Berbagi Cinta : Mencintai Diriku Dan Dirinya

Berbagi Cinta : Mencintai Diriku Dan Dirinya
Cemburu


__ADS_3

Abizar yang melihat pemandangan yang membuat hati dan pikirannya tak membuang waktu dan langsung keluar dari mobil, Abizar menutup pintu mobilnya dengan kasar sehingga menghasilkan bunyi yang nyaring saat menutupnya, membuat Khanza  dan Daniel mengetahui kehadirannya.


Khanza bisa melihat jika suaminya itu terlihat kesal, Khanza baru teringat akan ucapan suaminya beberapa waktu lalu jika ia tak ingin jika ada rekan kerjanya yang datang ia tak boleh menemuinya. 


Khanza  tersenyum canggung melihat Abizar yang berjalan menuju ke arah mereka, sedangkan Daniel langsung berdiri menyambut Abizar,


"Selamat sore, Pak," ucapnya mengulurkan tangannya.


"Sore," Abizar hanya menjawab, tapi tak  menyambut uluran tangan Daniel, hanya melihatnya dengan tatapan tak suka.


"Apa yang anda lakukan di sini?" tanya Abizar tanpa berbasa-basi


Daniel langsung ambil berkas yang memang ingin diberikannya kepada rekan bisnisnya itu.


"Aku hanya ingin memberikan ini, tadi Anda pergi saat saya menelepon dan Farel lupa memberikannya," menyodorkan berkas yang di pegangnya.


Abizar mengambil berkas tersebut dan melihat Khanza yang masih berdiri di samping mereka, "Masuk," ucapnya.


Khanza tak banyak protes, ia langsung berjalan masuk meninggalkan mereka, sesekali ia menengok ke belakang melihat apa yang terjadi diantara mereka berdua.


"Kak Abi Kenapa sih, aneh. Mukanya jutek banget, untuk tampan," ucap Khanza terus menggerutu sendiri sambil terus berjalan masuk ke rumah.


"Maaf, Pak. Saya tidak izin dan tidak memberitahu jika saya akan kesini, saya pikir Anda langsung pulang setelah dari restoran tadi," ucap Daniel yang bisa melihat tatapan tak suka dari Abizar untuknya. Namun, itu diartikan sebagai tatapan seorang kakak yang tak suka adiknya dekat dengan seorang pria. 


Daniel pernah berada dalam posisi itu, ia juga memiliki seorang adik perempuan.


"Apa ada lagi?" tanya Abizar dengan mode dinginnya.


"Tak ada, hanya itu saja.  Kalau begitu saya permisi dulu," pamit Daniel yang mengerti arti dari perkataan Abizar yang tak suka dia masih berada di kediamannya.


Daniel berjalan menuju mobilnya, ia menggeleng dan tersenyum bodoh menertawakan dirinya sendiri. Biasanya dialah yang bersikap seperti itu kepada setiap pria yang dekat dengan adiknya saat dulu banyak pria yang sering berkunjung ke rumah untuk menemui adiknya, tapi sepertinya sekarang dia juga merasakan apa yang dirasakan para pria yang sering diusirnya saat mendekati adiknya.


Saat akan masuk ke dalam mobil, Daniel melihat Khanza yang berada di balik pintu, membuka setengah pintu dan melihat ke arah nya.


Daniel melambaikan tangan, sedikit membungkuk meminta berpamitan kepada Khanza kemudian berbalik menatap Abizar dan juga membungkukkan kepala ke Abizar berpamitan, kemudian masuk ke dalam mobil dan melepaskan tawanya. Daniel menertawakan dirinya. Ia seperti seorang remaja yang sedang melakukan pendekatan.


"Kenapa aku seperti ngapelin anak orang dan terus diawasi seperti ini," gumamnya tak percaya lalu menyalakan mobil melajukan mobilnya keluar dari gerbang.


Abizar masih berdiri di tempatnya, melihat mobil Daniel yang keluar gerbang. Ia baru berjalan saat melihat mobil Daniel benar-benar menghilang di balik gerbangnya.


Khanza yang melihat Abizar berjalan ke arahnya dengan cepat berlari masuk.


"Khanza kamu kenapa?" tanya Farah yang melihat Khanza berlari masuk, bahkan Khanza hampir saja menabraknya.


"Nggak apa-apa Mbak, aku mau ke kamar. Kak Abi sudah datang, dia ke kamar Mbak aja, ya!" ucapnya kemudian kembali berlari menaiki tangga masuk ke kamarnya dan mengunci pintu.

__ADS_1


Farah memiringkan kepalanya mencoba mencerna apa yang dimaksud oleh Khanza.


Mengangkat bahu acuh tak mengerti apa yang terjadi.


"Anak itu kenapa?" gumamnya kemudian berjalan keluar menyambut Abizar yang baru masuk ke dalam rumah.


Mengambil tas kerja suaminya dan jas yang menggantung di tangan Abizar.


"Mas mau langsung mandi?" tanyanya.


"Khanza mana?"


"Emangnya kenapa sih, Mas?" tanya Farah yang masih bisa melihat raut kesal di wajah suaminya.


"Nggak, nggak apa-apa, Ziel mana?"


"Mas ke kamar aku aja, Aziel lagi tidur di kamarku, aku siapkan air mandi untuk Mas," ucap Farah menggandeng suaminya masuk ke dalam kamarnya.


Khanza mengintip dari balik pintu, ia bernafas lega saat Abizar masuk ke kamar Farah.


"Masa iya, sih. Mas Abi marah gara-gara aku hanya berbicara dengan Daniel, Kita kan nggak ngapa-ngapain cuman ngobrol biasa," gumamnya.


"Apa kak Abi cemburu, ya." Khanza merasa senang, baru kali ini ia melihat suaminya itu cemburu padanya.


Abizar yang sudah sangat merindukan Aziel langsung mengganggu tidur balita itu.


Aziel sangat lengket pada Abizar, jika melihat Papanya ia tak akan mau digendong oleh Mama dan ibunya.


"Mas, sudah jangan diganggu terus, nanti kamu nggak mandi loh karena Ziel nggak mau lepasin kamu."


"Iya, Mas gemes," ucapnya mengambil handuk yang diberikan oleh Farah kemudian masuk ke kamar mandi.


Farah menyiapkan pakaian untuk Abizar dan menyimpannya di atas tempat tidur kemudian ikut berbaring di samping Aziel, menepuk-nepuk bokong putranya itu agar tidurnya lebih nyenyak.


Abizar keluar dari kamar mandi dengan handuk yang melilit di pinggangnya sambil mengeringkan rambutnya dengan handuk kecil.


Farah beranjak dari tempat tidur saat Abizar duduk disisi tempat tidur, mengambil handuk kecil yang di pegang Abizar dan membantu mengeringkan rambut suaminya, memijat ringan disana.


Farah sangat tahu jika suaminya itu sangat menyukai pijatannya.


Abizar memejamkan matanya menikmati pijatan yang Farah berikan, seharian bekerja di kantor sungguh membuatnya membutuhkan pijatan ringan dari Farah.


"Apa yang Daniel lakukan dengan Khanza di luar?"


"Maksudnya?" tanya Farah tak mengerti, menghentikan pijatannya menatap suaminya.

__ADS_1


"Tadi Daniel di luar bersama dengan Khanza, apa mereka sudah lama bersama di luar ...?"


Farah baru mengerti apa yang dimaksud oleh suaminya.


"Nggak kok, Mas. Tadi aku juga bareng sama mereka, tapi karena Ziel ngantuk jadi aku menidurkannya. Mereka cuman ngobrol biasa," jelas Farah.


"Lain kali kalau Daniel datang lagi jangan biarkan dia mengobrol dengan Khanza. Aku ga suka," ucapnya masih memejamkan mata menikmati pijatan Farah.


"Farah tersenyum penuh arti, "Jangan bilang Mas cemburu sama Pak Daniel," ucap Farah menahan tawanya.


Abizar terdiam, "Apa benar aku cemburu,batinnya.


Farah menghentikan kegiatannya dan memeluknya dari belakang mencium pipi suaminya,


"Mas cemburu 'kan," godanya.


"Enggak, biasa aja," jawab Abizar meminta Farah kembali memijatnya.


"Ma-sa, Mas nggak cemburu," masih menggoda Abizar.


Abizar menarik tangan Farah dan menggelitiknya.


Farah menjatuhkan tubuhnya di kasur,


"Mas, cukup ampun," mohon Farah terus tertawa karena  Abizar tak henti-henti menggelitik menghukum istrinya yang meledaknya.


Tanpa mereka sadari Aziel sudah duduk dan melihat mereka.


Abizar menghentikan kelakuannya dan melihat putranya yang sepertinya bingung melihat apa yang papa dan ibunya lakukan.


Abizar dan Farah saling tatap kemudian kembali menatap Aziel dengan wajah bingungnya kemudian mereka tertawa membuat Aziel juga ikut tertawa melihat papa dan ibunya tertawa.


"Anak Papa sudah bangun, ya," ucap Abizar langsung gendong Aziel.


"Mas, pakai baju dulu," tegur Farah yang melihat suaminya itu belum memakai baju dan langsung menggendong Aziel.


"Ziel duduknya dulu ya, Papa pakai baju," ucapnya pada balita itu, Aziel benar-benar tenang dan menunggu papanya memakai pakaian kemudian kembali menggendong putranya dan keluar kamar.


💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖


Terima kasih sudah membaca 🙏


Jangan lupa like, vote, dan Komennya 🤗


Tim pebinor ada?🤭🤭

__ADS_1


Salam dariku author M Anha ❤️


💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖


__ADS_2