
Sepulang kantor, Dewa yang penasaran dengan sosok Mentari akhirnya mencoba mencari tahu siapa sebenarnya Mentari. Dewa melajukan mobilnya menuju alamat yang tertera di kartu nama tersebut.
"Apa ia tinggal di gang sempit ini?" gumam Dewa saat melihat nama jalan yang tertera di sana dan saat berada tepat di depan jalan tersebut ia bisa melihat jika mobil miliknya tak mampu masuk ke sana.
Dewa menghentikan seseorang yang sedang ingin mengendarai motornya masuk ke dalam gang sempit tersebut.
"Permisi, apa ini jalan Mawar nomor 36?" tanya Dewa memperlihatkan kartu nama yang dipegang pada orang tersebut.
"Oh iya, benar. Ada apa, Pak? Ada yang bisa saya bantu?" tanya orang yang baru saja dihentikan oleh Dewa yang tak lain adalah Erwin.
"Apa benar toko kue Mentari ada di gang ini?" tanyanya lagi.
Erwin yang masih baru bekerja di sana melihat nomor ponsel yang tertera di sana, ia pun kemudian mengecek nomor ponselnya dan ternyata itu adalah nomor ponsel Mentari.
"Oh iya, benar, Pak. Apa Bapak ingin menemui Mentari dan memesan kue? Saya bisa membantu, Pak. Kebetulan saya juga bekerja di sana sebagai kurir," jawab Erwin.
"Oh, enggak kok saya hanya ingin memastikan saja, siapa tahu nanti saya ingin memesan kue saya bisa langsung datang. Apa tempatnya jauh dari sini?" tanya Dewa lagi.
"Enggak kok, Pak. Apa Bapak lihat rumah yang berwarna kuning di sana itu? Nah, itu rumahnya," ucap Erwin menunjuk rumah Mentari yang memang tak jauh dari tempat mereka, hanya ada beberapa rumah dari jalan besar menuju ke rumah Mentari.
"Oh yang tembok kuning itu, Pak? Ya sudah makasih, nanti jika saya butuh. Saya akan pesan langsung," ucap Dewa membuat Erwin pun mengangguk dan segera kembali melajukan motornya.
Dewa terus melihat ke arah motor Erwin dan ia bisa melihat jika Erwin memarkirkan motornya tepat di rumah yang ia tunjuk tadi.
"Jadi itu rumahnya?" gumam Dewa yang bisa melihat bangunan sederhana milik Mentari, ia pun segera pergi dari sana.
"Mbak Mentari, tadi ada yang nanyain tuh," ucap Erwin begitu ia bertemu dengan Mentari tepat di pintu.
__ADS_1
"Siapa?" tanya Mentari pada Erwin yang seusia dengannya itu.
"Tuh ... di sana tuh ..., tadi dia di sana pakai mobil mewah," ucap Erwin, Mentari pun menuju ke arah jalan raya. Namun, ia bisa melihat jika mobil mewah yang dimaksudnya sudah tak ada di sana begitupun dengan pemiliknya.
"Mana?" tanya Mentari yang melihat ke arah yang ditunjuk oleh Erwin.
"Sepertinya orangnya sudah pergi, katanya dia hanya ingin melihat rumah ini, katanya jika mau pesan kue nanti akan gampang mesannya bisa pesan langsung," jelas Erwin membuat Mentari pun mengangguk dan berpikir mungkin itu adalah salah satu temannya yang telah diberikan kartu nama. Di mana Mentari sudah menyebar kartu nama kepada teman-temannya, berisi nama nomor telepon serta alamat.
"Ya sudah, itu aku sudah menyiapkan kue yang harus diantar, tolong diantar ya dan harus hati-hati jangan sampai barangnya rusak sampai ke tangan pembeli. Ini aku mau bantu Ibu buat pesanan yang lainnya," ucap Mentari di mana mereka sudah mendapat beberapa orderan, teman-teman Mentari sudah menelpon dan meminta pesanan mereka, ada yang ingin kuenya diantar langsung ada juga yang ingin kuenya dibuatkan dan diantar besok. Sehingga ibu dan juga bu Ratmi terus membuat kue walaupun tak ada yang memesannya di hari ini, karena kue mereka bisa tahan sampai satu minggu. Jadi, tak masalah jika mereka membuat lebih dari pesanan.
Sementara itu di tempat lain Azriel terus saja gelisah, ia sudah tak tahan ingin bertemu dengan Mentari. Namun, dokter sudah mengatakan jika kondisinya masih belum pulih, ia harus masih menjalani perawatan 1 sampai 2 minggu dan harus istirahat total. Semua itu membuatnya frustasi, ia melihat story instagram yang diupload oleh Mentari, ia bisa melihat jika Mentari benar-benar giat dalam mempromosikan kue buatannya. Bahkan Mentari memposting perusahaan di DW group jika ia mendapat langganan baru dari perusahaan tersebut, juga menyatakan beberapa kalimat-kalimat promosi yang menyatakan jika kuenya sangatlah enak dan masih banyak lagi. Beberapa postingan juga berisi gambar kuenya yang terlihat sangat menggugah.
"Semoga saja usahamu berhasil, aku yakin dengan kerja kerasmu anak berhasil. Kamu pasti bisa sukses," gumam Azriel yang melihat begitu banyak pesan di sana.
"Iya juga, ya mengapa aku tak berpikir untuk meminta perusahaan ayah juga memesan kue dari Mentari," gumam Azriel kemudian ia pun langsung menelpon ayahnya yang sedang di kantor.
"Ayah, apa Ayah ada acara kantor? Walau acara kecil-kecilan."
"Emangnya kenapa? Kenapa kamu tiba-tiba menanyakan hal itu. Kamu sudah ingin ikut bekerja di kantor? Kamu itu belum sembuh benar dan lagian tunggulah sampai kuliahmu selesai dan baru kamu membantu ayah di kantor sambil melanjutkan kuliahmu di tingkat berikutnya."
"Bukan itu Ayah, jika Ayah punya acara resmi di kantor dan membutuhkan cemilan untuk menemani perjemuannya, pesan kue Mentari saja ya, Yah! Hitung-hitung kita membantu Mentari untuk melariskan kuenya."
Mendengar itu Abidzar tersenyum, ia mengerti apa yang dimaksud oleh anaknya, ia tahu jika usaha menengah ke bawah seperti Mentari mendapat satu orderan itu merupakan suatu hal yang patut mereka syukuri, mendapat untung walau tak seberapa asalkan mereka bisa tetap lancar memutar dagangan mereka.
"Ya sudah, pesan 5 box kue pada Mentari dan jika bisa kirim besok pagi. Besok pagi ada rapat dari semua direksi."
"Baiklah, Yah. Aku akan memesan pada Mentari," ucap Azriel.
__ADS_1
"Ya sudah, ayah matikan dulu," ucap Abidzar menggeleng kemudian ia pun kembali melanjutkan pekerjaannya.
Abidzar langsung menghubungi bagian yang mengurus masalah pantry, di mana setiap ada tamu mereka pasti akan menyuguhkan minuman dan makanan untuk menyambut mereka. Tak ada salahnya menjadikan Mentari sebagai salah satu orang yang selalu menyediakan kue itu untuk mereka di setiap harinya.
Azriel langsung menelpon Mentari, memesan 5 box sesuai yang diinginkan ayahnya untuk besok.
"Ini diantar ke mana ke rumahmu atau ke perusahaan ayahmu?" tanya Mentari setelah mendengar penjelasan dari Azriel.
"Bawa ke kantor saja, katanya mereka ada rapat," jawab Azriel lagi.
"Baiklah, makasih ya sudah mencarikan pelanggan. Oh ya promoin juga ya ke teman-teman kamu yang lain, siapa saja, siapa tahu saja mereka ada kegiatan ulang tahun atau apa gitu mau memesan kueku," ucap Mentari yang tak gencar mempromosikan kuenya, walau hubungannya dengan Azriel harus terkendala dengan ucapan Farah di waktu lalu. Namun, ia tak ingin memusingkannya, baginya mempromosikan kuenya jauh lebih penting, ia tak peduli apapun dan pada siapapun.
"Kamu ini bilang apa sih, teman-temanmu kan teman-temanku juga, aku yakin kamu sudah mempromosikan kepada mereka semua."
"Eh iya juga ya, kita kan satu kampus bahkan temanku jauh lebih banyak darimu di kampus, ya sudah. Eh apa kamu tak punya komunitas-komunitas lain selain teman kampus? Promosikan gih kue-kue ku."
"Ya sudah, kirim sini postinganmu nanti aku bagikan di semua sosial mediaku."
"Wah, ide bagus. Sebentar ya aku kirim, terima kasih banyak ya. Oh ya aku punya target untukmu, jika kamu bisa menjual 100 box kue spesial, aku akan memberikan hadiah untukmu."
"Hadiah apa?" tanya Azriel bersemangat.
"Rahasia, pokoknya nanti jika kamu sudah mencapai target baru aku beritahu," ucap Mentari membuat Azriel pun semangat akan mencapai target tersebut.
"Oke, aku terima. Beneran ya, kamu jangan ingkar janji, aku pasti akan mencapai target 100 box bahkan 1000 box."
"Wah jika sampai 1000 box kamu akan mendapat hadiah yang lebih spesial lagi," ucap Mentari semakin membakar semangat Azriel, ia tahu Azriel mencintainya, tapi ia tak bisa membalas cinta itu. Maksud dengan memberikan hadiah dan bermain target seperti itu hubungan mereka bisa lebih dekat dan bisa tetap menjadi sahabat seperti yang selama ini.
__ADS_1
"Oke, tunggu saja. Aku akan menghujanimu dengan pesanan, siap-siap saja," ucap Azriel membuat keduanya pun tertawa bersama-sama, Khanza yang kebetulan mendengar obrolan mereka melihat bagaimana anaknya begitu bahagia, ia kembali tak tega untuk memintanya mencoba menerima Lucia untuk bertunangan dengannya, memintanya untuk mencoba membuka hatinya untuk Lucia.