Berbagi Cinta : Mencintai Diriku Dan Dirinya

Berbagi Cinta : Mencintai Diriku Dan Dirinya
Dia Istriku


__ADS_3

"Khanza" ucap Aqila yang sudah melihat Khanza melambaikan tangan padanya, Aqila langsung berlari masuk menghampiri khanza yang sedang berdiri di samping Abizar, mereka saling memeluk.


"Maaf ya, aku terlambat. Aku muter-muter dulu nyari alamatmu!" ucap Aqila melepas pelukannya.


"Iya, nggak apa-apa. Kamu sudah hadir aja aku senang banget," ucap Khanza.


"Wah ... ternyata keluarga dari kampung pada rame, ya!" ucap Aqila yang baru menyadari jika para tamu itu adalah orang-orang yang dari kampung Khanza, Aqila sudah mengenal mereka.


"Ya udah, gih sana, gabung. Semuanya udah pada makan tuh, banyak makanan enak-enak lagi," ucap Khanza menunjuk meja makan yang sudah tersaji beberapa jenis makanan.


"Iya dong, harus. Aku mau kesana dulu ya," ucap Aqila masuk menghampiri Bude dan menyapa mereka semua yang ada di sana.


"Kak, aku ambilin makan juga ya?" ucap Khanza menawarkan makanan kepada Abizar, ia sendiri sudah merasa lapar.


"Tidak usah, nanti aku ambil sendiri saja. Aku masih belum lapar," ucapnya. " Kamu makan lebih dulu."


Abizar mengernyitkan keningnya saat melihat Farah berbicara dengan Daniel di pintu masuk.


Khanza melihat apa yang dilihat oleh suaminya, hingga menimbulkan ekspresi terlihat jelas jika ia tak suka.


Abizar melihat Khanza dengan tatapan bertanya,


"Aku hanya mengundang Aqila. Aku bahkan sudah meminta Aqila untuk tidak memberitahu Daniel," jawaban Khanza cepat, tak ingin suaminya itu menyalahkannya.


"Pergilah bersama dengan yang lain," ucap Abizar berjalan keluar menghampiri Daniel dan Farah.


"Wah Pak Abizar. Anda memang sangat luar biasa, anda membujuk khanza dengan membelikan rumah sebagus ini," ucap Daniel mengagumi rumah Khanza.


"Membujuk? Apa maksud anda membujuk? Ini sama sekali bukan sebuah bujukan, jaga bicara Anda pak Daniel," tegas Abizar yang mulai terpancing emosi.


"Aku masuk dulu, Mas," ucap Farah meninggalkan mereka, Farah tau situasi di antara mereka.


"Tentu saja membujuknya untuk tak pergi darimu pak Abizar, pasti sangat menyenangkan ya, memiliki dua istri. Membandingkan layanan mereka," ucap Daniel tertawa.


Abizar langsung menyeret Daniel menjauh dari rumah, ia membawa Daniel ke taman belakang yang ia yakin tak ada yang akan melihat mereka di sana.


Dengan kasar Abizar menghempas Daniel setelah sampai disana.


"Inikah sambutan untuk tamu?" ucap Daniel merapikan jasnya yang berantakan karena apa yang dilakukan Abizar.


"Dengar ya Daniel, selama ini aku menahan amarahku, tapi hari ini kau benar-benar keterlaluan. Sebaiknya kau pergi dari sini dan berhenti mengucapkan kata-kata seperti itu. Aku punya istri lebih dari satu itu bukan urusanmu." geram Abizar masih mencoba menahan.


"Aku hanya ingin meminta saran darimu, Siapa tahu saja kan aku juga bisa memiliki dua istri. Apa itu saja tak boleh? Berteman sebagai pecinta wanita," ucap Daniel belaga akrab.


Abizar melihat kekiri dan kekanan memastikan tak ada orang yang melihat mereka,


Bukkkg ….


Satu pukulan mendarat cantik di wajah Daniel.

__ADS_1


Daniel yang tak siap dan tak menyangka akan mendapat pukulan seperti itu terhuyung ke belakang, ia bahkan nyaris jatuh. Daniel masih mampu menyeimbangkan tubuhnya.


"Apa-apaan ini pak Abizar," protes Daniel yang mendapat pukulan tiba-tiba.


Abizar kembali berjalan mendekatinya sambil terus melihat ke kiri dan ke kanan,


Bukkkg … bukkg.


Abizar kembali melayangkan kepalan tinjunya ke wajah dan perut Daniel.


Abizar menarik kerah baju Daniel,


"Denger ya, Khanza itu istriku, jadi jangan coba-coba kau mendekatinya atau berniat ingin merebutnya dariku atau …,"


"Atau apa?" ucap Daniel menepis tangan Abizar yang memegang kerah bajunya, membuang cairan merah yang memenuhi rongga mulutnya.


"Kau akan menghajarku seperti tadi?! Aku tak takut pada siapapun, apalagi pria pengecut sepertimu," ucap Daniel samakin mancing Abizar.


"Aku tak peduli kau menganggapku pengecut atau tidak, Tapi aku akan melakukan apa saja demi mempertahankan Khanza, jadi jangan coba-coba mengusik kami."


"Kita lihat saja nanti, berapa lama hubunganmu dengan Khanza akan berlangsung," ujar Daniel bernada merendahkan.


"Baj*ngan kau," ucap Abizar kembali melayangkan pukulannya. Namun, kali ini Daniel yang siap menghindari dan membalas pukulan Abizar.


Emosi sedang memuncak di antara keduanya, mereka pun kembali adu kekuatan di taman itu. Perkelahian mereka seimbang.


"Sudah Pak sudah, apa-apaan ini." Pak Tarno mencoba melerai mereka. Pak Tarno berada di tengah, sebagai pemisah mereka. Pak Tarno tak lupa memanggil satpam yang berjaga saat melewati nya tadi,"


Keduanya masih saling emosi dan saling ingin memukul, Daniel dipegang oleh pak satpam sedangkan Abizar sendiri dihalangi oleh Pak Tarno.


"Sudah Pak, sudah. Kasihan non Khanza kalau kebahagiaannya harus dinodai dengan pertengkaran kalian," ucap pak Tarno." Malu pak, sama keluarga non Khanza yang datang jauh-jauh dari kampung," pak Tarno yang tahu sosok Khanza.


Mendengar nama Khanza disebut oleh pak Tarno, mereka berdua langsung tenang. Daniel merapikan jasnya dan kembali meringis sakitan saat memegang bibirnya yang pecah akibat tinju Abizar.


Abizar juga mendapat luka lebam di tulang pipinya.


"Mari Pak, sebaiknya bapak pulang aja," ucap satpam meminta Daniel untuk kembali ke mobilnya.


"Dony. Jangan biarkan orang ini masuk ke sini, apapun alasannya pastikan dia tak melewati gerbang rumah ini lagi," perintah Abizar pada Dony satpam baru yang bekerja di rumah itu.


"Baik, Pak," ucap Dony kembali ingin menarik Daniel yang masih berdiri di tempatnya.


"Saya bisa sendiri," ucap Daniel menepis tangan Dony.


"Mari Pak, sebaiknya Bapak pulang sekarang," ucap Dony mengusir Daniel dengan sopan.


Daniel melihat Abizar dengan tatapan membunuhnya, kemudian berjalan menuju ke mobilnya pergi meninggalkan rumah Khanza.


"Kali ini kau menang Abizar, tapi aku yakin aku bisa mendapatkan Khanza cepat atau lambat," ucap Daniel meninju stir mobilnya meluapkan. Kekesalannya.

__ADS_1


"Pak Tarno, apa lukaku sangat jelas?" tanya Abizar meringis saat memegang pipinya.


"Iya, Pak. Ada memar di sana," ucap pak Tarno menunjuk luka Abizar. "Mau saya ambilkan kompres, Pak."


"Boleh, Pak. Saya tunggu di sana," ucap Abizar menunjuk bangku taman tak jauh dari tempatnya berdiri.


"Baik, Pak!" Pak Tarno berlari menuju ke dapur.


"Pak Tarno Kenapa? Cari apa?" tanya bibi.


"Saya cari es batu dan kain untuk mengompres, handuk kecil ada, Bi?" tanya Pak Tarno.


"Ada, sebentar saya ambilkan," ucap Bibi mengambil es batu dan kain handuk kecil.


"Ini untuk apa?" tanya bibi menyerahkan kedua benda yang dicari oleh Pak Tarno.


"Nggak, enggak apa-apa. kamu lanjutin aja kerjanya, Pak Tarno kembali berlari menuju ke taman samping dimana Abizar menunggunya.


Bibi dan pak Tarno dulunya Bekerja di rumah lama.


Abizar terus mengompres lukanya, berharap tak ada jejak perkelahian antara dia dan Daniel.


"Dengar ... jika Bapak mengantar Khanza kemanapun dan melihat orang tadi sebisa mungkin Bapak menghindarinya dan menjauhkannya dari Khanza, dia bukan orang baik," ucap Abizar.


"Iya, Pak. Akan saya jaga nona Khanza dari orang tadi."


"Terima kasih, Pak," ucap Abizar.


Setelah lama mengompres lukanya, lebamnya sedikit berkurang.


Sudah dari tadi ponselnya berdering dan itu panggilan dari Khanza.


"Pak Tarno gabung saja dengan yang lain."


"Ya, Pak. Saya pamit masuk dulu," ucap pak Tarno kembali bergabung dengan yang lainnya di dalam rumah menikmati acara yang sedang berlangsung.


Abizar mengangkat panggilan Khanza dan memberitahu keberadaannya.


"Apa yang kakak dilakukan di taman samping?" tanya Khanza sambil berjalan menuju ke tempat yang disebutkan Abizar.


💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖


Terima kasih sudah membaca 🙏


Jangan lupa like, vote dan komennya 🙏


Salam dariku Author M Anha ❤️


💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖

__ADS_1


__ADS_2