
Pagi hari Mentari sudah bersiap untuk mengantar kue-kuenya, di mana semua teman-temannya sudah mengatakan jika untuk mengantar kue-kue tersebut ke kampus saja, mereka akan langsung mengambilnya di kampus.
Mentari pun menghubungi Azriel jika ia akan membawa kue pesanannya pagi ini, karena kemarin ia mengatakan jika akan membawanya sepulang dari kampus.
"Kamu ada kan di rumah?" tanya Mentari begitu Azriel angkat panggilannya.
"Iya, aku ada di rumah kok. Ya sudah aku tunggu," ucap Azriel, saat Mentari menyampaikan maksudnya. Mendengar suara Mentari di pagi hari membuat moodnya menjadi bersemangat. Ia pun dengan hati-hati turun dari tempat tidur.
"Azriel, kamu mau ke mana, Nak?" tanya Khanza yang langsung menghampiri putranya itu, membantu putranya untuk duduk di sofa yang ada di ruang tv.
"Bu, nanti Mentari akan datang untuk membawa kue pesananku, tolong suruh masuk ke sini dulu ya bawa kuenya. Aku kangen padanya, aku ingin melihatnya," ucap Azriel membuat Khanza mengangguk, ia mengusap tangan putranya, sebegitu cintanya kah putranya itu pada gadis itu.
Putranya itu baru saja sembuh, walau dokter mengatakan dia bisa istirahat di rumah. Namun, tetap saja ia harus masih terus istirahat dan mendapat penanganan dari dokter, ia harus rutin melakukan pemeriksaan. Beruntung keluarga mereka memiliki dokter pribadi yang akan datang setiap pagi dan sore hari untuk memastikan kondisi Azriel baik-baik saja.
"Ya sudah, istirahat di sini saja ya jangan jalan-jalan dulu, ingit kara dokter," ucap Khanza membuat Azriel pun mengangguk. Ia dengan tak sabar menunggu Mentari datang, sesekali ia melihat ponselnya berjaga-jaga jika ada pesan dari Mentari.
Tak lama kemudian sebuah notifikasi masuk di ponsel Azriel, yang mengatakan jika Mentari sudah ada di depan pintu utama kediaman tersebut, satpam sudah memintanya untuk segera masuk.
"Ya sudah, tunggu sebentar," ucap Azriel kemudian memanggil asisten rumah tangganya untuk membuka pintu, mengatakan jika di luar ada yang mengantar kue dan memintanya untuk mengantarnya langsung padanya. Asisten rumah tangga tersebut pun mengerti dan segera keluar sesuai dengan perintah majikannya.
Tak lama kemudian Mentari pun masuk dengan senyum manisnya sambil membawa dua kotak kue yang sudah dipesan Azriel.
"Ayo sini, aku lihat kuenya dulu," ucap Azriel membuat Mentari pun membawa kotak kue itu di depan Azriel. Azriel terlihat masih dengan hati-hati dengan lukanya.
"Bagaimana, kamu suka kan dengan hiasannya? Aku lupa memberitahunya kamu ingin seperti apa jadi aku pilihkan seperti ini saja. Apa kamu keberatan?" tanya Mentari dengan ragu-ragu.
"Tentu saja, tak masalah kok. Aku yakin pilihanmu pasti yang terbaik."
"Bagaimana keadaanmu?"
"Aku baik. Makasih sudah membawa kuenya sendiri. Aku senang bisa bertemu denganmu. Aku merindukanmu."
__ADS_1
"Kamu ini ngomong apa, sih! Ya sudah, aku pergi dulu ya, yang lain juga sudah menunggu. Alhamdulillah banyak yang pesan kue ini walaupun harganya mahal," ucap Mentari begitu ia sudah mengambil uang 500.000 yang diberikan oleh Azriel.
"Iya, terima kasih ya, moga usahamu semakin sukses," ucap Azriel membuat Mentari mengaminkannya.
Azriel sangat senang, tak peduli jika uang 500.000 hanyalah sebuah alasan agar Mentari datang ke rumah mengantar kue tersebut.
Mentari pun dengan terburu-buru keluar dari rumah itu, baru saja dia ingin keluar dari pintu utama ia melihat Farah yang turun sambil membawa kopernya. Ia pun mengangguk dan menyambut Farah dengan senyuman, Farah yang sudah pamit pada yang lainnya juga langsung menyusul ke arah Mentari.
"Mentari, apa kita bisa bicara sebentar?"
"Bagaimana ya, Tante. Aku sedang terburu-buru, tapi jika memang yang dibicarakan sangat penting dan gak terlalu banyak nggak papa. Ada apa ya, Tante?" tanya Mentari saat ini mereka sudah berada di luar, Mentari sudah duduk di motornya dan Farah menghampirinya.
"Begini saja kita bicara di mobil sekalian aku mengantarmu ke kampus, motormu biar sopir saja yang membawa, nanti dia akan membawa langsung ke kampus," ucap Farah membuat Mentari hanya setuju saja. Ia yakin jika wanita yang dipanggil ibu oleh Azriel itu adalah orang yang baik, ia hanya berpikir positif mungkin saja ibu dari Azriel itu sudah mencicipi kuenya dan ingin memesannya.
Sopir yang tadinya ingin mengantar Farah ke bandara kini membawa motor Mentari, sementara Farah sendiri sudah melajukan mobilnya bersama dengan Mentari keluar dari gerbang tersebut, ia masih memiliki 1 jam sebelum penerbangannya membuat ia pun memilih untuk mengantar Mentari ke kampusnya sambil berbincang.
"Maaf, mungkin aku tak pantas menanyakan hal pribadi tentangmu, tapi aku ingin menanyakannya dan ingin tahu pasti bagaimana perasaanmu. Hari ini aku harus kembali ke luar negeri. Jadi, aku ingin kita bicara sekarang, kita tak punya waktu lagi untuk bertemu," ucap Farah membuat Mentari menjadi bingung, apakah yang akan mereka bahas bukanlah masalah kue.
"Memangnya Tante mau bahas apa?" tanya Mentari sambil melihat ke arah Farah yang terlihat konsentrasi dengan kemudinya.
"Bagaimana perasaanmu pada Azriel?"
"Perasaan apa yang Tante maksud?"
"Perasaan cinta, apakah kamu juga memiliki perasaan itu di hatimu untuknya?"
Mentari terdiam, ia tak tahu mengapa sampai ibu dari Azriel itu menanyakan hal tersebut.
"Aku ingin jawabanmu, kamu juga mencintai Azriel atau tidak?"
"Tante tau sendiri kan jika aku sangat sibuk dengan urusan kuliah dan juga menjual kue-kue yang aku jajakan sama seperti pagi ini, aku datang pagi-pagi hanya untuk menjual kue pada Azriel, walaupun aku memiliki perasaan padanya aku rasa perasaan itu tak pantas untuk ku miliki, untuk disimpan di hatiku. Aku sadar kami sangat jauh berbeda, bagai bumi dan langit, walau aku menyukainya tetap saja rasa sukaku salah, rasa suka aku tak seharusnya menyukai orang yang tak mungkin aku gapai. Jadi, aku hanya menganggap Azriel sebagai teman saja, teman yang sangat baik," jawab Mentari jujur membuat Farah pun mengangguk, ada rasa senang di hatinya saat mendengar jika Mentari tahu diri, jika dia dan Azriel sangat jauh berbeda.
__ADS_1
Kata jika dia tak pantas untuk menjadi kekasih Azriel dibenarkan Farah dalam hati dan orang yang paling pantas adalah Lucia.
"Kamu tahu kan anak tante Lucia, mungkin sikapnya kemarin memang tak sopan padamu? Sebanarnya dia anaknya sangat baik, dia melakukan semua itu hanya karena cemburu."
"Cemburu padaku?" tunjuk Mentari pada dirinya sendiri.
"Dia cemburu kenapa? Aku merasa tak melakukan apa-apa," ucap Mentari.
"Iya tahu jika Azriel menyukaimu dan dia juga menyukai Azriel."
Deg.
"Apa Azriel menyukaiku? Dari mana Tante tahu?" tanya Mentari setelah menguasai keterkejutannya atas apa yang diucapkan oleh Farah.
"Hal itu tak usah aku jelaskan, yang jelasnya putriku cemburu padamu karena ia tahu Azriel menyukaimu dan aku juga tahu jika memang Azriel menyukaimu dan ingin serius denganmu, tapi aku senang kamu mengerti akan posisimu, siapa Azriel dan siapa dirimu."
Mendengar itu Mentari hanya kembali diam dan mencoba mencerna apa sebenarnya maksud dari pertemuan mereka.
Farah pun memarkirkan mobilnya begitu mereka sudah sampai di gerbang kampus. Mentari juga bisa melihat supir yang sejak tadi mengikuti mereka dari belakang juga sudah masuk ke parkiran kampus dan memarkirkan motornya di sana.
"Aku dan kedua orang tua Azriel berencana akan menjodohkan Azriel dengan Lucia, walau sekarang Azriel mencintaimu, tapi kami yakin suatu saat nanti dia juga akan mencintai Lucia dan akan melupakan rasa cintanya padamu. Jadi, aku harap kamu jangan menjadi penghalang di antara mereka berdua."
Mentari hanya mengagguk.
"Kamu benar, kamu tak pantas untukmu, kalian berbeda. Jadi, aku harap kamu mengerti, aku tak bermaksud untuk menyakiti perasaanmu dengan ucapanku. Aku melakukan ini untuk kebaikan mereka, aku seorang ibu dan aku ingin yang terbaik untuk anak-anakku dan aku yakin Azriel adalah yang terbaik untuk Lucia dan begitupun sebaliknya, Lucia adalah yang terbaik untuk Azriel."
"Iya, Tante. Aku paham maksud Tante." Mentari dan Fatah pun turun dari mobil. Farah berpindah ke kursi belakan dan Mentari sendiri langsung berjalan ke motornya.
Mobil Mereka kini melaju penjauhi kampus di kemudikan oleh supir. Mentari hanya menghela napas menatap mobil itu yang perlahan menjauh.
"Apa Azriel benar menyukaiku?:
__ADS_1