Berbagi Cinta : Mencintai Diriku Dan Dirinya

Berbagi Cinta : Mencintai Diriku Dan Dirinya
Gugatan Cerai


__ADS_3

Sudah tiga hari Khanza tak memperbolehkan mereka masuk ke dalam rumahnya, melewati gerbang rumahnya.


Bahkan Khanza tak pernah lagi mengangkat telepon dari Abizar.


"Mah, Papa kok ga pernah nelpon lagi ya?" tanya Aziel yang merasa kangen dengan papanya.


"Papa mungkin lagi sibuk sayang, Ziel main sama mama aja ya!" rayu Khanza.


Aziel pun mengangguk dan bermain bersama mama dan adiknya.


Khanza mengerjakan semua pekerjaan kantornya di rumah dan meminta Aqila mengurus di kantor. Ia masih butuh waktu untuk kembali ke kantor.


Abizar kali ini benar-benar bingung harus berbuat apa, sudah tiga hari ia terus aja menunggu di depan gerbang. Namun, hasilnya Khanza tetap tak mengijinkan masuk walau dengan alasan ingin bertemu dengan Aziel dan Aisyah.


Abizar sedang di kantor, beberapa hari ini tidak bekerja membuat pekerjaannya sangat menumpuk. Saat sedang sibuknya pintu ruangannya diketuk dan masuklah Fahri bersama dengan seseorang.


"Silahkan duduk, Pak! Abizar mempersilahkan orang tersebut duduk sedangkan Fahri kembali ke ruangannya.


Perkenalkan nama saya Rendra, saya pengacara yang ditunjuk oleh ibu Khanza untuk mengurus perceraian kalian," ucapnya memperkenalkan diri membuat Abizar tersentak kaget.


Abizar mengambil berkas yang diberikan oleh pengacara tersebut dan membacanya.


Ia bisa melihat Nama Khanza sebagai penggugat perceraian.


"Jika Khanza ingin bercerai minta dia menemuiku terlebih dahulu."


"Ibu Khanza tak ingin bertemu dengan Anda dan telah menyerahkan semuanya pada tim kami."


"Aku tak akan menceraikan Khanza sampai kapanpun." Merobek surat pengajuan perceraian tersebut.


"Saya akan menyampaikan pesan Anda. Walau tanpa persetujuan Anda kami akan tetap mengajukan gugatan tersebut ke pengadilan, jadi mohon kerjasamanya, agar semuanya bisa berjalan damai dan mengambil keputusan yang tak merugikannya kalian."


"Sampai kapanpun akan tak akan menandatangani surat perceraianya itu," ucap Abizar memandang kesal pada Pengacara tersebut.


"Anda pasti sudah tau apa yang akan terjadi jika Anda mempersulit pekerjaan kami. Kalau begitu aku permisi dulu, aku hanya mengingatkan jika Khanza sudah mulai aneh.


Melihat tamu Abizar keluar, Fahri masuk dan menghampiri Abizar yang terlihat sangat kacau.


"Ada apa?" tanyanya.


"Sepertinya Khanza benar-benar akan mengakhiri semua kami, dia akan kembali melanjutkan gugatannya."


"Apa Daniel yang ada di belakangnya?"

__ADS_1


"Entahlah, tapi sepertinya Daniel tak melakukannya. Ia juga tak diizinkan bertemu dengan Khanza. Aku rasa pak Matteo kembali turun tangan."


"Pak Matteo bukan orang sembarangan, ia pasti akan memisahkan kalian dengan atau tanpa persetujuanmu."


"Apa yang harus aku lakukan agar bisa memperbaiki rumah tanggaku?" tanyanya merasa sangat frustasi.


Pengacara tersebut langsung ke kantor dan menemui Khanza.


Mereka sudah menduga semua ini akan terjadi, tapi tim pengacara sudah menyiapkan semuanya. Mulai dari bukti dan saksi yang memberatkan Abizar dan akan mempermudah jalan mereka.


"Nanti akan ada tahap mediasi, apa Ibu akan menemuinya?" tanya pak Rendra.


"Apa aku boleh tak bertemu dengannya?"


"Sebenarnya boleh saja, Bu. Tapi alangkah baiknya jika Ibu menemuinya dan membahas permasalahan kalian agar tak ada lagi yang memberatkan kalian berdua setelah perceraian nanti, tak ada lagi masalah yang tak terselesaikan. Pak Abizar juga mengatakan jika Ibu ingin bercerai dengannya dia ingin bertemu dengan Ibu terlebih dahulu."


Khanza berpikir sejenak.


"Pak Abizar juga menolak menandatanganinya dan mengatakan tak akan menceraikan Ibu. Saran saya temui beliau dan sampaikan alasan sebenarnya Ibu ingin mengakhiri hubungan rumah tangga kalian, jika Pak Abizar tetap menolak itu urusan kalian, kamu akan pastikan Anda akan bercerai," ucap pak Rendra menjelaskan.


"Apa prosesnya akan lama?"


"Kami akan melakukannya secepatnya."


Abizar kembali di rumahnya saat sudah tengah malam penampilannya sangat kacau dari biasanya ia bahkan kembali menenggak alkohol untuk menghilangkan segala bebannya.


Warda berjalan masuk menghampiri Abizar di kamarnya.


"Sejak kapan kamu minum seperti ini? Mama tidak suka! jangan pernah melakukannya lagi!"


"Aku tak minum banyak, Mah. Aku hanya minum sedikit," jawabnya melepas dasi dan kancing bagian atasnya juga di kedua pergelangan tangannya.


"Sebenarnya apa yang membuat kamu seperti ini, kenapa akhir-akhir ini kamu semakin kacau saja?"


"Khanza kembali melanjutkan pengajuan sidang cerai pernikahan kami, sekarang dia bahkan sudah mempersulitku bertemu dengan anak-anak."


"Anak-anak?" tanya Warda, ia tak tahu jika Khanza dan anak-anaknya sudah pindah ke kota yang sama dengan mereka. Yang ia tahu Khanza dan anak-anaknya masih ada di kampung halaman kakeknya.


"Iya, Mah. Khanza dan anak-anaknya sudah ada di kota ini, ia bekerja di kantor. Aku sering bertemu dengan Aziel dan Aisyah, tapi sudah seminggu ini Khanza tak mengizinkan ku bertemu dengan mereka dan hari ini Khanza kembali melanjutkan gugatannya.


"Apa ... jadi cucuku ada di kota ini dan kamu tak memberitahu Mama?" Kesal Warda.


"Aku hanya tak ingin membuat situasi semakin runyam, Mah. Tadinya aku berpikir aku akan bisa membujuk Khanza dan kembali ke rumah, tapi ternyata aku kembali membuat kesalahan dan justru malah membuatnya semakin marah padaku."

__ADS_1


"Kamu ini benar-benar ya, besok antar Mama ke sana! Mama ingin bertemu dengan cucu mama."


"Khanza tak mau membuka pintu untuk kita, Mah."


"Dia tak membuka pintu untukmu, Siapa tahu saja Khanza mengizinkan Mama. Lagian kesalahan apalagi yang kamu perbuat. Apa kesalahan yang lalu tak menjadi pelajaran buatmu untuk bersikap lebih sabar kepada istrimu itu!"


Abizar tak menjawab pertanyaan Mamanya, mana mungkin dia menjawab jika dia memaksa Khanza untuk melayaninya, itu sungguh sangat memalukan.


"Sudahlah, besok pagi antar Mama ke tempat Khanza! Mama sudah sangat merindukan cucu Mama. Kamu selama ini menemuinya, tapi tak memberitahu Mama," kesal warda meninggalkan anaknya itu.


Warda melihat rumahnya, rumah yang dulu ramai kini terasa sangat sunyi, hanya Ia dan Abizar yang tinggal di rumah yang sangat besar itu. Membuat kesunyian semakin mencekam dirasakannya.


Di kediaman Khanza.


Khanza sedang berdiri di balkon kamarnya melihat pemandangan dari tempat itu, ia jadi teringat masa-masa indahnya dengan Abizar saat mereka menikmati malam sambil melihat bintang.


"Pernah menjadi istri kak Abi akan menjadi kenangan yang takkan pernah terlupakan, walau terasa menyakitkan, tapi Khanza selalu bersyukur sudah pernah menjadi istri, Kak," ucapnya melihat ke arah bintang-bintang yang seolah tersenyum padanya dan menekan dadanya yang terasa perih.


"Apa kamu yakin akan melanjutkannya?" tanya Aqila yang masuk dan berdiri di sampingnya, ikut menikmati indahnya kerlap-kerlip bintang yang menghiasi langit malam dan merasakan dinginnya hembusan angin yang menerpa kulit mereka.


"Iya, aku sudah memikirkannya dan aku sudah yakin. Perceraian ini akan terjadi, aku ingin hidup lebih tenang, mungkin akan ada kebahagiaan lain yang akan menghampiriku." menghirup udara dan menghembuskannya dengan sangat perlahan. Aku sudah merasa senang pernah hidup bersama kak Abi dan memberiku 2 malaikat kecil." ucapnya tersenyum melihat Aqila.


Aqila membalas senyumannya dan mengusap punggungnya


"Aku takkan menyesal dan yakin inilah keputusan yang tepat untukku." Kembali melihat bintang. "Apa kau tahu? Apa yang aku rasakan saat menantikan pertemuan kembali dengan kak Abi saat masih kuliah dulu? Karena sangat merindukannya Aku bahkan pernah berucap jika aku ingin dipertemukan kembali dengan kak Abi walau hanya sejenak. Aku tak menyangka kata-kataku itu benar-benar terjadi, kak Abi hadir di hidupku hanya sementara."


Aqila memeluk sahabatnya itu dari belakang.


"Apa kau tahu apa yang ku pikirkan tentang mu dari dulu hingga sekarang? Kau sudah banyak berubah, Khanza yang manja dan cengeng kini sudah menjadi Khanza yang kuat, seorang ibu yang kuat. Aku yakin kita pasti bisa melalui semua ini. Aku akan selalu ada untukmu."


"Benar, masih banyak hal lain yang bisa membuat kita bahagia. Aku akan menjadi Ibu yang kuat untuk anak-anakku, aku bukan Khanza yang manja lagi. "Khanza merasa sudah lebih yakin dan menerima semuanya.


💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖


Terima kasih sudah membaca 🙏


Salam dariku Author M Anha 🥰🤗


💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖


Mampir kak ke karya temanku 🙏


__ADS_1


__ADS_2