Berbagi Cinta : Mencintai Diriku Dan Dirinya

Berbagi Cinta : Mencintai Diriku Dan Dirinya
Kepanikan dan ketakutan (part 3)


__ADS_3

Abizar Sudah sangat panik, rasa takut kehilangan mulai merasuk ke dadanya.


Abizar berlari keluar dan langsung mengambil mobil Fahri yang masih terparkir di depan perusahaannya, kuncinya juga masih menempel di sana dengan pintu yang masih terbuka.


Fahri dengan cepat ikut menyusul masuk ke dalam mobil, belum juga dia memakai sabuk pengaman nya Abizar sudah menancap gas mobilnya.


Fahri tanpa perintah memperlihatkan lokasi mereka yang telah dikirim oleh Farah.


Abizar hanya melihat sepintas dan semakin menambah kecepatan mobilnya, melihat lokasi nya yang lumayan jauh dari posisi mereka sekarang.


Dengan mengikuti petunjuk dari ponsel Fahri, Abizar memacu mobilnya dengan kecepatan tinggi. Ia mengendarainya dengan sangat laju bahkan beberapa mobil disalib nya dengan cepat, bunyi klakson bersahut-sahutan saat Abizar hampir saja menabrak mobil mereka. Beberapa mobil berhenti saat Abizar menyalipnya dengan tiba-tiba. Teriakan dilontarkan padanya. Namun, semua itu tak dihiraukannya yang ada dalam pikirannya saat ini hanyalah menyelamatkan Khanza.


Bukan hanya menyalip mobil Abizar juga melanggar lampu lalu lintas, saat ini yang ada di pikirannya benar-benar hanyalah ia harus sampai secepat mungkin ke tempat mereka. Jantungnya berdebar kencang berpacu dengan lajunya mobil, bayangan wajah Khanza yang kesakitan terus terlintas di benaknya.


Fahri yang duduk di sampingnya mencoba mencari pegangan, bahkan kakinya bergetar. Ia belum pernah berada di situasi seperti saat ini, seperti berada di roller coaster ingin berteriak tapi takut saat melihat ekspresi kekhawatiran bosnya.


Fahri hanya bisa pasrah menutup mata dan mengencangkan pegangannya.


*****


"Khanza kamu baik-baik saja 'kan?" tanya Farah yang merasakan pegangan Khanza melemah.


"Khanza bangun, ayo lihat Mbak," ucap Farah memegang kedua pipi Khanza mencoba untuk membuatnya tersadar.


"Ini rasanya sangat sakit, Aku benar-benar sudah tak tahan. Dimana kak Abi, Mbak," ucap Khanza lemah kembali terisak pelan, isakannya terdengar sangat memilukan dan lemah.


"Sabar ya, mas Abi sedang dalam perjalanan dia pasti menolong kita. Kamu harus kuat demi bayimu," ucap Farah yang sudah tak bisa membendung air matanya.


Khanza merasakan sesuatu yang mendorong di bagian perutnya.


"Sepertinya bayinya akan lahir, Mbak," ucap Khanza yang mengingat semua petunjuk dari Dokter, tanda-tanda akan keluarnya bayi dan sebagainya.


"Apa ... bayinya akan keluar?" panik Farah.


"Iya Mbak, sepertinya bayiku akan keluar. Bagaimana ini, Mbak," ucap Khanza panik yang merasa sesuatu terus menerobos ingin keluar.


Fara mencoba memperbaiki posisi berbaring Khanza dan benar saja ada cairan yang keluar.


"Cairan apa ini? Apakah ini air ketuban?" tanya Farah melihat cairan yang keluar dari pakaian Khanza.


Mendengar itu membuat Khanza semakin khawatir, yang ia ketahui jika air ketuban sudah pecah itu berarti bayinya sudah siap harus dikeluarkan.


"Aku takut, Mbak," ucap Khanza semakin menangis tubuhnya bergetar dan  terus mengusap perutnya menggenggam erat yang bisa digenggamnya mencoba menyalurkan rasa sakitnya agak sedikit berkurang.


Farah memberanikan  diri untuk melihat jalan keluar dan ternyata ia bisa melihat kepala bayinya.


"Baiklah Khanza kita pasti bisa," ucapnya mencoba mencari tahu dari ponselnya apa yang harus dilakukan jika dalam situasi seperti yang mereka alami saat ini.


"Oke," ucap Farah mengambil beberapa perlengkapan dari dalam tasnya.


"Mbak, ngapain?" tanya Khanza.


"Mbak akan coba membantu persalinan mu, sambil menunggu mas Abi."

__ADS_1


"Apa ... mbak pernah melakukannya Sebelumnya?"


Farah menggeleng, Sebenarnya Farah juga ragu melakukannya, tapi jika tak melakukannya takut terjadi sesuatu pada mereka berdua.


"Apa kau bisa menahannya?" tanya Farah.


"Ga tau Mbak, seperti bayinya akan keluar."


Tanpa disadarinya Khanza mengejan dan  dengan sendirinya bayinya keluar, beruntung Farah sudah bersiap dengan kain sarung yang dipegangnya.


Suara tangisan bayi memecah ketegangan mereka, dengan sigap Farah mengambil bayi itu.


Mereka berdua menangis dan tertawa melihat bayi mungil itu menagis dengan sangat nyaring.


Farah yang tak siap dengan situasi itu ikut terkena darah Khanza.


Begitu bayi dan plasenta nya keluar darah mengalir dengan lancar. 


Farah sangat terkejut. 


Tawa bahagia mereka berubah menjadi ketegangan.


"Khanza," panggilan Farah yang melihat wajah Khanza Kembali pucat.


"Mbak kepalaku pusing," ucap Khanza masih memegang tangan bayinya dengan erat.


"Khanza tetap tersadar, mas Abi sudah datangnya," ucap Farah saat melihat ada mobil yang melaju kencang ke arah mereka. Farah yakin jika itu adalah Abizar.


Farah masih memegang bayi itu, mendekapnya, menenangkan agar tak menagis lagi, usahanya berhasil. Bayi itu tenang.


"Khansa bangun, mas Abi sudah datang," panik Farah terus menggoyang-goyangkan lengan Khanza. Namun Khanza sudah tak merespon lagi.


Farah melihat Abizar berlari ke arah  mereka.


"Khanza," ucap Abizar menghampiri mereka dan membuka pintu mobil.


Sejenak Abizar terkesima melihat sosok bayi yang berada di gendongan Farah.


"Masya Allah bayiku," batinnya.


"Mas, cepat tolong Khanza," ucap Farah menyadarkan Abizar dari keterkesimaanya menatap putranya.


"Khanza," ucap Abizar melihat Khanza yang sudah tak sadarkan diri.


Farah dibantu oleh Fahri keluar dari mobil dan berpindah ke mobilnya, Abizar membawakan Khanza, memindahkannya ke mobil Fahri.


Abizar kembali melajukan mobilnya menuju ke rumah sakit.


Abizar melihat tangan yang berlumuran darah Khanza, ia benar-benar sakit melihat wanita yang sudah melahirkan anaknya kini terkulai lemah dengan wajah yang sangat pucat tak sadarkan diri.


Tanpa Abizar sadari setetes air mata jatuh dari pelupuk matanya. Membiarkannya begitu saja.


"Khanza bangun," ucapnya melihat Khanza yang berbaring di jok belakang lewat kaca spionnya.

__ADS_1


Farah hanya bisa menangis sambil terus mendekat bayi kecil itu, bayi mungil itu seperti mengerti situasinya, ia tetap tenang, tak ingin menambah ketegangan di dalam mobil.


Mobil sampai ke rumah sakit, Fahri sebelumnya sudah menghubungi pihak rumah sakit mengatakan situasi mereka alami, sehingga beberapa Dokter sudah menunggu mereka di luar rumah sakit.


Khanza langsung dibawa ke ruang operasi.


Fahri membantu Farah sedang Abizar sudah mengikuti kemana dokter membawa Khanza.


Beberapa perawat membantu dan langsung mengambil tindakan pada bayi yang ada di gendongan Farah.


"Bayinya sehat," acap dokter.


*****


"Mas," bagaimana Khanza?" tanya Farah menghampiri Abizar di depan ruang operasi Khanza. setelah memastikan putra mereka di tangan yang tepat.


Abizar tak menjawab, ia hanya duduk sambil memijat kepalanya, tak memperdulikan darah Khanza di tangannya.


"Lagian Mas kemana saja, aku dan Khanza terus menghubungi Mas, Mas sudah  tahu 'kan  kalau Khanza akan melahirkan, seharusnya Mas harus tetap siaga. Jika tak bisa tetap di rumah menemaninya, setidaknya jangan abaikan ponselmu," kesal Farah. Farah khawatir pada Khanza tapi dia juga marah pada suaminya itu.


Abizar tak menjawab, hanya terus menyesali apa yang terjadi. Apa yang di katakan Farah memang benar , ia seharusnya menjadi suami siaga, selalu ada di ada di saat situasi apa pun. Hanya karena pekerjaannya ia mengesampingkan kesehatan istri dan anaknya.


Mereka menunggu dengan gelisah di luar ruang operasi, sementara bayi yang sudah dilahirkan Khanza sudah dirawat di ruang bayi dan ditangani oleh perawat yang ada di sana.


Fahri menghampiri mereka membawa paper bag dan memberikannya kepada Farah.


"Sebaiknya Ibu ganti pakaian dulu," ucap Fahri melihat pakaian Farah yang berlumuran darah. Memang bukan dia yang melahirkan. Namun, bajunya juga penuh dengan noda merah.


Menyadari kondisinya , Farah mengambil apa yang di beri Fahri.


"Terima kasih, ya," ucapnya


"Aku ganti baju dulu ya, Mas?" tanya Farah yang mendapat anggukan dari Abizar.


"Sebaiknya Bapak juga mencuci tangan terlebih dahulu," ucap Fahri.


Abizar tak menjawab, ia hanya melihat tangannya, tanpa beranjak dari duduknya.l


"Khanza jangan pernah meninggalkanku, kamu wanita yang kuat, Kamu pasti bisa melewati semua ini," batin Abizar melihat ruang operasi yang masih tertutup.


💕💕💕💕💕💕💕💕💕💕


Hai Kak, gimana menurut kalian di part ini??


SEMOGA KALIAN SUKA🙏


Komen ya kak, aku ingin tahu bagian mana tanggapan kalian. Tentang alurnya, ya.???,🙏🙏🙏🤗


💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖


Terima kasih sudah membaca 🙏


LIKE, vote, dan hadiah jangan lupa 🤗🥰

__ADS_1


💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖


__ADS_2