
Mereka terus menunggu pesan mereka terkirim. Menunggu kabar dari Abizar. Namun, tak juga ada hasil.
"Sebaiknya kita tidur, mungkin besok mas Abi baru menghubungi kita," ucap Farah yang melihat sedari tadi Khanza terus saja menguap.
"Iya Mbak, aku udah ngantuk," jawab Khanza Kembali menguap. Menahan kantuknya.
Lama menunggu akhirnya mereka pun menyerah, mereka ikut tidurlah terlelap bersama Aziel, Khanza memeluk putra itu, Aziel yang merasakan pelukan mamanya juga ikut mengeratkan pelukannya.
Malam ini mereka kembali tidur bertiga.
Saat tengah malam Farah terbangun, ia sangat khawatir dengan Abizar, mengapa suaminya itu tak menghubunginya,
"Apakah memang dia belum membaca pesanku," batin Farah kemudian merangkak mengambil ponsel yang ada di atas nakas.
Farah melihat Aziel dan Khanza yang masih tertidur lelap, Ia memperbaiki selimut menutupi tubuh mereka, udara di kampung sangatlah sejuk walau tanpa menggunakan AC, mereka masih merasa kedinginan. Apalagi kamar mereka berada di lantai dua rumah itu.
Farah berjalan ke balkon kamar, saat membuka pintu, ia bisa merasakan hembusan angin menerpanya, ia kembali menutup pintunya, udaranya benar-benar bertiup dengan kencang dan suhunya menusuk hingga ke tulang.
Farah duduk di sofa yang ada di sana, mencoba melihat pesannya. Pesan yang dikirim ke nomor Abizar, Apakah sudah terkirim atau tidak. Apakah suaminya itu sudah membacanya atau belum.
"Ke mana mas Abi, Kenapa pesanku belum juga di bacanya, apa dia sangat sibuk mengurus masalahku," pikir Farah cemas. "Semoga mas Abi baik-baik saja disana," gumam Farah semakin khawatir, ia kemudian mencoba menghubungi kembali nomor Abizar. Namun, kali ini ponselnya sudah tak aktif lagi membuat Farah semakin khawatir.
"Halo Fahri! Apa seharian ini kamu melakukan kontak dengan mas Abizar?" tanya Farah saat menelpon Fahri.
"Tidak, seharian ini aku sibuk mengurus kantor, aku tak pernah berkomunikasi dengannya, memangnya ada apa, Bu?" tanya Fahri yang mendengar suara kecemasan dari Farah.
"Aku hanya khawatir saja, sedari pagi aku menelponnya, tapi tak di angkatnya, pesanku pun tak dibaca apalagi dibalas dan Baru saja aku mencoba menghubunginya nomornya sudah tidak aktif. Apa kau tak mendengar informasi sedikitpun tentang keberadaannya?" tanya Farah pada Fahri asisten kepercayaan Abizar, saat berada di negaranya jika dalam urusan pekerjaan hampir setiap saat mereka selalu bersama mengerjakan pekerjaan kantor bersama-sama.
"Tidak Bu, kami tidak pernah melakukan komunikasi, mungkin saja pak Abizar sedang sibuk dengan pekerjaannya disana sehingga tak sempat menghubungi Ibu, aku yakin dia akan baik-baik saja," ucap Fahri mencoba menenangkan, ia tau bagaimana bosnya itu saat bekerja, ia tak ingin di ganggu.
"Semoga saja itu benar," ucapnya, "Ya udah, makasih ya, Fahri. Maaf sudah mengganggumu," ucap Farah kemudian mematikan panggilannya.
Farah melihat jam di ponselnya ini sudah jam 2 dini hari, ia terus berharap Abizar akan menelponnya setelah membaca isi pesan darinya.
Jauh di luar negeri.
Abizar masih kesana kemari, menemui beberapa rekan bisnis Farah yang ia yakini mereka mendapat imbalan dari orang yang menyuruhnya, bukan lagi mengajak atau meminta penjelasan dari mereka Ia hanya ingin tahu siapa orang yang menyuruhnya. Namun, mereka tetap bungkam dan tak mau memberitahu dengan beralasan Ia juga tak tahu. Mereka hanya diberikan perintah melalui orang yang tak mereka kenal.
__ADS_1
"Aku pasti bisa mencari siapa kau sebenarnya," Abizar tak putus asa mencari tahu, banyak rekan bisnis mereka yang sama sedikit memudahkannya mencari informasi.
****
Menjalang subuh Khanza terbangun, hal yang pertama dilihatnya adalah ponselnya, dia melihat pesannya ternyata pesannya sudah terkirim dengan cepat dia menghubungi nomor Abizar.
Nomornya sedang sibuk, "Kenapa nomornya sedang sibuk, kak Abi menelpon siapa," gumamnya menatap layar ponselnya.
Khanza melihat Aziel yang masih tertidur nyenyak, ia memberikan kecupan pada putranya itu.
"Mbak Farah kemana ya," gumamnya saat Farah sudah tak ada disana kemudian berjalan menuju balkon, ia merasa ada seseorang balkonnya dan ia yakin itu pasti Farah.
Khanza berjalan mendekat dan ternyata benar, ia melihat itu memang Farah dan sedang menelpon.
Khanza mendekat dengan rambutnya yang masih acak-acakan.
"Mbak sedang menelpon mas Abi?"tanya Khanza.
"Iya, ini mas Abi," ucapnya menepuk sofa disampingnya meminta Khanza untuk ikut duduk bersamanya kemudian ia mengaktifkan pengeras suara.
"Mas kemarin kemana aja? Kami hubungi kok nggak pernah diangkat?" tanya Khanza.
"Maaf ya, kemarin aku sangat sibuk. Aku akan coba menyelesaikan semuanya dengan cepat dan menyusul kalian ke kampung kakek. Oh ya, kamu jangan terlalu membiarkan Aziel bermain lumpur seperti itu, Bagaimana jika Iya nanti sakit," ucap Abizar.
Semalam saat ia pulang ke hotel, ia melihat ponsel sudah mati, ia mengisi ulang dayanya kemudian mandi.
Setelah selesai ia kembali mengaktifkannya, melihat begitu banyak chat dari Khanza dan cuma 1 chat dari Farah yang memintanya menghubunginya jika telah membaca pesan tersebut.
Abizar melihat ada kiriman Video dan beberapa foto dari Khanza.
Abizar tertawa saat melihat foto mereka yang bermain dilumpur.
Abizar semakin tertawa saat memutar video nya. Walau hanya bermain lumpur Aziel terlihat sangat bahagia.
Rasa lelahnya sehari hilang sudah setelah melihat mereka khususnya melihat putranya yang begitu menggemaskan.
Rasa lelahnya berubah menjadi rasa kangen dan ingin segera bergabung dengan mereka.
__ADS_1
"Enggak kok kak, Aziel kuat ga mungkin akan sakit jika hanya bermain lumpur, aku aja sering main lumpur waktu kecil," jawab Khanza.
"Kamu dan Aziel itu berbeda," goda Abizar.
"Iya, Iya. Aku tahu aku ini gadis kampung yang suka sudah biasa bermain dengan lumpur berbeda dengan anak kamu," ucap Khanza bernada tak suka.
"Sudahlah aku mau mandi dulu ya Mas," ucap Farah yang malas mendengar percakapan mereka, ia memberikan ponselnya kepada Khanza kemudian ia masuk dan bersiap untuk mandi.
Farah yang sudah tak bisa tidur lagi terus aja menunggu, sampai pesan yang terkirim dan saat menjelang adzan subuh pun terkirim. Farah yang melihat pesannya terkirim langsung dengan cepat menghubungi Abizar menanyakan keadaannya.
"Maaf mas benar-benar sibuk kemarin." Jawab Abizar dari banyaknya pertanyaan Farah.
Abizar menceritakan semua apa yang dialaminya, bagaimana kondisi Bisnisnya saat ini, membuat Farah sangat khawatir dengan nasib bisnisnya. Namun, Abizar terus meyakinkan jika ia akan menyelesaikannya Secepat mungkin.
Abizar menenangkannya dan berjanji akan memulihkan kembali.
"Mas tidak usah terlalu memaksakan diri, Apa perlu aku ke sana membantu Mas?"
"Tidak usah, kamu jagalah Aziel dan Khanza. Aku akan segera menemukan siapa pelakunya.
"Tapi mengapa ya Mas, perasaan aku tak pernah mengganggu bisnis orang lain," ucap Farah.
"Aku juga berpikiran yang sama, kita sama sekali tidak pernah membuat masalah dengan orang lain. Orang yang ada di pikiranku saat ini adalah Daniel.
"Mas tidak boleh berpikiran seperti itu, jika kita tak punya bukti. Mungkin saja itu bukan perbuatan Daniel."
"Justru itu sekarang aku sedang mencari bukti, jika benar semua ini perbuatan Daniel aku tak akan segan-segan membuat perhitungan dengannya.
💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖
Terima kasih sudah membaca 🙏
Jangan lupa like dan komennya 🙏
sambil menunggu update terbaru bisa mampir dulu ke karya teman ku,🙏
__ADS_1