
Hari kedua Khanza dan Farah kembali ke rumah yang telah dibeli oleh Abizar, sebelum pindah mereka mengisi beberapa perabotan dan menyiapkannya.
"Mbak, aku kok merasa nggak enak ya, sama Mama. Mama kayak marah gitu sama aku," ucap Khanza memainkan gelas yang akan disusunnya, ia merasa sikap mertuanya sudah mulai berubah padanya.
"Kalau dibilang marah, mungkin saja Mama lagi marah sama kamu, karena kamu akan pindah dan itu berarti Aziel akan jarang bersama kami, tapi seiring berjalannya waktu Mbak yakin Mama pasti mengerti dan biasa menerima semuanya.
Khanza duduk di kursi yang ada di sana ngambil air minum dan minumnya hingga tandas.
Khanza ingin cepat-cepat pindah ke rumah barunya ini.
"Aku dengar kamu ingin kembali ke kampung, ya?" tanya Farah berjalan ke sofa dan merebahkan dirinya di sana.
"Iya, Mbak. Sebelum pindah nanti aku ingin pulang dulu ke kampung, sekalian mengundang keluarga agar bisa ikut bergabung saat pindahan nanti. Aku juga ingin memperkenalkan Ziel dengan keluarga yang ada di kampung," jawab Khanza ikut rebahan di sofa.
"Apa kakek sudah memaafkan mas Abi?" tanya Farah dengan hati-hati dan menatap langit-langit ruang tengah dimana mereka sedang menghabiskan waktu untuk beristirahat.
Farah tahu jika kakek Khanza sangat marah mengetahui jika dalam pernikahan mereka ada dirinya, menjadikan cucunya sebagai wanita kedua.
"Entahlah, Mbak. Setiap aku menanyakannya pada kakek, kakek selalu mengalihkan pembicaraan, tapi aku yakin kakek pasti bisa mengerti dan memaafkan kak Abi, mungkin dengan ke sana dan meminta maaf langsung kakek bisa memaafkannya. Apa kakak mau ikut bersama kami ke kampung?" tanya Khanza menatap Farah yang masih menikmati bentuk langit-langit ruangan itu.
"Nggak, kalian saja! Aku beresin rumah ini aja, jadi kalau kalian pulang sudah siap untuk ditempati," jawab Farah mencari alasan. Sebenarnya ia merasa tak enak jika harus ikut bersama dengan mereka, tak bisa dipungkiri dia juga ikut andil dalam kesalahan awal pernikahan Khanza dan merasa tak enak pada kakek dan nenek Khanza. Abizar juga sudah meminta untuk ikut bersama mereka.
Farah dan Khanza terus berbincang-bincang sambil beristirahat hingga datang Abizar menghampiri mereka, ia baru kembali dari kontor dan langsung singgah. Dari kantor ke rumah mama mertua Khanza akan melewati rumah baru Khanza.
"Bagaimana? Apa kalian membutuhkan sesuatu?" tanyanya menghampiri mereka.
Farah yang melihat Abizar berjalan padanya langsung berdiri dan menyambut suaminya, mengambil tas kerja dan jasnya, sedangkan Khanza hanya duduk dan melihat mereka. Tak mungkin Ia juga ikut menyambutnya.
"Aziel mana," tanya Abizar melihat di sekitar mereka, ia mengira mereka membawa Aziel.
"Ya, kali Kak. Kami bawa Aziel, kami kesini tuh buat beberes, mana jadi kalau Aziel nya ikut," jawab Khanza masih bersandar di sandaran sofa sedangkan Farah sudah sibuk di dapur membuatkan minum untuk suaminya.
Abizar kembali melihat sekelilingnya, "Kalian cepat juga, ya! Apa semua peralatan sudah lengkap?"
"Masih ada beberapa pelengkap, Mas, ini cepat
kan banyak yang bantu, Mas," jawab Farah meletakkan secangkir kopi di depan Abizar.
Saat mereka berbelanja perlengkapan, mereka meminta tolong diantarkan, begitu menyuruh para tukang membawanya masuk mereka langsung menatanya sehingga langsung tertata rapi di tempat yang mereka inginkan.
"Kak, Kapan kita ke kampung?" tanya Khanza yang masih betah menyandarkan kepalanya di sandaran sofa sambil memeluk bantalan sofa, dia sangat lelah seharian berbelanja perabotan rumah.
Khanza sangat bersemangat berbelanja untuk mengisi rumah barunya.
__ADS_1
"Kita lihat kerjaanku, jika sudah ada waktu luang kita akan langsung berangkat , sekarang aku masih sangat sibuk," jawabnya meminum kopi yang dibuatkan Farah.
"Mas, lagi mengerjakan proyek dengan Pak Daniel, ya?" tanya Farah.
"Iya, kami Sedang mengerjakan proyek besar, semoga saja semua berjalan lancar dan cepat kelar."
Khanza melihat ponselnya yang berkedip dan melihat pesan yang masuk, pesan itu dari Daniel.
"Dari mana dia dapat nomorku?" batin Khanza melihat chat dari orang tersebut yang memperkenalkan dirinya sebagai Daniel dan menyapanya.
Khanza langsung melirik ke Abizar dan segera menghapus pesan tersebut.
"Pak Daniel itu baru ya bekerjasama dengan Mas? Kok aku baru lihat, ya,? tanya Farah lagi.
"Iya, jadinya awalnya dia mengembangkan bisnisnya di luar negeri dan baru mulai mengembangkan bisnisnya di negara ini, Perusahaannya cukup besar," jawab Abizar
Lagi-lagi terdengar notif masuk di ponsel Khanza membuat Abizar dan Farah melihat ke arahnya.
"Pesan dari siapa? Dari tadi ponsel kamu sibuk sekali," tanya Abizar menatap curiga pada Khanza.
"Bukan siapa-siapa, Kak. Orang iseng," ucapnya saat ponselnya kembali menandakan dua pesan yang baru masuk.
Abizar menengadahkan tangannya meminta ponsel Khanza.
"Coba sini aku lihat!"
"Udah, sudah aku hapus pesannya. Orang kurangan kerjaan," jawabnya tetap mempertahankan ponselnya. Baru saja ia berhenti mengucapkan kalimatnya 3 notif baru masuk bersamaan membuat Abizar kembali menginginkan ponsel Khanza.
"Kalau kau biarkan begitu saja, dia akan semakin mengganggumu. Memangnya apa yang ia kirim, coba aku lihat chatnya!" kembali meminta ponsel Khanza.
"Nggak usah diurusin, Kak. Nanti juga kalau lelah dia berhenti sendiri," ucapnya.
Khanza mematikan nada pesannya, dan kembali melihat Chat masuk dengan nomor ponsel yang sama yang mengaku jika itu adalah Daniel.
"Kalau kak Abi tahu yang mengirim chat ini adalah Pak Daniel pasti kak Abi marah, Ini lagi ngapain sih kirim chat sebanyak ini." gerutu Khanza dalam hati.
Abizar yang baru mengingat jika ada beberapa pekerjaan yang belum di kerjakannya, mengambil laptopnya dan mengalihkan fokusnya masalah pesan Khanza ke pekerjaannya.
Khanza yang melihat Abizar mulai sibuk dengan laptopnya mulai membuka dan membaca pesan itu, matanya membulat sempurna saat pesan itu berisi rayuan dan jelas ditujukan untuknya. Khanza dan dengan cepat kembali menghapus pesan tersebut dan mengirim pesan agar tak mengirim chat lagi kepadanya dengan kata-kata memohon.
"Maaf," Hanya itu balasan dari chat Khanza.
Khanza menunggu beberapa saat. Namun, sepertinya orang yang mengaku Daniel tadi mendengarkan apa yang diinginkannya, dan tak lagi mengirim pesan.
__ADS_1
"Khanza, tolong bantu Mbak, memindahkan ini," panggil Farah yang sedang memindahkan sesuatu di dapur Khanza.
"Iya, Mbak. Sebentar!" ucap Khanza.
Khanza meletakkan ponselnya di meja, kemudian berjalan cepat menuju kearah di salah satu sudut ruangan memperbaiki lemari hias yang ada di sana agar tetap terlihat lebih indah dan bagus dilihat.
"Kak, pak Daniel itu siapa sih? Kok dia ngirim terus chat ke ponselku, Kalau kak Abi tau aku bisa kena marah." Curhat Khanza.
"Mas Abi tak suka kamu dekat- dekat dengan pak Daniel, jadi dengarkan apa yang dikatakannya, jika bisa jangan ada komunikasi, jangan mencari masalah," ucap Farah.
"Nggak kok, Mbak."
"Bener ya Khanza! Mas Abi itu orangnya keras, sebaiknya kamu jangan dekat-dekat dengan Daniel jika ia mengirim pesan atau sekedar berbasa-basi denganmu tak usah kau tanggapi, melihat caranya menatapmu sangat jelas ia seperti menyukaimu."
"Masa, sih! Biasa aja kok Mbak. Sikap pak Daniel padaku sama ke yang lainnya."
"Apa kamu pernah bertemu dengannya? Kau memberi nomor ponselmu padanya?" tanya Farah menatap curiga pada Khanza.
"Iya, aku pernah nggak sengaja bertemu dia waktu ke Mall. Kalau masalah nomor ponsel aku juga nggak tahu, mungkin dia dapatnya dari teman-teman aku. Hari itu aku pernah mengenalkan mereka.
"Lain kali kamu jangan meladeninya, Mbak juga tak suka Kamu dekat dengannya."
Khanza hanya mengangguk mendengar ucapan dari Farah.
Abizar yang sedang bekerja merasa terganggu saat ponsel Khanza terus berkedip-kedip pertanda adanya notifikasi pesan masuk.
Walau tak bersuara, cahayanya mampu mengalihkan fokus Abizar. Ia menutup laptopnya dan berjalan ke arah ponsel Khanza, duduk dengan nyaman dan mulai membaca pesan yang sedari tadi mengganggunya.
💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖
Terima kasih sudah membaca 🙏
Jangan lupa like, vote komennya🙏
Author M Anha ❤️
💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖
p
__ADS_1