
Pagi hari Farah menjemput Dev, Lucia dan Santi bandara. Besok adalah hari pernikahan Khanza dan Damar.
Dev sudah berjanji akan ikut menghadiri pesta pernikahan Khanza.
Lucia yang baru pertama kali datang ke negeri itu terus saja melihat pemandangan kota, Ia bertumpu pada tangan melihat ke keluar jendela.
"Bagaimana dengan Abizar?" tanya Dev saat mereka sedang dalam perjalanan menuju hotel yang telah disiapkan Farah untuk suami dan anak tirinya. Sementara Santi memilih untuk pergi ke rumah lama, ia akan menginap di sana.
Awalnya Warda meminta agar Dev dan Lucia menginap di rumahnya. Namun, Farah merasa tak enak Karena bagaimanapun ia pernah menjadi istri dari Abizar, membawa Dev ke kamarnya rasanya ia merasa tak enak, membuat ia memilih untuk menyewa hotel yang tak jauh dari rumah lama.
Mereka hanya singgah sebentar di hotel itu untuk menyimpan barang-barang mereka kemudian melanjutkan perjalanan menuju ke rumah lama.
Mereka disambut dengan hangat oleh Warda.. Santi yang sudah tak baru lagi di rumah itu langsung masuk. Warda kembali melanjutkan membantu bibi menyiapkan makanan di dapur untuk makan malam mereka.
"Masuklah, duduklah dulu! Aku siapkan minum," ucap Farah mempersilahkan Dev dan Lucia duduk di ruang tamu dan dia sendiri masuk untuk membuat minuman.
"Apa Dev sudah datang?" tanya Abizar yang baru turun dari lantai dua dengan Aisyah di gendongannya serta Aziel yang berjalan di belakangnya.
"Iya, Dev dan Lucia ada di ruang tamu, Aku ingin membuatkan minum untuk mereka," jawab Farah jalan menuju ke dapur.
Aziel yang mendengar Lucia sudah datang langsung berlari menghampiri teman barunya itu.
"Lucia kita main di kamarku, yuk!" ajak Aziel menarik tangan Lucia dan mereka pun berlari ke kamar Aziel.
Farah berhasil menjelaskan jika Lucia adalah adiknya sehingga Aziel juga menyayangi Lucia sama seperti Adiknya sendiri, ia memperlihatkan semua mainannya dan mengajaknya bermain.
Dev melihat Abizar menghampirinya langsung berdiri dan menyalami nya.
"Silahkan duduk." Abizar mempersilahkan Dev duduk.
"Apa ini putri cantik Anda?" tanyanya melihat Aisyah yang ada di gedongan Abizar.
"Iya, ini adiknya Aziel." Abizar mengelus rambut anaknya.
Farah datang menghampiri mereka dengan membawakan minuman untuk Abizar dan Dev dan juga.
Di mana Lucia dan Aziel?" tanya Farah yang tak melihat 2 bocil itu ada di sana.
"Aziel memanggilnya ke kamarnya, mungkin mereka sedang bermain bersama", ucap Abizar.
"Ya sudah, kalian mengobrol-ngobrol lah aku akan membawa minuman ini untuk mereka." Menunjukkan dua gelas jus buah dan juga Lucia di kamar .
Mereka berbincang hangat, Dev melihat betapa sayangnya Abizar pada putrinya yang masih balita. Dev teringat saat Ia mengurus sendiri Lusia saat kehilangan istrinya. Usia Lucia lebih besar dari Aisyah waktu itu. Namun, Ia tetap saja sangat kesulitan mengurus putrinya sendiri, belum lagi putrinya yang terus mencari Maminya .
Sama seperti Aisyah yang kini terus menangis memanggil mamanya.
"Sepertinya dia sangat merindukan mamanya?" ucap Dev.
"Sepertinya begitu, mungkin karena Sudah lama tak bertemu dengan mamanya makanya dia sedikit rewel," lanjut Abizar.
__ADS_1
Farah yang mendengar Aisyah terus menangis menghampirinya.
"Sini sama Bubu, Sayang," ucap Farah mengambil Aisyah.
Farah membawa Aisyah ikut bermain dengan Aziel dan juga Lucia, membuat anak itu sejenak melupakan mamanya. Mereka hanya tak mau mengganggu Khanza.
Abizar memutuskan untuk menjaga Aiysha sampai pernikahannya selesai.
"Memang sangat sulit mengasuh anak, aku juga pernah merasakannya saat mengasuh Lucia, walau sudah berusaha menjadi yang terbaik untuknya tetap saja ia terus mencari Maminya," ucap Dev.
"Anda benar. Mereka menyayangiku, tapi tetap saja mamanya yang paling mereka butuhkan."
Malam ini kediaman Abizar tak kalah ramainya dengan di kediaman Khanza dan juga Damar.
Jika di kediaman Khanza dan Damar disibukkan dengan persiapan pernikahan di rumah Abizar justru disibukkan dengan keributan anak-anak. Di mana Lucia dan Azriel terus saja berlarian saling mengejar sementara Aisyah terus saja tertawa melihat mereka.
"Farah sebaiknya kamu menginap disini saja,"ucap Warda kembali mengajak mereka menginap di rumah lama.
"Tapi, pakaian kami semua ada di sana, Mah. Kami akan pulang ke hotel dan kembali besok pagi," ucap Farah pamit untuk kembali ke hotel.
"Ya sudah, hati-hati di jalan. Ingat pagi-pagi kalian ke sini dulu sebelum ke acara pernikahan Khanza," ucap Warda.
"Iya, Mah. Farah mengerti."
Farah Dev dan Lucia kembali ke hotel sementara Santi tetap menginap di rumah lama, di kamarnya sendiri.
Abizar membawa anak-anaknya juga masuk ke kamarnya. Aisyah sudah tidur sementara Aziel juga sudah sangat mengantuk.
"Sabar .ya, Nak. Kamu pasti sangat merindukan mamamu." Abizar mengecup tangan kecil putrinya. Ia tahu jika Aisyah Pasti sangat merindukan Khanza. Abizar hanya ingin bersama dengan mereka dann menjaga agar tak mengganggu istirahat Khanza.
Namun, saat tengah malam Aisyah terbangun dan kembali menangis.
" Aisyah kangen mama ya, ayo kita cari mama di luar," ucap Abizar menggendong Aisyah keluar kamar iq tak ingin tangis Aisyah membangunkan Aziel.
"Aisyah Kenapa?" tanya Warda menghampiri mereka.
"Aisyah mencari mamanya. Bagaimana ini Mah?"
Warda memberikan susu, tapi tetap saja Aisyah menolak dan menangis.
"Telepon Khanza saja, lakukan panggil video, mungkin dengan Itu Aisyah akan lebih tenang," ucap Warda yang kasih melihat cucunya yang wajahnya sudah memerah karena menangis.
Khanza yang baru saja tertidur terbangun saat mendengar bunyi dari ponselnya.
"Siapa yang menelpon di tengah malam seperti ini, Khanza melihat Jam menunjukkan pukul 1 malam.
"Kak Abi?" ucapnya saat melihat nama yang tertera di layarnya, dengan cepat ia mengangkat telepon itu. Firasatnya sudah mengatakan jika ada masalah dengan anak-anaknya.
Benar saja, Khanza mengangkat panggilannya terdengar suara tangis Aisyah.
__ADS_1
"Ada apa, Kak? Aisyah Kenapa?" tanya Khanza yang panik mendengar suara tangis Aisyah.
"Aisyah dari tadi nyariin kamu, dia terbangun," jelas Abizar kemudian mengarahkan ponselnya ke arah Aisyah. Aisyah yang lihat dan mendengar suara mamanya langsung terdiam. Namun sesaat kemudian saat khanza menyapa Aisyah kembali menangis dan semakin kencang.
"Kak, bawa pulang aja! Sepertinya dia ingin bersamaku!" ucap Khanza merasa kasihan melihat putrinya.
"Aku kesana sekarang," ucap Abizar yang juga merasa kasihan pada putrinya.
"Mah, aku titip Aziel, dia masih tidur di kamar."
"Ziel biar Mama yang jaga, kamu bawa saja Aisyah, kasihan cucu nenek." Mengusap air mata cucunya.
Abizar sambil memeluk Aisyah melajukan mobilnya menuju ke kediaman Khanza.
Semua orang sudah tertidur, Khanza menunggu Abizar di teras rumah. Tak lama kemudian mobil Abizar memasuki pekarangan Khanza. Khanza langsung berlari menuju ke arahnya dan melihat Aisyah yang masih sesenggukan.
"Anak Mama kenapa? Kangen ya sama mama?" Mengambil Aisyah dari gendongan Abizar, Aisyah yang mendapat pelukan dari mamanya kembali menangis.
"Sudah dong sayang 'kan sudah ada Mama," Khanza memeluk putrinya dengan rasa sayang.
"Aku pulang dulu, Aziel nanti juga terbangun," pamit Abizar saat Aisyah sudah tenang.
Namun, saat Abizar akan pergi Aisyah kembali menangis dan ingin meraih Papanya.
"Kak, kita masuk aja dulu, teman kami sampai Aisyah sudah tidur, Sepertinya dia tidak mau Kakak pulang."
Akhirnya Abizar ikut Khanza. Ia akan pulang setelah Aisyah kembali tertidur.
Walaupun merasa canggung masuk ke kamar Khanza, Abizar tetap masuk.
Aisyah yang sudah tidur sebelumnya merasa tak mengantuk lagi, justru ia mengajak mama dan Papanya bermain mau tak mau mereka akhirnya menemani Aisyah bermain di tengah malam buta.
Beberapa kali Khanza menguap,
"Kamu tidur saja, besok hari pernikahanmu, biar aku yang menangani Aisyah sampai dia mengantuk."
Khansa yang memang sangat mengantuk akhirnya menuruti apa yang dikatakan Abizar, Ia pun mengambil bantal dan tertidur.
03.00 Aisyah baru tertidur, Abizar mengangkat Aisyah di samping Khanza kemudian menyelimuti mereka.
Abizar ingin menyentuh wajah Khanza. Namun, ia kalian menarik tangannya.
"Semoga kamu bahagia," ucapnya menatap kedua wanita kesayangannya yang berbeda usia, kemudian Ia pun keluar dan kembali ke kediamannya.
Bude yang menyaksikan semua itu tak bisa menahan harunya, ia hanya bisa mendoakan kebahagiaan untuk keduanya.
💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖
Terima kasih sudah membaca 🙏
__ADS_1
Salam dariku Author M Anha (Ig anha5569)
💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖