Berbagi Cinta : Mencintai Diriku Dan Dirinya

Berbagi Cinta : Mencintai Diriku Dan Dirinya
Siapa Dibalik Semua ini


__ADS_3

Di saat kedua istri dan anaknya sedang asyik bermain di sawah kakek, Abizar justru direpotkan dengan masalah yang dialami oleh bisnis Farah.


Hari ini ia sudah mendatangi 4 rekan bisnis yang sudah membatalkan kerjasamanya dengan Farah. Abizar mengajak dan meminta penjelasan. Namun, semuanya menolak dan tak ingin mengatakan alasan sesungguhnya, mereka hanya mengatakan jika mereka ingin menjalin kerjasama dengan perusahaan lain. Mereka telah memiliki rekan bisnis yang jauh lebih menguntungkan mereka.


Tak hanya itu Abizar bahkan menawarkan keuntungan dua kali lipat dari sebelumnya, tapi mereka tetap saja menolak.


Abizar memukul stir mobil,


"Apa ini, kenapa aku merasa semua ini disengaja, semuanya mengatakan hal yang sama persis seolah mereka sudah diperintahkan untuk mengatakan itu jika ada yang mempertanyakannya."


"Aku harus mencari cara agar bisa mengetahui siapa dalang dari semua ini," gumam Abizar kesal.


Abizar melajukan mobilnya menuju ke orang kelima yang akan ia temui.


Abizar memarkirkan mobilnya di parkiran perusahaan orang tersebut kemudian masuk menemui resepsionis.


"Apa Mr Jack ada di ruangannya?" tanya pada resepsionis dengan masih tersisa ekspresi wajah kesalnya, membuat resepsionis tersebut sedikit ketakutan.


"Apa Bapak sudah buat janji?" tanyanya memberanikan dirinya.


"Dia menyuruh untuk menemuinya, kami sudah membuat janji sebelumnya."


"Sebentar Pak, saya konfirmasi dulu," ucapnya kemudian menelpon seseorang.


"Beliau sudah menunggu bapak di ruangannya," ucap sang resepsionis.


Abizar tanpa kata lagi langsung berjalan naik ke lantai atas ke ruang pimpinan perusahaan tersebut.


Abizar mengetuk pintu dan baru membuka saat terdengar suara yang mempersilahkannya masuk. Sebisa mungkin ia mengontrol emosinya.


Abizar mengenal baik Mr Jack, selain dengan Farah, Ia juga menjalin kerjasama dengannya jadi bukan hal yang sulit untuk menemuinya.


"Selamat sore Mr Jack, senang kembali bertemu dengan Anda," ucap Abizar mengulurkan tangannya menjabat tangan Mr Jack yang menyambutnya.


Mereka kemudian duduk di sofa yang ada di ruangan itu.


"Apa Anda datang ke sini karena masalah pembatalan kontrak kerjasama?" ucap Mr Jack lebih dulu.


"Sepertinya Anda sudah tahu, jadi saya tak perlu lagi menjelaskannya."

__ADS_1


"Saya orang terakhir yang yang membatalkan kontrak kerjasama dengan istri Anda, tadinya saya tidak ingin melakukannya, tapi semua orang sudah menarik dan membatalkan kontrak kerjasama mereka. Saya sangat menghormati Anda, tapi saya juga Seorang pebisnis dan itu tak mungkin jika saya tidak ikut menariknya dan bertahan. Saya rasa Anda mengerti yang saya maksud sebagai sesama pebisnis," ucapnnya mencoba menjelaskan.


"Tentu saja saya mengerti, tapi apa boleh saya tahu. Apa alasan mereka semua persamaan membatalkan kontrak kerja sama mereka, saya merasa seolah-olah semua ini sudah ada yang mengaturnya," ucap Abizar menatap pada Mr Jack yang terlihat begitu santai.


"Sepertinya dugaan Anda benar, sebelum kejadian pembatalan kontrak kerjasama itu, ada seseorang yang menemuiku, ia meminta melakukan hal yang sama, tapi Aku menolaknya. Orang tersebut bahkan tak segan-segan menawarkan imbalan jika kami memutuskan kontrak kerjasama dengan ibu Farah dan mau bekerjasama dengan perusahaan mereka.


Abizar mengepal tangannya, "Jadi benar semua ini disengaja, ada seseorang yang sengaja ingin menghancurkan bisnis Farah, tapi siapa dan apa alasannya."


"Bapak tahu siapa orangnya?"


"Maaf kalau masalah itu aku tak bisa memberitahu Anda. Aku sendiri tak tau siapa mereka, saat orang itu datang dan menawarkan, mereka tak meninggalkan identitas begitu aku menolak dia langsung pergi. Coba Anda tanya dengan beberapa pihak yang membatalkan kontrak kerjasama yang lainnya yang menerima kerjasama dengan perusahaan tersebut." usul Mr Jack.


"Aku sudah menemui mereka, semuanya kompak tak ingin menjawab dan memberitahu siapa dalang dari semua ini, aku rasa memang mereka diminta untuk melakukan itu."


"Apa Anda punya musuh?" tanya Mr Jack pada Abizar.


"Kita sudah mengenal cukup lama, apa menurut Anda aku memiliki musuh?" tanya balik Abizar.


Mr Jack tahu bagaimana sifat Abizar, ia sangat bersih dalam urusan bisnis tak pernah mencurangi ataupun mencoba mengambil hak bisnis orang lain.


"Anda benar, sepertinya orang ini tak melakukannya karena masalah bisnis."


"Bisa saja masalah pribadi," ucapnya.


"Masalah pribadi," ulang Abizar mencoba mengingat Siapa yang memiliki masalah pribadi dengannya, tiba-tiba wajah Daniel muncul di benaknya.


"Apa ini semua ulah Daniel, tapi untuk apa dia menghancurkan bisnis Farah apa dia marah karena aku batalkan semua kontrak kerjasama ku dengannya dan ingin membalasmu," batin Abizar mengeraskan rahangnya, ia mengepal tangannya, " Jika memang ini adalah ulahmu, aku takkan memaafkanmu, Daniel."


******


Sementara itu di kampung kakek, sejak tadi Farah menelpon Abizar. Namun, kebiasaan buruk suaminya itu kembali kumat, ia tak mengangkat panggilannya, bahkan di saat-saat genting sekalipun.


Farah mengirim pesan jika ia membaca pesannya agar menelepon balik.


Setelah bermain cukup lama di sawah Aziel kini sudah penuh dengan lumpur, Khanza dan Farah tak bisa menahan rasa ingin tahu Aziel.


Mereka menyerah dan membiarkan Aziel bermain lumpur.


Kakek dan nenek sangat bahagia melihat kedekatan Farah dan Khanza mereka sangat kompak dalam mengurus Aziel begitu juga dengan Aziel ia tidak membeda-bedakan antara mama dan bubunya, ia menyayangi keduanya terlihat jelas dari sikap anak itu.

__ADS_1


Saat ketiganya sedang asyik bermain lumpur Warda terus saya meneriaki mereka, melarang cucunya itu bermain lumpur.


Kakek dan nenek Khanza hanya tertawa melihat Warda.


Mereka kembali ke rumah dengan kondisi berlumpur, Khanza tak menyia-nyiakan momen itu ia mengambil beberapa foto dan mengirimnya kepada Abizar.


Setelah membersihkan diri, sepertinya Aziel benar-benar kelelahan bermain seharian di sawah, begitu selesai mandi dan diberi susu ia langsung tertidur pulas.


"Mbak, Kak Abi mana ya, dari tadi pesanku tak dibukanya."


"Mbak juga nggak tahu. Sejak pagi Mbak juga nelponnya, tapi tak dijawab."


Khanza mencoba menghubungi Abizar, panggilannya terhubung, tapi seperti apa yang dikatakan Farah, suaminya tak mengangkatnya.


"Ya ampun ... Kak Abi gimana sih! Suka sekali mematikan nada panggilannya, aku yakin pasti kali ini ia mengaktifkan mode diam di ponselnya sehingga tak mendengar panggilan kita," gerutu Khanza.


Khanza tiba-tiba menjadi kesal, mengingat saat berada di situasi yang sama, saat akan melahirkan Aziel dulu mereka juga penelpon nomor ponsel Abizar berkali-kali, ponsel berdering, tapi tak diangkat.


Khanza bergidik ngeri saat mengingat kejadian malam itu.


"Kamu kenapa?" tanya Farah yang melihat apa yang dilakukan Khanza.


"Aku hanya mengingat kejadian di malam aku melahirkan Aziel, setiap aku mengingat kejadian itu, aku langsung merinding dan merasa ada sesuatu yang menyayat di perutku."


"Kamu jangan mengingatnya lagi, itu akan menjadi trauma nantinya."


"Mungkin Mbak, kak Abi pernah membicarakan untuk aku hamil lagi, tapi membayangkannya saja aku sudah merasa lemas. Aku benar-benar tak ingin mengalami kejadian itu lagi."


"Kalau kamu memang belum siap untuk hamil lagi sebaiknya jangan, takutnya itu akan berdampak pada kesehatanmu. Kita sudah punya Aziel, Mbak merasa itu sudah cukup, kita bisa membesarkannya bersama-sama."


💖💖💖💖💖💖💖💖💖


Terima kasih sudah membaca 🙏


silahkan tinggalkan jejak kalian, jika tak ada vote dan hadiah tak apa. Tapi tolong like dan Komen 🙏🙏🙏


Mari saling menghargai 🤗😉🙏


💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖

__ADS_1


__ADS_2