
Mentari yang sudah sampai tujuannya kembali membuka pesan dari Azriel, ia sangat terkejut saat membaca pesan tersebut.
Mentari menepuk jidatnya.
"Apa aku salah memasukkan pesan tertulis itu ya?" gumam Mentari kemudian ia mengingat akan kue untuk Dewa ia dengan cepat menelpon Dewa.
"Halo, ada apa Mentari?" tanya Dewa.
"Kamu sudah di kantor belum?"
"Nggak, aku masih di luar. Memangnya ada apa?" tanya Dewa.
"Aku salah kirim bingkisan kue itu, aku ambil bingkisannya lagi ya, besok aku ganti."
"Oh ya sudah nggak papa, aku juga belum membukanya, jika memang itu bukan untukku ambil saja lagi nggak papa kok," ucap Dewa dimana ia juga tiba-tiba harus keluar kota dan mungkin baru sempat malam nanti dan akan pergi ke kantor besok.
"Ya sudah, aku sekarang ke kantormu ya dan aku ambil, besok aku janji akan memberikan yang baru," ucap Mentari mengambil motornya dan melajukannya kembali ke perusahaan Dewa.
Mentari buru-buru menghampiri resepsionis dan meminta kembali kue tersebut.
"Maaf ya Mbak, bingkisannya saya ambil kembali. Saya sudah menelepon pak Dewa dan besok kue ini akan saya ganti, saya salah mengirim bingkisan tersebut, Mbak." Resepsionis tersebut hanya mengangguk dan memberikan bingkisannya kembali pada Mentari, dengan cepat Mentari mengambil bingkisan tersebut dan kembali melajukan motornya menuju ke kediaman Azriel.
"Ya ampun, kenapa aku bisa linglung seperti ini sih, perasaan semalam aku sudah memasukkannya dengan benar. Lalu kenapa bisa tertukar," gumam Mentari sambil terus melajukan motornya menuju ke kediaman Azriel, ia merasa tak enak karena telah memberikan ucapan terima kasih dan justru salah mengirimkan ucapan tersebut. Azriel sudah banyak membantunya, ia sangat merasa malu karena kecerobohannya dan akan segera memperbaiki kesalahannya.
Begitu Mentari sampai ke kediaman Azriel, bertepatan dengan Abidzar yang juga baru pulang dari kantor begitupun dengan Khanza yang baru pulang dari arisan.
"Mentari, ada apa, Nak?" sapa Khanza dengan ramah dan langsung menghampiri Mentari.
"Ini Tante, saya salah mengirimkan kue untuk Azriel," ucap Mentari dengan senyum di wajahnya dan memperlihatkan apa yang ia pegang.
"Loh kok bisa salah, ya sudah ayo masuklah dulu,. Aziel pasti ada di dalam," ucap Khanza kemudian mereka pun masuk bersama-sama ke dalam rumah tersebut diikuti Abidzar yang juga melangkah di belakang mereka.
"Iya Tante, pagi tadi aku terburu-buru sampai melupa mengeceknya kembali saat akan mengantarnya, seharusnya inilah kue untuk Azriel," ucap Mentari masih merasa tak enak pada Azriel karena telah salah dalam mengirim kuenya, ia pasti kecewa padanya.
__ADS_1
"Itu dia anaknya," ucap Khanza yang menunjuk Azriel yang duduk di ruang tv.
Azriel yang melihat Mentari datang memasang wajah cemberut, tadinya ia sangat senang karena mendapat bingkisan tersebut, ia berpikir itu adalah bingkisan spesial khusus untuknya. Namun, ternyata itu bukan bingkisan untuknya dan terlebih lagi ada nama Dewa disana.
Siapa Dewa, ia sama sekali tak mengenal orang yang bernama Dewa, hampir semua teman Mentari adalah temannya juga, kecuali beberapa teman perempuan yang memang berasal dari luar kampus. Namun, seingatnya Mentari tak punya teman yang bernama Dewa, mereka pasti lebih dekat dari perkiraannya mengingat Mentari memberikan kue spesial itu juga untuknya.
"Azriel, katanya Mentari salah mengirim kue pesananmu. Loh ini kue-kuenya sudah dimakan? Mentari, bagaimana ini, Azriel sudah memakan kiriman yang kamu berikan padanya," ucap Khanza yang melihat kuenya hanya tersisa setengah.
"Nggak papa Tante, ini Azriel maaf ya tadi tertukar," ucapnya merasa tak enak melihat tatapan tak bersahabat dari Azriel padanya.
Azriel mengambil kotak yang diberikan oleh Mentari dan melihat isinya, ternyata isinya sama persis dengan yang tadi. Membuat kue itu sama sekali tak ada spesialnya lagi di matanya, kemudian ia mengambil kertas yang ada di sana. Azriel menghela napas saat melihat tulisannya yang benar-benar sama persis hanya namanya saja yang berbeda. Membuat Azriel menatap kesal pada Mentari dan meletakkan kembali tulisan yang tadinya ada di dalam kotak pertama yang diberikan Mentari ke dalam kotak itu, kemudian memberikan kembali kuenya pada Mentari.
Mentari tak langsung menerimanya. Namun, justru melihat ke arah Azriel dengan tatapan bingungnya, begitupun dengan Abidzar dan juga Khanza.
"Ini, ambillah! Ini tak salah lagi, kartu ucapannya sudah benar aku sudah menukar kartu ucapannya yang tadi ada di kueku, berikan pada pria yang bernama Dewa itu. Si Dewa pasti menunggu hadiah spesial ini darimu," ucap Azriel dengan nada ketus.
"Jangan marah ya, semalam aku terburu-buru makanya salah menukarkan kartu ucapannya ini untukmu," ucap Mentari sedikit mendorong kembali kotak tersebut agar Azriel mau menerimanya.
"Aku tak butuh, ambil saja. Jika nggak mau berikan saja pada yang lain," ucap Azriel masih dengan ada kesal tak mau melihat Mentari.
"Ini semua salah saya Tante, saya sudah janji pada Azriel akan memberikan hadiah spesial, tapi saya salah memberikan kartu ucapan di dalam kuenya," lirih Mentari dengan raut wajah menyesal.
"Kue spesial katamu? Mana ada kue spesial yang sama persis dengan kamu berikan kepada orang lain, bukan hanya kuenya yang sama, tapi kata-katanya juga sama. Nggak kreatif banget sih kamu, jika memang tak mau memberikan ya ga usaha, aku juga membantumu dengan ikhlas tanpa menginginkan kue seperti ini," ucap Azriel mempertahankan nada kesalnya.
"Maaf ya, ya sudah aku buatkan lagi yang lain, ini benar-benar spesial tak akan sama dengan yang aku buat untuk Dewa besok."
"Apa? Kamu mau membuat lagi kue buat Dewa?" ucap Azriel menghela napas kesal, sepenting apakah orang yang bernama Dewa itu.
"Sudah nggak usah buat kue untuk dia lagi. Ini berikan saja kue ini padanya, aku nggak usah. Aku nggak butuh kue apapun, sana pergilah," ucap Azriel sambil menarik tangan Mentari agar mengambil kembali kuenya.
"Aku minta maaf, aku benar-benar enggak sengaja," ucap Mentari dengan bibir yang bergetar dan mata yang berkaca-kaca.
"Aku takkan mengulanginya lagi, aku janji akan membuat kue yang lebih spesial lagi untukmu, tolong maafkan aku, kuenya hanya untukmu," ucapnya yang sudah mengeluarkan air mata.
__ADS_1
"Eh, aku nggak bermaksud seperti itu. Ya sudah kuenya aku ambil kembali ya, jangan nangis dong," ucap Azriel panik sendiri saat melihat air mata Mentari yang menetes dari sudut mata gadis cantik itu.
Bukan hanya Azriel yang panik mendengar tangisan Mentari. Namun, Khanza juga ikut panik begitupun dengan Abidzar.
"Iya, ini kuenya biar kami bayar dua-duanya ya, nanti kamu buat kue yang lain lagi buat siapa tadi namanya? Dewa ya?" ucap Khanza mengambil kue yang masih dipegang oleh Mentari.
"Nggak Tante, kue ini aku bawa pulang saja, nanti aku buat yang baru, aku benar-benar minta maaf," ucapnya yang kini bahkan sudah seseguhkan.
"Nggak, nggak usah. Aku sudah punya yang tadi kok, ini berikan saja pada Dewa, aku nggak papa aku kan sudah punya yang tadi tuh sudah hampir habis rasanya enak banget" ucap Azriel mengambil kotak kue yang tadi sudah dimakannya sebagian, ia bahkan kembali mengambil satu dan memakannya.
"Ini rasanya sangat enak, terima kasih ya ini sangat spesial," ucapnya.
"Dewa itu pemilik perusahaan di DW grup, dia juga memesan banyak kue dariku makanya aku memberikan kue spesial untuknya, aku sudah janji sebelumnya. Semalam aku sangat lelah dan tak tahu harus membuat kue apa, aku juga baru ingat jika aku sudah janji padamu. Jadi, aku membuat kue yang sama saja, agar bahannya juga nggak terlalu banyak dan bisa sekalian di kocok dan kata-katanya aku tak tahu harus menulis apa lagi. Jadi, aku samakan saja," ucap Mentari sambil mengusap air matanya.
"Oh iya, maaf ya aku lupa kamu kan juga harus hemat. Benar juga membuat dua kue yang berbeda pasti akan memakan modal yang cukup besar, berbeda jika membuat kue yang sama. Ya sudah ini aku terima ya, lain kali aku akan mencari lebih banyak pelanggan lagi untukmu. Ayah juga akan membantu kan, Yah?" ucap Azriel melihat ke arah ayahnya.
"Iya tentu saja, oh ya minggu depan ada acara di perusahaanku. Kue seperti ini harganya berapa?" ucap Abidzar yang bisa melihat jika kue yang dipegang oleh Azriel berbeda dari kue yang sering di pesan sebelumnya.
"Kue ini nggak ada Om, pesannya spesial seperti biasa saja ya. Om mau berapa kotak?" ucap Mentari mengusap air matanya yang terus saja tak ingin berhenti menetes, walau ia sangat bersedih. Namun, mendengar pesanan untuk acara kantor yang biasanya pasti akan banyak membuat jiwa bisnisnya kembali meronta-ronta.
"Aku pesan 50 yang spesial ya," ucapnya membuat Mentari pun mengangguk dan mengambil kotak kue yang tadi diberikan oleh Azriel yang katanya itu bisa diberikan kembali pada Dewa.
"Baik Om, akan aku siapkan. Azriel ini serius buat Dewa saja?" tanya Mentari kembali membuat Azriel pun mengangguk cepat, dia tak ingin melihat Mentari kembali menangis hanya karena masalah yang seharusnya tak ia besar-besarkan, selama ini Mentari sudah mengatakan jika dia mendapat pesanan dari perusahaan tersebut mungkin ia berlebihan cemburu pada orang yang bernama Dewa itu.
"Ini sudah malam, aku antar pulang ya?"
"Nggak usah, aku bisa sendiri kok lagian aku naik motor."
"Motornya disimpan saja, besok biar Azriel yang kembali menjemputmu," ucap Abidzar sedikit memaksa, ia juga khawatir jika Mentari pulang sendiri saat sudah malam seperti ini.
"Biar aku antar, boleh ya Ibu?" ucap Azriel melihat ke arah ayah dan ibunya.
"Ya sudah boleh, tapi hati-hati ya?" ucap Khanza membuat Azriel pun mengangguk dan segera menarik Mentari untuk keluar dari sana, ia terlebih dahulu menuju ke kediaman Dewa. Mentari sudah tahu alamat Dewa di mana, Mentari juga sering mengantar kue untuk ibunya Dewa dan Azriel tak keberatan untuk mengantarnya, setidaknya pekerjaan Mentari sedikit berkurang daripada jika membawa pulang kue itu Mentari juga akan kembali mengantarnya besok.
__ADS_1
Besok Mentari harus sudah mulai kuliah di pagi hari begitupun dirinya, ia sudah boleh untuk kembali kuliah.