Berbagi Cinta : Mencintai Diriku Dan Dirinya

Berbagi Cinta : Mencintai Diriku Dan Dirinya
Season 2: bab 29


__ADS_3

Sesampainya di rumah, Mentari melihat ibunya dan juga dua orang lainnya yang selama ini membantunya membuat kue pesanan untuk di antarkan besok. Mereka sudah selesai, terlihat mereka semua sedang membereskan peralatan untuk membuat kue.


"Bu, nanti saja Mentari yang bereskan, Mentari ingin membuat satu kue lainnya untuk Azriel," ucap Mentari membuat ibunya pun mengangguk dan memilih untuk beristirahat begitupun dengan dua orang lainnya yang sejak pagi bekerja di sana, mereka memilih untuk pulang.


Ibu Mentari sengaja memilih orang-orang untuk membantunya yang berasal dari sekitaran tempat mereka, agar memudahkan mereka untuk datang, tak usah menggunakan alat transportasi untuk sampai ke sana begitupun saat sudah malam mereka bisa pulang ke rumah mereka masing-masing. Membantu membuat kue bukanlah hal yang sulit.


Mentari pun mulai membuat kue untuk Azriel, setelah membersihkan diri. Namun, ia tak konsentrasi, ia bahkan salah memasukkan jumlah telur pada adonannya dan yang paling parahnya di dalam kocokan telur itu terdapat cangkang telur, sepertinya Mentari memasukkan cangkangnya dan membuang isi telur tersebut saking tak konsentrasinya.


"Mentari, apa yang kamu lakukan, Nak?" tanya Rusmi yang melihat apa yang putrinya itu lakukan.


"Aku ingin membuat kue buat Azriel, Bu. Aku yang tadi salah memberikannya kue, aku mau membuat kue yang lain untuknya dan aku berikan besok," jawab Mentari masih menyalakan mixer untuk mengocok adonan tersebut.


"Kue resep apa yang menggunakan cangkang telur seperti ini," ucap ibu mengambil mixer yang dipegang oleh Mentari, mendengar itu Mentari langsung melihat adonan yang ada di dalam wadahnya. Ia juga sangat terkejut, mengapa ia memasukkan cangkang telur ke dalam adonan tersebut, ia pun langsung menatap ibunya.


"Sudah ganti yang lain, ini buang saja. Memangnya kenapa kamu bisa tak konsentrasi seperti ini? Apa ada masalah?" tanya Rusmi, ini untuk pertama kalinya ia melihat putrinya itu tak konsentrasi untuk membuat kue yang akan diberikan kepada seseorang ataupun membuat kue pesanan orang, bagi mereka kepuasan pelanggan adalah yang utama.


"Nggak apa-apa, Bu. Ini Mentari akan lebih hati-hati lagi," ucapnya.


"Sudah, mungkin kamu capek, Nak. Kamu istirahat saja, ini biar ibu yang bikin."


"Nggak, Bu. Mentari tak capek kok, Ibu yang pasti capek. Mentari akan konsentrasi dan tak akan membuat kesalahan, Ibu istirahatlah lagian Mentari hanya buat satu kok, nggak akan lama," ucap Mentari bersih keras membuatnya, ibu pun mengangguk.


Sebelum pergi, Rusmi menyediakan bahan-bahan yang akan digunakan untuk membuat kue yang akan dibuat oleh Mentari, bahkan ibu terlebih dahulu memecahkan telur yang akan digunakan oleh putrinya itu, takut jika sampai Mentari kembali membuat kesalahan dengan memasukkan cangkang telurnya.


"Ingat hati-hati memasukkannya, jika salah rasanya akan berbeda," ucap ibu sekali lagi sebelum pergi, membuat Mentari pun mengangguk dan kembali mencampurkan semuanya. Mentari mencoba untuk konsentrasi melupakan apa yang sejak tadi dipikirkannya, apalagi jika bukan pernyataan cinta Azriel padanya.


Begitu semua sudah selesai, Mentari sudah memasukkan kue tersebut ke dalam oven dan mengatur waktunya. Ia pun duduk di kursi dan menatap oven tersebut dengan tangan yang menopang dagunya.


"Apa aku salah jika aku menolak Azriel, mengapa rasanya aku seperti orang yang justru ditolak. Rasanya kok sakit," gumam Mentari mengusap dadanya.

__ADS_1


Di saat ia memikirkan masalah penolakannya pada Azriel, sebuah notifikasi pesan dari Dewa masuk ke ponselnya, seperti biasa Dewa selalu menyapanya di malam hari dan membahas hal-hal yang tak penting.


"Apa kamu punya kekasih?" tanya Mentari membuat Dewa di seberang sana mengerutkan kening membaca pesan tersebut.


"Memangnya kenapa, kamu ingin menjadi kekasihku?" tanya Dewa dengan nada bercanda, terlihat dari emoticon tertawa yang tertera di akhir pesannya.


"Apa kamu mencintai kekasihmu?" tanya Mentari lagi.


Dewa yang melihat Mentari tak menanggapi candaannya membaca kembali pesan itu, sepertinya Mentari saat ini sedang dalam mode serius.


"Aku tak punya kekasih, aku belum menemukan wanita yang cocok dan nyaman untukku, emangnya kenapa? Apa ada orang yang menyatakan perasaannya padamu?" tanya Dewa.


"Iya, dia baru saja menyatakan perasaannya padaku, tapi aku menolaknya."


"Jika kamu memang tak menyukainya nggak apa-apa kok ditolak, daripada kamu menjalaninya. Namun, dengan terpaksa, itu bahkan akan menyakiti dirimu sendiri juga pria itu," balas Dewa.


"Tapi yang aku lakukan sebaliknya, aku juga mencintainya, tapi aku menolaknya dan alhasil aku yang merasa sakit hati sendiri. Aku konyol banget kan?"


"Masalahnya kami itu sangat berbeda. Ibarat kata kami itu bagai bumi dan langit, kamu tahu sendiri kan aku bekerja keras untuk menghasilkan uang bahkan untuk membayar pendidikanku, sedangkan dia ... Ya gitu deh," ucap Mentari tak melanjutkan tulisannya.


"Apa dia anak orang kaya? Apa ada yang memandang rendah dirimu dari keluarganya?" tanya Dewa.


"Hee ... Mengapa kamu bisa tahu?" tanya Mentari dengan tanda tanya yang begitu banyak di akhir pesannya.


"Aku juga pernah mengalami hal itu, jadi aku sangat paham. Aku pernah menyatakan perasaan pada seorang wanita, tapi seseorang mengatakan hal-hal yang menyinggung perasaannya dan akhirnya dia menolakku dan yang menyakitkan aku baru tahu hal itu setelah 2 tahun dia menolak pernyataan cintaku. Jika aku tau saat itu, tentu saja aku akan mempertahankan cintaku dan akan terus mengusahakan agar aku memilikinya."


"Lalu?" tanya Mentari yang justru penasaran dengan kisah cinta Dewa.


"Lalu apa? Aku hanya hidup dalam penyesalan dan juga kecewa pada orang yang menghinanya."

__ADS_1


"Nggak ada kata terlambat jika kamu memang masih mencintainya, mengapa kamu tak mengungkapkannya kembali dan meyakinkan padanya jika kamu menerima dirinya apa adanya."


"Aku kan sudah bilang itu semua sudah terlambat, dia bahkan sudah menikah dengan orang lain. Aku baru tahu jika waktu itu dia menolakku karena adanya sebuah tekanan dari orang lain, setelah kami sudah berpisah. Aku memilih keluar negri waktu itu. Aku baru tau semua itu dari orang yang menghina wanita yang aku cintai. Dia meminta maaf, tapi semua sudah terlambat. Setelah aku menemui wanita itu ia bahkan sudah hamil anak orang lain, sangat menyakitkan kan?"


"Sangat. Kamu kasihan sekali. Apa itu alasannya kamu masih belum punya pacar?"


"Hmmm ... Aku ingin menjalin hibungan dengan orang yang mencintaiku dan mau berjuang akan cinta kami."


"Jika kamu berada di posisiku, apa yang akan kamu lakukan?" tanya Mentari.


"Jika aku menjadi dirimu, menjadi wanita yang ditekan, aku tak akan menjadi wanita bodoh yang menuruti apa yang dikatakan oleh seseorang yang menekankanku. Semua ini adalah hidupku, ini adalah cintaku selagi pria itu juga mencintaimu apa yang kamu takutkan. Jika waktu itu wanita yang aku cintai mengatakan semua itu padaku, jika ia dalam tekanan. Tentu saja aku akan melakukan apapun untuk bisa bersamanya, bagiku dia adalah sesuatu yang sangat berharga."


"Apa menurutmu aku juga berharga untuknya?"


"Tentu saja. Kamu tak tahu bagaimana sakitnya mendapat penolakan dari orang yang benar-benar kita cintai dan lebih sakit lagi saat kita tahu jika dia mencintai kita, tetapi dia menolak hanya karena perbedaan yang kamu katakan tadi."


Mendengar itu Mentari terdiam.


"Jika memang kamu mencintainya dan pria itu juga mencintaimu. Mengapa kamu harus mendengarkan ucapan orang lain. Jika kamu yakin dia pria yang baik untukmu katakan saja apa alasanmu menolaknya, jika memang pria itu mau mempertahankanmu, dia mencintaimu dia akan memperjuangkanmu. Pria itu tak akan peduli siapapun yang menentang hubungan kalian."


"Tapi dia sudah dijodohkan dengan wanita lain."


"Apa dia mau? Apa dia setuju dengan perjodohan itu? Tidak kan? Jika dia setuju dia takkan menyatakan perasaannya padamu."


"Iya juga, tapi."


"Tak ada kata tapi, jika dia kembali menyatakan perasaannya padamu atau bahkan meminta penjelasan mengapa kamu menolaknya katakan saja yang sebenarnya, katakan apa yang mengganjal di hatimu. Jika dia memang tak mau memperjuangkanmu setidaknya kamu tak akan merasa menyesal di kemudian hari dan begitupun dengan pria itu, ia akan tahu alasan sebenarnya dan dari situ juga kamu bisa melihat jika cinta dia memang mencintaimu dengan tulus atau hanya sebuah kata-kata saja," terang Dewa. Entah mengapa mendengar Mentari juga dalam posisi wanita yang pernah dicintainya membuat ia merasa kesal, ia kesal pada seseorang yang menganggap status sosial adalah sesuatu yang bisa menghambat kebersamaan mereka.


Mentari menghela napas panjang, bersamaan dengan itu kue yang dimasaknya juga telah matang.

__ADS_1


"Baiklah, terima kasih sarannya. Aku akan melakukan apa yang kamu katakan," ucap Mentari.


__ADS_2