
Sebulan kini pencarian Abizar. Namun, ia tak menemukan sedikit pun jejak keberadaan Khanza, membuat ia sangat frustasi.
Selama sebulan ini ia sangat jarang pulang ke rumah, Abizar terus mencari kesana kemari tak jarang ia bahkan tidur di mobil demi mencari Khanza dan putranya.
Pagi ini Abizar pulang dengan penampilan yang sangat acak-acakan.
Warda yang melihat putranya pulang langsung menghampiri.
"Bagaimana, apa ada kabar," tanya Warda.
Abizar hanya menggeleng dan terus berjalan naik ke kamarnya.
Warda kembali ingin bertanya. Namun, Farah menghentikannya.
"Mah, Mas Abi baru saja datang, biarkan dia istirahat dulu. Aku akan bicara padanya. Mama tolong jangan memaksanya untuk mencari Ziel, dia juga sudah berusaha, Mah," ucap Farah meminta pengertian mertuanya.
Warda selalu meminta Abizar untuk segera menemukan Aziel. Ia juga menyalahkan putranya dalam masalah ini.
"Pokoknya mama nggak mau tahu, kalian harus mencari Ziel cucu Mama. Ini sudah 1 bulan, Tapi kenapa kalian belum juga menemukan mereka. Dimana Khanza bawa cucuku," ucap Warda ikut frustasi dibuatnya. Setiap malam ia tak bisa tidur karena merindukan cucu, bayangan tangis dan tawa Aziel terus terbayang di setiap sudut kamarnya.
"Mama yang sabar ya, kita semua sedang mencari Khanza dan Ziel," ucap Farah menenangkan mertuanya kemudian menyusul Abizar naik ke kamar.
"Mas mandi dulu ya, aku siapkan air," ucap Farah masuk ke kamar mandi menyiapkan air mandi untuk Abizar.
Abizar hanya duduk disisi tempat tidur sambil memandang cincin Khanza di telapak tangannya.
"Mas mandi dulu, airnya sudah siap," ucap Farah.
Abizar menggenggam erat cincin Khanza dan menghapus kasar air mata yang sempat menetes, tanpa berbicara ia mengambil handuk yang sudah disiapkan Farah dan menuju ke kamar mandi.
Farah hanya bisa melihat suaminya berjalan masuk ke kamar mandi, hatinya terasa sakit melihat suaminya terlihat jelas jika ia sangat tertekan bahkan Abizar tak sempat merapikan lagi penampilannya.
Entah sudah berapa lama ia tidak mencukur bulu yang menghiasi wajahnya.
"Khanza dimana kamu, cepatlah kembali mas Abi sangat membutuhkan kehadiranmu, dia sangat kehilangan kalian," lirih Farah melihat pintu kamar mandi kemudian menyiapkan pakaian untuk suaminya.
Farah tetap setia menunggu Abizar hingga suaminya itu keluar dari kamar mandi, berjalan dengan lemas duduk disisi tempat tidur.
Abizar menangkup kedua wajahnya dan memijat kepalanya yang terasa berat. Sudah beberapa Hari ini jadwal tidurnya tak beraturan, ia kesana kemari mengunjungi tempat-tempat yang mungkin saja Khanza datangi, ia juga mendatangi beberapa tempat untuk meminta bantuan mencari Khanza. Namun, tetap saja ia tak menemukan jejak sedikitpun.
"Khanza di mana kau," gumamnya mengelus dadanya yang terasa perih.
__ADS_1
Farah mengambil handuk kecil dan membantu mengeringkan rambut Abizar, memberi pijatan ringan di sana seperti biasanya.
"Aku tahu Mas sangat mengkhawatirkan Khanza, tapi Mas juga harus menjaga kesehatan Mas. Kita akan mencarinya bersama-sama, aku yakin kita pasti bisa menemukannya suatu hari nanti, tapi aku mohon jangan seperti ini, Mas. Mas bisa sakit," ucap Farah lembut.
"Aku sudah mencari ke semua tempat, tapi aku tak bisa menemukannya. Apa aku terlalu menyakitinya hingga ia pergi dariku, menyembunyikan dirinya."
"Aku sudah memperingatkanmu untuk berpikir dua kali melakukannya, jika aku dalam posisi Khanza, akupun mungkin akan melakukan hal yang sama. Maaf Mas, kalau aku mengatakan hal seperti itu, tapi Mas sudah sangat menyakitinya mementingkan keinginan Mas dan mengabaikan perasaan Khanza." Masih terus memijat lembut kepala Abizar berkata dengan lembut, tapi mampu membuat Abizar tertampar dengan kata-katanya.
Abizar hanya diam, ia memang salah. Sudah beberapa kali Khanza menolak, tapi ia tetap kekeh untuk memiliki anak lagi.
"Aku sudah konsultasi pada dokter, semua akan baik-baik saja. Jika Aziel mengalami proses persalinan yang sulit belum tentu adik-adiknya juga akan mengalaminya. Aku sudah berjanji padanya akan menemaninya di saat dia hamil sampai melahirkan. Apa itu belum cukup?" ucap Abizar yang merasa dirinya benar.
"Mas, Khanza itu trauma, bukan cuman fisiknya yang harus siap, tapi dia juga harus menyiapkan mentalnya. Kita harus membujuknya secara perlahan bukan seperti ini, dengan membohonginya."
"Jangan bilang aku tak memperingatkanmu, Mas," ucap Farah. Sebenarnya Ia juga jengah dengan suaminya. Namun, semua sudah terjadi.
"Sekarang apa yang harus aku lakukan?" tanyanya. "Bagaimana jika terjadi sesuatu pada mereka di luar sana."
"Apa mereka pulang ke kampung?" tanya Farah.
"Tidak, aku sudah meminta seseorang untuk mencari tahu dan Khanza tak ada disana."
"Ada apa, Mas?" tanya Farah yang melihat Abizar terus menelpon seseorang.
Abizar berfikir jika nomor Khanza tidak aktif pasti nenek dan kakeknya kan khawatir, pasalnya kakek dan neneknya selalu menelpon hampir setiap hari. Kakek dan neneknya pasti tahu dimana Khanza berada.
"Nomor nenek Khanza juga tidak aktif. Apa dia sudah tahu kalau Khanza pergi dari rumah ini," ucap Abizar mencoba menelpon nomor kembali nomor nenek yang selama ini dipakainya, hasilnya sama.
Abizar memutuskan menelpon Pak Hendra, pamannya.
"Halo Pak, apa Khanza ada dikampung?" tanyanya.
Selama ini Abizar hanya menyuruh seseorang untuk mengawasi dari jauh. Apakah Khanza ada atau tidak di rumah kakeknya.
"Maksud kamu apa, Nak? bukannya Khanza bersamamu? Apa dia ke kampung saat ini?" tanya Pak Hendra yang bingung mendengar pertanyaan Abizar yang tiba-tiba. Ia bahkan berpikir Khanza dalam perjalanan.
"Maaf Pak, aku sudah menelpon nenek, tapi ponselnya tak aktif. Apa Nene k baik-baik saja?" tanya Abizar berbasa-basi.
"Apa? Bukankah kakek dan nenek ada bersamamu, sebulan yang lalu ia pamit kepada kami, katanya Khanza memanggilnya. Kami pikir dia ada bersama kalian," jawab Hendra.
"Baiklah terima kasih informasinya, saya tutup dulu," ucap Abizar mematikan telepon dari Pak Hendra.
__ADS_1
Abizar semakin pusing, ia bahkan melempar ponselnya.
"Ada apa mas?" tanya Farah semakin panik melihat ekspresi suaminya.
Abizar terdiam, ia menenggelamkan wajahnya di kedua telapak tangannya. Sejenak dia terdiam. Abizar benar-benar frustasi dibuatnya, ia mencoba mengatur nafasnya antara marah, sedih, kesal bercampur menjadi satu bergemuruh di dadanya.
"Ternyata Khanza tak hanya bersama dengan Aqila saja sekarang, mereka juga bersama dengan kakek dan nenek. Pantas saja tak ada yang menanyakan Khanza pada kita, saat ponsel tak bisa di hubungi.
Abizar kembali teringat sebulan yang lalu saat mereka mencarinya di Bandara.
"Apakah saat itu Aqila ke Bandara untuk menjemput kakek dan nenek Khanza, bukan untuk kabur bersama dengan Khanza keluar kota," batin Abizar yang menggerutu, memaki kebodohannya.
Saat itu, ia hanya memeriksa nama Khanza dan Aqila, tak terbesit dalam pikirannya jika kemungkinan kakek dan nenek yang datang menemui mereka.
"Apa Khanza tak pernah menggunakan kartunya, ini sudah sebulan ia pasti membutuhkan uang untuk tinggal dan untuk makan mereka dan kebutuhan lainnya," ucap Farah.
"Tidak, Khanza tidak pernah menggunakan kartunya, ia mengambil uang cash dan itu jumlahnya tidak sedikit, itu cukup untuk menghidupi mereka bahkan setahun kedepan," Jawab Abizar.
****
Abizar tercengang saat masuk ke ruang kerjanya dan melihat ruangan itu sangat berantakan, lebih berantakan dari kamarnya. Dia juga melihat butiran obat yang disembunyikan olehnya berserakan di lantai membuatnya yakin jika Khanza benar-benar pergi karena kesalahannya.
Abizar juga melihat brankasnya terbuka dan mengeceknya. Hanya tersisa beberapa ikat saja. Abizar sangat bersyukur karena Khanza masih berpikir untuk mengambil uang, setidaknya ia tak akan kekurangan uang saat ini.
Abizar berharap mereka bisa hidup nyaman dengan uang yang khanza bawa.
******
"Apa kemungkinan Daniel juga tak terlibat dalam hal ini?"
"Tidak. Daniel tidak terlibat sama sekali, ia juga tak tau dimana Khanza. Daniel juga mencari khanza sekarang. Mas harus menemukan Khanza lebih dulu dari Daniel. Jika Daniel menemukannya lebih dulu kita akan semakin kesulitan menemukannya."
💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖
Terima kasih sudah membaca 🙏
Jangan lupa like, vote, dan komennya 🙏
Salam dariku Author M Anha ❤️
💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖
__ADS_1