Berbagi Cinta : Mencintai Diriku Dan Dirinya

Berbagi Cinta : Mencintai Diriku Dan Dirinya
Dokterku Sahabatku


__ADS_3

Damar adalah seorang Dokter, dan ditempatkan di kota tersebut.


Dia juga berasal dari keluarga Dokter. Ayahnya dan ibunya berprofesi yang sama sebagai seorang dokter. Kakak dan kakak ipar nya juga dokter. Bisa dibilang mereka adalah keluarga yang berkecimpung dalam dunia kedokteran.


Ayahnya Dokter spesialis jantung sedangkan ibunya Dokter spesialis kandungan dan dia sendiri mengambil spesialis anak.


Awalnya Damar merasa kesepian karena tinggal di Apartemen itu sendiri, jauh berbeda saat berada di rumahnya.


Di rumah Damar sangat ramai karena kakaknya memiliki 3 orang anak dan paling bungsu seusia dengan Aziel.


Damar yang memang sangat senang bermain dengan anak kecil, sehingga bisa begitu cepat akrab dengan Aziel, kemampuannya untuk merayu dan berinteraksi kepada anak kecil sangat membantu merebut hati Aziel. Aziel yang terus saja mencari sosok Papanya kini sudah mulai terbantu dengan adanya Damar yang selalu mengajaknya bermain.


"Maaf ya, karena Aziel kamu harus selalu menemaninya. Kamu pasti capek 'kan sepulang kerja," ucap Khanza merasa tak enak pada Damar, terkadang iw tertidur saat menemani Aziel bermain karena kelelahan."


"Aku senang kok bermain bersama Aziel, aku sudah terbiasa menjaga keponakanku."


Damar selama ini membantu mengurus Aziel.


Bahkan saat Aziel terbangun di malam hari dan mencari papa dan Bubunya Khanza akan menelepon Damar untuk menemaninya.


"Aziel terus saja mencari papanya," lirih khanza.


"Sekarang dia sangat merindukan sosok papanya itu wajar, mereka sudah beberapa hari tak bertemu."


"Apa Aziel akan terus seperti ini, menangis mencari papanya?" tanya Khanza melihat Aziel yang sedang bermain dengan Aqila.


"Aku lihat Aziel sangat menyayangi papanya, sudah sebulan mereka tak bertemu keinginan untuk bertemu pasti dirasakannya, tapi seiring berjalannya waktu perlahan-lahan dia akan mulai menyesuaikan diri. Terus saja menemaninya, beri dia perhatian lebih, alihkan perhatiannya dari ingatan tentang papanya, dia akan perlahan melupakan kerinduannya pada Papanya, di usianya yang sekarang."


"Aku kok merasa jahat ya, memisahkan Aziel dari Papanya," ucap Khanza merasa bersalah.


"Itu adalah pilihan, jika memang itu pilihan yang baik untuk kalian aku rasa kau tak sejahat itu. Kau sudah melangkah sejauh ini, kau harus menguatkan hatimu," ucap Damar.


Khanza hanya mengangguk.


Bukan hanya Aziel yang merindukan Sosok Abizar, jujur hati kecilnya juga merindukan sosok suaminya. Namun, ia mencoba untuk menetapkan hatinya melupakan Abizar dan memulai hidup baru bersama putranya.


"Terima kasih ya selama ini kamu selalu membantu kami. Kami tak tahu jika tak ada kamu."


"Tak perlu sungkan, aku sudah menganggap kalian Keluarga, kakek dan nenek adalah orang tuaku juga. Apapun yang kalian butuhkan bilang saja, aku akan berusaha untuk membantu."


Damar sangat membantu, selama ini mereka semua tak pernah keluar dari Apartemen itu, takut jika orang-orang Abizar dan mencari mereka sampai ke sana. Segala keperluan yang mereka butuhkan akan disediakan oleh Damar.


Pernah sekali Aqila yang kehabisan keperluan pribadinya memberanikan diri untuk keluar ke supermarket, dengan menggunakan Khimar. Ia bisa melihat beberapa orang berjas hitam membawa foto mereka dan menanyakan kepada beberapa orang dan menjanjikan imbalan yang besar jika memberi informasi sekecil apapun.


Aqila semakin terkejut ternyata mereka bukan suruh Abizar, tetapi orang suruhan Daniel.


"Aku pamit dulu ya. Aku istirahat mau istirahat. Hari ini aku sangat lelah, tapi kalau Aziel membutuhkan ku, kamu bisa menelpon Ku," ucap Damar berpamitan dan kembali ke Apartemennya.


Aqila menghampiri Khanza begitu Damar pergi.

__ADS_1


"Damar itu baik banget ya?" ucap Aqila.


"Iya, bukan hanya Damar, ayah dan ibunya juga dulu sangat baik saat kita masih jadi tetangga. Aqila sampai kapan kita harus seperti ini. Aku merasa seperti buronan," lirih Khanza memeluk Aziel yang berlari kepadanya.


"Entahlah, pasti saat ini Suamimu masih sedang mencari keberadaan kita. Belum lagi Daniel. Kita tunggulah sampai sedikit tenang dulu, baru kita mencari tempat."


"Mama, Papa mana?" tanya ziel. " Kenapa Ziel bobonya sama mama terus, tidak sama bubu. Kenapa papa tidak bobo sama Ziel lagi. Bobonya sama bubu terus ya, Ziel juga pengen bobo sama Papa," ucap Aziel menatap mamanya.


"Aziel 'kan ada kakek sama nenek, nanti kalau Ziel ikut papa bobo sama bubunya, kasihan kakek ingin bobo sama Ziel. Sekarang bubu lagi sakit, jadi Papa jagain bubu dulu ya. Jika bubu sudah sembuh nanti papa akan datang kesini temui Ziel," ucap Khanza bohong. Ia tidak tahu harus mengatakan apa untuk membuat anaknya tenang. Jika mengatakan kalau bubunya Sakit dan sedang dijaga oleh Papanya Aziel sedikit bisa tenang dan tidak merengek lagi ingin bertemu dengan mereka. Beruntung Aziel juga dekat dengan kakek dan menyayangi kakek. Tak jarang Aziel tidur dengan Kakek.


"Ziel mau bobo sama Om aja."


"Ziel mau bobo sama Om Damar?" tanya Aqila.


Aziel mengangguk antusias,


"Tante juga mau," ucap Aqila yang mendapat lemparan bantal dari Khanza.


"Ngarep dikit gapapa kali, Dokter ko cakep banget sih, aku rela jadi pasien seumur hidup, asal yang rawat om Damar." Kekek Aqila.


"Tante sakit?" tanya Aziel polos.


"Iya, Tante sakitnya disini," ucap Aqila mengambil tangan kecil Aziel menempelkannya ke dadanya.


"Bukannya kamu suka sama Daniel."


"Aku ga ada harapan sama dia, aku nyerah," ucap Aqila menjatuhkan dirinya ke lantai membuatnya Aziel tertawa.


"Aku juga mau buat makan malam dulu."


Aqila beranjak dari duduknya dan menuju ke dapur, sementara Khanza sudah membawa putranya ke kamar.


Malam hari setelah mereka makan malam Khanza menelpon Damar mengatakan jika Aziel ingin tidur dengannya malam ini. Namun, malam ini Damar kebetulan harus berjaga di rumah sakit.


Damar datang ke Apartemen Khanza menemui Aziel.


"Maaf ya Ziel, kita bobo sama-sama lain kali aja ya, Om ada kerjaan malam ini. Om harus menginap di rumah sakit, Aziel anak yang pintar, nggak papa ya, kasihan teman-teman Aziel di rumah sakit banyak yang sakit, om harus mengobatinya," bujuk Damar.


"Tapi besok bobonya sama Ziel ya!" pinta Ziel.


Damar menautkan jari kelingkingnya dengan Aziel.


"Janji, besok Om bobonya sama Ziel, tapi Aziel harus jadi anak yang pintar," ucap Damar yang diangguki oleh Aziel.


Damar pun pergi ke rumah sakit dan Aziel menuruti apa yang Damar katakan, ia bermain bersama dengan Aqila dan Mamanya.


Rasa bosan mulai menghinggapi Aziel, ia selalu meminta ingin keluar bermain. Namun, mereka terus saja melarang dengan berbagai alasan. Damar sudah membeli beberapa mainan untuk Aziel di Apartemen. Namun, ia tetap bosan selalu ada di rumah dan ingin berjalan-jalan.


Malam hari Aziel terbangun dan kembali memanggil Papanya.

__ADS_1


"Ziel, papa 'kan lagi sama bubu, jagain bubu. Ziel sama mama ya," bujuk Khanza, tapi Aziel tetap saja menangis mencari papanya.


Kakek dan nenek ikut menenangkan. Namun, tetap saja tak ada yang bisa membuat anak itu tenang, ia bahkan menjerit menangis memanggil Papanya.


Mereka tidak bisa berbuat apa-apa selain hanya terus membujuk, Khanza bahkan ikut menangis karenanya.


Aziel tak ingin berpindah dari gendongan mamanya, hingga menjelang subuh Aziel barulah berhenti menangis dan tertidur.


Khanza terus menggendongnya, Ia tak mau lepas dari gendongan Khanza membuat mau tak mau Khanza menggendongnya semalaman.


Khanza yang merasa Putranya sudah benar-benar tertidur pulas mencoba secara perlahan membaringkannya di tempat tidur.


Kakek dan nenek serta Aqila sudah tidur di kamar yang sama, semalaman mereka membantu menenangkan.


Khanza bernafas lega saat berhasil memindahkan Aziel dari gendongannya ke tempat tidur.


Khanza menyelimutinya dan memberikannya bantal guling di kedua sisinya. Dengan perlahan Khanza turun dan berlari menuju ke kamar mandi.


"Hoeee…"


Khanza merasa mual dan pusing. Ia terus saja memuntahkan isi perutnya hingga hanya tersisa cairan.


Nenek terbangun saat mendengar suara khanza muntah dan menghampirinya.


"Kamu kenapa, Nak?" tanya nenek khawatir sambil memijat punggung Khanza yang masih mencoba untuk memuntahkan apa yang ada di dalam perutnya.


"Nggak tahu, Nek. Tiba-tiba perut Khanza mual. Apa karena semalaman tidak tidur ya!" ucap Khanza mengira-ngira.


"Sebentar, nenek ambilkan air hangat," ucap nenek berjalan ke dapur dengan terburu-buru. Aqila yang juga terbangun menghampir Khanza sambil membawa minyak kayu putih dan membalurinya ke punggung Khanza.


Wajah Khanza begitu pucat, keringat dingin membasahi wajahnya.


Aqila perlahan membantu Khanza untuk kembali berbaring di tempat tidur di samping Aziel.


"Kamu istirahat saja, mungkin kamu kurang tidur," ucap Aqila yang tahu jika semalaman Khanza tidak tidur dan terus menggendong Aziel.


"Ini minum teh hangat dulu," ucap nenek memberikan segelas Tah hangat pada cucunya yang terlihat sangat lemas.


"Kamu istirahat saja, nanti jika Damar pulang nenek mintakan obat, mungkin kamu masuk angin," ucap nenek.


Khanza kembali berbaring dan mencoba untuk tidur, ia merasa sangat pusing dan mual.


💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖


Terima kasih sudah membaca 🙏


Jangan lupa like, vote, dan komennya 🙏


Salam dariku Author M Anha ❤️

__ADS_1


💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖


__ADS_2