
Dua tahun kemudian
Semua sudah kembali normal Abizar sudah menerima kenyataan jika Khanza bukan miliknya lagi, dia berusaha merelakan wanita yang dicintainya jika memang ia bisa lebih bahagia dengan orang lain dibanding dirinya. Abizar merasa tak pantas menjadi pendamping Khanza karena hanya bisa memberinya duka dan rasa sakit.
Begitu pun dengan Khanza, berkat dukungan orang disekitarnya ia sudah mulai bisa menjalani hari-harinya dengan gembira bersama dengan orang-orang yang disayanginya.
Walau mereka sudah bercerai. Namun, hubungan mereka tetap harmonis. Meski bukan lagi sebagai suami dan istri, tapi mereka layaknya seorang adik dan kakak.
Tanpa sepengetahuan Khanza Abizar selalu menjaganya. Saat Khanza pulang tengah malam dia akan terus mengikuti mobil Khanza sampaikan ibu dari anak-anaknya itu benar-benar sampai di rumahnya. Ia bahkan meminta sopir dan satpam untuk menelponnya jika Khanza ingin keluar agar ia bisa menjaganya walaupun dari kejauhan.
Mereka semakin dekat dengan adanya anak-anak yang mempersatukan mereka.
Kini anak sudah semakin besar, Aziel sudah mulai masuk ke taman kanak-kanak, tak jarang mereka berdua mengantar dan menjemputnya bersama-sama sesuai dengan permintaan putra mereka.
Aziel selalu mengeluh Saat melihat teman-temannya diantar dan dijemput kedua orang tuanya.
Aqila dan Daniel pun meningkatkan hubungan mereka menjadi sepasang kekasih, semakin mereka saling mengenal mereka semakin menemukan kecocokan di antara keduanya.
Daniel dan Aqila sangat berterima kasih kepada Khanza saat mereka baru menyadari jika Khanza ada di balik bersatunya hubungan mereka.
Karena dukungan dari Abizar akhirnya Damar memberanikan diri untuk mengatakan perasaannya kepada Khanza.
Khanza yang sudah merasa nyaman dengan Damar akhirnya menerimanya dan mereka pun menjalin hubungan.
Malam ini Khanza ingin keluar bersama dengan Damar. Mereka sudah janjian, tapi tiba-tiba Damar tak bisa menjemputnya karena ada pasien yang harus diurusnya, Damar akan sedikit terlambat dari janji mereka.
"Aqila, Aku titip anak-anak ya? Aku ingin pergi?" Khanza berpamitan pada Anak-anak sebelum pergi.
"Iya, kamu santai aja, mereka biar aku yang jaga."
"Kamu mau kemana?" tanya nenek yang melihat cucunya itu sudah berdandan dengan sangat cantik.
"Aku ingin menemani Damar ke acara pesta pernikahan temannya, Nek," jawabnya menyalami kakek dan neneknya.
"Lalu mana Damar?" tanya Kakek yang tak melihat Damar. Biasanya Damar selalu menjemput cucunya jika mereka ingin keluar dan meminta izin padanya.
__ADS_1
"Damar sedang ada pasien, Kek. Damar meminta Khanza untuk menunggunya di tempat pesta! Kliniknya tidak jauh dari tempat acaranya. Nanti kita ketemunya di tempat pesta." jelas Khanza.
"Kamu hati-hati dijalan, jangan bawa mobil sendiri suruh sopir yang yang mengantarmu!"
"Iya, Kek. Khanza memang ingin meminta sopir pengantar nanti pulangnya ikut bareng sama Damar."
Khanza sudah memiliki banyak kesibukan baik di kantor maupun menjemput Aziel ke sekolah, ia memutuskan untuk belajar membawa mobil. Khanza merasa lebih nyaman saat mengendarai mobilnya sendiri sementara sopir mengantar Aqila. Aqila lebih banyak bekerja di luar kantor. Ia harus kesana kemarin menemui Rekan bisnis mereka baik di dalam mau pun di luar kota.
Mereka membagi tugas, Khanza menyerahkan semua pekerjaan menyangkut hal yang dikerjakan di luar kantor, mengingat Aisyah tak mau lepas darinya.
Begitu melihat Khanza keluar Satpam langsung menjalankan tugasnya ia menelpon Abizar.
"Khanza keluar sama siapa?" tanya Abizar.
"Ibu Khazan keluar diantar sopir, Pak. Sepertinya dia ingin pergi ke sebuah pesta, Ibu Khanza menggunakan gaun," ucapnya lagi melaporkan apa yang dilihatnya.
"Ya sudah, minta sopir untuk mengaktifkan GPRS nya! Aku akan menyusul!" ucapnya.
Satpam dengan cepat membuka gerbang dan saat mobil melewatinya ia memberi kode pada satpam dengan menunjuk ponselnya.
Supir memberikan jempolnya. Ini bukan pertama kalinya aksi itu mereka lakukan.
"Bu, Aku keluar dulu ya?" Abizar pamitan pada Warda yang sedang menata meja makan.
"Kamu nggak makan dulu baru keluar?" tanyaWarda yang melihat Abizar terburu-buru.
"Nanti aja ya, Bu. Aku ada usah sebentar, lalu berlalu mengikuti mobil Khanza.
Abizar mengendarai mobilnya dan mengikuti Petunjuk yang mengarah pada Mobil Khanza,
"Khanza mau kemana? Jaraknya lumayan jauh," ucap Abizar saat sudah melihat mobil Khanza di depannya.
Abizar ikut memarkirkan mobilnya saat mobil Khanza sudah terparkir di depan sebuah gedung. Terlihat jelas jika di gedung itu sedang ada acara pernikahan, terlihat dari beberapa tamu yang mulai berdatangan.
Abizar hanya bisa memandangi mantan istrinya yang terlihat begitu cantik malam ini. Menggunakan gaun yang sangat pas di badan nya, dengan make-up tipis yang sangat natural. Semakin cantik saat terlihat senyum di bibir ketika membalas sapaan dari tamu lain yang menyapanya.
__ADS_1
Abizar tak bisa melepas pandangannya dari menatap mantan istrinya itu.
"Apa dia menunggu seseorang?" Abizar bisa melihat Khanza sepertinya sedang menunggu seseorang.
Benar saja setelah beberapa saat Damar datang dan langsung menghampiri Khanza dan mereka pun berjalan masuk bersama ke dalam pesta tersebut sambil bergandengan tangan. Abizar merasa senang saat melihat mereka bahagia.
Mungkin Khanza memang bukanlah Takdir.
Saat melihatkan Khanza bersama dengan Damar Abizar pun kembali. Melihat orang yang dicintainya sudah ada yang melindungi membuat ia bisa lebih tenang.
Khanza pernah hampir dilecehkan oleh beberapa preman saat ia pulang dari kantor saat larut malam. Untung saja Abizar lewat dan melihat mobil Khanza sehingga ia bisa menyelamatkannya.
Sejak kejadian itu Abizar selalu mengawasi dan menjaganya. Ia akan melakukannya sampai ada yang benar-benar melindunginya.
Selain wanita yang dicintainya Khanza adalah ibu dari anak-anaknya, iya tak akan membiarkan hal-hal yang buruk menimpanya.
Sebisanya ia akan melindungi mereka semua, mungkin sampai Khanza yang bisa menemukan pendampingnya kembali.
Walau banyak yang menyayangi anak-anaknya, tetap saja Khanza orang yang paling dibutuhkan anak-anak mereka.
Abizar kembali dan melihat ibunya masih berada di meja makan.
Ia menghampiri ibunya dan ikut duduk. Terlihat jelas raut wajah kesedihan disana.
"Kamu dari mana?" tanya ibu memberikan piring dan yang sudah diisi makan kesukaan Abizar.
"Cari angin aja, Bu," jawab Abizar berdiri dari duduknya dan menghampiri wastafel, ia mencuci wajahnya mencoba menghilangkan jejak air matanya.
"Makanlah! semuanya akan baik-baik saja. Jika Khanza mampu melalui ini semua, Ibu yakin kamu juga akan bisa, kamu juga pasti bisa melaluinya semuanya dan kembali di awak," ucap Warda yang tau jika Abizar akan sangat bahagia, Warda menyembunyikan air matanya melihat Anaknya itu.
Sudah bertahun-tahun semenjak perceraiannya, tapi ia belum pernah sekalipun kembali tertawa bahagia.
💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖
Terima kasih sudah membaca 🙏
__ADS_1
salam dariku Author M Anha.
💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖