
Dengan langkah perlahan Azriel pun masuk dan menghampiri mereka semua yang sedang duduk dan terdengar membicarakan tentang perjodohan mereka.
"Azriel, Sayang. Ayo sini, Nak," ucap Farah yang langsung menarik Azriel untuk duduk disampingnya.
Azriel duduk di samping Farah. Namun, tatapannya tajam menatap ibu kandungnya. Di mana ibunya tadi hanya diam saja saat ibu Farah membahas masalah perjodohan mereka, sedangkan ia sudah menolaknya saat beberapa hari lalu ibunya mengatakan hal tersebut padanya dan ia sudah mengatakan, jika ia tak menginginkan perjodohan itu.
Khanza yang ditatap oleh putranya juga menatap balik pada suaminya, Abidzar.
"Ada apa ini, Bu?" tanya Azriel menatap kedua ibunya, satu ibu Farah dan satu ibu Khanza.
"Begini, Nak," ucap Farah yang memulai pembicaraan mereka, ia bisa melihat jika Khanza tak mau berbicara mengenai perjodohan mereka.
"Aku rasa kamu sudah tahu tentang rencana kami untuk menjodohkan mu dengan Lucia," ucap Farah membuat Lucia yang sejak tadi tersenyum menatap Azriel.
"Bu," ucap Azriel menatap pada Khanza.
"Mbak Farah maaf, tapi sepertinya Azriel menolak perjodohan ini Mbak dan aku rasa kita seharusnya tak memaksakan jika memang mereka tak saling menyukai. Bukankah kita sudah membahas sebelumnya " ucap Khanza merasa tak enak dengan Dav, ia sudah membahas hal itu beberapa hari yang lalu.
Khanza sudah mengatakan pada Farah jika Azriel menolak perjodohan mereka, membuat ia berpikir mungkin Farah bisa mengerti dan tak akan datang dan melanjutkan perjodohan itu, ia sangat terkejut saat justru Farah datang membawa Lucia dan juga Dev, belum lagi Farah mengatakan jika Lucia akan tinggal dan kuliah di kampus yang sama dengan Azriel nanti. Di mana di kampus Lucia sendiri sudah selesai dengan pendidikan S1 nya.
__ADS_1
"Azriel, cobalah dulu, Nak. Kalian sudah mengenal sejak kecil, kalian juga sudah saling menyayangi, tak ada salahnya untuk mencoba mendekatkan hubungan kalian."
"Tapi Bu, aku..."
"Ibu tak memintamu untuk langsung menikahi Lucia, cukup kalian bertunangan saja dulu, jika memang setelah bertunangan nanti kalian merasa tak cocok kalian boleh mengakhiri pertunangan kalian, Lucia sudah setuju akan hal itu, ia kan, Sayang," ucap Farah membuat Lucia lagi-lagi mengangguk setuju dan menatap Azriel dengan tatapan penuh keinginan.
Sementara itu, Aisyah hanya berdiri di lantai 2 mendengarkan obrolan mereka, ia sendiri tak setuju jika kakaknya menikah dengan Lucia, ia lebih senang jika kakaknya bersama dengan Mentari. Walau ia sudah menganggap Lucia seperti Kakaknya sendiri, mereka juga sudah akrab. Namun, tetap saja ia bisa merasakan jika Lucia bukanlah orang yang tepat untuk kakaknya, ia paham betul seperti apa sifat Lucia.
"Aku ingin bicara dengan Lucia sebelum mengambil keputusan, Bu," ucap Azriel kemudian ia pun berlalu dari ruangan tersebut, hubungan mereka selama ini cukup baik dan ia tak ingin membuat hubungan kedua keluarga mereka menjadi renggang hanya karena penolakannya yang tak sopan di depan Dev.
Azriel yang memilih masuk ke kamarnya disusul oleh Aisyah yang juga ikut masuk.
"Kak, apa Kakak setuju untuk bertunangan dengan kak Lucia? Aku nggak setuju Kak," ucap Aisyah cepat setelah masuk ke kamar kakaknya, tak lupa ia juga menutup pintunya.
"Lalu kenapa Kakak tak menolaknya?" tanya Aisyah.
"Tentu saja kakak akan menolaknya, tapi tidak sekarang, kakak akan bicara dulu pada Lucia. Kakak akan menerangkannya jika memang kami tak bisa berjodoh, kakak menghargai paman Dev," ucap Azriel sambil membuka pakaiannya, ia ingin mandi. Seharian berjalan dengan Mentari membuatnya merasa gerah.
Baru saja Azriel membuka bajunya, Lucia masuk dan langsung melihat ke arah mereka berdua, sejak tadi ia mendengar percakapan keduanya.
__ADS_1
"Lucia, apa-apaan kamu? Kamu nggak bisa mengetuk pintu sebelum masuk," ucap Azriel yang kembali memakai bajunya.
"Apa maksudmu? Kamu sudah jadian dengan Mentari? Bukankah kamu harus memberiku kesempatan dulu?"
Azriel menghela napas mendengar ucapan Lucia, "Dengar, aku tak pernah menyetujui apapun yang diputuskan oleh orang tua kita, bahkan sejak awal aku sudah menolak. Kamu juga tau akan hal itu. Jadi, aku mohon mengertilah. Aku sama sekali tak mencintaimu, Lucia! Aku hanya menyayangimu seperti adik, sama seperti aku menyayangi Aisyah. Jadi, sekali lagi aku mohon jangan mempersulit persaudaraan kita hanya dengan keegoisanmu."
"Kamu yang egois, aku mencintaimu dan kamu sudah tahu juga akan hal itu, Kan? Lalu mengapa kamu mengabaikanku? Aku mohon terimalah rencana orang tua kita. Ziel, aku janji jika dalam satu tahun aku tak bisa membuatmu mencintaiku aku akan meninggalkanmu dan membiarkanmu bersama dengan Mentari, aku mohon."
"Satu tahun? Satu hari saja aku tak bisa bersamamu Lucia! Jangankan satu hari satu jam saja aku tak bisa mengakui jika kita ingin mencoba menjalin hubungan, karena aku sudah memiliki kekasih dan aku tak mau menyakiti perasaan Mentari."
"Kamu jahat Azriel! Kamu menjaga perasaan Mentari, tapi kamu tak menjaga perasaanku, kamu menyakiti perasaanku."
"Aku sama sekali tak ada niatan untuk menyakiti perasaanmu, tapi memang itulah faktanya. Aku mencintai Mentari jauh sebelum kamu mengatakan jika kamu mencintaiku. Lucia, aku mohon. Hargai keputusanku, aku tak bisa memaksakan perasaanku untuk mencintaimu baik sekarang ataupun satu tahun lagi, cintaku hanya untuk Mentari."
Lucia terus berusaha meyakinkan Azriel untuk memberinya kesempatan, ia bahkan meneteskan air mata agar Azriel memberinya kesempatan. Namun, Azriel tetap tak bisa, walau ia merasa kasihan melihat Lucia, teman masa kecilnya itu yang memohon padanya. Namun, ia tak bisa menyakiti Mentari, ia sudah berjanji pada Mentari akan menyelesaikan masalah yang akan mereka hadapi.
Aisyah hanya menatap Lucia, ia semakin tak suka dengan karakter Lucia, ia bahkan membandingkan Lucia dalam hati dengan Mentari. Aisyah lebih memilih Mentari untuk menjadi kakak iparnya.
"Lucia, aku mohon keluarlah dari kamarku. Aisyah tolong bawah Lucia keluar, aku ingin mandi. Aku ingin istirahat kita bahas besok saja," ucap Azriel melihat ke arah adiknya, membuat Aisyah pun mengerti dan langsung membawa Lucia keluar dari kamar itu, walau Lucia menolak. Namun, Aisyah tetap menariknya dan terus mengatakan jika mereka lebih baik bicara saat Azriel sudah tenang saja. Mereka harus membicarakannya berdua di tempat lain jangan di kamar.
__ADS_1
"Aisyah, katakan kepadaku kamu mendukungku atau mendukung Mentari untuk menjadi pendamping kakakmu?" tanya Lucia menatap kepada Aisyah. Aisyah terdiam, tentu saja ia memilih Mentari. Namun, sama halnya dengan Azriel, ia menjaga perasaan Lucia, mereka bersama sejak kecil, hubungan mereka sudah seperti saudara kandung, ia tak ingin jawabannya yang memilih Mentari akan membuat hubungan mereka menjadi retak, terlebih lagi Aisyah mendengar dengan jelas jika Lucia akan tinggal bersama dengan mereka.
"Aisyah jawab, jangan diam saja. Jika kamu memilihku, kamu harus membantuku agar mereka bisa memutuskan hubungan mereka dan kamu harus menyakinkan kakakmu untuk memberiku waktu. Aku yakin dalam satu tahun aku bisa membuat Azriel mencintaiku bahkan tergila-gila padaku."