Berbagi Cinta : Mencintai Diriku Dan Dirinya

Berbagi Cinta : Mencintai Diriku Dan Dirinya
Season 2 : Bab 1


__ADS_3

Suara tabrakan terdengar jelas menggema di balik kesunyian malam, di saat sebuah mobil baru saja mengalami kecelakaan tunggal di sebuah jalan yang sangat sepi, terlebih lagi saat ini jam sudah menunjukkan lewat tengah malam.


Saat itu tak satupun mobil yang melewatinya padahal ada seseorang yang sedang bertaruh nyawa di dalam mobil tersebut.


Pandangannya perlahan mengabur, rasa sakit menjalar di sekujur tubuhnya. Ingin rasanya ia berteriak meminta tolong. Namun, suaranya terasa tercekat, ia sangat lemah dan bisa merasakan tetesan darah yang menetes melewati sudut matanya kemudian pandangannya pun menggelap.


Di tempat lain Khanza menjatuhkan gelas yang baru saja dipegangnya, ia baru saja akan minum. Namun, entah mengapa ada perasaan yang tiba-tiba membuat tangannya terasa lemah hingga membuat gelas yang sudah akan didekatkannya ke mulut ingin meminum air tersebut untuk menghilangkan dahaganya.


"Khanza, ada apa?" tanya Abidzar yang terbangun dari tidurnya karena mendengar suara pecahan yang disebabkan oleh Khanza. Khanza hanya melihat Abidzar yang baru saja terbangun dan melihatnya.


Ia hanya menggeleng dan melihat gelas yang sudah berhamburan di lantai, ia sedikit memundurkan langkahnya. Namun, bukannya menghindari pecahan tersebut ia malah menginjaknya.


Khanza memekik saat merasakan sakit akibat menginjak pecahan tersebut, membuat Abidzar langsung bangun. Namun, Khanza langsung memintanya untuk berhati-hati dan menunjuk serpihan yang ada di lantai.


Abidzar memakai sendal dan mencoba mengangkat Khanza untuk duduk di sisi tempat tidur dan melihat luka yang ada di kakinya.


"Ada apa? Kenapa kamu bisa secerobah ini?" ucapnya di mana setiap malamnya ada air yang tersedia di atas nakas di samping tempat tidur, karena Khanza selalu bangun tengah malam untuk meminumnya. Namun, baru kali ini ada insiden seperti yang ia alami saat ini.

__ADS_1


"Mas, Azriel mana?" tanya Khanza tiba-tiba, ia mengingat sosok putranya, ia memegang dadanya, entah mengapa ia merasa anaknya itu tidak dalam keadaan baik-baik saja.


"Azriel kan sedang keluar kota bersama dengan teman-temannya, mereka ada urusan kampus besok mereka akan pulang, tenang saja."


"Di mana ponselku? Aku ingin bicara dengannya," ucap Khanza, ia takkan tenang sebelum mencari tahu bagaimana kabar putranya itu.


"Sayang, jangan mengganggunya, putra kita sedang sibuk biarkan dia istirahat besok pagi kita akan menelponnya," ucap Abidzar mengambil kembali ponsel yang sudah diambil oleh Khanza.


"Tidak, Mas. Aku baru bisa tenang jika mendengar kabarnya, aku memiliki firasat buruk padanya. Aku mohon, Mas. Aku hanya akan menelponnya sebentar jika mengetahui kabarnya baik-baik saja aku tak akan mengganggunya lagi," mohon Khanza.


Berkali-kali Abidzar melakukan panggilan. Namun, ponsel tersebut terus saja sibuk, sepertinya putranya itu menelpon seseorang.


"Sekarang sudah jam 01.00 malam, siapa yang ditelepon putranya di tengah malam seperti itu."


"Ibu, Ibu buka pintunya!" teriak Aisyah dari luar kamar tersebut, anak kedua dari Khanza itu terus saja menggedor-gedor pintunya membuat Kanza dan Abidzar sangat terkejut. Mengapa putrinya ingin menemui mereka di tengah malam seperti itu, belum lagi caranya menggedor-gedor pintu itu seolah ingin mendobraknya.


Khanza ingin langsung berdiri, entah mengapa perasaannya semakin tak karuan mendengar suara teriakan putrinya. Namun, luka di kakinya membuat ia sedikit meringis kesakitan dan menghentikan langkahnya.

__ADS_1


"Tunggulah di sini biar aku yang buka pintunya," ucap Abidzar membuat Khanza pun hanya mengangguk dan melihat suaminya itu bergegas membuka pintu.


"Aisyah, ada apa?" tanya Abidzar melihat wajah putrinya yang terlihat menangis membuat itu ia juga ikut terkejut .


"Ayah, kak Azriel," ucap Aisyah panik diselah isak tangisnya, Khanza yang mendengar nama Azriel disebut oleh Aisyah tak bisa menahan diri dan dengan berjalan kecil menghampiri putrinya itu.


"Ada apa dengan kakakmu?" tanya Kanza panik.


"Kak Azriel kecelakaan, Mah. Aku baru saja mendapat panggilan dari nomor kakak dan itu dari pihak rumah sakit yang mengabarkan jika pemilik ponsel itu mengalami kecelakaan, ini nomor kakak berarti kakak yang mengalami kecelakaan, Mah," ucap Aisyah membuat Abidzar dan juga Khanza sangat terkejut.


"Apa?" ucap keduanya secara bersamaan.


Abizar langsung mengambil ponsel tersebut dan menelpon kembali nomor Azriel dan panggilan pertama ponselnya langsung diangkat dan ia bisa mendengar juga itu bukan suara putranya.


"Apa benar anakku kecelakaan? Ia pemilik ponsel ini?" tanya Abidzar.


"Iya, Pak. Pasien baru saja masuk ke ruang operasi, kondisinya sangat kritis. Jika Bapak keluarganya tolong segera datang ke rumah sakit xx sekarang juga," jelas orang yang mengangkat panggilan tersebut dan mengaku dirinya adalah seorang dokter , mendengar itu tak membutuhkan waktu lama, Abidzar, Khanza dan Aisyah langsung menuju ke rumah sakit yang dimaksud.

__ADS_1


__ADS_2