Berbagi Cinta : Mencintai Diriku Dan Dirinya

Berbagi Cinta : Mencintai Diriku Dan Dirinya
Sahabat rasa Saudara


__ADS_3

Damar terus melajukan mobilnya, ia juga merasa kasihan mendengar Isak tertahan dari Khanza. Namun, ia harus mencoba untuk menguatkan sahabatnya itu begitu juga dengan Aqila. Mereka hanya berbalik dan mengangguk sambil tersenyum mencoba menguatkannya.


Khanza kembali mengingat Abizar, penampilannya sungguh jauh berbeda dari terakhir ia melihatnya. Sangat berantakan. itulah kata yang pantas Khanza gambarkan saat melihat Abizar.


"Damar, Apa masih jauh?" tanya Aqila.


"Itu di depan, kita sudah sampai," tunjuk Damar pada sebuah gerbang besar yang hanya beberapa meter lagi di depan mereka.


Damar sudah memberitahu sebelumnya kepada orang rumahnya jika mereka sedang dalam perjalanan.


Begitu mobil Damar sampai di depan pintu, satpam sudah membukakan pintu untuknya mereka.


"Ini rumah atau istana," batin Aqila. Tadinya dia berpikir rumah Damar tak semewah ini, hanya rumah sederhana mengingat Damar hanyalah seorang dokter anak yang bekerja di rumah sakit yang ada di pinggiran kota. Namun, ternyata dugaannya salah.


Aqila melihat Damar kemudian melihat rumah yang begitu megah di depannya.


"Ini rumah kamu?" tanya ingin memastikan.


"Bukan," jawab Damar membuka sabuk pengamannya.


"Oh ... kirain ini rumah kamu," ucap Aqilah juga membuka sabuk pengaman miliknya.


"Bukan, ini rumah ayah dan ibu Aku," jawabnya.


Aqila memutar bola matanya malas, maksud dari pertanyaan Aqila tadi memang seperti itu. Apakah ini rumah yang akan mereka tinggali, rumah orangtuanya, berarti rumah Damar juga.


Aqila turun begitu juga dengan Damar.


"Khanza bangun, kita sudah sampai," ucap Aqila mengelus lengan Khanza.


Khanza mengerjapkan matanya dan melihat di mana mereka sekarang.


"Kita sudah sampai ya?" tanyanya yang masih mengingat rumah Damar, dia pernah ke sana sewaktu ia masih kecil.


Khanza langsung bangunkan kakek dan neneknya.


"Kamu gendong Aziel ya, kaki aku keran," ucapnya pada Aqila


Aqila dengan senang hati mencium Aziel dan menggendongnya.


Mereka turun dari mobil disambut oleh ayah dan ibu Damar.


"Khanza, kamu apa kabar, Nak," ucap ibu Damar menyambut Khanza memeluk anak sahabatnya itu.


"Kamu sudah besar sekarang, tante sangat merindukanmu," ucap Dokter Dewi, ibu Damar.

__ADS_1


"Maaf ya Tante kami jadi merepotkan Tante," ucap Khanza merasa tak enak.


"Jangan pernah mengucapkan kata-kata itu, tante nggak suka. Tante sudah menganggap kamu sebagai anak Tante sendiri, jadi kamu juga harus menganggap Tante Ini ibumu," ucap Dewi mengusap wajah Khanza yang terlihat sembab.


Dewi juga menghampiri kakek dan nenek Khanza. Ia langsung menghampiri dan mencium punggung tangan kedua orang tua sahabatnya itu.


"Lama tak melihatmu. Bagaimana kabarmu?" tanya Nenek melihat Dewi dia jadi teringat ibu Khanza.


"Baik ,Nek! Aku sangat senang saat Damar mengatakan jika kalian semua ingin tinggal di sini, pintu rumah kami selalu terbuka untuk kalian," ucap Ibu Damar.


"Sampai kapan kau menyuruh tamu kita untuk berdiri di luar," sahut Ayah Damar. Ayah menyuruh Damar mengantar Khanza dan Aqila ke kamar mereka.


Nenek dan kakek di antar oleh Dewi ke kamar mereka. istirahat ya, Nek. Kalian pasti butuh istirahat, ini sudah larut malam, besok semua pasti akan baik-baik saja," ucap Ibu Damar mempersilahkan mereka untuk tidur, di usia mereka masih Hari sudah larut malam mereka akan berbincang-bincang Besok pagi saja.


Aqila memilih tidur dengan Khanza dan juga Aziel. Aziel tidur di tengah diapit oleh mama dan juga Aqila.


"Kamu kenapa?" tanya Aqila melihat Khanza terus menatap langit-langit kamar.


Aku kasihan melihat kak Abi, tadi dia begitu terlihat frustasi dan tersiksa, apa aku sudah sangat menyiksanya dengan pergi dari kehidupannya," ucap Khanza.


"Kau benar, aku tadi sempat hampir saja tak mengenalinya. dia pasti tak mengurus dirinya demi mencarimu," ucap Aqila yang ikut menatap langit-langit kamar mereka.


Khanza melihat ke arah aqila,


"Sekarang apa yang akan kita lakukan?"


"Kita jalani saja dulu, percayakan semua pada takdir. Aku yakin kita pasti akan baik-baik saja dan menemukan jalan keluarnya. Sekarang lebih baik kau Jangan berpikir macam-macam fokus aja untuk melupakan suamimu itu, aku masih sangat kesal dengannya," ucap Aqila melipat tangannya didada. Aqila masih sangat kesal dengan suami sahabatnya itu.


"Kamu benar, aku harus fokus melupakannya. aku tak boleh goyah. Aku sudah melangkah sejauh ini, tapi kenapa Aku Masih mencintainya," lirih khanza.


"Bayangkan saja hal-hal yang sangat kau benci dari dia aku yakin secara perlahan-lahan Kau pasti akan membencinya dan melupakannya."


"Aku malah tidak ingin membayangkan apa-apa tentang kak Abi, semakin aku membayangkannya hatiku semakin sakit dan sangat merindukannya. Entah mengapa beberapa hari ini aku sangat ingin memeluk kak Abi," ucap Khanza yang bahkan ingin menangis.


"Itu karena kamu lagi hamil," batin Aqila.


"Sudahlah Sebaiknya kamu tidur, nanti kepala kamu tambah pusing lagi, jangan sampai Aziel terbangun sebelum kamu tidur," ucap Aqila dan mereka pun bersiap untuk tidur.


Pagi hari saat mereka keluar Aqila kembali tercengang dengan kemewahan rumah Damar, rumah orang tua Damar. Semalam itu tidak terlalu memperhatikan. Namun, ternyata rumahnya begitu megah benar-benar megah.


"Khanza, Damar itu hanya seorang dokter, keluarganya juga seorang dokter, tapi kenapa rumahnya semegah ini?"


"Iya mereka semua keluarga dokter, tapi mereka tidak bekerja di rumah sakit saja, tapi mereka pemilik rumah sakitnya dan bukan hanya disini, rumah sakit mereka yang lainnya sampai ke luar negeri," jelaskan.


"Benarkah, Ah?" tanya Aqila.

__ADS_1


Khanza menatap curiga kepada sahabatnya terlihat sangat kegirangan


"Jangan bilang kamu juga ingin merayu Damar." Ucap Khanza.


"Apa tidak boleh kalau aku berharap pada Damar."


"kamu ini ya, baru saja kamu menangis-nangis karena ditolak oleh Daniel, kemudian sekarang kamu sudah mengincar yang lainnya,"ucap Khanza.


"Emang harus seperti itu, kita tidak boleh mencintai seorang laki-laki dengan Sangat, sangat, sangat, mencintai mereka, coba lihat apa yang kau rasakan, bukannya cintamu membawamu pada kebahagiaan, tapi justru membawa kesedihan dan kepahitan. Aku tak mau mencintai seseorang sampai membuatku tersakiti seperti itu."


"Kamu meledek Aku," kesal Khanza menghentikan langkahnya.


"Aku nggak ngeledek, tapi kalau kamu merasa berarti kamu memang termasuk," ucap Aqila berjalan dengan cepat menuruni tangga dengan sedikit berlari, meninggalkan Khanza yang ingin berteriak. Namun, ditahannya. Ingin mengejarnya ia sedang menggendong Azril l. A khirnya Khanza hanya menghentakkan kakinya meluapkan rasa kesalnya.


Di luar negeri


"Bagaimana ?" tanya seseorang.


"Sepertinya dia sudah benar-benar memutuskan untuk berpisah dengan suaminya," jawab seorang yang Sepertinya dia adalah asisten dari orang yang duduk membelakanginya sambil memainkan pena di tangannya, memutar-mutar nya di sela-sela jarinya.


Orang tersebut memutar kursinya menghadap ke meja meletakkan pulpen yang tadi dimainkannya dengan sedikit kasar.


Membuat beberapa orang yang sejak dari tadi berdiri diam sedikit tersentak dibuatnya.


Jika dia benar-benar memutuskan untuk berpisah dari suaminya kita harus membantunya mewujudkan keinginannya.


"Bagaimana dengan beberapa rekan kerja dari istri pertama suami nya?" tanya asisten tersebut yang masih setia berdiri menunggu perintah.


"Minta saja mereka kembali bekerja sama dengannya, dengan bisnis istri pertama dari suami Khanza. kita hanya memisahkan suami dan istri pertamanya saat itu saat Khanza memutuskan untuk bertahan di samping suaminya. Namun, sekarang dia memilih untuk berpisah, itu lebih baik tak usah mengguncang perusahaan istri pertama suami Khanza lagi," Ucap orang tersebut memberi perintah.


"Baik Pak," jawab beberapa orang yang berdiri tegak menunggu perintah darinya bosnya.


"Dimana Khanza sekarang? bukankah kau bilang dia bersama dengan dokter itu?" tanyanya lagi.


"Iya Pak, semalam kami dengar mereka sudah pindah ke rumah dokter itu dan saya jamin mereka akan aman di sana."


"Jangan sampai kecolongan terus awasi dia jangan biarkan suaminya menemukannya," Ucap orang tersebut.


💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖


Terima kasih sudah membaca 🙏


Jangan lupa like, vote dan komennya 🙏


Salam dariku Author M Anha ❤️

__ADS_1


💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖


__ADS_2