Berbagi Cinta : Mencintai Diriku Dan Dirinya

Berbagi Cinta : Mencintai Diriku Dan Dirinya
SAHABAT KU


__ADS_3

Mata Khanza membulat sempurna saat melihat postingan dari akun nya, Khanza yakin itu adalah postingan yang dikirim oleh Abizar saat di mobil tadi.


"Kenapa kak Abi malah memposting seperti ini sih, gimana kalau aku makin di bully nantinya," ucap Khanza khawatir, ada rasa sedih di hatinya melihat postingan foto itu. Khanza baru melihat foto pernikahannya dan foto pernikahan Farah yang berdampingan dengan pria yang sama. Sangat miris, keduanya terlihat sangat bahagia.


Khanza kemudian membaca tulisan yang menyertakan foto tersebut.


"Pantas saja mereka semua meminta maaf padaku, ternyata kak Abi menulis seperti ini," gumam Khanza tersenyum, ia merasa bahagia saat mengetahui tindakan Abizar, ia merasa dilindungi dari mereka semua.


Bagaimana tidak mereka semua minta maaf pada khanza, di dalam tulisan tersebut Abizar mengancam akan memecat mereka bahkan jika masih ada yang berani menghina istrinya dia akan menuntutnya dengan ancaman pencemaran nama baik.


Khanza kemudian memeriksa postingan yang sebelumnya, mereka juga sudah menghapus semuanya.


"Kalau diberi ancaman begini baru kan kalian bungkam, kalian seenaknya saja menghina, maki, dan menghujat orang tanpa memikirkan perasaan orang yang kalian hujat. Jika kalian memang tak bisa menahan untuk menghujat setidaknya Cari tahulah terlebih dahulu informasi yang kalian dapatkan, informasi itu benar atau salah, apakah orang itu pantas dihujat atau tidak," geram Khanza menunjuk-nunjuk layar ponselnya. Ia merasa sangat geram dengan semua teman-temannya, di saat dia senang mereka semua datang. Namun, di saat ia susah dan terkena masalah bukannya mereka membantu beberapa dari mereka malah ikut menghujatnya.


Mencari teman memang mudah dalam pergaulan, tapi mencari teman yang benar-benar tulus menyayangi kita mau berbagi suka dan duka dengan kita memanglah sangat sulit. Khanza bersyukur memiliki teman seperti Aqila yang selalu menemaninya di saat suka dan duka, Aqila selalu mendukungnya di saat ia senang maupun sedih.


Khanza melihat jam di ponselnya, sudah menunjukkan jam istirahat kantor. Khanza merasa kangen dengan sosok sahabatnya itu, dia pun menelpon Aqila.


Nada dering terhubung dan panggilan pun tersambung.


"Halo Aqila," ucap Khanza. Namun, panggilannya langsung dimatikan.


"Kenapa dimatikan, apa dia sedang sibuk," batin Khanza menduga-duga melihat layar ponselnya. Namun, tak lama kemudian panggilan video dilakukan oleh Aqila, Khanza tersenyum dan langsung mengangkat panggilan video tersebut. Namun, senyumnya tiba-tiba menghilang saat melihat wajah marah dari Nindi dan Sinta.


Ya, Nindi dan Sinta mengambil ponsel Aqila saat melihat panggilan Khanza tertera di layar ponsel Aqila.


Nindi langsung mengalihkan panggilan ke panggilan video dan mengarahkan layarnya ke wajah mereka berdua, mereka sangat geram dengan Khanza yang merahasiakan pernikahannya dengan Pak Abizar, sedangkan selama ini Nindi dan Sinta terkadang membantunya untuk masuk keruangan bos mereka, terkadang mereka membantu mengalihkan satpam yang Sedang berkeliling.  


Sinta masih ingat betul bagaimana saat ia harus berpura-pura merayu pak satpam karena mereka hampir ketahui, saat Khanza masuk ke ruangan bos mereka.


Khanza akan masuk secara diam-diam dan mereka bertiga yang bertugas mengawasi satpam dan karyawan yang baru datang.


Khanza melihat raut wajah marah dari Sinta dan Nindi, Khanza tersenyum kaku.


"Jangan coba-coba mematikannya," ucap Nindi saat melihat tangan Khanza mencoba mematikan panggilannya.


Khanza yang mendengar ucapan Nindi langsung menghentikan tangannya dan berpura-pura menyelipkan rambutnya ke belakang telinga.


"Hai kalian ... Apa kabar,  lagi ngapain?" tanya Khanza berpura-pura Ramah.


"Mereka pasti ingin menanyakan mengapa aku tak memberitahu mereka tentang pernikahan ku. Bagaimana ini, alasan apa yang harus aku katakan," batin Khanza mencari-cari jawaban yang tepat agar kedua temannya itu tak marah padanya.

__ADS_1


Namun, dugaannya salah. Wajah mereka berdua berubah menjadi wajah sedih, " kamu yang sabar ya," ucap Nindi.


"Kenapa … kenapa! Ada apa?" tanya Khanza memastikan jika dia tak salah pendengaran.


"Yang sabar ya. Aku tahu kamu pasti sangat menderita saat ini, aku nggak nyangka pak Abizar melakukan semua itu padamu," tambah Sinta.


Khanza mengerti jika mereka berdua tak marah padanya, tapi justru kasihan dan ikut sedih dengan kondisi pernikahannya, membuat wajah Khanza yang tadinya ceria kembali murung, bersedih.


"Khanza kamu jangan bersedih dong, kamu kan sudah menikahi orang yang kamu sayangi. Sekarang sebaiknya kamu melakukan hal-hal yang kamu sukai, kamu jangan terus bersedih kasihan kan bayi Kamu," ucap Nindi berkata bijak.


"Iya aku sudah menikah dengan Kak Abi, tapi," ucap Khanza menghentikan ucapan.


"Tapi ... dia," ucap Khanza menggantung.


"Tapi apa, tapi dia membohongi kamu, dia sudah menikah tapi dia menikahi kamu lagi, pak Abizar memang brengsek, tukang tipu, tukang kawin," garam Sinta yang langsung mendapat tatapan tajam dari Windi dan Aqila.


"Bener itu, brengsek, pembohong tapi kenapa aku masih saja mencintai nya," ucapnya sedih.


"Kalian tahu, semakin aku berpikir untuk berpisah dengannya aku meresa semakin sakit akan kehilangannya, rasanya lebih sakti dari yang aku rasakan saat ini. Kenapa sih kita harus merasakan yang namanya cinta, kenapa kita tak  bisa mengendalikan perasaan cinta kita," ucap Khanza berkaca-kaca, berbicara sambil memanyunkan bibirnya.


"Ya, itulah cinta. Cinta itu buta, tak melihat jika orang yang saling mencintai kadang tersakiti," sahut Sinta.


"Terus, apa rencana kamu selanjutnya?"


Mereka terus berbincang-bincang, Aqila yang sudah tahu semua permasalahannya hanya diam dan mendengarkan apa yang mereka bahas.  Mendengarkan apa yang mereka katakan.


"Oh ya, Apa kalian sudah melihat postingan dari akun ku?" tanyakan Khanza.


"Hmm tentu saja, soalnya kantor yang tadinya kasak-kusuk menggosipkan mu setelah melihat postingan itu mereka semua seolah tak pernah mendengar kabar tentangmu. Semua pura-pura tak pernah tahu jika kamu adalah istri kedua dari pak Abizar.  Posting pak Abizar sepertinya sangat ampuh untuk membungkam mereka semua," jawab Sinta.


"Iya, kami sudah melihatnya, dan asal kau tahu orang-orang yang sudah menghinamu tadi terus saja meminta kami untuk menyampaikan permintaan maafnya kepada mu," sahut Aqila yang sedari tadi diam.


Ya, semenjak tersebarnya postingan itu beberapa karyawan yang tadinya menghina Khanza mendatangi Aqila dan memintanya untuk menyampaikan permintaan maafnya kepada Khanza, karena mereka tak pernah bisa dihubungi dan chatnya tak dibalas oleh Khanza.


Mereka takut jika Khanza marah padanya dan mengadukannya pada Abizar.


Bukannya meladeni mereka, Aqila justru memberi ceramah kepada mereka agar lain kali mereka lebih hati-hati dalam memposting sesuatu, karena itu bisa membahayakan untuk mereka sendiri jika postingan mereka menyakiti orang lain.


Saat mereka sedang berbincang-bincang santai lewatlah Pak Abizar dan ibu Farah di samping ruangan mereka.


Mereka terlihat sedang berbincang-bincang dan sekali tertawa membuat ketiga orang yang sedari tadi memperhatikannya merasa geram. Rasa kagum Sinta dan dan Nindi pada sosok Abizar berubah menjadi rasa kesal karena telah melakukan semua itu kepada Khanza.

__ADS_1


Sinta ingin mengarahkan kameranya pada mereka berdua. Namun, langsung ditahan oleh Aqila dan memberinya tatapan tajam.


Khanza  melihat layar ponselnya yang sudah tak jelas mengernyitkan keningnya.


"Hai kalian … kalian masih ada disana?" sahut Khanza memanggil mereka.


"Iya, iya. Kami masih ada, maaf ponselnya jatuh," ucap Sinta kembali mengarahkan ponselnya pada mereka.


Tadinya Sinta ingin mengarahkan kameranya kepada Abizar dan Farah yang sedang berjalan di hadapan mereka, Aqila langsung memukul tangan Sinta yang  membuat ponsel Aqila yang dipegangnya terjatuh ke lantai. Untung saja hanya retak.


Sinta mengusap-usap layar ponsel Aqila, "Duuuh …. ponselmu jadi rusak nih," gerutu Sinta yang melihat ada retakan di ponsel itu.


Panggilan dimatikan.


Aqila ini gimana nih layar ponsel mu rusak bukan karena aku ya," ucap Sinta tak mau di salah kan.


"Nggak apa-apa tuh, tinggal ganti layar depannya aja lagi. Kamu sih tengil banget," menunjuk Sinta ," kita berusaha untuk menghibur Khanza, kamu malah ingin memperlihatkan bagaimana suaminya bahagia dengan madunya," ucap Nindi.


"Iya nih, Kamu nggak peka banget sih," sahut Aqila. "Terus gimana dong ponselku." Memperlihatkan ponselnya yang retak.


"Minta ganti sama Khanza aja, Khanza kan sudah jadi nyonya Bos sekarang," sahut Sinta.


"Nggak, Ah! Aku ganti sendiri aja," gumam Aqila mengusap-usap layar ponselnya.


Abizar berjalan dengan santai bersama dengan Farah keluar kantor, mereka akan menghadiri rapat berikutnya.


Semua karyawan yang mereka lewati hanya bisa melirik tanpa berkomentar. 


Ada yang senang melihat kebahagiaan mereka, ada juga yang merasa kasihan pada Khanza yang pernah dekat dengan mereka.


💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖


Terima kasih sudah membaca 🙏


Jangan lupa like, vote, dan komennya 🙏


Mampir ke karya ku yang lainnya ya kak🙏🤗


Salam dari ku Author M Anha ❤️


Love you all 💕💕💕

__ADS_1


💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖


__ADS_2