
"Hei! Kalau jalan hati-hati, ini bahaya! Di parkiran jangan berlari-lari jika tak ingin celaka!" bentak si pemilik mobil tersebut yang hampir saja menabrak Lucia, untung ia masih waspada dan masih bisa mengrem mobilnya saat Lucia tiba-tiba muncul di depannya.
"Maaf, maaf, Pak," ucap Lucia menunduk meminta maaf kepada orang tersebut, kemudian ia pun langsung kembali berlari membuat orang itu hanya menggeleng dan mengelus dadanya.
" Dasar anak nakal," kesalnya masih terkejut dengan apa yang baru saja terjadi, jika dia tak menginjak remnya tepat waktu entah apa yang akan terjadi padanya dan juga pada Lucia. Lucia akan celaka dan dia mungkin saja akan mendapat hukuman akan hal itu, ia menggeleng kemudian kembali melajukan mobilnya.
Lucia yang lelah berlari di trotoar jalan kemudian menghentikan sebuah taksi.
Setelah naik Lucia pun memberikan alamatnya, alamat dari rumah Azriel pada sopir taksi tersebut, membuat sopir taksi itu hanya mengangguk dan melajukan mobilnya meninggalkan area rumah sakit.
Lucia terus menangis di dalam taksi, membuat sopir taksi tersebut pun berpikir jika mungkin saja ada keluarganya yang meninggal atau sakit, mengingat dia keluar dari rumah sakit dengan menangis tersedu-sedu.
Sopir taksi yang tadi menurunkan seseorang di sana dan melihat Lucia yang berlari keluar dari gerbang rumah sakit.
Tanpa kata sopir taksi tersebut memberikan tisu pada Lucia, Lucia pun langsung mengambilnya dan segera membuang ingusnya, ia dengan cepat membersihkan wajahnya dengan tisu tersebut.
"Mau singgah dulu membeli sesuatu, mungkin membeli minum?" tawar sopir taksi tersebut yang melihat Lucia yang masih terlihat sesegukan.
"Boleh, Pak," ucap Lucia membuat sopir taksi tersebut pun mengangguk kemudian ia pun langsung menapikan mobilnya di salah satu warung pinggir jalan.
"Pak, bisa tolong belikan, ya?" ucap Lusia yang menyodorkan uang pada sopir taksi tersebut.
"Iya, tentu saja," ucap sopir taksi, itu pun keluar dari taksinya setelah mendapat pesanan 2 strawberry boba dari Lucia.
Setelah mendapatkan dua minuman yang dimaksud, sopir taksi tersebut pun kembali masuk ke dalam taksinya dan memberikan minuman tersebut pada Lusia yang masih duduk di belakang kursi penumpang.
__ADS_1
"Aku satu saja, Pak. Buat Bapak satunya," ucap Lucia membuat sopir taksi tersebut pun berterima kasih dan meminum minumannya, suhu udaranya sangatlah panas, sangat cocok meminum minuman rasa strawberry tersebut.
"Pak santai saja ya berkendaranya, aku ingin berlama-lama di sini di mobil Bapak, jika tak keberatan bolehlah Bapak ajak aku jalan-jalan dulu dengan mobil ini, aku ingin menenangkan diri dulu sebelum sampai ke rumah," pinta Lucia pada sopir taksi yang ramah itu mengiyakannya.
"Baik, tentu saja," ucap sopir tersebut dengan hati-hati membawa Lucia untuk berkeliling-keliling.
Obat untuk menghilangkan rasa sesak di hati adalah memang melakukan perjalanan, baik itu hanya sekedar berputar-putar di kompleks atau kota. Tertentu jika bagi orang yang memiliki uang lebih, mereka akan pergi berlibur ke luar negeri.
Lucia terus berputar-putar di kota itu hingga akhirnya ia pun meminta sopir taksi tersebut membawanya ke kediaman Azriel, saat ini jam sudah menunjukkan jam 01.00 ia sudah memesan tiket untuk pulangq secara online dan penerbangannya jam 03.00 nanti.
"Terima kasih ya, Pak. Aku sangat senang bisa bertemu dengan Bapak, semoga di kesempatan lain kita bisa bertemu lagi ya, Pak," ucap Lucia memberikan uang lebih pada sopir taksi tersebut, sopir pun mengucapkan terima kasih dan mengambil uang itu.
Lucia masuk ke dalam rumah dan langsung membereskan pakaiannya, ia akan pergi hari ini juga, ia akan pulang ke kediamannya keluar negeri. Sqemua sudah jelas, Azriel tak menyukainya ia akan datang lagi setelah ia lulus nanti dan akan ia pastikan jika Azriel akan bersamanya, ia harus lulus tahun ini juga sama seperti mereka. Agar bisa bersaing merebut Azriel dengan Mentari, ia tak akan kalah dengan mudah. Mentari bukanlah tandingannya.
Dengan alasan itu Farah pun tak curiga dan mengizinkan putrinya untuk pulang lebih dulu, kuliahnya memang sangat penting dan Farah setuju akan hal itu. Farah mengatakan jika ia akan pulang besok, mengingat hari ini Azriel sudah diizinkan untuk pulang.
Sementara itu di sekolah, Khanza yang sudah sampai di sekolah langsung melihat keadaan Aisyah, keadaan Aisyah terlihat sangat lemah tubuhnya berkeringat dan ada bekas luka di keningnya, sepertinya kepalanya terbentur saat ia pingsan tadi.
Khanza memutuskan untuk membawa Aisyah pulang dan beristirahat di rumah dan itu diizinkan oleh pihak sekolah.
Aisyah bersandar di lengan ibunya saat mereka sudah berada di dalam mobil.
"Kamu kok bisa pingsan sih, Sayang? Pagi tadi kamu kan sarapan, semalam kamu begadang ya?" tebak Khanza, mungkinkah karena begadang membuat putrinya itu jadi sakit dan pingsan seperti hari ini.
"Iya, Bu. Semalam aku mengerjakan tugas dan tanpa sadar mengerjakannya hampir menjelang subuh, aku baru tidur beberapa menit saja dan harus kembali bangun dan ke sekolah. Aku lupa jika hari ini adalah olahraga lari, aku benar-benar kehabisan energi dan kekurangan tidur."
__ADS_1
"Ya sudah, istirahatlah. Kita temui kakakmu di rumah sakit, nanti minta dokter juga untuk memeriksamu," ucap Khanza mengusap pipi putrinya dengan lembut yang masih bersandar di lengannya. Aisyah hanya mengangguk dan sudah menutup matanya, sedari tadi ia benar-benar mengantuk dan merasa pusing serta tubuhnya juga terasa lemas efek karena pingsan tadi.
Sesampainya di rumah sakit Aisyah langsung diperiksa dokter dan kondisinya baik-baik saja, sepertinya dia memang hanya butuh istirahat. Setelah memastikan kondisi Aisyah baik-baik saja mereka pun menghampiri Azriel di ruangannya.
"Loh, Azriel? Lucia mana?" tanya Khanza yang hanya melihat jika hanya putranya sendiri di kamar itu.
"Lucia ada urusan sebentar, Bu. Ia pulang cepat mungkin sekarang sudah ada di rumah," jelas Azriel.
" Oh .... Iya, ga apa-apa."
"Aisyah, bagaimana keadaanmu? Kamu baik-baik saja kan?" tanya Azriel yang melihat kepala adiknya itu diperban.
"Nggak papa kok, Kak. Aku hanya butuh istirahat saja," ucap Aisyah yang langsung menghampiri kotak kue yang ada di samping Azriel.
"Rasanya sangat enak," puji Aisyah pada kue yang dimakannya, kemudian ia dengan cepat menghabiskan satu potong dan kembali mengambil satu potong lagi, kini di kotak kue itu hanya tersisa 4 potong kue lagi. Khanza q yang mendengarnya juga penasaran kemudian memakannya, ia juga mengaku jika rasanya sangat enak .
"ini kamu beli di mana?" tanya Khanza.
"Ini dijual Mentari, Bu. Tadi pagi diantar Mentari saat aku masih tidur, sepertinya ayah yang menerimanya," jelas Azriel membuat Khanza mengangguk, ia sangat menyukai kue tersebut ia juga mengambil satu potong lagi. Azriel yang tak ingin kehabisan langsung mengambil potongan terakhir setelah potongan lainnya kembali dimakan oleh Aisyah.
"Sana istirahatlah," ucap Khanza membuat Aisyah yang sudah kenyang langsung memilih untuk berbaring di sofa dan ia pun tertidur di sana. Azriel menceritakan kepada ibunya apa yang baru saja terjadi antara ia dan juga Lucia.
"Bu, apakah memang aku pria jahat yang sudah menyakitinya? Aku sama sekali tak bermaksud untuk menyakitinya, aku hanya ingin mencegahnya kembali tersakiti dengan cinta yang tak mungkin aku balas."
"Tidak, Nak. Keputusanmu sudah tepat, itu memang lebih baik daripada mengabaikannya tanpa memberinya peringatan untuk tak mencintaimu lagi. Semoga saja apa yang kamu katakan tadi bisa dipahaminya dan ia benar-benar mencoba melupakan perasaannya padamu."
__ADS_1