
Khanza tak diam lagi, ia terus menyalahkan Abizar dengan keadaannya.
Ia terus mengeluarkan semua rasa kesal di hatinya, membiarkan Abizar tahu betapa sakit hatinya saat ini.
Abizar hanya bisa meminta maaf atas segala kesalahannya. Kata maaf hanya itu yang keluar dari mulutnya menjawab setiap pertanyaan menusuk dari Khanza.
"Kak, jujur sama aku. Apakah selama ini ada cinta di hati kakak untukku?" tanya Khanza dengan suara tercekat.
"Aku kan sudah bilang, aku sangat mencintaimu. Aku menikahimu karena aku mencintaimu," jelas Abizar frustasi sendiri.
"Kakak bohong, pasti ada alasan lain 'kan. Jika kakak mencintaiku, lalu apa kedudukan Mbak Farah di hati kakak?!"
Abizar diam seribu bahasa.
"Kakak nggak bisa jawab kan, karena kakak cinta sama Mbak Farah, iya 'kan!. Cinta itu hanya untuk Mbak Farah," ucap Khanza dengan nafas naik turun. "Jika ada cinta untukku di hati kakak, kakak tak akan melakukan ini semua padaku. Kakak mencintainya dan Khansa ini bukan apa-apa bagi kakak."
"Khanza, kamu itu juga penting dihatiku kedudukanmu sama dengan Farah. Aku sama-sama mencintai kalian. Aku mencintaimu dan juga Farah."
"Mana bisa seperti itu, Kak. Aku nggak bisa berbagi, Aku ingin memiliki cinta kamu seutuhnya. Aku ingin memilikimu seutuhnya, aku tak bisa berbagi," ucap Khanza semakin mengeraskan isak tangisnya, memukul dada Abizar yang mencoba memeluknya.
Itulah yang ia rasakannya saat ini,, Munafik, memang munafik. Khanza sangat mencintai Abizar Sejak pertama kali ia melihatnya,
Ia mencintai Abizar sebelum tahu siapa namanya, seperti apa orangnya dan ia pun masih sangat mencintainya setelah tahu jika abidzar menduakan nya, membohonginya, membagi cintanya dengan perempuan lain.
Mungkin terdengar egois jika Khanza menginginkan cinta dan raga Abizar hanya untuknya. Namun, itulah kenyataannya. Itulah yang ia ingin, memiliki Abizar seutuhnya.
"Khanza aku akan mencoba berbuat adil padamu dan juga Farah. Aku tak kan membeda-bedakan kalian, kalian adalah istriku.
Setelah perdebatan yang cukup menguras tenaga mereka berdua terdiam, Khanza hanya bisa menangisi nasibnya sedangkan Abizar terus saja menyalahkan dirinya sendiri, karena tak jujur dari awal, ia bisa merasakan sakit yang dirasakan oleh Khanza hanya mendengar suara isakan nya saja.
Abizar mengusap wajahnya kasar, mencoba mengatur nafasnya. Ia harus tenang dalam menghadapi istri mudanya yang usianya jauh dibawahnya. Berbeda dengan Farah yang memiliki sifat dewasa dan tenang, itulah yang menambah rasa cinta Abizar pada sosok Farah.
Abizar melihat makanan yang ada di meja dan mengambilnya kembali, "Khanza makanlah dulu, aku mohon, kau bisa sakit jika terus tak makan seperti ini."
Abizar mendekatkan piring pada Khanza dan Khanza terus mengabaikannya.
__ADS_1
Abizar mengambil sesendok dan menyodorkannya ke mulut Khanza,
"Khansa, aku mohon buka mulutmu. makanlah walau hanya sedikit," rayu Abizar.
"Aku kan sudah bilang, aku tak mau makan," ucap Khanza dengan suara sedikit mengeras dan tanpa sengaja menyenggol makanan yang di pegang Abizar dan piring itu jatuh berserakan di lantai.
Buat emosi Abizar semakin tersulut.
"Lihat apa yang kau lakukan. Tak bisakah kamu makan walau hanya sesuap. Apa itu sangat sulit untukmu," ucap Abizar yang sudah di kuasai emosi.
Khanza hanya diam, nyalinya menciut mendengar Abizar yang kembali membentaknya.
Abizar menarik nafas dan menghembuskannya secara kasar, ia memilih untuk keluar dari kamar itu sebelum emosi semakin di luar kendalinya.
Saat keluar, Abizar membanting pintu membuat Khanza kembali terperanjat kaget.
Khanza mengelus perutnya, ia tahu jika janin yang ada di perut nya sangat ini sangat membutuhkan asupan makanan. Rasa sakit hati dan kecewanya terus saja tak mengizinkan ia untuk menikmati makanan yang diberikan oleh Abizar padanya.
Bukan hanya Khanza yang terkejut saat Abizar membanting pintu, Farah yang berjalan di sekitar kamar itu juga terkejut saat mendengar suara pintu yang dibanting.
"Ada apa, Mas?"
"Apa perlu dia mogok makan seperti itu," ucap Abizar masih dengan emosi, dia bersandar di pintu kamarnya.
"Cobalah bersikap tenang untuk menghadapi Khanza, dia itu masih sangat labil dan sekarang dia juga sedang terbawa emosi. Suasana hatinya pasti sedang tidak baik, sebaiknya kita mengalah padanya," ucap Farah.
"Aku tahu, tapi tak bisakah ia memaafkan kita! Kita sudah meminta maaf padanya, lalu apa ini mogok makan, apa itu yang dia lakukan sekarang. Apa dia pikir dia itu masih anak kecil, melampiaskan kekesalannya dengan cara seperti. Bagaimana kalau ia sakit, apa masalah akan selesai," ucap Abizar kemudian berlalu kekamar Farah.
Tubuhnya sudah sangat gerah, ia sangat lelah seharian bekerja di kantor ditambah lagi urusan rumah tangganya yang membuat kepalanya terasa sakit.
Abizar memilih untuk membersihkan tubuhnya, ia sengaja membiarkan air shower membasahi kepalanya agar pikirannya bisa lebih tenang. Abizar menutup matanya merasakan air itu membasahi tubuhnya, merenungi sebenarnya apa yang terjadi di keluarganya. Siapa yang salah di sini? Apakah dia? Apakah keinginan memiliki anak? Apakah cinta mereka yang salah? Apa benar ia selama ini tak mencintai Khanza dan hanya memanfaatkannya untuk mendapatkan seorang anak? pertanyaan itu terus terbayang di pikiran Abizar membuat kepalanya berdenyut.
Abizar terus memikirkan bagaimana cara agar bisa membujuk Khanza, agar mau menerima jika ia istri kedua nya dan mau berbagi dengan Farah yang sudah ikhlas menerimanya poligami yang ia lakukan.
Selesai mandi Abizar keluar dan melihat Farah yang menunggunya, duduk di salah satu sisi tempat tidur.
__ADS_1
Ia berjalan menghampiri Farah dengan handuk yang masih melilit di pinggangnya dan tetesan air yang jatuh dari kepalanya.
"Mas, Mas harus sabar menghadapi Khanza," ucap Farah mengambil handuk kecil dan mencoba mengeringkan rambut suaminya, memijat pelan disana.
"Aku benar-benar di luar kendaliku, lagi-lagi aku membentaknya." Menyadari kesalahannya dan menikmati pijatan ringan Farah di kepalanya.
"Mas akui atau tidak, dalam hal ini dia lah korban, kita sudah jahat kepadanya dengan membawanya ke dalam pernikahan ini tanpa memberitahu terlebih dahulu status kita. Jika aku berada di posisi Khanza, mungkin aku juga akan melakukan hal yang sama, mungkin bahkan lebih dari apa yang dilakukan Khanza saat ini. Aku mohon, bersabarlah dan lebih mengerti keinginan Khanza saat ini."
"Aku akan coba bicara lagi padanya nanti," ucap Abizar.
"Aku mohon, Mas tahan emosi, Mas!" ucap Farah kembali memperingati.
Abizar hanya mengangguk mendengar ucapan dari Farah.
Setelah dirasa tenang Abizar kembali ke kamar dan melihat istrinya itu sudah tertidur. Masih terdengar suara sesegukan yang keluar dari mulutnya, Abizar bisa melihat wajah sembab istri kecilnya itu membuat hatinya terasa teriris.
Perlahan Abizar ikut masuk kedalam selimut dan tidur sambil memeluk Khanza.
Khanza yang sudah terbiasa tidur sambil memeluk Abizar tanpa sadar langsung membalik badannya dan masuk kedalam pelukan Abizar, mencari posisi yang nyaman dan kembali tertidur lelap.
Abizar mengusap rambut Khanza, mengecup keningnya dan ikut terlelap.
💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖
Terima kasih sudah membaca 🙏
Jangan lupa like, vote dan komentar nya.
Makasih semuanya.
salam dariku Author m Anha ❤️
love you all 💕🤗
💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖
__ADS_1