Berbagi Cinta : Mencintai Diriku Dan Dirinya

Berbagi Cinta : Mencintai Diriku Dan Dirinya
POLIGAMI.


__ADS_3

Disaat Adzan subuh berkumandang, Warda bangun dan langsung mengambil air wudhu dan melaksanakan sholat, setelah itu barulah ia ingin kembali melepaskan kerinduannya pada cucu satu-satunya, cucu yang sudah sangat lama diinginkannya. Warda masih merasa jika semua ini hanya mimpi, ia sudah pasrah saat Farah dinyatakan tak bisa memiliki anak dan melihat jika putranya sangat mencintai istrinya itu.


Kepanikan melandanya saat melihat ke tempat tidur cucunya sudah tak ada di sana. Ia mencari, tapi tak ketemu. Warda bahwa mencari hingga ke bawah kolong tempat tidur, menyibak selimut. 


"Ini pasti kerjaan Farah," gumam kesal Warda.


Warda berjalan kesal menuju kamar Farah, sambil terus bergumam kesal.


Warda mengetuk pintu kamar Farah dengan terburu-buru dan baru berhenti saat mendengar suara kunci yang di buka.


"Mama apaan, sih! Ketuk pintu sampai segitunya, nanti Aziel bangun," ucap Farah saat membuka pintu.


"Kamu ini apa-apaan, sih! ngambil Aziel ga  bilang-bilang dulu sama mama, mama 'kan jadi kaget," protes Warda kesal.


"Itu 'kan udah sering, Mah," sahut Farah kembali masuk ke kamar disusul oleh Warda yang juga ikut masuk ke kamar Farah dan langsung ikut kembali tertidur sambil memeluk cucunya.


"Mama udah shalat?" tanya Farah.


"Udah tadi. Mama sudah sholat, terus nyari anak ini, kamu buat mama jantungan pagi-pagi," ucap Warda masih kesal, ia menjawab sambil memejamkan mata memeluk dengan erat cucunya.


Farah hanya menggeleng dan segera masuk ke kamar mandi mengambil air wudhu dan mulai melaksanakan kewajibannya sebagai Muslim.


Setelah melaksanakan shalat Farah melihat mertuanya itu kembali tertidur begitu juga dengan Aziel yang terlihat nyaman dalam pelukan neneknya.


Farah langsung ke dapur dan mulai aktivitas masak-memasak nya.


Abizar menghampirinya, memeluknya dari belakang dan mencium pipinya.


"Lagi masak apa?" tanyanya.


"Masak sarapan yang kayak biasa aja Mas, Mas mau aku buatkan yang lain?" tanya Farah.


"Nggak, buat yang biasa aja," ucapnya duduk dengan lemas di meja makan sambil memijat kepalanya.


Farah yang melihat suaminya gusar langsung mencuci tangan dan menghampirinya, memijat bahunya agar suaminya lebih rileks.


"Mas Kenapa?" tanyanya.


Abizar memejamkan mata menikmati pijatan Farah.


"Khanza meminta pindah rumah" jawabnya tanpa membuka matanya.

__ADS_1


Mendengar itu Farah langsung menghentikan pijatannya dan ikut duduk di samping Abizar, memandang suaminya penuh tanya.


"Pindah, Mas? Untuk apa dia pindah, Kita kan bisa tinggal di sini bersama, apa dia masih marah sama kita?" tanya Farah terlihat kecemasan di matanya.


"Nggak, kok. Khanza sudah nggak marah, dia sudah memaafkan kita, dia juga akan mencoba ikhlas menerima hubungan pernikahan kita, ia ingin pindah agar aku bisa membagi waktu denganmu dan dia dan ia juga ingin menenangkan hatinya.


Farah berpikir sejenak, memang keinginan Khanza baik, untuk hubungan mereka. Walau bagaimanapun tinggal bersama memang sangat berat. Seikhlas apapun mereka pasti masih ada rasa sakit di hati jika suami sedang bersama dengan madunya, itu ia rasakan sendiri, pasti Khanza juga merasakannya, mungkin bahkan lebih sakit dari apa yang dirasakannya.


"Bagaimana menurut pendapatmu? Mas masih pusing, apakah harus menuruti kemauan khanza atau membujuknya untuk tetap tinggal bersama kita.


"Sebaiknya Mas turuti saja apa yang Khanza inginkan, Aku rasa memang itu yang terbaik untuk menjaga hubungan kita agar tak saling menyakiti. Aku setuju kalau Khanza pindah ke rumah lain, tapi mas cari yang nggak terlalu jauh, ya! Aku nggak bisa pisah jauh dari Aziel." pinta Farah.


"Begini saja, kamu yang carikan rumah untuk Khanza, kamu pilihkan dia yang nyaman dan dapat kau jangkau dengan mudah."


"Boleh juga. Baiklah Mas, Aku akan coba mencari yang terbaik. Masalah rumah Khanza biar aku aja yang urus," ucap Farah.


"Makasih, ya."


"Iya, Mas."


"Kamu nggak apa-apa kan jika Khanza pergi membawa Aziel," lirih Abizar  menggenggam erat tangan Farah, ia tahu jika istrinya itu sangat menyayangi Putra mereka.


"Nggak kok, Mas. Aku ngerti, aku juga setuju dengan apa yang Khanza minta. Masalah Aziel aku pasti akan sedih dan akan jarang melihatnya. Namun, bukan berarti aku nggak bisa menemuinya kan! mendapatkan maaf darinya dan mau menerima hubungan kita ini saja aku sudah sangat senang, Mas."


"Semoga saja dengan begitu bisa membawa kebahagiaan untuk kita khususnya untuk Aziel.


"Loh ... Mama kok keluar dari kamar kamu? Mama tidur di kamar kamu semalam?" tanya Abizar yang melihat mamanya keluar dari kamar Farah dan kembali ke kamarnya.


Farah tertawa, "Nggak, Mas. Mama  pindah tadi pagi, semalam aku nyulik Ziel saat mama tidur  dan membawa Aziel tidur bersamaku."


"Kamu jangan bilang-bilang ke mama dulu ya, kalau Khanza akan pindah dan akan membawa Aziel. Kamu cari aja dulu rumah yang pas untuk mereka dan cari waktu yang pas, kita tunggu sampai Khanza benar-benar sehat dan bisa mengurus Aziel."


"Iya, Mas. Mas tenang aja, lagian kalau  Mama taunya sekarang pasti ributnya pasti dari sekarang. Apa Khanza masih tidur, Mas?"


"Udah bangun, hanya dia masih lemas, masih ingin rebahan katanya."


"Ya udah, aku bawain buah dan susu dulu ke kamarnya," ucap Farah beranjak dari duduknya kemudian mengambil buah, memotongnya dan membuat segelas susu. Tak lupa ia juga membuat kopi untuk suaminya.


Abizar memilih membawa kopinya ke ruang kerjanya sedangkan Farah membawakan buah dan susu ke kamar Khanza dan meminta Bibi melanjutkan membuat sarapan.


Farah mengetuk pintu sebelum masuk.

__ADS_1


"Mbak Farah," ucap Khanza bangun dari tidurnya dan duduk bersandar di sandaran tempat tidur.


"Kamu masih lemas?" tanyanya.


"Udah mendingan kok, Mbak."


"Ini, Mbak bawain buah sama susu. Kamu  habiskan ya, biar kamu punya tenaga." 


"Iya, makasih mbak, Aziel masih di kamar mama?" tanya Khanza.


"Nggak, semalam tidur sama Mbak. Mbak nyulik dia dari kamar mama."


"Mbak ini ada-ada aja, emang mama nggak marah?"


"Nggak, itu udah sering terjadi. Mama walau suka ngomel, tapi nggak marah. Ngomel sekarang siang juga udah balik lagi. Kamu istirahat, ya!"


"Iya, Mbak. Makasih ya, Mbak sudah perhatian sama Khanza.


"Kamu jangan anggap Mbak ini sebagai madumu, anggap Mbak sebagai kakakmu," ucap Farah mengelus tangan Khanza.


Khanza mengangguk menarik sudut bibir membentuk lengkungan, tersenyum menatap madunya yang begitu baik.


Ia tak menyangka jika Farah bisa sebaik itu padanya, ia bahkan bisa merasakan kasih sayang seorang kakak yang diberikan Farah padanya saat ia kesusahan, wanita yang begitu lembut dan dewasa. Tak heran jika Kak Abi tak ingin melepaskannya.


Saat mendengar kata poligami, menjadi istri kedua, dalam pikiran Khanza, ia akan diperlakukan sama dengan poligami lainnya di luar sama, Dimana kedua istri akan saling memperebutkan cinta dan waktu suami mereka. Semua itu jauh dari poligami yang iya jalani saat ini.


"Mbak keluar dulu ya kamu, habiskan buah, dan jangan lupa minum susunya," ucap Farah kemudian beranjak dari duduknya dan keluar dari kamar utama.


Khanza menatap punggung Farah yang semakin menjauh hingga hilang di balik pintu, ia merasa sangat egois dan jahat.  Ia terus saja berpikir negatif tentang wanita yang begitu baik padanya.


💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖


Terima kasih sudah membaca 🙏


Jangan lupa like, vote komennya🙏


💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖


Hay kak, aku bawa rekomendasi karya temanku nih, sambil nunggu update terbaru, mampir yuk.


__ADS_1


jangan lupa favorit kan juga ya🙏🙏


💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖


__ADS_2