
Pagi hari Khanza, Aziel dan Farah sedang duduk di teras rumah, melihat nenek dan kakek sedang menanam sayuran di samping rumah.
Walau mereka memiliki rumah yang sangat besar. Namun, kegemaran nenek dan kakek menanam sayur-sayuran masih saja dilakukannya di lahan samping rumah mereka.
Nenek merasa lebih mudah jika membutuhkan sayur-sayuran, ia bisa langsung memetik dan memasaknya.
Walau anak-anak mereka sudah menyediakan pembantu untuk membantu semua pekerjaan nenek. Nenek masih terus saja melakukan pekerjaan yang ringan, ia merasa sudah terbiasa melakukannya.
Warda yang sudah mulai mengenal beberapa penduduk, berjalan-jalan di sekitar kampung.
Sebuah mobil berhenti di pekarangan rumah mereka, mereka semua langsung melihat ke arah mobil tersebut.
"Siapa ya?" tanya Khanza pada kakek yang tak mengenali mobil tersebut.
Semua mata tertuju pada pintu mobil yang terbuka dan terlihat 1 kaki yang turun dari mobil tersebut.
Orang tersebut membelakang saat menutup pintu, semua memicingkan mata mencoba mengenali siapa sosok yang membelakangi mereka.
Sosok tersebut berbalik dan membuka kacamatanya.
"Aqila …!" teriak Khanza saat mengenali orang tersebut. Ya orang itu adalah Aqila sahabatnya.
"Hai Khanza ...," Aqila melambaikan tangannya juga meneriakkan nama sahabat itu.
Mereka berdua berteriak dan saling berlari menghampiri.
Khanza berlari ingin menghampiri Aqila begitupun sebaliknya. Namun, langkah kaki Khanza terhenti saat seseorang turun dari mobil yang sama yang ditumpangi oleh Aqila.
Khanza membelalakkan matanya saat melihat orang yang datang bersama dengan Aqila adalah Daniel.
Bukan cuman Khanza yang terkejut Farah juga tak kalah terkejut.
Aqila langsung memeluk Khanza yang mematung di tempatnya.
"Kamu kok bisa datang sama Daniel," bisik Khanza saat Aqila memeluknya.
"Dia yang mengajakku datang ke sini," jawab Aqila.
"Apa … yang mengajakmu, tapi untuk apa dia mengajakmu ke sini?" tanya Khanza.
Aqila mengangkat pundaknya, dia juga tak tahu mengapa Daniel mengajaknya.
"Terus kamu nggak kerja dong?" tanya Khanza masih dengan berbisik.
"Aku ambil cuti, selama ini 'kan aku nggak pernah cuti."
"Bagaimana nih, kak Abi nggak suka sama Daniel, kamu kok nggak bilang-bilang sih jika Daniel ingin ke sini?"
"Aku juga nggak tahu kalau kita akan kesini," jawab Aqila semakin memelankan suaranya.
"Maksud kamu?"
"Iya, Daniel tadinya ngajak aku untuk jalan-jalan, ya aku ikut aja. Eh ... tahu-tahunya dibawa ke sini, tapi nggak papa lah aku senang bisa ketemu kamu disini," ucap Aqila santai.
"Kamu nggak takut ikut sama Daniel, main mau aja diajak jalan, ntar kamu diapa-apain gimana?"
__ADS_1
"Ya nggak apa-apa, Orang tampan bin cakep gitu," ucap Aqila yang langsung mendapat toyoran dari Khanza.
Daniel berjalan mendekat ke arah mereka,
Khanza dan Aqila langsung menghentikan diskusinya mengenai Daniel.
" Khanza. Apa kabar?" Sapa Daniel.
"Baik, Kak," jawab Khanza tersenyum canggung, menjawab sapaan Daniel.
Farah langsung mendekat dan memberikan Aziel pada Khanza, memberi kode untuk Khanza masuk.
"Aqila kita masuk, yuk," ajak Khanza pada sahabatnya.
Mereka pun masuk meninggalkan Farah dan Daniel masih berdiri di depan rumah.
"Pak Daniel, ada perlu apa ya, bapak kesini?" tanya Farah.
"Saya …," Daniel baru saja akan menjawab. Namun, nenek sudah memotong pembicaraan mereka.
"Nak Farah, Kenapa temannya dibiarkan di luar. Ayo panggil masuk," ucap nenek menghampiri mereka dan mempersilahkan Daniel masuk.
Daniel tentu saja dengan senang hati menyusul langsung mengikuti Khanza dan Aqila.
Bahkan Daniel tak segan-segan ikut menyusun masuk di ruang tengah dimana Aqila dan Khanza sedang duduk.
"Kenapa Daniel bisa ada di sini, aku harus memberitahu mas Abi," ucap Farah merogoh sakunya, mengambil benda pipih yang ada disana dan segera menghubungi Abizar.
"Semoga saja Mas Abi mau mengangkat panggilanku," ucapnya saat lama panggilannya berdering. Namun, lagi-lagi suaminya itu tak mengangkatnya.
Saat akan menyimpan kembali ponselnya, ponselnya kembali berdering dan dengan cepat Farah melihat siapa yang memanggilnya.
"Mas Abi," ucapnya kemudian langsung mengangkat panggilan itu.
"Halo ada apa?" tanya Abizar saat Farah mengangkat teleponnya.
"Bagaimana? apa Mas sudah tahu siapa yang bar-ulah dengan bisnisku?" tanya Farah.
"Belum. Aku sama sekali belum mendapatkan titik terang sedikitpun, tapi aku akan terus berusaha. Semuanya bungkam dan membuatku kesulitan melacaknya."
"Ya udah ga apa-apa Mas, jangan memaksa diri. Sebaiknya mas pulang sekarang!"
"Pulang, tapi kenapa?" tanya Abizar tak mengerti.
"Mas jangan kaget, ya," ucap Farah.
"Kaget ?" tanya Abizar mengulangi perkataan Farah.
"Iya, Mas Abi sekarang dimana? Lagi ngapain?" tanya Farah terlebih dahulu memastikan posisi suaminya sebelum mengatakan apa yang ingin dikatakannya.
"Mas lagi di jalan, mau pulang ke hotel," jawab Abizar.
"Mas sedang membawa mobil?" tanyanya lagi.
"Iya, ini sebentar lagi juga Sampai."
__ADS_1
"Ya udah, aku telepon setelah mas sampai di hotel," ucap Farah dan langsung mematikan panggilannya.
Abizar melepas earphone di telinganya dan langsung menancap gas menuju ke hotel, tak biasanya Farah mengatakan hal seperti itu, pasti ada hal yang penting pikirnya.
Begitu sampai di parkiran hotel tanpa turun dari mobilnya Abizar langsung kembali menelpon Farah.
"Apa yang ingin kau katakan?" tanya Abizar begitu Farah mengangkat panggilannya.
"Mas sudah sampai?" tanya Farah memastikan.
"Iya, ini Mas udah ada di parkiran Hotel, memangnya ada apa sih, kamu bikin aku penasaran aja. Aziel ga papa 'kan?" tanya Abizar berpikir jika Farah bersikap seperti itu karena sesuatu hal terjadi pada putranya.
"Aziel enggak apa-apa Mas, tapi …,"ucap Farah menjeda kalimatnya.
"Apa yang ingin kau katakan?" Abizar semakin penasaran.
Farah menggigit bibirnya, entah mengapa kata-kata yang ingin diucapkannya begitu sulit keluar dari mulutnya.
"Farah, Sebenarnya ada apa?" tanya Abizar menaikan volume suaranya.
Farah masih diam.
"Farah apa yang kau rahasiakan, mengapa kau sangat sulit berbicara. Ayo katakan ada apa! Jangan membuatku menunggu, kamu sudah tahu 'kan aku tak suka dalam situasi seperti ini," ucap Abizar yang mulai tak sabar.
"Daniel ada di kampung," ucap Farah memejamkan matanya. Memaksa kata-kata itu keluar dari mulutnya.
"Apa …," pekik Abizar mendengar apa yang baru saja diucapkan Farah, istrinya.
"Iya, Mas. Pak Daniel ada di sini, dia datang bersama dengan Aqila."
Abizar melonggarkan dasinya membuka kancing bagian atas kemejanya, seolah dua benda itu mencekiknya dengan bersusah payah ia menghirup oksigen agar paru-parunya yang terasa bergemuruh tenang kembali.
"Apa maksudmu Daniel ada disana, Farah?" tanya Abizar penuh penekanan seakan tak percaya apa yang dikatakan oleh Farah.
"Iya, Mas. Aku berkata jujur, Pak Daniel Baru saja datang bersama dengan Aqila dan sekarang …," Farah kembali menjeda kalimatnya melihat ke arah Khanza dan Daniel yang duduk di ruangan yang sama, walau ada Aziel, Aqila dan nenek ikut bergabung dengan mereka.
"SEKARANG APA?" tanya Abizar tegas.
"Pak Daniel sedang bermain bersama Aziel." jawab Farah.
"Kurang ajar, dasar ya Daniel itu, aku sudah yakin ini semua pasti kerjaannya, dia sengaja mengirimku ke sini dan dia pergi mengacaukan kalian disitu. Lihat saja begitu aku sampai, Aku akan memberi pelajaran berharga padanya," ucap Abizar sudah berada di ambang kesabarannya.
"Aku matikan dulu, aku akan pesan tiket dan pulang sekarang juga," ucapnya.
Abizar langsung mematikan ponselnya dan langsung memesan tiket penerbangan dan kembali ke negaranya.
"Ia yakin kecurigaannya pasti benar, kekacauan yang dialami bisnis Farah pasti disebabkan oleh Daniel.
💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖
Maksih sudah membaca 🙏
jangan lupa like dan komennya.
Maaf ya komennya jarang aku balas, tapi di baca kok, makasih ya🤗☺️🙏
__ADS_1
Aku lagi sibuk 🙈 Bisa mampir ke karyaku " CINTA KEDUA. hanya di FZ 🤫😉 # promo.