Berbagi Cinta : Mencintai Diriku Dan Dirinya

Berbagi Cinta : Mencintai Diriku Dan Dirinya
Mencoba Dari Awal


__ADS_3

Sepanjang perjalanan Ke Rumah lama, Khanza terus saja mencoba untuk terlihat baik-baik saja, ia tak boleh meninggalkan jejak-jejak airmata di wajahnya, ia tak boleh membuat siapapun curiga padanya.


"Semua akan baik-baik saja … semua akan baik-baik saja ... semua akan baik-baik saja," mantra yang selalu diucapkan Khanza hingga ia sampai di gerbang rumah lama.


Khanza sengaja menelepon Abizar untuk izin, agar dia mempunyai waktu lebih banyak lagi untuk mencari tempat tinggal baru tanpa Abizar curiga, karena malam ini dia masih menginap di rumah Farah.


Taksi memasuki gerbang, Khanza sebelumnya sudah menelepon Farah jika Ia ingin menjemput Aziel dan memintanya untuk menyiapkan Putranya.


Dari kejauhan Khanza bisa melihat Aziel dan Farah di teras sedang bermain dan terlihat jika Aziel sudah siap untuk ikut dengannya.


"Mama …," Aziel berlari menyambut Khanza, merentangkan kedua tangannya ingin digendong oleh mamanya.


"Mama kangen banget sama Ziel, bobo sama mama lagi ya, sayang,," ucap Khanza membawa putranya itu ke gendongannya dan berjalan menghampiri Farah.


"Kamu kok naik taksi?" tanya Farah.


"Iya Mbak, Pak Tarno lagi ada kerjaan," jawab Khanza berbohong.


Farah ingin membawa tas Aziel ke dalam taksi. Namun, dengan cepat Khanza mengambilnya.


Khanza tak ingin Farah melihat koper dan tas yang ada di jok belakang taksi.


"Biar aku aja Mbak yang bawa," ucap Khanza mengambil tas Aziel, di sana ada keperluan sehari-hari seperti bedak, minyak telon dan sebagainya. Tas itu selalu dibawa saat Ia ke rumah Khanza atau ke rumah Farah, adapun perlengkapan lainnya ada di rumah masing-masing.


"Oh ya, Mbak. Kami pergi dulu ya, Aku ingin ajak jalan-jalan Aziel dulu sebelum pulang," ucapkan Khanza.


"Ya udah, Mbak temani, Mbak juga nggak ada kerjaan di rumah," ucap Farah.


"Nggak usah Mbak, aku ingin menghabiskan waktu bersama Aziel," ucap Khanza. Mencari alasan. "Nggak apa-apa 'kan."


"Ya udah, selamat bersenang-senang," ucap Farah mengerti jika Khanza ingin manghabiskan waktu berdua dengan putranya.


Khanza baru bernafas lega saat taksi yang ditumpanginya sudah mulai bergerak menjauh dari rumah lama, Khanza melihat Farah dari kaca spion yang terus melambai tangan pada mereka, Aziel juga ikut melambai pada Bubunya.


Khanza mengecup rambut putranya,


"Maafkan mama, Ya! Mama sudah egois memisahkan kalian, memisahkan dari papa dan Bubumu."


"Semoga kamu bisa mengerti suatu saat nanti mengapa Mama memisahkanmu mereka," lirih khanza, air matanya menetes, air mata yang sejak tadi ditahannya kini dikeluarkannya, berharap rasa sakit dan sesak di hatinya bisa sedikit berkurang.


"Mama nangis?" tanya Aziel mengusap air mata mamanya, entah mengapa bukannya merasa lebih tenang saat tangan putranya itu mengusap air matanya, hati Khanza semakin sakit, hatinya semakin sakit dan merasa bersalah dengan apa yang sudah ia lakukan.


"Aziel sayang Mama kan?" tanya Khanza memegang kedua pipi anaknya di Kedua telapak tangannya.


"Iya, Ziel sayang mama."


"Maafin mama ya, saat Ziel besar nanti, mama pasti jelasin semuanya" ucap Khanza kembali mencium seluruh wajah anaknya.


Aziel mengangguk walau ia tak mengerti apa yang mamanya katakan.

__ADS_1


Khanza membawa putranya itu ke pelukannya, terus mengecup pucuk kepalanya.


"Ziel, maafin mama ya, Mama janji akan selalu ada buat kamu, akan selalu buat Ziel bahagia," ucap Khanza.


"Mama jangan nangis," ucap Aziel mendongak menatap mamanya yang terus saja berderai air mata.


Ziel yang merasa kasihan kepada Mamanya juga ikut berkaca-kaca


Nyaris menangis.


"Mama nggak nangis, kok!" ucap Khanza mencoba menghapus air matanya dan tersenyum menatap putranya.


"Mama nggak nangis 'kan," ucap Khanza mengecup lama pipi Aziel.


"Ziel sayang mama," ucap Aziel memeluk mamanya.


"Pak tolong ke jalan X," ucap Khanza memberi alamat pada sopir taksi.


Aziel tak bertanya lagi, ia hanya melihat ke mana taksi itu membawanya, ia merasa senang saat mengetahui mereka pergi ke rumah Aqila, sahabat mamanya, ia juga sangat dekat dengan Aqila.


Khanza turun saat mereka sudah sampai di kosan Aqila, dibantu oleh supir membawa koper besar dan 1 tas berukuran besar masuk kedalam masuk ke kos-kosan Aqila.


Walau sudah menikah dengan Abizar, Khanza masih tetap menyimpan kunci kos-kosan mereka.


"Mama Tante mana?" tanya Aziel yang tak melihat Aqila, dia mencari ke semua ruangan, tapi Aqila tak kunjung ketemu.


Beberapa saat kemudian Aqila datang, ia melihat Khanza dan Aziel sudah tidur di kamarnya, ia memilih untuk membuat makanan untuk mereka.


Begitu Khanza bangun ia langsung menghampiri Aqila yang sedang sibuk di dapur, sementara Aziel masih juga tertidur.


Khanza duduk sambil menopang dagunya dengan kedua tangannya.


"Kamu sudah bangun, Sebenarnya apa yang terjadi?" tanya Aqila yang melihat barang-barang sahabatnya itu..


Khanza tak menjawab, ia hanya memijat kepalanya yang terasa pusing. Terlalu banyak menangis membuat kepalanya sedikit berdenyut.


"Kamu yakin akan pergi dari Abizar? kamu sudah memantapkan hatimu?" tanya Aqila meletakkan makanan di depan Khanza.


"Aku yakin, saat ini aku tak ingin melihat wajah kak Abi lagi, Aku ingin pergi sejauh mungkin, Aku tak ingin lagi hidup dalam keluarga seperti ini, keluarga yang tak pernah menghargai ku, tak pernah menganggapku ada," ucap Khanza, kembali menangis.


"Kenapa sih aku harus menangis untuk mereka, mereka saja tak pernah merasa bersedih saat melakukan ini semua padaku," ucap Khanza menghapus air matanya dengan kasar.


Aqila menggenggam erat tangan sahabatnya menguatkannya. Ia bisa melihat jika sahabatnya itu sedang tertekan.


"Aku tak menyangka Pak Abizar bisa melakukan semua itu padamu, aku pikir semua sudah baik-baik saja," ucap Aqila.


"Selama ini aku berpikir aku sudah melewati masa sulit ku, aku sudah berusaha untuk menerima takdirku, ternyata semua itu belum berakhir aku harus melewati beberapa ujian lagi, tapi aku sudah tak sanggup ini terlalu berat buat ku, hikz … hikz." Sekuat apapun ia menahan tetap saja ia tak bisa, hatinya terlalu sakit.


Aqila membawa sahabat itu ke pelukannya, mengusap punggungnya.

__ADS_1


"Sekarang, Apa rencanamu?"


"Aku mau mencari Apartemen yang agak jauh dari sini, aku tak mau untuk saat ini bertemu dengan Kak Abi. Aku ingin pergi sejauh mungkin."


"Apartemen?" tanya Aqila memastikan. Menatap mata Khanza.


"Iya, Apartemen. aku takut kalau kos-kosan gini Zial enggak akan nyaman."


"Yakin Apartemen?" tanya Aqila lagi, ia masih ingin sewaktu khanza ingin kabur dulu, ia tak membawa uang sepeserpun dan hanya membawa kartu- kartunya.


"Iya, Aku punya uang, kok," jawab Khanza yang baru mengerti maksud Aqila.


"Tapi kalau kamu menggunakan kartumu pak Abizar pasti bisa melacak keberadaan mu." Jalas Aqila.


"Tadi aku sudah mengambil uang yang banyak di brankas kak Abi, aku nyuri nggak, ya?" tanya Khanza menatap Aqila penuh tanya.


"Uang suami 'kan uang istri juga, jadi kayaknya nggak deh! Emangnya kamu ambil berapa banyak?" tanya Aqila berpindah tempat duduk.


Khanza langsung menarik Aqila dan memperlihatkan tas yang dibawanya, bukan berisi pakaian, tas itu berisi uang.


"Kamu gila ya, Kamu merampok suami kamu," ucap Aqila yang terkejut melihat semua isi tas itu adalah uang.


"Aku tadi hanya kesal, makanya aku ambil aja sebanyak-banyaknya. Aku yakin, kak Abi Pasti nggak akan marah, uang suami, uang istri kan."


"Ya sudah, sebaiknya kita cepat sebelum mereka menyadari kepergianmu," ucap Aqila.


Mereka pun pergi untuk pergi mencari apartemen, mereka sengaja mencari tempat yang lumayan jauh dan tak terlalu ramai dan pastinya tak mudah ditemukan oleh Abizar.


Kebetulan mereka memiliki teman agen properti, sehingga tak terlalu sulit mencari apa yang mereka cari sesuai yang mereka inginkan.


"Aku rasa ini sudah yang paling cocok," ucap Khanza saat memeriksa sebuah apartemen walau ukurannya Tidak besar. Namun, apartemen itu cukup nyaman untuk mereka berdua, perabotannya juga sudah lengkap.


"Kamu yakin mau tinggal berdua saja? kamu nggak apa-apa?" tanya Aqila khawatir.


"Nggak apa-apa kok, aku pasti bisa nyaman disini, kami pasti bisa cepat berbaur dengan yang lainnya." Mereka berpelukan sebelum berpisah. "Oh ya, kamu jangan sering-sering ya mengunjungi aku atau menelponku, aku takut Kak Abi melacak keberadaan ku. untuk saat ini aku benar-benar tak ingin bertemu dengannya."


"Aku ngerti, Aku pulang dulu, kamu baik-baik ya di sini, jika ada apa-apa langsung hubungi aku."


Tak lupa Khanza juga mengganti nomor ponselnya, Aqila menyimpan nomor ponsel Khanza dengan nama pria agar tak diketahui.


💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖


Terima kasih sudah membaca 🙏


jangan lupa like vote dan komennya 🙏


Salam dariku Author M Anha ❤️


💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖

__ADS_1


__ADS_2