Berbagi Cinta : Mencintai Diriku Dan Dirinya

Berbagi Cinta : Mencintai Diriku Dan Dirinya
Adu kekuatan.


__ADS_3

Khanza membawa Aziel ke kamarnya, malam ini dia hanya ingin menghabiskan malam dengan putranya, ia masih sangat kesal pada suaminya.


****


Pagi hari Abizar berangkat ke kantor saat Khanza dan Aziel belum keluar dari kamar, ia ada rapat penting di luar kota jadi dia harus pergi lebih pagi.


Seperti biasa, ia selalu kemana-mana bersama dengan Fahri teman sekaligus asistennya.


Mereka bertukar tempat Fahri yang membawa mobil sementara Abizar masih terus mempelajari materi rapat mereka, semalam karena masalahnya dengan Khanza ia menjadi lupa mempelajari materi rapat yang sudah dikirimkan oleh Fahri, semalam.


Fahri melirik ke arah Abizar, tidak biasanya dia melakukan hal itu, baru mempelajari materi rapat saat sedang berada di jalan. Fahri mengenal sosok Abizar, dia adalah orang yang sangat disiplin, konsisten dan selalu siap dalam segala hal khususnya dalam pekerjaan.


Ini pertama kalinya Abizar tak siap menghadapi rapatnya.


"Fahri. Aku berencana akan ke kampung Khanza, apa semua ini bisa dipercepat ?" tanyanya.


"Tentu saja, kau tinggal menyetujui hasilnya saja, selebihnya biar aku yang akan melakukannya. Aku akan berusaha melakukan yang terbaik. Kau bisa pergi!"


"Baiklah, aku serahkan pekerjaan ini padamu. Aku takkan lama mungkin hanya beberapa hari saja aku disana. Aku sudah terlanjur janji pada Khanza akan membawanya bertemu kakek dan nenek."


"Tentu saja," jawab Fahri tetap Fokus melihat jalan yang masih berkabut di beberapa bagian.


Setelah menempuh perjalanan yang cukup memakan waktu, mereka sampai ke tempat rapat, rapatnya di adakan di sebuah restoran mewah.


Abizar melihat jika Daniel dan Farel juga sudah sampai, mereka berjalan dan baru akan masuk ke restoran yang telah di siapkan.


"Ada apa-apa?" tanya Fahri yang melihat perubahan ekspresi pada wajah Abizar.


"Lihatlah pria yang ada di sana," ucap Abizar menunjuk seseorang dengan dagunya.


"Maksudmu, Daniel?" tanya Fahri melihat ke arah tatapan bosnya.


"Yah, Kuda Nil!" ucap Abizar yang membuat Fahri kelepasan tertawa.


Abizar langsung menatap pada Fahri.


"Maaf, Pak Keceplosan." Fahri terus mencoba menahan gelak tertawa mendengar ucapan dari bosnya yang memberi julukan  Kuda nil pada Daniel.


"Ingin rasanya aku menghajar wajah sombongnya itu," ucapnya lagi masih terus menatap Daniel dari dalam mobil.


"Memangnya ada apa dengan pak Daniel ?" tanya Fahri penasaran.


"Dia merayu istri ku." jawabnya singkat.


"Pak Daniel merayu Ibu Farah?" tanya Fahri memastikan.


"Bukan, tapi Khanza," jawabnya masih tetap memandang lurus ke depan ke arah Daniel dan Farel.


"Bagaimana kerjasama kita dengan Daniel apa sudah rangkum?" tanya Abizar lagi.


"Sudah, Pak. Aku akan menyelesaikannya segera mungkin.

__ADS_1


"Aku tak ingin lagi berhubungan atau menjalin kerjasama dengannya," ucapnya melihat pada Fahri.


Fahri hanya bisa mengangguk, Fahri sudah tahu alasannya mengapa Bosnya itu tak menyukai Daniel.


Fahri melihat jam tangan yang melingkar di lengannya, "Pak, sebaiknya kita segera masuk. Rapatnya sebentar lagi akan dimulai," kata Fahri memberi tahu Abizar Yang sepertinya enggan untuk turun dari mobil.


Abizar hanya mengangguk dan membereskan berkas-berkasnya kembali, kemudian keluar dari mobil.


"Semoga aku bisa menahan diri untuk tak menghajarnya," gumam pelan Abizar yang masih bisa didengar oleh Fahri.


"Sepertinya Pak Daniel mengganggu orang yang salah," batin Fahri yang tahu jika Abizar lebih senang melakukan tindakan daripada berbicara.


Rapat dimulai dan sesuai keputusan hasil rapat, Daniel dan Abizar lagi-lagi dipertemukan untuk melakukan kerjasama dalam proyek besar, gabungan dari beberapa perusahaan besar.


Abizar sebenarnya tak ingin lagi bekerja sama dengan Daniel, tapi ia terus berusaha bersikap profesional, terlebih lagi kerja sama kali ini bukan hanya melibatkan mereka berdua. Ia akhirnya menandatangani surat perjanjian kerja tersebut dan menyerahkannya kepada Pak Fahri.


Rapat selesai, Abizar  berhasil menahan amarahnya didepan semua orang. Namun, saat akan masuk ke dalam mobil, Daniel menghampirinya.


"Siang Pak Abizar?" sapa Daniel.


Mendengar namanya dipanggil Abizar pun berbalik menatap orang yang memanggilnya, ia menghela nafas malas saat tahu jika orang tersebut adalah Daniel, orang yang sangat ingin dijadikannya tempat mendaratkan tinjunya.


"Ada apa Pak Daniel?" bukannya Abizar yang menjawab pertanyaannya justru Fahri lah yang balik bertanya kepada Daniel. 


"Tak apa-apa Pak Fahri. Aku hanya ingin menyapa rekan kerjaku ini," ucapnya mengulurkan tangannya ingin berjabat tangan Abizar. Abizar hanya melihat tangan Daniel tanpa berniat untuk menyambut uluran tangan tersebut.


"Oke tak masalah," ucap Daniel yang menarik kembali uluran tangannya.


"Oh ya, Pak. Bagaimana kabar Khanza ?" tanya Daniel.


Abizar yang sejak tadi menahan emosinya tak sadar  langsung melepaskan tinjunya ke wajah Daniel saat mendengar nama Khanza keluar dari mulutnya.


Daniel yang mendapat serangan tiba-tiba terkejut dan memundurkan langkahnya  ke belakang menahan tubuhnya agar tak tersungkur, ia merasakan sakit di area pipinya karena bogeman Abizar.


Daniel memegang sudut bibirnya yang terasa perih, melihat ada darah disana. 


Daniel tak terima dan balas memukul Abizar.


Mereka saling pukul, Farel dan Fahri sudah berusaha memisahkan mereka. Namun, keduanya tak mampu dipisahkan.


Abizar menghajar Daniel, ia meluapkan rasa kekesalannya yang sejak tadi ditahan, karena Daniel telah menggoda istrinya. Sementara Daniel meluapkan  kemarahannya pada Abizar, menghajarnya, meluapkan rasa kesalnya, mengingat adiknya yang telah menjadi korban poligami. Daniel mengetahui  jika Abizar menjadikan Khanza istri kedua. Ia  menganggap pria yang menduakan istrinya sama bejatnya dengan adik iparnya.


Mereka terus beradu tinju hingga satpam pun ikut membantu melerai mereka.


"Apa-apaan ini, kenapa ada memukul saya," protes Daniel yang mendapat pukulan lebih dulu, sebenarnya ia sudah tahu mengapa Abizar memukulnya.


"Jangan berpura-pura, Pak Daniel. Anda pasti tahu apa alasan saya memukul Anda," ujar Abizar yang masih terus mengepal tangannya, nafasnya masih sulit dikendalikan karena emosinya.


"Aku benar-benar tak mengerti apa maksud anda," ucap Daniel sambil  mengusap pakaian yang berantakan, merapikan kembali dasinya.


"Jangan pernah mengganggu istriku," ucap Abizar menatap tajam pada Daniel.

__ADS_1


"Maaf aku tak pernah mengganggu istri anda, untuk apa juga aku mengganggu ibu Farah," Berlaga tak tau Siapa yang dimaksud Abizar. 


"Jangan pernah mengganggu Khanza?" ucap Abizar seolah memberi tahu jika Khanza juga adalah istrinya.


"Tunggu, Khanza? Apakah Khanza juga adalah istri anda? Jadi anda memiliki 2 istri atau 3 istri atau lebih dari itu," ucap Daniel semakin memancing emosi Abizar.


Daniel ingin melihat apa reaksi Abizar saat ia mendekati Khanza, dia ingin tahu apakah Abizar benar-benar mencintai Khanza atau hanya menjadikannya wanita yang melahirkan benihnya.


"Aku memiliki lebih dari satu istri itu bukan urusan Anda, sebaiknya Anda urus urusan anda sendiri, Pak Daniel," Kesal Abizar.


"Aku hanya kasihan kepada Khanza, dia gadis yang sangat baik dan bertemu badjingan seperti Anda."


Farel menggeleng dan terus berusaha menghalangi di depan mereka begitu juga dengan Fahri. Bagaimana perkelahian ini bisa dihentikan jika mereka masih terus saling menghujat batin 2 F.


"Itu bukan urusan Anda, Pak Daniel."


"Itu juga akan menjadi urusanku mulai sekarang," tegas Daniel.


"Apa maksud Anda?".


"Ya, karena aku menyukainya, aku menyukai khanza" ucap Daniel tegas.


Abizar yang mendengar itu semakin bertambah emosi dan kembali ingin menghajar Daniel. Namun, Fahri dan Farrel terus menghalangi mereka.


"Pak kita sudah menjadi bahan perhatian, Pak!" ucap Fahri.


Abizar dan Daniel menatap sekelilingnya dan benar saja mereka sudah menjadi bahan tontonan.


Mereka saling menatap geram kemudian Abizar masuk kedalam mobilnya.


Abizar  menutup pintu mobilnya dengan kasar, Fahri sedikit berlari masuk ke mobil dan dengan cepat melajukan mobilnya meninggalkan Daniel dan Fahri yang terus melihat menatap mereka.


"Aku ingin tahu, seberapa besar cintamu padaku Khanza," batin Daniel tersenyum tipis menjilati bibirnya yang terasa perih.


💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖


Terima kasih sudah membaca 🙏


Jangan lupa like dan komennya ya, 🙏


Sabar ya kak, mohon terus mengikuti alur.


Masih banyak yang akan terjadi di antara mereka.


Salam dariku Author M Anha


💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖


Sambil menunggu update terbaru, yuk kak mampir dulu di karya temanku.


__ADS_1


Jangan lupa favorit kan juga ya🙏💕💕💕


__ADS_2