Berbagi Cinta : Mencintai Diriku Dan Dirinya

Berbagi Cinta : Mencintai Diriku Dan Dirinya
Aksi Aqila.


__ADS_3

Abizar mengulurkan tangannya meminta ponsel Aqila, yang disembunyikannya di balik tubuhnya.


Aqila menggeleng, tetap mempertahankan


Ponselnya.


"Aqila berikan padaku, jika kamu memang tak ada hubungannya dengan Khanza, kenapa kamu tak memberikan ponselmu?"


"Ini ponsel saya, Pak. Bapak tidak berhak untuk melihat isi ponsel saya," jawab Aqila tetap mempertahankan ponselnya.


"Berikan ponselnya," Aqila berjalan mundur menjauhi Abizar saat Abizar semakin mendekat.


Abizar semakin curiga Aqila dengan sikapnya yang seperti itu. Abizar langsung mengambil ponsel Aqila dan secara paksa.


"Mereka pasti berkomunikasi sebelum Khanza meninggalkan rumah," Pikirnya.


Sialnya Aqilah tak memberi kode pada ponselnya, membuat Abizar bisa dengan mudah langsung mengacak-ngacak isi ponsel Aqila. Abizar langsung pada kotak pesan yang ia yakin mereka akan melakukan komunikasi lewat pesan.


Abizar membaca semua pesan Aqila, dari Khanza. Namun, semua hanya obrolan biasa tak satupun pesan dari Khanza yang membahas kepergiannya.


Abizar juga mengecek panggilan keluar dan masuk. Mereka berkomunikasi 2 hari yang lalu, setelahnya tak ada lagi panggilan mereka.


"Apa selama 2 hari ini Khanza tak pernah menghubungimu?" tanya Abizar melihat pada Aqila.


Aqila dengan cepat mengangguk ,"Tidak, Pak kami tidak pernah berkomunikasi" jawabnya sambil memainkan kemejanya.


Abizar kembali memberikan ponsel Aqila dan keluar dari ruangan itu.


Sepertinya tak ada gunanya Ia menanyakannya pada Aqila. Walaupun ia tahu pasti Aqila akan menyembunyikan Khanza darinya.


"Fahri, terus awasi Aqila kemanapun dia pergi," ucap Abizar pada Fahri.


"Tolong kau urus dulu perusahaan, aku akan mencari Khanza," tambahnya.


Walau tak mengerti, Fahri tetap mengiyakan apa yang diperintahkan oleh Abizar, saat ini Bosnya itu sedang terlihat sangat kesal dan menyiakan semua perintahnya adalah jalan terbaik.


Sementara di ruang rapat semua kembali masuk ke dalam ruangan dan menatap Aqila. Mereka ingin bertanya. Namun, semua masih syok dengan apa yang terjadi.


Mereka keluar dari ruangan itu. Namun, semua mengintip dari balik dinding kaca, melihat apa yang dilakukan Abizar dan Aqila di dalam ruang rapat, walau mereka tak bisa mendengar apa yang mereka bicarakan.


"Ya ampun, laptop ku," ucap salah satu karyawan melihat nasib laptopnya.


"Tenang saja, nanti akan diganti dari kantor," ucap salah satu yang memimpin rapat tadi.


Semua kembali membereskan ruangan rapat itu.

__ADS_1


"Maaf Pak, saya permisi dulu," ucap Aqila keluar dari ruangan itu dengan cepat iya berlari ke kamar mandi dan melihat ponselnya.


Aqila bernafas lega saat melihat pesan dari kang cilok tak dibuka oleh Abizar


"Untunglah aku menyimpan nomor Khanza dengan nama lain," ucap Aqila bernapas.


"Tapi, kenapa Khanza terus menelponku dan pesan apa dikirimnya," batin Aqila dengan cepat ia menelpon kembali nomor kang cilok yang tak lain adalah Khanza.


"Halo Khanza, ini aku. Kenapa kamu menelponku?" tanya Aqila begitu Khanza mengangkat teleponnya.


"Maaf. Aku ganggu ya?" tanya Khanza menyesal.


"Nggak, kok. Lain kali kalau kamu ada perlu miscall saja sekali, biar aku yang menghubungimu. Jangan pernah mengirim pesan. Oh ya pesan apa yang kamu kirim tadi? Aku belum membukanya. Ingin jangan pernah kirim pesan."


"Memangnya kenapa dengan pesan ku?" tanya Khanza.


"Nggak, Nggak apa-apa kok. Emangnya pesan apa yang kamu kirim?" tanya Aqila lagi ya tak ingin memberitahu jika baru saja suaminya mengamuk padanya.


Aqila tak ingin jika Khanza khawatir dan tak mau melibatkannya lagi dalam urusannya. Ia sangat tau bagaimana sifat baik dan polos sahabatnya itu.


"Iya, tadi aku mengirim pesan jika nenek dan kakek ku sedang menuju ke sini, mereka sudah tahu masalahku. kamu bisa 'kan menjemput mereka dan membawanya ke sini?" tanya Khanza.


"Bagaimana ya, tadi aku tak sengaja mendengar jika Pak Abizar menyuruh orang mengikutiku, takut saat aku menjemput nenek Suamimu melihatku."


"Terus gimana dong?"


"Iya, ya. Tapi siapa yang akan menjemput kakek dan nenekku?" tanya Khanza khawatir.


"Biar aku yang mengurusnya, kamu telpon saja yang mereka untuk melakukan penyamaran dan memberitahuku dimana posisi mereka."


"Sudah dulu ya, aku tak mau ada yang curiga kalau kita sedang bicara," ucap Aqila menutup panggilannya saat merasa ada orang yang masuk ke kamar mandi.


Khanza mencoba menelpon nomor nenek tapi sepertinya mereka masih di atas pesawat nomornya belum aktif.


"Aku kirim pesan saja," ucap Khanza mengirim pesan meminta neneknya untuk menghubunginya jika ia sudah sampai.


"Bagaimana ini, siapa yang harus aku minta tolong menjemput mereka, harus orang yang benar-benar dipercaya, tapi siapa," ucap Aqila yang mondar-mandir di depan toilet


"Apa aku pesan taksi online aja ya buat mereka, tapi nggak, ah! nanti mereka hilang lagi, jaraknya lumayan jauh gimana ya," batin Aqila bertanya-tanya.


"Aku harus coba dulu," ucap Aqila memutuskan untuk menjemput sendiri nenek dan kakek Khanza, dia tidak punya siapapun yang bisa dipercayainya.


Aqila langsung keluar kantor naik ke taksi yang sudah dipesannya sebelumnya.


Saat dalam perjalanan Aqila bisa melihat jika Fahri mengikutinya.

__ADS_1


"Ternyata benar Pak Fahri mengikutiku," gumam Aqila melihat mobil Fahri berada di belakang nya.


"Pak, kita ke mall dulu ya," ucap Aqila memiliki rencana.


"Bapak tunggu sini ya, Aku nggak lama kok, Pak!" ucapnya pada supir taksi.


"Iya, nanti saya tungguin," ucap sopir tersebut.


Aqila segera turun dari taksi kemudian berkeliling Mall, ternyata Fahri juga terus saja mengikutinya.


Aqila berpura-pura belanja di sebuah toko pakaian, ia membeli sesuatu disana


Aqila kemudian menuju ke kamar mandi dan lagi-lagi Fahri juga mengikutinya sampai kesana.


Fahri berdiri tak jauh dari pintu kamar mandi, ia tak boleh melewatkan sedikitpun yang bisa membuat ia kehilangan jejak Aqila.


Sudah 30 menit Fahri menunggu diluar. Namun, Aqila tak juga keluar.


"Kenapa Aqila lama sekali," batin Fahri mencoba mendekat pada seseorang yang baru saja keluar.


"Permisi Bu, apa di dalam masih ada orang lain?" tanya Fahri.


"Nggak ada siapa-siapa di dalam, pak. nggak ada orang lagi!" ucap Ibu tersebut.


"Apa Ibu yakin, di dalam tak ada orang lagi?"


"Iya, Pak. saya yang terakhir, kalau aku tidak percaya silahkan masuk dan l lihat saja ke dalam, sudah tidak ada siapa-siapa didalam," ucapnya.


Fahri langsung masuk ke dalam kamar mandi wanita dan melihat ternyata benar, sudah tak ada siapa-siapa.


"Kurang ajar kamu Aqila, kau mengelabui Ku," ucap Fahri dengan cepat berjalan keluar dan melihat taksi yang tadi ditumpangi oleh Aqila juga sudah tak ada.


"Berarti dia sengaja ingin menghilangkan jejaknya, di sini. Kenapa aku tak kepikiran untuk mencatat nomor taksinya," gumam Fahri menggaruk kepalanya.


Fahri menelpon Abizar menceritakan apa yang terjadi padanya. Abizar memintanya untuk Periksa CCTV.


"Aqila ternyata benar Khanza bersamamu, lihat saja. Aku pasti akan menemukan kalian," ucap Abizar semakin memperluas pencariannya, ia meminta dibantu pada beberapa orang detektif bahkan pihak kepolisian juga digerakkan untuk mencari keberadaan Khanza.


💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖


Terima kasih sudah membaca 🙏


Jangan lupa like vote dan komennya 🙏


Salam dariku Author M Anha.

__ADS_1


💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖


__ADS_2