
Walau Khanza sedang berada dalam kondisinya saat ini. Namun, mereka tak boleh melupakan jika ada bayi yang harus mereka utamakan.
Setelah memasuki hari ke-10 Warda mengadakan acara syukuran kecil-kecilan untuk aqiqah dan pemberian nama untuk cucunya.
Ia hanya mengundang beberapa keluarga saja, tak lupa mereka juga mengundang keluarga Khanza di Kampung.
Merasa bersalah kepada keluarga Khanza Warda dan Abizar datang sendiri ke kampung mengundang mereka.
Mungkin jika dalam situasi lain, acara aqiqahan cucu pertamanya ini akan digelar secara besar-besaran. Namun, tidak saat ini, acara kecil-kecilan saja sudah cukup, yang terpenting acaranya dapat dilaksanakan.
Acara aqiqah pun berlangsung, kakek dan nenek Khanza tak datang, mereka hanya diwakili oleh paman dan bibinya. Warda bisa mengerti dengan kekecewaan kakek dan nenek.
Warda yang melihat keluarga Khanza datang langsung menyambutnya dengan sangat ramah.
Hendar dan bude Maya datang mewakili ayah dan ibunya, begitu juga dengan Mirna dan Bayu.
Awalnya mereka juga tak mau datang, tapi nenek meminta mereka menghadirinya, walau bagaimanapun bayi itu adalah anak Khanza, bagian dari mereka. Nenek juga ingin pergi, tapi kakek tak sanggup untuk menghadiri acara tersebut, ia tak sekuat itu.
******
"Terima kasih ya, Mas. Sudah menyempatkan diri untuk datang," ucap Abizar menghampiri Hendra dan Bude Maya. Bayu dan juga Mirna yang baru datang.
"Iya, kami harus tetap datang, kasihan Khanza," ucap bude Maya berkaca-kaca.
"Apa bude boleh melihat Khanza?" tanya Bude.
"Tentu saja," ucapan Abizar mengantar Bude Maya dan Mirna ke kamar utama atau lebih tepatnya di kamar perawatan Khanza.
Bude Maya begitu miris melihat kondisi keponakannya itu, masih jelas teringat sosok Khanza yang begitu periang, kini begitu tenang berbaring di ranjang dengan beberapa alat yang melekat pada tubuhnya.
Bude mendekat dan memegang tangan Khanza.
"Sayang, cepatlah bangun. Ini Bude, kasihan bayi kamu yang sangat membutuhkanmu, Kamu pasti bisa melewati semua ini kamu harus kuat, ya," ucap Bude Maya.
Lama Bude Maya terus saja mengajak Khanza berbicara, berharap itu bisa memberi sedikit penyemangat untuk Khanza.
*****
Acara aqiqahan pun dilaksanakan, bayi mungil itu diberi nama Aziel Ganendra.
Menggunting rambutnya dan melaksanakan beberapa ritual aqiqahan lainnya.
Acara yang biasanya dilakukan dengan senyuman dan tawa bahagia menyambut kelahiran keluarga baru mereka, kini ada air mata yang terus menetes.
__ADS_1
Buda Maya, sepanjang proses acara terus saja meneteskan air mata, meratapi nasib ponakannya, seharusnya ialah yang duduk di atas sana memangku bayinya dan bersanding bersama suaminya. Namun, kenyataannya Ia hanya bisa berbaring tanpa bisa melihat acara yang sakral yang penting untuk putranya. Suaminya dan anaknya duduk bersama wanita lain.
Dari kejauhan mereka terlihat pasangan yang begitu serasi, yang sangat bahagia. Farah yang duduk memangku seorang bayi yang sangat menggemaskan dan Abizar yang duduk di dekatnya. Beberapa keluarga sudah mulai menyalami mereka, memberi Selamat atas kelahiran bayi mereka.
Setelah acara selesai Hendra dan Bude Maya langsung berpamitan pulang.
"Bude, bagaimana keadaan kakek dan nenek?" tanya Abizar saat bude Maya mendekatinya.
"Kau tak usah mengkhawatirkan kakek dan nenek, kami akan menjaganya dan menghiburnya, fokuslah untuk kesembuhan Khanza," ucap Bude.
"Sampaikan permohonan maaf saya pada kakek dan nenek. Aku akan berusaha menyembuhkan Khanza bagaimanapun caranya," jelas Abizar yakin.
"Berusahalah," ucap Hendra menepuk bahu Abizar memberi semangat.
"Abizar, jika kelak Khanza tersadar dari komanya Bude mohon sayangi dia, Khanza itu sangat lembut, rapuh. Mungkin biasanya dia terlihat kuat saat di luar. Namun, dia sebenarnya begitu lemah. Bude mohon bahagiakan dia, jika kau tak bisa membahagiakannya kembalikan dia kepada kami, biarkan kami yang akan berusaha membahagiakan," ucap Bude Maya.
Abizar hanya terdiam tak tahu harus menjawab apa. Buda mengatakannya dengan pelan dan lembut, tapi itu mampu membuat Abizar tak berkutik.
Acara pun selesai.
Hari berganti hari, bulan berganti bulan. Namun, Khanza masih dengan kondisi yang sama, dokter mengatakan jika kondisinya sama sekali tak ada perkembangan. Abizar semakin resah dan merasa gagal.
Abizar bahkan mendatangkan Dokter dari luar negeri, Dokter terbaik di bidangnya. Namun, hasilnya tetap sama.
Saat makan malam,
"Abizar, sampai kapan kamu harus seperti ini, menghabiskan waktu hanya bersama Khanza, sudah 7nbulan lamanya kau terus bersamanya, mengurusnya. Tanggung jawab mu bukan cuman Khanza saja, kamu masih punya Farah, masih punya pekerjaanmu dan juga bayimu. Tak bisakah kau mulai membagi semua itu," ucap Santi.
"Aku tidak melarangmu menjaga Khanza, tapi kamu harus pintar-pintar membagi waktu kapan kau harus bekerja kapan kau harus bersama dengan Farah dan putramu, kapan kau harus bersama dengan Khanza," tambah Santi.
"Mama setuju dengan apa yang mertuamu katakan, kita tidak tahu sampai kapan Khanza akan bangun dari komanya. Bagaimana jika khanza tak sadarkan diri berbulan-bulan atau bagaimana kalau dia tidak bangun selama bertahun-tahun, apa kau akan terus seperti ini," ucap Warda.
Tanpa kata bisa langsung meninggalkan meja makan, perkataan ibunya yang mengatakan jika mungkin saya Khanza akan tak sadarkan diri selama bertahun-tahun sungguh sangat membuatnya terpukul.
"Mah, bisakah mama tak membuat Abizar marah dan kecewa." ucap Farah, "Kita seharusnya menyemangatinya dan meyakinkannya jika Khanza akan sembuh bukan malah seperti ini."
"Farah, kita tak bisa menampik semua kenyataan, coba lihat rumah tangga apa yang kau jalani, kau juga ini istrinya bukan cuman Khanza," ucap Santi tak terima.
"Mah, mama tahu kan kalau Khanza sedang sakit, wajar jika mas Abi lebih mendahulukannya. Bukan berarti dia melupakan Farah."
"Tapi tak harus terus-menerus menjaga Khanza setiap waktu kan!" kesal Santi.
"Warda, coba bicara dengan Abizar untuk belajar mengatur waktunya, ini sudah 3 bulan, sudah cukup baginya untuk menyesal dan bersedih seperti ini."
__ADS_1
Warda berpikir memang benar apa yang dikatakan oleh Santi, selama ini Abizar hanya mengurusi Khanza dan melupakan akan semuanya, mencari kesana kemari Dokter yang bisa menyembuhkan Khanza.
Abizar melupakan kewajibannya terhadap Farah dan juga Putranya, mereka juga membutuhkan kasih sayangnya.
Di kamar,
Abizar juga memikirkan hal yang sama, apa yang dikatakan oleh Mama dan mertuanya.
Sudah 7 bulan ini ia menelantarkan ribuan karyawannya, Fahri sudah memberi tahu jika kondisi perusahaan mereka semakin menurun.
*****
Pagi hari semua tercengang saat melihat Abizar yang turun dengan memakai jas kantornya.
Farah menghampiri Abizar.
"Mas akan ke kantor?" tanyanya.
"Abizar mengecup kening Farah," kucupan selamat pagi yang sudah lama tak Ia berikan kepada istri pertamanya itu.
"Iya, mulai hari ini Mas akan ke kantor, jawabnya kemudian ia menghampiri bayi kecilnya yang sudah terlihat gemuk dan mulai aktif.
Membawa bayi itu ke gendongannya.
"Maaf ya, selama ini papa mengabaikanmu," ucap Abizar mencium seluruh wajah putranya membuat bayi itu tertawa.
"Nggak apa-apa, Mas. Bayi kita pasti mengerti jika Mas lagi menjaga mamanya," kata Farah ikut bergabung dengan mereka.
"Sebaiknya kalian sarapan dulu, keburu sarapannya dingin," panggil Warda yang sudah duduk di meja.
Santi tersenyum bahagia melihat tawa putrinya.
"Semoga kebahagiaan mu ini terus bersamamu, Khanza tetaplah dalam kondisimu, itu akan lebih baik," batin Santi sambil tersenyum bahagia membayangkan madu anaknya itu.
💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖
Terima kasih sudah membaca 🙏
sambil menunggu update terbaru yuk mampir ke karya teman sesama author ku, rekomendasi banget lho,
Di tunggu ya, jangan lupa favorit kan, like dan komennya.
__ADS_1
💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖