
Pagi hari Abizar dan Farah berangkat ke kantor, Khanza mengantar mereka berdua hingga ke teras rumah dengan perut buncitnya.
"Kami pergi dulu, ya. kamu baik-baik dirumah," ucap Abizar mengecup kening Khanza.
"Kalau kau butuh sesuatu kamu bisa hubungi Mbak ya," ucap Farah mengelus lembut lengan Khanza yang dijawab anggukan oleh bumil itu.
Lambaian tangan Khanza mengantar mereka berdua, ia hanya bisa melambaikan tangan saat mobil mereka mulai menjauh meninggalkan nya keluar dari gerbang.
Khanza tersenyum pasrah, sungguh aneh rasanya ia mengantar suaminya pergi dengan wanita lain walau itu juga adalah istri suaminya sendiri.
"Nenek, rumah tangga macam apa ini, lihatlah cucumu ini, hanya bisa mengantar kepergian suami dan madu ku seperti ini," ucap Khanza menunduk melihat perutnya saat bayi dalam rahimnya itu menendang, seakan merespon ucapannya.
"Kamu tenang saja, mama akan selalu mengutamakan kebahagiaanmu, kita akan mencoba untuk menerima semua ini. Cepat lahir ya, sayang. Biar mama ada temennya di rumah besar ini. coba lihat Papa pergi sama Mbak Farah, mama nggak ada temennya di rumah. Ada sih tapi oma-oma nggak seru," ucap Khanza bergumam sendiri mengangkat bahunya.
Khanza bingung harus berbuat apa, mungkin jika di kampung ia akan pergi ke kebun membantu kakek dan neneknya, tapi disini semua sudah ada yang mengurus, semua sudah ada pekerjanya masing-masing. Pekerjaan rumah, makanan, dan semuanya.
Khanza hanya duduk manis di rumah seperti saat ini, sungguh sangat membosankan pikir Khanza.
Khanza memilih berjalan-jalan di sekitar rumah, terakhir ia memeriksakan kandungannya dokter memintanya untuk lebih banyak berjalan di pagi hari agar proses persalinannya berjalan dengan lancar. Khanza masi berharap ia bisa melahirkan dengan normal walau resikonya sangat besar.
"Kamu jangan buat mama sakit ya, sayang. Saat melahirkan kamu. Mama janji, saat kamu lahir nanti mama akan selalu menyayangimu, menjagamu," ucap Khanza bergumam sendiri sambil terus berjalan mengajak berbicara bayi yang ada di dalam rahimnya.
Khanza duduk di taman di samping rumah, melihat tukang kebun yang sedang menggunting rumput yang sudah semakin meninggi.
"Bapak sudah lama bekerja disini?" tanya Khanza pada tukang kebun yang bernama pak Budi.
"Lumayan, Bu. Sudah sekitar 5 tahun," jawab Pak Budi menghentikan pekerjaannya.
"Bapak lanjut saja pekerjaannya saya cuma mau lihat-lihat aja kok, bosan di rumah terus Pak," ucap Khanza ramah.
"Ya sudah, Bu. saya lanjut pekerjaan saya ya, Bu," ucapan Budi sopan.
"Panggil Khanza aja Pak," ucap Khanza yang merasa tak enak di panggil dengan sebutan Ibu, Pak Budi lebih jauh lebih tua darinya mungkin seusia dengan almarhum ayahnya.
"Baik, kalau begitu bapak panggilan Nak Khanza saja. Nak Khanza jika butuh sesuatu bisa bilang sama Pak Budi. Kalau bisa bapak akan bantu," ucap Pak Budi tulus
"Bener ya pak, Khanza simpan lho ucapan bapak, jika suatu saat nanti Khanza butuh bantuan bapak harus bantu ya."
"Iya, Nak. Insya Allah, Bapak akan bantu," jawab pak Budi sudah yang kembali memotong rumput.
"Terima kasih ya, Pak," jawab Khanza.
Khanza melihat bunga-bunga yang sedang bermekaran di sana, sudah beberapa bulan ia tinggal di rumah itu. Namun, tak sekalipun ia menginjakkan kaki di taman ini, taman yang paling indah di rumah ini.
__ADS_1
"Aku kok nggak nyadar ya jika ada teman secantik ini di sini, kalau tahu kan lumayan bisa menghabiskan waktu di sini. Tamannya terlalu indah untuk diabaikan," batin Khanza mengagumi betapa indahnya Taman tersebut, selama ini dia hanya menikmati pemandangan di taman depan rumah saja yang searah dengan kamarnya.
Rumah yang mereka tempati merupakan rumah terbesar di kompleks itu, memiliki taman yang luas, bangunan yang megah belum lagi beberapa kolam ikan dan kolam renang.
****
Sesampainya di kantor Abizar dan Farah menjadi pusat perhatian seluruh karyawan kantor yang sudah datang lebih dahulu. kasak-kusuk di antara para pegawai mulai riuh menyambut kedatangan mereka, Gosip yang menyatakan jika Ibu Farah dan pak Abizar adalah suami-istri semakin diperkuat dengan kedatangan mereka bersama ke kantor dan menggunakan mobil yang sama. Membuat beberapa karyawan percaya dengan gosip tersebut.
Farah dan Abizar berjalan bersama memasuki kantor, lagi-lagi beberapa pasang mata mengawasi setiap langkah mereka. Beberapa karyawan kantor bahkan ada yang mengambil foto mereka berdua secara diam-diam dan langsung memposting ke media sosial masing-masing. Dengan caption Pasangan serasi.
Sinta tak mau kalah, ia mengambil gambar terbaik dan segera mempostingnya, tak lupa ia menandai Khanza dalam postingannya, Sinta tahu jika temannya itu sangat menyukai Bos mereka lebih darinya.
Aqila yang lihat postingan Sinta menjadi khawatir, takut jika Khanza kembali bersedih.
Namun, Aqila membulatkan matanya saat melihat Khanza merespon postingan tersebut dengan emoticon love.
Aqila langsung mengirimi chat pada Khanza, menanyakan perasaanya sahabatnya itu.
****
Khanza yang Sedang duduk di taman mendapatkan notifikasi di ponselnya, ia melihat dan itu adalah posting Sinta yang menandai dirinya.
"HARI PATAH HATI SEKANTOR" tulis Sinta pada postingan nya.
Khanza menghela nafas panjang saat melihat isi postingan tersebut, disana terlihat foto Abizar dan Farah yang berjalan di lobby kantor.
Khanza kemudian melihat postingan lain, hampir semua teman kantor nya dulu memposting hal yang sama.
"Mereka memang pasangan yang serasi," gumam Khanza memberi respon love pada semua postingan itu.
Tak lama setelah itu masuk lagi satu notifikasi pesan dan itu dari Aqila.
Khanza tak membalas chat dari Aqila. Namun, langsung menelponnya.
Aqila yang melihatkan panggilan Khanza sedikit menjauh dari Sinta dan Nindy.
"Khanza kamu baik-baik saja 'kan?" Tanya Aqila setelah mengangkat panggilannya.
"Kamu tenang aja, postingan seperti itu sudah tak membuatku sakit hati lagi, air mataku terlalu berharga jika harus menangisi hal-hal sekecil itu," ucap Khanza tertawa kecil.
"Hal-hal kecil maksudmu diduakan suami maksudmu hanya hal kecil?" Tanya Aqila tak mengerti apa yang terjadi pada sahabatnya itu.
"Bukan itu maksudku, Tentu saja diduakan itu bukanlah hal kecil. Maksudku postingan kalian, semua itu tak akan membuat air mataku mengalir, aku sudah menghadapi lebih dari itu jadi bagiku itu sudah tak masalah lagi."
__ADS_1
"Wah sepertinya Khanza ku sudah lebih dewasa sekarang," ucap Aqila.
"Iya dong, sebentar lagi kan aku akan menjadi seorang ibu, aku ingin memberi contoh yang baik untuk anakku, aku tak ingin terlihat manja nantinya."
"Apa kamu tak ingin mempublish juga hubunganmu dengan Pak Abi?"
"Untuk apa. Agar mereka menghujatku sebagai pelakor begitu?" kesal Khanza.
Aqila tertawa mendengar nada bicara Khanza.
"Iya juga sih, jika mereka tahu kamu adalah Istri Kedua pasti semua akan menghujatmu tanpa mencari tahu kebenarannya, menghujat tanpa tahu masalah yang sebenarnya."
"Tepat sekali," ucap Khanza membenarkan perkataan Aqila.
Tak lama kemudian panggilan Abizar masuk ke ponsel Khanza.
"Aqilah sudah dulu ya, Kak Abi menelpon," ucap Khanza mematikan panggilan telepon Aqila dan mengangkat panggilan dari Abizar.
"Ada apa, Kak?"
"Tolong kamu bawakan ke kantor berkas yang ada di ruang kerjaku, aku tak sengaja melupakannya, ada di atas meja kerjaku, map berwarna merah, cepat ya. Aku sangat membutuhkan nya," ucap Abizar dan langsung menutup teleponnya. Ia sedang ada rapat penting dengan para petinggi dan calon klien baru mereka.
"Halo, Kak," panggil Khanza. Namun, Abizar sudah mematikan panggilan nya.
Khanza melihat perutnya,
"Apa aku harus ke kantor, dan memamerkan perut ku, ini." gumam Khanza.
"Baiklah, ayo kita ke kantor," ucap Khanza menyemangati dirinya sendiri. lalu bergegas menuju kamarnya dan mengganti baju, mengambil berkas yang di maksud suaminya.
Khanza sengaja memakai jaket Hoodie agar bisa menutupi wajahnya, ia tak ingin ada orang kantor yang mengetahui kedatangannya.
💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖
Terima kasih sudah membaca 💗🙏
Jangan lupa like, vote,dan komennya 🙏
Salam Dariku Author m anha, ❤️
Love you all 💕
💖💖💖💖💖💖💖💖💗💗💗💗💗
__ADS_1