
Farah pulang kerumah dan memarkirkan mobilnya. Saat akan turun ponselnya berdering.
Telpon dari orang kepercayaannya yang mengurus bisnisnya di luar negeri.
Mengabarkan jika bisnisnya sedang ada masalah.
"Baiklah, aku akan kesana, tolong kamu urus yang masih bisa kau tangani," ucap Farah mematikan panggilannya.
Farah menyandarkan kepalanya, ia dilema, apakah ia harus kembali dan mulai menata kembali bisnisnya atau terus bersama mereka.
Farah melihat fotonya yang sedang memeluk Aziel, "Kamu anak ibu," ucapnya meneteskan air mata. Farah tak yakin akankah ia bisa berpisah dari Aziel, ia sudah sangat menyayangi anak Suaminya itu, Farah sudah menganggap anaknya sendiri, mengurusnya sejak ia baru lahir. Sebenarnya ia tak rela jika Khanza membawa Aziel, tapi ia tak bisa berbuat apa-apa Khanza jauh lebih berhak atas Aziel di banding siapapun termasuk dirinya.
Farah menghembuskan nafas berat, mencoba untuk menerima kenyataan jika ia harus berpisah dari Aziel. " Ok, aku masih bisa menjenguknya, mereka hanya pindah dan itu tak jauh," gumamnya menyemangati dirinya. Ia mengambil kantong buah di jok belakang.
Saat perjalanan pulang, Farah teringat jika stok buah mereka sudah habis.
Aziel sangat suka makan buah-buahan, dan Farah tak pernah membiarkan persediaan buah mereka kosong. Itulah salah satu yang paling disukai Abizar dari sosok istrinya itu, selalu memperhatikan hal-hal kecil sekalipun, apalagi jika menyangkut makan.
Farah masuk dan memberikan buah itu kepada Bibi, memintanya untuk menyimpan di kulkas, ia sudah sangat lelah dan ingin segera mandi kemudian istirahat.
Saat membuka kamar ternyata Abizar dan Aziel ada di dalam sedang bermain di kasurnya.
Dia langsung menghampiri Aziel, mencium pipi balita itu kemudian beralih pada suaminya.
"Kamu mandi dulu sana," ucap Abizar yang melihat penampilan Farah yang sudah sangat lusuh.
Bukannya bergegas mandi menuruti apa yang Abizar katakan, Farah justru menjatuhkan tubuhnya di kasur.
Aziel yang sedang bermain langsung menghampiri ibunya. menghampirinya dan mencium pipi ibunya itu berulang-ulang.
"Ibu kangen sama ziel," ucap Farah menunjuk sebelah pipinya lagi.
Aziel yang mengerti apa yang diinginkan ibunya langsung mendaratkan satu kecupan lagi di tempat yang ditunjuk oleh Farah.
"Tampan sekali sih kamu," ucap Farah mencium pipi putranya, " Ini anaknya siapa anaknya ibu atau anaknya Mama, Yah?".
"Papa" jawab Aziel.
"Anak ibu aja ya?"
"Papa," jawan Aziel lagi.
__ADS_1
"Anak mama Khanza gimana?" tanya Farah membuat wajah seimut mungkin.
Aziel lagi-lagi menggeleng,
"Papa," ucap Aziel menunjuk papanya yang tertawa mendengar jawaban dari putranya. Saat ditanya Aziel anak siapa, ia akan selalu menjawab anak papa. Walau dipaksa selakipun anak itu akan tetap akan menjawab jika ia adalah anak papa, bukan anak mama atau anak ibu, ia tak akan mengatakannya tetap kekeh mengatakan jika dirinya adalah anak Papanya.
"Iya, deh anak papa!" Farah akhirnya mengalah dengan putranya.
"Mas Khanza mana ?" tanya Farah melihat pada Abizar yang sedang berselancar di ponselnya.
"Ada di kamarnya, dia lagi ngambek kayaknya," jawabannya masih tetap fokus pada layar ponselnya.
"Ngambek! Ngambek kenapa?" tanya Farah melihat Abizar.
"Entahlah," Jawabnya mengangkat bahunya masih terus melihat-lihat di ponselnya.
"Oh ya, Mas. Tadi aku melihat Pak Daniel di cafe, dia jalan bareng Aqila," ucap Farah.
Mendengar Nama Daniel Abizar mengalihkan pandangannya dari layar ponsel menatap penuh tanya pada Farah.
"Dia sedang makan bersama dengan Aqila, Aku curiga deh, dengan Daniel."
"Curiga?" tanya Abizar mengernyitkan keningnya.
Abizar yang mendengar itu langsung melempar ponselnya di kasur, ia tak suka apa yan baru saja dikatakan Farah tentang Khanza yang disukai oleh Daniel.
Aziel yang melihat ponsel Papanya langsung menghampiri, merangkak dengan cepat mengambil ponsel itu.
Terlihat jelas guratan emosi di wajahnya, "Aku harus memberi peringatan pada Daniel, sepertinya Ia memang mengincar Khanza. Aku akan menemuinya besok, kebetulan besok ada rapat dengannya," geramnya.
"Ingat ya, Mas. Bicarakan baik-baik dengan pak Daniel, jangan membahasnya jika Mas masih emosi, itu hanya akan menambah masalah. Tak baik menyelesaikan sesuatu dalam keadaan emosi, bukannya menyelesaikan masalah malah itu akan menambah masalah baru."
"Entahlah, kita lihat saja besok. Apakah aku bisa menahan emosiku saat bertemu dengannya, ingin rasanya aku menghajar wajahnya itu. Bisa-bisanya Ia mendekati Khanza."
"Emangnya kenapa sih, Kak. Kalau dia mendekati aku, lagian pak Daniel itu orangnya baik kok, ia juga mendekati Khanza hanya untuk berteman sama seperti ia mendekati Aqila, mereka hanya sebatas teman saja," ucap Khanza yang langsung masuk karena memang pintunya tak ditutup, ia langsung masuk dan ikut bergabung bersama mereka di atas kasur, langsung memeluk Aziel yang merentangkan tangannya menyambut kedatangan Mamanya.
Sama halnya dengan Khanza, Aqila juga menceritakan segala sesuatunya pada Khanza termasuk perasaanya pada Daniel.
"Dia itu mendekatimu bukan sekedar untuk menjadi temanmu, dia punya maksud lain," ucap Abizar bernada tak suka.
"Kalau bukan jadi teman jadi apa coba, jadi pacar? Kan ga mungkin, aku kan sudah jadi istri kakak."
__ADS_1
"Ya bisa saja kan dia menjadikanmu pacarnya."
"Maksud Kakak, aku berselingkuh dengan pak Daniel gitu?" tanya Khanza menatap tajam pada Abizar.
"Kan aku bilang bisa saja kalian berpacaran."
"Itu sama saja, kak. Kakak mencurigai ku, menuduhku," kesal Khanza.
"Aku tak mencurigaimu, aku hanya bilang mungkin saja," sanggahnya mencoba menjelaskan.
"Hanya saja apa? Hanya bisa saja aku selingkuh. Itu sama saja kak, kakak itu tak percaya padaku. Tau ga, kakak itu nyebelin." ucap Khanza menggendong Aziel dan membawanya keluar, dengan terus menggerutu di setiap langkahnya.
Aziel terus memandangi wajah mamanya, lebih tepatnya melihat mulut mamanya yang terus berbicara, tapi ia tak mengerti mamanya berbicara pada siapa.
"Khanza bukan begitu maksudku," teriak Abizar pada Khanza yang terus berjalan semakin menjauhinya keluar dari kamar Farah.
"Kenapa dia marah?" tanya Abizar yang melihat pada Farah.
"Terus kalau maksud Mas bukan seperti itu, tak menuduhnya akan berselingkuh lalu apa?" tanya Farah berjalan malas mengambil handuk.
"Ya maksudku kan mungkin saja, mungkin saja belum berarti benar kan," belanya pada dirinya sendiri.
"Sudahlah, Mas! Aku saja mengartikannya jika tadi itu Mas tak percaya padanya, menuduhnya akan berselingkuh dengan pak Daniel."
"Aku menuduhnya dari mana coba," kekeh Abizar merasa tak bersalah.
"Mengalah aja, Mas. Wanita itu selalu benar, itulah rumusnya," ucap Farah berjalan gontai masuk ke kamar mandi.
Abizar melihat ke pintu kamar mandi dan melihat keluar ke arah pintu kamar, Khanza sudah tak terlihat lagi disana.
"Abizar berjalan keluar, sambil mengacak-acak rambutnya.
"Ya, benar. Wanita memang selalu benar," batinnya mencoba mencari keberadaan Khanza dan Aziel.
💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖
Terima kasih sudah membaca 🙏
Jangan lupa like dan komennya ya, 🙏
Salam dariku Author M Anha
__ADS_1
💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖
Ada tim Aqila dan Daniel?😉