
"Aziel apa mama sedang hamil? Apa di perut mama ada Ade bayi?" tanya Abizar terbata-bata masih berusaha untuk berbicara senormal mungkin walau suaranya terdengar semakin bergetar.
"Iya Papa, di perut Mama ada dede bayi, perutnya goyang-goyang. Dede bayinya suka main dengan Aziel. Dede bayi juga pasti kangen sama papa, papa kok nggak pernah nengokin adek bayi?" tanya Aziel berceloteh dengan polosnya.
Abizar menggigit Bibir bawahnya, ia sungguh tak bisa lagi berkata apa-apa, dia ingin berbicara tetapi suaranya enggan untuk keluar, suaranya seolah tercetak di lehernya.
Abizar menenangkan dirinya dengan melihat ke arah lain, mencoba mengatur nafas dan kembali mendengarkan apa yang dikatakan oleh anaknya.
"Ziel papa ingin bicara sama Om Daniel!" ucap Abizar setelah berhasil menguasai suaranya, Ia sudah tak sanggup lagi untuk berbicara dengan Aziel.
"Om, papa mau bicara," ucap Aziel memberikan ponsel pada Daniel yang sedang fokus menyetir.
Daniel kembali mengambil dan mematikan pengeras suaranya,
"Ada apa?" tanya Daniel.
"Daniel aku mohon pertemukanlah aku dengan mereka? Aku sangat merindukannya. Aku tak peduli apa tanggapanmu padaku, tapi aku benar-benar sangat merindukan anak dan istriku," ucap Abizar yang sangat jelas terdengar jika ia sedang meratap di seberang sana. Iya tak malu lagi dengan Daniel. Abizar hanya berpikir sekarang ia ingin bertemu dengan mereka.
Danie tersenyum sinis,
'Rasa sakit yang kau rasakan tak sebanding dengan apa yang Khanza rasakan, ini belum seberapa,' batinnya.
"Baiklah, datanglah ke jalan X, aku akan mengantar Azial kepadamu, tapi dengan satu syarat. Aku akan mengizinkanmu membawa Aziel, Namun, sore nanti kita bertemu di tempat yang sama. Aku harus membawa Aziel kembali ke khanza, aku sudah berjanji padanya," ucap Daniel.
"Tentu saja, aku akan membawa Aziel kembali padamu. Saat ini Khanza sedang hamil, aku tak akan mungkin menyakiti perasaannya lagi. Aku benar-benar menyesal telah melakukannya."
"Berpikirlah sebelum bertindak, penyesalanmu tak ada gunanya Tuan Abizar," ucap Daniel mematikan panggilannya.
Tak ada sedikitpun rasa kasihan di hati Daniel. Walau iya tahu seberapa terpuruk dan sakitnya Abizar saat ini. yang ada dipikiran Daniel saat ini bagaimana caranya agar ia bisa memisahkan Khanza, membebaskan Khanza dari Abizar. Dengan cara yang baik-baik mengingat mereka tak hanya berdua. Namun, ada Aziel dan calon bayi yang akan lahir yang mengikat mereka.
Setelah panggilannya terputus Abizar langsung segera menuju ke jalan yang dikatakan Daniel, saat akan keluar ia bertemu dengan Farah.
"Mas, ada apa? kenapa kamu berlarian?" tanya Farah menghalangi jalan Abizar.
"Daniel menemukan khanza," ucap Abizar.
"Apa, lalu di mana mereka sekarang?" tanya Farah.
Daniel memintaku untuk menemaninya tidak jalan X, kita kesana sekarang," ucapnya lalu mereka berdua berjalan cepat menuju mobil dan pergi ke jalan X.
Sepanjang perjalanan Farah terus meneteskan air mata, walau selama ini ia terlihat tegar dan berusaha untuk membuat suaminya tak terpuruk atas kepergian Khanza, jauh di lubuk hatinya Ia juga merasa sangat terpukul, merasa sangat merindukan sosok Aziel dan khanza, merasa bersalah dengan apa yang terjadi. Namun, Ia tetap diam dan terus berharap semua akan baik-baik saja.
Abizar mengendarai kendaraannya cukup kencang sehingga mereka sampai lebih dulu di tempat yang dimaksud oleh Daniel.
"Mas dimana mereka?" tanya Farah yang sudah tak sabar dan tak melihat siapapun di sana.
"Mungkin masih dijalan," jawab Abizar.
__ADS_1
"Bagaimana Daniel bisa menemukan khanza dan Aziel?" Tanya Farah.
"Aku juga tak tahu, sepertinya semalam Daniel lebih cepat menemukan Khanza dibanding aku. Aku harap dan dia bisa menepati janjinya untuk membawa Aziel menemui kita."
"Hanya Aziel?" tanya Farah.
"Iya hanya Aziel, Khanza sepertinya belum mau bertemu dengan kita dan saat ini khanza sedang hamil.
"Apa … hamil?"
"Iya dia sedang hamil dan sekarang dia pasti sangat ketakutan. Aku merasa sangat bersalah dan merasa bodoh tak bisa mendampinginya. Aku tak bisa membayangkan bagaimana keadaan Khanza saat mengetahui jika ia sedang hamil dan bagaimana ia selama ini menjalani hari-harinya," sesal Abizar.
"Selama ini mereka tinggal di mana?" tanya Farah lagi.
"Entahlah, aku juga belum tahu, tapi aku harap dimanapun mereka berada mereka bisa bahagia."
Abizar berdiri saat melihat mobil Daniel mendekat menghampiri mereka.
"Papa …. Bubu…," teriak Aziel saat melihat mereka, ia mengeluarkan kepalanya di jendela saat mobil sebentar lagi akan sampai..
"Ziel," teriak Farah langsung berlari menghampiri Aziel walau mobil itu belum berhenti, begitu juga dengan Abizar.
Daniel memarkirkan mobilnya, dengan cepat Farah mengeluarkan Azeil dari mobil dan memeluknya, mencium seluruh wajah putranya itu, tangisnya pecah dan membawa Aziel ke dekapannya.
"Anak bubu, bubu sangat kangen sama Aziel," Farah kembali menciumi seluruh wajah Aziel.
Abizar mengambil Aziel dari gendongan Farah dan mendekapnya, ia tak bisa berkata apa-apa untuk meluapkan segala rasa senangnya, ia mengecup lama kening putranya dan terus mendekapnya dengan penuh kasih sayang.
"Papa sayang sama Aziel," ucapnya kemudian kembali mengecup kening putranya.
"Daniel Terima kasih kau telah membawa Aziel pada kami. Aku sangat merindukan Putraku," ucapnya pada Daniel yang baru keluar dari mobil.
"Aku akan menjemput jam 5 sore nanti,
Aziel, Om pergi dulu, Nanti Om jemput lagi ya," ucap Daniel yang dijawab anggukan oleh Aziel yang kini memeluk leher papanya dan melambaikan tangan pada Daniel..
Daniel kembali masuk ke dalam mobilnya dan Abizar juga berlalu dari sana, menggendong Aziel menuju ke mobil mereka dengan menggenggam tangan Farah.
Sesekali mereka terlihat bercanda membuat Aziel tertawa dan terlihat jelas jika Abizar sangat senang bertemu dengan putranya, dengan ia terus menciumi wajah Putranya berkali-kali
Daniel yang melihat semua itu tersenyum miris, dia saja merasa sakit melihat pemandangan itu, ia tak bisa membayangkan bagaimana perasaan Khanza selama ini melihat suaminya begitu bahagia dengan wanita lain.
Daniel mencengkram tangannya di setir mobilnya.
"Abizar, Abizar. Bagaimanapun usahamu untuk membagi cintamu kepada mereka berdua, itu tak akan mampu membuat mereka berdua bahagia. Kau harus memilih salah satu dari mereka, cintamu itu membuat mereka tersakiti," gumam Daniel kemudian melajukan mobilnya menuju ke tempat lain, ia masih ada hal yang harus diurusnya.
Abizar membawa Aziel ke taman bermain, di sana mereka bermain bersama meluapkan rasa kerinduan mereka, mereka terus membahagiakan Aziel memenuhi apa yang diinginkan. Waktu mereka hanya sebentar, beberapa jam saat ia harus mengembalikan Aziel pada khanza.
__ADS_1
"Mas apa Khanza belum mau kembali kepada kita?" tanya Farah.
"Sepertinya Khanza masih marah, itulah sebabnya dia lebih memilih memperlihatkan dirinya pada Daniel, meminta bantuan Daniel. Aku tak tahu apa rencana Daniel.
"Kenapa Mas tak menanyakan Dimanakah Khanza berada!"
"Aku tak bisa menanyakannya, itulah syarat yang aku setuju untuk mempertemukan Aziel pada kita."
Waktu mereka sudah habis, mereka harus membawa Aziel kembali pada Daniel.
"Sekarang apa yang akan kita lakukan?" tanya Farah memeluk Aziel seolah tak ingin memberikan Aziel kembali pada Daniel.
"Kita tak bisa berbuat apa-apa, untuk saat ini kita turuti saja apa yang Daniel katakan."
"Mas aku masih ingin bersama dengan Aziel," ucap Farah mengeratkan pelukannya saat melihat Daniel yang sudah menunggu mereka.
Abizar memarkirkan mobilnya menggenggam tangan Aziel, mengecup nya penuh sayang.
"Sebaiknya untuk saat ini kita mengalah dan memberikan Aziel pada Daniel, aku akan bicara pada Daniel memintanya untuk bertemu dengan khanza."
Abizar kembali mengecup Putranya yang tertidur di dekapan Farah sebelum turun dari mobil.
Mereka keluar dari mobil dan menuju ke Daniel, Farah meletakkan Aziel di jok belakang, Aziel sedang tertidur pulas.
Farah melihat wajah polos putranya itu kemudian mengecup keningnya.
"Bubu Sayang Ziel, baik-baik ya disana, Nak. Jaga mama dan Ade," ucapnya sebelum menutup pintu mobil.
"Daniel aku mohon pertemukan aku dengan khanza," mohon Abizar.
"Daniel tolong jangan seperti ini, biarkan Kami berbicara dengan khanza. Membicarakan masalah ini secara baik-baik," ucap Farah yang ikut mohon.
Daniel membuka pintu mobilnya dan memberikan sebuah amplop coklat kepada Abizar.
"Aku akan menghubungimu jika Aziel ingin bertemu lagi dengan kalian, tapi aturannya tetap sama seperti ini," ucap Daniel kembali masuk ke dalam mobilnya dan pergi dari sana, tak menghiraukan permintaan mereka.
"Apa itu, Mas?" tanya Farah.
Abizar membuka Amplop yang ada di tangannya, amplop yang diberikan oleh Daniel. Alangkah terkejutnya mereka saat mengetahui jika itu adalah surat gugatan cerai.
"💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖
Terima kasih sudah membaca 🙏
Jangan lupa like, vote dan komennya 🙏
Salam dariku Author M Anha ❤️
__ADS_1
💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖