Berbagi Cinta : Mencintai Diriku Dan Dirinya

Berbagi Cinta : Mencintai Diriku Dan Dirinya
Aziel di kampung halaman Mama


__ADS_3

"Ayo masuk," ucap nenek mempersilahkan mereka masuk.


Khanza mengambil Aziel dari gendongan Farah dan memperkenalkannya pada keluarganya yang lain, Farah dan Warda dibawa oleh nenek untuk beristirahat ke dalam, mereka menyediakan minuman dan cemilan untuk Farah dan Mertua Khanza.


Ibu dan Farah duduk di sofa ditemani oleh Bude dan juga nenek, sementara yang lain sudah asik berkenalan dengan Aziel. Tampan dan menggemaskan, itulah ucapan mereka saat melihat Aziel.


Aziel yang awalnya hanya terus memeluk leher Khanza dan menyembunyikan wajahnya, perlahan-lahan mulai ikut melihat mereka bermain dan ikut tertawa ... ada beberapa  keluarga Khanza yang seumuran dengannya, membuat ia sudah mulai sedikit-sedikit melihat apa yang mereka lakukan.


"Itu kakak Ziel, main sama kakak ya,"  tunjuk Khanza pada adik sepupunya yang hanya beda beberapa tahun dengan Aziel.


Aziel hanya melihat mereka semua bermain, Ia masih berada di pangkuan Mamanya.


Di ruang tamu.


"Maaf ya, Nek, putraku tak bisa datang, dia sedang ada pekerjaan. Ibu Warda memulai pembicaraan.


"Iya, nggak apa-apa. Kami mengerti kok, Abizar orangnya pasti sangat sibuk. Khanza bisa menyempatkan diri untuk pulang ke kampung dan kalian sudah mengantarkannya kami sudah sangat senang, Nenek sudah sangat merindukan cucu dan cicit nenek."


Mereka terus berbincang-bincang, sedangkan Farah hanya diam dan mendengarkan apa yang mereka katakan, sesekali ia melirik Khanza yang tertawa bahagia bertemu dengan keluarga besarnya, begitu juga dengan Aziel yang sudah terlihat akrab dengan  beberapa anak kecil dari keluarga Khanza.


Sore hari semua kembali ke rumah masing-masing, tinggallah Farah, Khanza, Warda dan juga nenek dan kakek.


Di rumah itu ada seorang Bibi yang membantu nenek dan kakek mengurus rumah dan juga menyediakan makanan untuk mereka.


Seperti kebiasaan, Farah akan selalu tertarik dengan dapur, ia pun ikut membantu bibi untuk memasak makan malam untuk mereka, begitu juga dengan Khanza. Sementara Aziel bermain bersama kakek dan neneknya.


Warda yang merasa kelelahan memilih untuk beristirahat di kamarnya, kamar yang sudah disediakan untuknya.


Abizar sengaja merancang rumah nenek terdapat beberapa kamar agar mereka lebih nyaman saat menginap di sana.


"Khanza, keluargamu sangat ramah ya," ucap Farah di sela-sela kegiatan memasaknya.


"Iya, Mbak. Jika Mbak sudah mengenal mereka Mbak pasti merasa nyaman," jawab Khanza.


Keluarga Khanza memang kebanyakan humoris membuat orang yang baru mengenalnya saja merasa nyaman berbicara dengan mereka, walau awalnya mereka menatap tak suka pada Farah. Namun, kenyataannya setelah mereka saling kenal, sangkaan buruk tentang Farah perlahan menghilang dari pikiran mereka.


Mereka makan malam bersama dan sesekali berbincang.


Setelah makan malam semua kembali ke kamar masing-masing begitu juga dengan kakek dan nenek, usia tua mereka sudah tak kuat untuk tidur terlalu larut.


Begitu juga dengan Warda ya sudah kembali ke kamarnya setelah makan malam ia langsung tidur, perjalanan membuatnya sangat lelah.


Farah yang awalnya memiliki kamar sendiri memilih untuk tidur di kamar Khanza bersama dengan Aziel.


Dari semua kamar yang ada di sana kamar Khanza lah yang paling besar.


"Zial mau bicara sama papa nggak?" tanya Farah mengambil Aziel ke pangkuannya.

__ADS_1


Khanza sedang melakukan ritual sebelum tidur, memakai beberapa apa alat tempur di wajahnya.


Farah melakukan panggilan video.


"Papa …," pekik Aziel saat melihat Abizar dari layar ponsel.


Abizar melambaikan tangan pada mereka.


"Bubu … Papa," ucap Aziel menuju Papanya dengan mata yang berkaca-kaca.


"Papa lagi kerja ya buat Aziel, Aziel jangan nakal ya disana dengar kata mama dan bubu,"  ucap Abizar yang tahu ekspresi sedih anaknya.


Aziel kembali menatap pada layar ponsel melihat Papanya ia mengerti apa yang dikatakan papanya.


"Bagaimana Aziel, dia tidak rewel kan disana?" tanya Abizar.


"Nggak kok mas, Aziel juga cepat akrab dengan teman seumurannya disini," jawab Farah.


"Kamu nggak apa-apa kan di sana?" Abizar bertanya serius.


"Nggak papa kok, Mas, semua keluarga Khanza baik padaku," jawab Farah..


Khansa ikut bergabung.


"Emangnya apa yang kakak pikirkan tentang keluargaku, hmm…?" tanya Khanza menatap tajam pada Abizar dari balik layar ponsel.


"Kakak jangan bohong, pasti tadi kakak berpikir yang macam-macam kan tentang keluargaku," tebakan Khanza.


Abizar hanya tersenyum menanggapi pertanyaan Khanza, karena memang itulah yang ada di pikirannya, Ia berpikir jika keluarganya tidak menerima Farah.


"Bagaimana pekerjaan, Mas?" tanya Farah yang mengalihkan pembicaraan mereka yang sudah mulai menjurus adu tarik urat leher.


"Sepertinya ada seorang yang sengaja mengganggu bisnismu, akan coba memperbaikinya. Orang tersebut sengaja menggiring beberapa rekan kerja bisnis mu untuk bekerjasama dengannya dan mengakhiri kontrak kerjasamanya denganmu, walau mereka harus membayar denda, jelas ini disengaja" ucap Abizar yang langsung mengerjakan misinya begitu sampai ke negara itu.


"Jadi bagaimana, apa Mas bisa menyelesaikannya?" tanya Farah mulai khawatir.


"Tenang saja, besok aku sudah jadwalkan akan bertemu dengan mereka. Kalau perlu aku akan mendatangi mereka satu demi satu dan meminta penjelasan dan mencoba untuk meminta mereka kembali," jelasnya.


"Maaf ya, Mas. Aku jadi merepotkanmu," ucap Farah merasa tak enak.


"Iya, nggak apa-apa. Aku akan berusaha mencoba yang terbaik untuk kembali memulihkan bisnismu."


Abizar melihat Aziel dan Khanza yang terus bermain di belakang Farah, Khanza terus mencandai putranya, Aziel kini lebih tertarik bermain dengan Khanza daripada pada bertemu Abizar lewat ponsel.


"Mas cepatlah menyelesaikannya kemudian menyusul ke sini, beberapa warga ingin bertemu Mas. Katanya mereka ingin berterima kasih atas kebaikan hati Mas, aku jadi bangga mendengarnya."


"Aku hanya berbagi, membagikan sebagian rezeki yang kita dapatkan aku sangat senang mendengar jika mereka bahagia dengan hal itu." Ujarnya

__ADS_1


Sedari tadi, Farah terus saja menguap.


"Ya sudah, kamu istirahat saja, kamu pasti lelah kan dalam perjalanan," ucap Abizar.


"Iya, Mas bicara saja sama Khanza dan Aziel," ucap Farah memberikan ponselnya pada mereka.


Khansa dan Azriel mengambil alih telepon.


"Mas liat deh ekspresi Aziel," ucap  Khanza mengambil jeruk nipis dan  memasukkan ke dalam mulut Aziel.


Aziel  yang penasaran dengan buah itu juga membuka mulut dan mencicipinya.


Mereka tertawa saat Aziel mengeluarkan ekspresi lucu karena merasa asam di mulutnya.


Mereka terus tertawa mengobrol hal-hal yang tak penting, sementara Farah sudah menyelam dalam mimpi indahnya.


Khanza membawa Aziel sedikit menjauh dari Farah, mereka turun dan duduk di karpet, sengaja mengambil penyangga untuk HP agar tetap bisa melihat mereka.


"Apa Aziel  tidak mengantuk?" tanyanya yang melihat putranya terlihat masih antusias untuk bermain. 


"Nggak, Kak. Tadi saat di jalan ia tidur terus, makanya sekarang belum ngantuk. Nggak mau tidur nih anak," ucap Khanza  kembali menggelitik Aziel. Membuat Azril tertawa cekikikan.


"Jangan digelitik terus, nanti dia ngompol dan rewel loh saat mau tidur," tegur Abizar.


Khanza menghentikan kelakuannya, membiarkan Aziel menjelajahi kamarnya yang sudah layaknya kapal pecah. Kakek membeli banyak mainan untuk cucunya dan menampungnya di kamar itu.


"Kak, kok kakak nggak bilang sih kalau sering mengirimi uang ke kakek dan nenek?"  tanya Khanza mulai serius dan memegang ponsel.


"Emangnya kenapa kalau aku mengirimkan uang pada kakek dan nenek, haruskan aku melaporkannya? Mereka sekarang juga kakek dan nenekku, uang juga uangku," jawab Abizar, mencandai Khanza.


"Iya sih, tapi kan kakak seharusnya bilang dulu dong sama aku, mereka kakek dan nenekku asli, kakak hanya menantu," ucap Khanza tak terima.


"Iya, maaf. Lain kali kalau aku mau mengirim uang pada kakek dan nenek aku akan lapor dulu padamu, meminta tanda tanganmu sebelum mentransfernya, apa itu yang kau mau,?" canda Abizar menahan tawanya melihat raut wajah Khanza.


Khanza mengajukan jempolnya pada Abizar, menanggapi perkataan suaminya.


Mereka terus berbincang-bincang sambil menemani Aziel bermain.


💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖


Terima kasih sudah membaca 🙏


Semoga kalian suka🤗


Sehat selalu.❤️


💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖

__ADS_1


__ADS_2