Berbagi Cinta : Mencintai Diriku Dan Dirinya

Berbagi Cinta : Mencintai Diriku Dan Dirinya
Aziel Kesayangan Semua.


__ADS_3

Semua sudah kembali dengan rutinitas seperti biasanya, Abizar sudah kembali aktif di kantor dan mulai membangun kembali bisnisnya, berusaha menjalin kerjasama dengan beberapa mitra yang sudah membatalkan kerjasama mereka.


Kemampuan Abizar dalam mengelola bisnisnya tak diragukan lagi, hanya beberapa hari Ia aktif di kantor semua sudah kembali seperti semula.


Farah juga sudah sibuk mengurus Aziel,


begitu juga dengan Mama Warda, mereka berebut dalam mengurus bayi tampan dan menggemaskan itu, bahkan saat malam hari mereka akan bergiliran mengambil Aziel untuk tidur bersama mereka. 


Mengkonsumsi susu formula memudahkan mereka mengurus Aziel bergantian.


Tak jarang saat Aziel tidur bersama neneknya dan begitu Warda tidur nyenyak,  Farah akan mengambil secara diam-diam dan membawa ke kamarnya. Begitu pula sebaliknya, saat Aziel tidur di kamar Farah Warda akan mengambil cucunya, terkadang Abizar protes dengan mamanya, tapi Warda tak menghiraukannya dan tetap membawa Aziel ke kamarnya. 


Tak jarang drama kaget karena bayi di sampingnya sudah menghilang saat pagi dialami mereka berdua, mengira bayi itu terjatuh saat mereka terlelap.


Itulah rutinitas mereka setiap pagi, mereka akan saling berebut untuk memandikan bayi yang sudah semakin menggemaskan itu, l


Terlihat begitu gembul dan mulai aktif.


"Farah kamu ngagetin Mama tahu, Mama pikir Aziel jatuh dari tempat tidur,  Mama bangun tiba-tiba cucu mama sudah tak ada di samping Mama, Mama sampai cari di bawah kolong tempat tidur," ucap Warda kesal, walau sudah sering mengalaminya ia tetap saja kaget saat bayi di sampingnya hilang.


Farah hanya tertawa menanggapi Omelan mertuanya itu.


Warda mengambil Aziel dari gendongan Farah.


"Farah 'kan juga pengen tidur Mah, dengan Aziel," ucap Farah memberikan susu.


"Kalian ini kayak anak kecil saja sih, yang saling berebut mainan," ucap Santi yang sejak tadi mendengar pembicaraan mereka, Santi mulai jengah melihat kelakuan mereka berdua.


Abizar datang menghampiri dengan pakaian kantornya.


Bayi kecil itu seperti sudah mengerti jika Abizar adalah papanya dan akan pergi bekerja. Aziel langsung merentangkan tangannya ingin digendong.


Abizar langsung menggendong bayi kecilnya itu, mencium perutnya membuat Aziel merasa geli dan tertawa.


"Kita jenguk mama ya," ucap Abizar menggendong putranya menuju ke kamar utama dimana Khanza masih berbaring di sana.


Abizar meletakkan baby Aziel di samping Khanza dan membuka gorden agar matahari masuk ke dalam kamar itu.


Abizar menghampiri Khanza mengecup keningnya kemudian punggung tangannya.


"Khanza kamu kenapa lama tidurnya, Aziel kangen nih sama kamu," lirihnya mencoba mendekatkan Aziel pada Khanza.


Menurut saran dokter adanya ikatan antara ibu dan anaknya bisa juga sebagai salah satu perangsang agar Khanza mau kembali dan membuka matanya.


"Ziel panggil mama, ya," ucap Abizar mencoba meletakkan tangan kecil  Aziel di telapak tangan Khanza.


"Ziel ini mamanya ziel, Mama lagi sakit. Aziel bantu papa bangunin Mama, ya!" ucap Abizar mengajak berbicara anaknya.

__ADS_1


Yang ditanggapi kedipan kedua mata indahnya, seolah mengatakan jika ia tak mengerti apa yang dikatakan papanya.


Abizar tertawa melihat ekspresi lucu anaknya, yang terlihat sangat menggemaskan.


Aziel terus tertawa setiap Abizar berbicara, Aziel yang terlanjur tertawa merasa lucu setiap ada kata yang keluar dari mulut papanya..


"Khanza, apa kau bisa mendengar tawa anak kita, Sampai kapan kamu akan terus tidur, apa kamu tidak merindukanku dan bayi kita," ucap Abizar kembali mengecup punggung tangan Khanza, kemudian mengecup kepala putranya.


Setiap pagi sebelum berangkat ke kantor Abizar akan menyempatkan diri untuk mengajak Aziel menjenguk mamanya dan mengenalkan pada putranya jika Khanza adalah mamanya.


Tak lama kemudian Farah datang menghampiri mereka.


"Mas, ini sudah jam berapa. Sudah waktunya Mas ke kantor," ucap Farah menyusul Abizar ke kamar karena mereka sudah terlalu lama dan Farah tahu jika pagi ini Abizar ada rapat penting.


Abizar melihat jam di pergelangan tangannya.


"Aku hampir saja lupa karena keasikan bermain dengan ziel," ucap Abizar mencium gemes pipi bulat ziel yang membuat anak itu kembali tertawa bahkan  menjatuhkan badannya ke tempat tidur dan terus tertawa saat Abizar menggelitik perutnya.


"Mas, udah dong jangan digelitik terus kasihan 'kan," tegur Farah yang melihat ada air mata di mata Aziel karena terus tertawa.


"Papa ke kantor dulu ya," ucap Abizar pamit pada Aziel dan kembali mencium kedua pipi putranya.


Kemudian berjalan mendekati Khanza,


"Sayang, aku ke kantor dulu ya," pamit nya mencium berkali-kali punggung tangan Khanza kemudian mengecup keningnya, memperbaiki selimut yang sudah berantakan karena ulah Aziel yang terus menarik selimut mamanya.


"Iya, Mas fokus saja dengan urusan kantor, Khanza dan Aziel aku yang urus," ucap Farah.


Farah bermaksud  mengantar Abizar berangkat ke kantor seperti biasanya, ia dan Aziel akan mengantar hingga teras rumah. Namun, saat Farah ingin mengambil Aziel anak itu tak mau dan menarik baju Khanza.


"Aziel kita antar Papa dulu ya ke kantor," bujuk Farah pada Aziel. Namun, sepertinya anak itu menolak yang terus saja ingin berada di samping Khanza.


Saat Farah akan mengambil Aziel, anak itu akan merangkak naik ke perut Khanza dan memeluknya erat.


"Biarkan Mama istirahat ya, ntar Papa ke kantor," kata Abizar yang langsung menggendong Aziel. Mereka pun keluar dari kamar utama.


Khanza lagi-lagi meneteskan air mata dari sudut matanya.


Sudah beberapa bulan kini Khanza betah tertidur dan Dokter mengatakan jika kondisinya tak ada perubahan sama sekali. Namun, hanya air mata Khanza yang membuat Abizar tetap yakin suatu saat nanti Khanza bisa kembali berkumpul bersama mereka.


Farah dan Aziel mengantar Abizar sehingga ke teras rumah.


"Papa berangkat ke kantor dulu ya, Ziel sama ibu, ya," ucap Abizar.


Abizar mengajarkan anaknya untuk memanggil Mama kepada Khanza  dan ibu kepada Farah.


Sepertinya ia berhasil, Aziel mengerti dan bisa membedakan siapa mama dan ibu yang dimaksud oleh papanya .

__ADS_1


Abizar  berangkat ke kantor dengan lambaian kecil tangan putranya.


Ziel mandi dulu ya, udah bau acem," ucap Farah mencium ketiak Aziel yang membuat anak itu kembali tertawa geli.


Santi melihat semua itu dari balik jendela, senyum bahagia terbit dari bibirnya. Ia bisa melihat anaknya begitu bahagia dan terlihat begitu menyayangi anak suaminya itu.


Farah memandikan Aziel, Ziel sangat suka bermain dengan air, merendam tubuhnya dan beberapa mainan yang Farah masukkan ke dalam tempat mandinya, mandi sambil bermain.


Aziel terus tertawa sepanjang Ia mandi. Namun, saat Farah akan menghentikan ritual mandinya, ia akan menangis dan tak mau meninggalkan bak mandinya.


"Ziel, sudah ya mandinya, nanti sakit," ucap Farah lembut.


Seperti mengerti bayi itu menggeleng dan terus memukul-mukul air hingga memercikkan air ke wajahnya dan tertawa.


"Kita lihat mama ya," ucap Farah.


Aziel seperti mengerti apa yang dimaksud oleh Farah, ia menghentikan memukul-mukul akhir dan tenang saat Farah mengangkatnya dari bak mandinya.


Farah mulai mengganti pakaian dan membalurinya dengan minyak telon, memberi bedak tabur di pipi Aziel. Memakaikan pakaian yang sangat lucu .


"Anak Ibu, sudah ganteng, Aziel mau kemana?".


Tiba-tiba Aziel mengatakan " Mama ... mama,"


"Wah, Aziel  sudah bisa panggil mama, yah! Coba panggil Ibu," Farah sangat senang mendengar ada kata yang bisa Aziel katakan.


"Bu ... Bu." ucapnya lagi.


"Wah ... udah bisa panggil ibu juga ya anak ibu," Farah sangat bahagia mendengar Aziel memanggilnya. Ada rasa bahagia yang tak bisa ia ungkapkan dengan kata-kata, hanya air mata bahagia yang bisa menggambarkan betapa bahagianya ia saat ini. Farah mencium putranya kemudian membawanya keluar.


"Sesuai dengan kesepakatan, jika Aziel berhenti mandi ibu akan membawa Ziel ke mama." ucap Farah berjalan menuju kamar utama.


Sepanjang jalan ke kamar utama Aziel terus mengatakan mama mama bubu bubu.


"Iya, kita jenguk mama ya, Ziel panggil mama biar mama bisa bangun," ucap Farah menjelaskan kepada putranya, seolah putranya itu benar-benar mengerti apa yang ia ucapkan.


💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖


Terima kasih sudah membaca 🙏


💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖


Sambil nunggu update terbaru mampir yuk Kak ke karya temanku, aku di jamin gak kalah gregetnya😉



Di tunggu ya, kak 🙏

__ADS_1


Jangan lupa like,dan favorit kan juga 🤗


__ADS_2