Berbagi Cinta : Mencintai Diriku Dan Dirinya

Berbagi Cinta : Mencintai Diriku Dan Dirinya
Ma-ma


__ADS_3

Farah dan Aziel berjalan dengan riang gembira menuju ke kamar utama, terlihat jelas jika bayi itu sudah tak sabar ingin bertemu dengan mamanya.


"Mama, mama, mama, " ucap Aziel terus mengulangi kata yang baru saja bisa ia ucapkan, kata mama tak pernah lepas dari ucapan Aziel, terlihat jelas bahwa anak itu sangat merindukan sosok mamanya.


"Kok Mama terus sih, Ibu juga dong sayang," ucap Farah.


"Bubu, bubu, bubu," ucap Aziel juga memanggil Farah dengan senyuman yang menggemaskannya.


Aziel sudah bisa mengucapkan mana mama dan mana ibunya.


Farah yang tak tahan dengan kelucuan putra suaminya itu langsung mencium pipi gembul Aziel.


Farah membuka pintu, Aziel yang tadinya memanggil bubunya kini kembali memanggil mamanya dan merentangkan tangannya gembira saat melihat Khanza.


Farah mendudukkan Aziel di samping Khanza, 


"Ziel, panggil mama ya, biar mamanya cepat bangun Sayang," ucap Farah mengambil tangan Khanza dan meletakkannya di pangkuan Aziel. 


"Ayo sayang, ayo Ziel panggil mama," pinta Farah. Namun, balita itu hanya duduk terdiam kaku di samping mamanya, memegang tangan Khanza.


Aziel seperti lupa cara untuk memanggil Mama, tak seperti saat berjalan tadi ia begitu bersemangat.


"Loh kok, nggak dipanggil sih Mamanya, ayo bilang ma-ma," pinta Farah mengajarkan Aziel untuk memanggil Khanza dengan sebutan mama. Namun, balita itu sepertinya enggan untuk berbicara lagi.


Ponsel Farah berdering itu adalah panggilan dari Abizar.


"Halo mas, ada apa?" tanya Farah.


"Tolong kau carikan map di ruang kerjaku dan minta sopir membawanya ke kantor sekarang juga!" Pinta Abizar yang lagi-lagi melupakan berkasnya.


"Iya, Mas," ucap Farah mengakhiri panggilan.


Ziel kita ke ruang kerja Papa dulu ya," ucap Farah ingin mengambil Aziel. Namun, Ziel tak ingin dipisahkan dari Khanza.


Saat Farah ingin menggendongnya, Aziel dengan cepat merangkak dengan susah payah dan berbaring di dekat mamanya.


"Jadi Ziel mau sama mama ya? Ya udah, ibu ambilkan dulu ya berkas Papa, Ziel sama Mama aja ya," ucap Farah kemudian mengambil beberapa bantal dan memberi di sekeliling sisi tempat tidur, anak itu sudah bisa menggulingkan badannya dan merangkak dengan perlahan, takut jika Aziel terjatuh.


Farah dengan cepat bahkan sedikit berlari menuju ke ruang kerja Abizar, takut jika Aziel banyak bergerak.


"Mana ya berkasnya," ucap Farah yang sudah mencari ke semua tempat.


Farah terus mencari. Namun, Farah tak menemukannya, Ia pun memutuskan untuk menelpon Suaminya.


"Halo Mas, Mas yakin map nya ada di ruang kerja ini? Aku sudah cari ke semua tempat nggak ada, Mas!"


"Coba kamu cari di bagian sofa, semalam aku mengerjakannya disana."

__ADS_1


Farah pun berjalan menuju sofa karena sejak dari tadi ia hanya mencari di meja kerja Abizar.


"Oh ya, Mas. Aziel sudah bisa manggil aku dan Khanza," ucap parah sambal terus mencari map yang dimaksud.


"Maksud kamu?" tanya Abizar.


"Iya, Aziel sudah bisa mengatakan ibu  dan mama.


"Wah ... Benarkah! Pasti Ziel juga sudah bisa panggil papa," ucap Abizar tak mau kalah, ia yakin putranya pasti bisa memanggilnya juga.


"Aku lupa memintanya memanggil kata Papa tadi, dia baru berkata  Mama sama ibu.


"Oh, Mas berkasnya ketemu," ucap Farah menemukan berkas yang ternyata ada di bawah kolong meja.


"Sudah cepat berikan kepada sopir, sebentar lagi rapatnya akan dimulai. Farah Pun mengakhiri telepon dari Abizar dan  menuju ke bawah, mencari sang supir dan memintanya untuk mengantar berkas tersebut .


Sementara itu di kamar, Aziel mulai bosan dengan beberapa mainannya mulai merangkak mendekati mamanya, ia berbaring di samping Khanza, balita itu kini duduk menatap lekat wajah wanita yang sedang tertidur pulas di depannya..


Perlahan Aziel mendekatkan tangannya pada wajah Khanza mengelus lembut wajah mamanya.


"Mama," ucapnya pelan kemudian dengan perlahan merangkak mendekatkan wajahnya pada wajah mamanya, ingin mencium mamanya. Namun, Aziel justru terjatuh dan terbentur di kepala mamanya, Aziel menangis karena merasa sakit di bagian hidungnya.


Lama ia menangis sambil memanggil mamanya, menarik baju Khanza seolah ingin mengadu jika ia merasa kesakitan.


Farah yang baru naik ke lantai 2 bisa mendengar suara Aziel yang menangis memanggil mamanya, dengan cepat ia menghampiri Aziel.


Farah melihat hidung Aziel yang merah.


"Ini kenapa hidungnya merah, terbentur di mana sayang?" tanya Farah mencoba menenangkan Aziel yang masih terus menangis.


"Ya udah kita main di luar ya!" ucap Farah kemudian ingin keluar dari kamar itu sambil terus berusaha menenangkan Aziel yang menangis semakin kencang. Aziel terlihat tak ingin keluar dan terus mengarahkan Farah agar mendekat kepada Khanza.


Aziel terus memutar badannya ke arah Khanza. "Ziel ingin bersama mama ya," ucap Farah kemudian membawa Aziel pada Khanza mendudukkannya kembali di samping mamanya.


Aziel yang tadinya menangis kencang perlahan mulai memelankan suara tangisnya, hanya tersisa sesegukan.


Balita itu kemudian kembali berusaha merangkak mendekatkan wajahnya pada  wajah mamanya.


"Mama-mama," ucap Aziel melihat Farah.


"Iya sayang, mamanya lagi sakit Ziel jangan nakal ya."


Aziel seperti mencoba mengerti apa yang Farah katakan, Ziel terdiam kemudian melihat Farah sesaat, kemudian melihat pada Khanza. Ia kembali mencoba merangkak mendekatkan wajah pada mamanya.


"Aziel  ingin mencium Mama ya?" tanya  Farah kemudian mendekatkan Aziel pada wajah Khanza.


Aziel mencium wajah Khanza berkali-kali.

__ADS_1


Aziel yang tadinya menangis kini tertawa.


"Kita duduk di samping Mama aja, ya. Nanti mama terganggu karena Ziel duduknya di situ, kita duduknya disini aja ya, Farah memindahkan Ziel samping Khanza.


Lama mereka bermain di sana, Farah membawa beberapa mainan Aziel ke tempat tidur Khanza.


Farah bisa mendengar suara mobil Abizar.


"Wah, sepertinya Papa sudah pulang. yuk! kita sambut Papa," ucap Farah mencoba untuk menggendong Abizar. Namun, Khanza memegang tangan putranya.


"Khanza" pekik Farah, merasa senang saat melihat ada tanda-tanda Khanza bisa kembali tersadar, tangan Aziel digenggam oleh Khanza..


Farah mendekat dan mencoba memastikan apakah benar Khanza menggenggam tangan Putra mereka. 


Farah mencoba menarik tangan Aziel yang ada digenggam  Khanza. Saat menarik nya, Khanza semakin mengeratkan genggamannya.


Farah membekap mulutnya dengan kedua tangannya, tak percaya dengan apa yang baru saja dilihatnya, Khanza memberi  respon.


Dengan cepat Farah menelpon Dokter yang selama ini sering mengontrol Khanza, menceritakan apa yang terjadi pada Khanza.


"Ada apa?" tanya Abizar yang baru masuk.


"Mas lihat Khansa, ia menggenggam tangan Aziel," ucap Farah menunjuk tangan Khanza yang masih menggenggam tangan putranya.


Aziel seolah mengerti dengan situasi, balita itu yang biasanya aktif kini duduk tenang tak menggerakkan tangannya yang dipegang oleh mamanya dan hanya tersenyum menatap papanya, seolah Ia pun berkata jika Mamanya sedang menggenggam tangan nya.


💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖


Terima kasih sudah membaca


Semoga kalian suka🤗


Jangan lupa ya like dan komennya


Terima kasih


💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖


Sambil nunggu update terbaru mampir yuk Kak, ke karya temanku. aku jamin gak kalah nguras emosi 😉 mampir yuk.🙏




Makasih 🙏🙏🙏🙏


jangan lupa like dan favorit kan🙏🤗

__ADS_1


__ADS_2