali, malam ini ia kembali tak bisa tidur. Abizar terus saja mengingat kedekatan Khanza dan juga Daniel.


Abizar yang sudah tak tahan dengan sikap Daniel memutuskan untuk menghubunginya.


"Ada apa kau menghubungiku di tengah malam seperti ini, apa ada hal penting?" tanya Daniel.


"Aku tidak tahu ini hal penting atau tidak bagimu, tapi ini sangat penting bagiku. Aku tak suka sikapmu yang begitu dekat dengan Khanza dia itu masih istriku kau jaga sikapmu!"


"Aku tidak berbuat apa-apa, aku hanya menyapa mereka. Lagipula kami tak hanya berdua ada Aqila yang selalu bersama kami. Aku rasa itu bukan sesuatu yang salah," jawab Daniel bisa mendengar nada kemarahan dari Abizar. Namun, Ia terus mencoba untuk bersikap santai menghadapinya.


"Aku tahu kau sengaja melakukannya 'kan? kau sengaja untuk membuatku marah dan kamu benar-benar sukses membuatku marah! jangan melewati batasanmu, Daniel!"


Daniel tertawa mendengar ucapan Abizar membuat orang di seberang sana semakin geram dibuatnya.


"Abizar, Khanza itu sudah tak mau melanjutkan hubungannya denganmu, jika kau memang mencintainya lepaskan dia biarkan dia memilih ingin hidup dengan siapa, ingin mencintai siapa! Sekarang sudah sangat jelas Khanza ingin bercerai denganmu berarti dia sudah tak mencintaimu lagi," ucap Daniel memainkan pena di tangannya, ia sedang mengerjakan pekerjaan kantornya saat Abizar menelponmu.


"Aku tekankan padamu jika aku tak akan menceraikan Khanza sampai kapanpun jadi berhenti Berharap padanya!"


"Ternyata masih ada orang yang seegois dirimu di dunia ini, kau tahu kamu itu adalah orang egois yang pernah aku kenal aku tahu kamu masih mencintai Khanza. Namun, coba tanyakan dirimu sendiri apakah cintamu itu sudah membahagiakannya atau justru menyakitinya jika jawabannya memang kau sudah membahagiakannya kamu bisa mempertahankan pernikahanmu. Namun, sepertinya jawaban yang tepat adalah selama ini kau hanya sering menyakitinya jadi pilihan yang terbaik untuk membuatnya bahagia yaitu menceraikannya." Daniel menjeda kalimatnya. " Bukankah kau bilang kau mencintai Khanza? Ya sudah lepaskan dia Jangan mengekangnya dengan status."


"Mungkin sekarang dia sangat membenciku, tapi aku yakin masih ada cinta di hatinya untukku jadi jangan coba-coba kau mengganggu hubungan kami dan semakin memperkeruh suasana dan kami punya anak-anak yang harus Kami beri kasih sayang mereka membutuhkan kami berdua."

__ADS_1


"Kau benar, anak-anak membutuhkan kalian, tapi tak harus 'kan mereka membutuhkan kalian sebagai sepasang suami istri. Kalau kalian sudah berpisah kau tetap akan menjadi Papa mereka dan Khanza akan tetap menjadi Mama mereka, jadi anak itu hanya alasanmu saja mengikatnya."


Abizar langsung mematikan ponselnya ia semakin kesal mendengar ocehan Daniel.


Sementara itu Daniel melihat ponselnya yang sudah mati, rupanya Abizar telah mematikannya.


"Sampai kapan kau sadar jika kau itu sangat egois," ucap Daniel kembali meneruskan pekerjaannya.


Sementara itu Khanza melihat anak-anaknya yang tengah tertidur pulas, terlihat sangat tenang dan tak ada beban sedikitpun. Khanza tak mengerti apakah anak-anaknya itu terbebani dengan sikapnya yang begitu egois memisahkan ia dan Papanya. Khanza hanya bisa berharap suatu saat nanti anak-anaknya itu akan mengerti mengapa ia memilih mundur daripada harus melanjutkan pernikahannya dengan Papa mereka.


Saat ini mereka sedang tidur di ruang kerja Khanza, Aqila masuk dan menghampirinya memberikan secangkir susu hangat untuknya.


"Susu?" tanya Khanza mengerutkan keningnya lihat gelas susu yang diberikan oleh sahabatnya itu.


"Iya, aku yakin pikiranmu sekarang sedang kacau 'kan? Aku yakin kamu pasti memikirkan kehidupan anak-anakmu kelak dengan rumah tanggamu yang seperti ini, aku membuatkanmu susu coklat agar kau tetap segar dan ceria. Katanya Rasa manisnya coklat bisa membuat orang menjadi merasa gembira," ucap Aqila membuat Khanza tertawa dengan apa yang baru saja diucapkan sahabatnya.


"Iya, terima kasih ya susunya? Semoga malam ini aku tidak stress memikirkan semua masalahku Semua beban hidupku yang semakin berat." ucap Khanza meminum sedikit demi sedikit susu coklat yang baru saja Aqila berikan padanya.


Pagi hari semua berjalan seperti biasanya. Khanza sibuk di dapur membuat sarapan untuk anak-anaknya, begitu juga dengan Aqila. Sementara Bibi memilih untuk mengajak anak-anak bermain halaman sambil menjemur mereka. Cahaya matahari sangat baik untuk anak-anak membuat Bibi berinisiatif untuk menjemur keduanya.


"Apa Pak Abizar akan datang lagi ke sini?" tanya Aqila mulai mengambil piring dan menyiapkan makanan mereka.


"Papa," teriak Aziel menyambut papanya. Suara Aziel hingga ke dapur sehingga mereka bisa mengetahui jika Abizar sudah datang.


"Kamu lanjutkan, aku mau siap-siap ke kantor," ucap Khanza membuka celemeknya lalu berjalan cepat menuju ke kamarnya, Abizar hanya melihat apa yang dilakukan oleh Khanza, terlihat jelas ia menghindarinya.


Selang beberapa saat Daniel juga datang.


Abizar yang mendengar mobil Daniel datang langsung keluar. Baru saja Daniel ingin membuka pintu Abizar langsung mendorong pintunya sehingga Daniel tak bisa keluar.


"Apa-apaan ini?" tanya Daniel membuka kaca mobilnya.


"Aku tak suka kau selalu datang ke sini, sebaiknya kau pergi dari sini! Aku bisa mengantar Khanza ke kantor."


Baru saja Abizar mengatakannya Khanza keluar dan langsung masuk ke mobil Daniel.


"Kita ke kantor sekarang!" ucapnya menatap kedepan tak ingin menatap Abidzar yang terlihat begitu marah melihat ke arahnya.


"Khanza turun! Biar aku yang mengantarmu."

__ADS_1


"Sepertinya Khanza lebih senang saat jika diantar olehku. Mungkin dia bahagia lebih bahagia denganku daripada denganmu," ucap Daniel menutup kaca jendelanya.


"Khanza, aku bilang turun! biar aku yang mengantarmu," Abizar mengetuk pintu kaca mobil Daniel.


Daniel terus melajukan mobilnya meninggalkan Abizar yang terus memanggil Khanza.


Sepanjang perjalanan Khanza terus diam.


"Apa Aqila tak ke kantor?" tanya Daniel berbasa-basi ingin menghilangkan kecanggungan yang terjadi di mobil itu.


"Dia akan menyusul nanti, aku hanya ingin menghindari kak Abi."


" Rumah itu adalah rumahmu, jika ingin menghindarinya kamu bisa melarangnya datang ke rumahmu, itu hakmu."


"Aku hanya ingin anak-anak tak merasakan ketidak cocokan kami. Aku ingin mereka menganggap kalau semua baik-baik saja, Papa dan Mamanya selalu ada untuk mereka," Lirih Khanza.


"Anak-anakku masih terlalu kecil untuk mengerti jika kami tak bisa bersama lagi."


"Lalu bagaimana dengan perceraianmu? apa kau akan melanjutkannya?" tanya Daniel melihat ke arah Khanza sejenak kemudian kembali melihat ke arah jalan.


"Untuk saat ini biarkan saja seperti ini."


"Apa kau masih mencintainya?" tanya Daniel menghentikan mobilnya saat lampu jalan berwarna merah.


"Jujur aku masih mencintainya, tapi sudah cukup. Aku tak ingin lagi melanjutkan pernikahan ini." jawab Khanza melihat beberapa kendaraan beroda dua yang juga berhenti di depan mobil mereka.


Daniel mengangguk mendengar jawaban Khanza.


'Baiklah, aku akan menghilangkan rasa itu di hatimu,' batin Daniel kembali bertekad merebut hati Khanza.


💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖


Terima kasih sudah membaca 🙏


Salam dariku Author M Anha ❤️🤗


💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖


Mampir ke karya temanku 🙏

__ADS_1



__ADS_2